The Feelings (Part 10)
Beberapa minggu berlalu.
Semenjak hari itu Edward menjauh dari Helen. Ia merasa bersalah akan perlakuan sebelum-sebelumnya pada Helen yang kini terlihat menyukai dirinya. Rencana awalnya mungkin memang sudah dapat dikatakan berhasil, tapi ia merasa itu salah dan tidak seharusnya untuk diteruskan.
Radley yang sudah tidak mendekati Camila lagi tentu saja membuat Edward dan Kaelyn bertanya-tanya karena pertemuan mereka hari itu baik-baik saja. Tapi Radley hanya mengatakan Camila dan dirinya tidak cocok, mereka berdua lebih cocok untuk berteman.
Kemudian Kaelyn menjadi semakin dekat dengan Algis. Mereka menjadi sering bertemu di Toko Musik. Di sekolah mereka hanya sekedar menyapa atau mengobrol seperlunya.
Sebentar lagi Ujian Tengah Semester akan dilaksanakan, seluruh siswa-siswi dikumpulkan di gedung olahraga untuk melakukan perlombaan antar kelas baik dari kelas 1 sampai kelas 3. Perlombaan ini bisa disebut sebagai “ritual” yang selalu mereka lakukan menjelang Ujian Sekolah.
Para siswa dan siswi mulai berdatangan ke gedung olahraga memakai baju olahraga lalu langsung berkumpul berdasarkan kelasnya masing masing.
“Sudah lama aku tidak melihat Edward datang ke kelas untuk mencarimu,” bisik Emma pada Helen begitu melihat Edward, dan Radley yang berjalan menuju kumpulan kelasnya.
Helen terkesiap lalu menoleh pada Emma dengan tatapan dingin. “Apa urusanmu,” kata Helen kesal.
Ia sudah cukup kesal dengan kenyataan Edward yang semakin jauh darinya dan Emma berbicara seperti itu seakan mengingatkan dirinya akan Edward yang sudah menjauh darinya.
Helen sangat menyesali akan perlakuannya pada Edward. Terkadang ia mengeluh akan perlakuannya yang tidak baik pada seseorang, yang seharusnya ia menerima saja Edward mendekatinya tapi pada kenyataan yang sudah terjadi ia menghiraukan sampai bahkan membuat Edward menjauhi dirinya. Edward yang terlihat sudah tidak peduli lagi akan kehadiran dirinya membuat Helen tidak berani untuk mendekati Edward.
“Sepertinya memang sudah terbongkar ya,” celetuk Emma. Masih berbicara tentang Helen dan Edward.
Helen menoleh. Memastikan Emma masih berbicara dengannya. “Apa yang terbongkar?” Helen penasaran tentunya.
“Tidak usah pura-pura, aku tahu apa yang terjadi ko. Hehehe..” tanya Emma terdengar tidak bersahabat bagi Helen.
“Memang apa yang terjadi?” tantang Helen, “Katakan jika kau memang mengetahuinya.”
Emma melihat Helen sebentar lalu berbisik padanya.
Mata Helen membelalak, ia sangat terkejut mendengarnya.
“Kau tidak tahu?” kata Emma pura-pura terkejut. Ia tahu Helen tidak mengetahui hal itu.
Beberapa hari yang lalu Emma pergi ke Cafe dan tidak sengaja mendengar obrolan Edward, Radley, dan Kaelyn tentang alasan Edward menjadi menjauhi Helen. Radley yang cukup tahu mengenai garis besarnya tidak terlalu terkejut mendengarnya, sedangkan Kaelyn sangat terkejut dan membuatnya menjadi pusat perhatian dalam sekejap.
Edward bercerita jika ia mendekati Helen hanya untuk bersenang-senang. Ia sangat tahu Helen tidak menyukainya dan ia berencana untuk membuatnya menyukai dirinya lalu akan membuatnya patah hati. Walaupun saat itu sudah bisa dikatakan berhasil, hanya saja ternyata Edward tidak bisa sejahat itu untuk menjaili seseorang.
Kaelyn cukup kesal mendengar rencana Edward itu, tapi cukup terobati ketika Edward mengatakan ingin berhenti dan tidak melanjutkannya.
“Tapi bukankah sama saja kau menyakiti hati Helen jika ia sudah menyukaimu sekarang?” kata Kaelyn kemudian saat itu.
Edward membenarkan hal itu lalu berkata, “Maka dari itu, Helen jangan sampai mengetahui kebenaran ini sampai ia kembali membenciku seperti dulu. Walaupun aku tidak tahu apakah akan berhasil atau tidak.”
“Tidak usah berbohong. Aku tidak akan masuk dalam perangkapmu,” kata Helen mencoba mengabaikan perkataan Helen yang membuatnya sakit hati.
“Kalau kau tidak percaya kau bisa bertanya pada teman-temannya. Kaelyn atau Radley.” ucap Emma lalu berteriak memberi semangat pada anggota kelasnya yang sudah memasuki lapangan untuk melakukan lomba.
Helen masih tidak mempercayai ucapan Emma, tapi ia juga tidak mempercayai jika Edward benar-benar melakukan itu. Helen memperhatikan Edward untuk beberapa saat. Meyankinkan dirinya untuk tidak mempercayainya.
*****
Ujian Tengah Semester hari terakhir telah selesai. Para siswa-siswi mendapat libur panjangnya untuk pertama kali dalam semester ini.
Kaelyn cepat-cepat membereskan barang-barangnya untuk segera pergi menemui Edward dan Radley. Mereka berencana untuk pergi ke Arcade hari ini.
“Kaelyn..” panggil Helen ketika Kaelyn hendak beranjang dari kursinya.
“Ya?” jawab Kaelyn sambil menggunakan ranselnya.
“Mmmm, begini.. maaf kalau aku tidak tahu malu. Tapi aku ingin meminta bantuanmu, boleh?” kata Helen hati-hati.
Kaelyn mengangkat alisnya, jarang-jarang Helen meminta bantuannya.
“Jika aku bisa membantu.. aku akan bantu.” Katanya sambil mengangguk-anggukan kepalanya. “Bantuan seperti apa?”
“Aku ingin berbicara pada Edward. Aku tidak tahu harus bagaimana mengajaknya. Ia mengabaikan pesan dan telfon dariku. Setiap bertemu ia seolah tidak menganggapku ada.” Ucap Helen seolah putus asa.
Kaelyn mengetahui hal itu, Edward selalu bercerita padanya dan Radley jika Helen menghubunginya. Ia juga pernah melihat Edward mengabaikan sapaan Helen beberapa hari ini.
“Akan aku bantu,” kata Kaelyn tersenyum. “Akan aku cari cara agar kalian dapat bertemu.”
“Terima kasih Kaelyn. Maaf menyulitkan.”
“Tidak, ini tidak menyulitkan. Aku akan menghubungimu jika sudah tahu rencananya.” Helen tersenyum berterima kasih. “Aku harus pergi,” kata Kaelyn begitu melihat Edward dan Radley menunggunya di depan pintu. “Sampai jumpa! Selamat berlibur!” Kaelyn melambaikan tangan lalu pergi.
**
“Membicarakan apa kalian?” tanya Edward ketus begitu Kaelyn menghampiri mereka.
“Tenang~ ini bukan tentangmu,” ucap Kaelyn yang mengejek nada ketus Edward.
“Ed justru ingin Helen membicarakannya,” goda Radley tersenyum jail.
Edward yang di jaili tidak merespon ucapan Radley, namun ia berjalan lebih cepat dan meninggalkan Radley dan Kaelyn.
“Hei! Jalan pelan-pelan!” teriak Kaelyn.
“Kan. Ia bilang tidak menyukai Helen, tapi selalu salah tingkah jika kita membicarakannya.”
.
.
.
TBC

Comments
Post a Comment