The Feelings (Part 12) -end
Helen yang merasa dikhianati oleh Edward kembali merasa dikhianati oleh Kaelyn yang ia percaya dapat membantunya, tapi ternyata tidak. “Terima kasih Kaelyn.” Ucap Helen lalu pergi dengan perasaannya yang sangat marah.
Kaelyn tersadar oleh suara Helen, ia memanggil-manggil Helen tapi Helen tidak mau berhenti.
Radley menahan Kaelyn untuk tidak mengejarnya. “Dia butuh menenangkan pikirannya,” kata Radley begitu menarik Kaelyn. “Kau juga,” katanya pada Kaelyn. “Terutama kau,” katanya pada Edward sedikit tegas.
Radley pergi membawa Kaelyn yang hampir menangis dan meninggalkan Edward sendiri disana.
Edward terdiam ditempat melihat kebawah. Menyadari ucapannya tadi sangat tidak menyelesaikan masalah tapi malah memperburuk masalah. Edward kembali duduk dibangkunya, merasa sangat bersalah dan bodoh.
**
“Kau mau aku tinggal sendiri atau bagaimana?” tanya Radley begitu mereka sudah cukup jauh dari Cafe.
Mata Kaelyn kosong. Ia sama sekali tidak dapat berpikir atas asal mula perkataan Edward tadi. Merasa ditusuk dari belakang karena tiba-tiba menjadi alasan agar Helen membenci Edward.
“Sebenarnya apa yang ada dipikiran Ed? Kenapa dia berkata seperti itu? Dia ingin aku dibenci satu sekolah karena menusuk temannya dari belakang? Begitu dia membuatku terkenal tanpa kalian?” ocehan Kaelyn yang terdengar bahwa ia baik-baik saja bagi Radley.
“Ok. Kita pulang saja. Sepertinya kau harus dirawat di rumah sakit jiwa,” canda Radley.
“Sama sekali tidak lucu. Ucapanmu maupun ucapan Ed sama sekali tidak menyenangkan. Membuatku stres!”
“Apa aku bilang. Kau harus pergi ke rumah sakit jiwa.”
***
Helen terus berjalan dengan cepat menjauh dari Cafe, ia tidak tahu kemana kakinya akan membawanya. Hentakkan kakinya terasa keras hingga membuatnya merasa lelah. Begitu ia melihat bangku di sekitaran jalan yang sepi ia memutuskan untuk beristirahat disana.
Dengan tatapannya yang kosong, ia masih mengingat ucapan Edward tadi. Adegan tadi seperti kembali terputar dipikirannya. Sampai akhirnya ia merasakan sakit pada dadanya, matanya mulai berkaca-kaca, ia sekarang merasakan bahwa perkataan Edward sangat menyakitinya.
Helen menangis, meneteskan air mata sambil berusaha untuk tidak mengeluarkan suara. Kepalanya tertunduk agar wajahnya tidak terlihat oleh orang-orang yang berlalu lalang disana. Tangannya ia tumpukan pada kening dan pahanya.
*****
Semenjak kejadian hari itu Edward menjauh dari Radley dan Kaelyn, Helen juga mulai acuh pada Edward, Radley, dan Kaelyn. Satu angkatan sekolah mereka mulai membicarakan mereka. Edward yang menjadi pendiam dan tidak bergaul dengan yang lain, Radley dan Kaelyn yang lebih sering terlihat berdua, dan juga sikap ketus Helen pada Kaelyn saat di kelas.
Sikap mereka sangat menunjukkan bahwa telah terjadi sesuatu dengan mereka. Tapi tidak ada satu orangpun yang tahu apa yang telah terjadi antara mereka.
Emma menghampiri Helen yang sedang membaca sesuatu di kelas. Emma yang pernah mempunyai “hubungan” dengan mereka bertiga tentu saja sangat penasaran dengan apa yang telah terjadi diantara mereka, dan Emma merasa Helen mengetahui sesuatu karena dilihat dari perubahan sikapnya pada Kaelyn.
“Hei..” sapa Emma.
Helen mendongak, “Hai.”
“Apa terjadi sesuatu?” nada suaranya terdengar seperti mengkhawatirkan Helen.
“Terjadi apa?” Helen balik bertanya. Helen tahu apa yang ingin Emma tanyakan, dan ia tidak ingin membahasnya lagi.
“Mmm, aku melihat kau seperti menjauh dari Kaelyn, ada apa?”
“Kau mungkin salah lihat,” kata Helen ketus sambil melihat pada bukunya walaupun ia tidak sedang benar-benar membacanya.
“Ayolah Len... kau bisa jujur padaku, aku bisa menjadi teman baikmu.”
Helen kembali mendongakkan kepalanya, “Tapi sekarang bukan.” Katanya menatap mata Emma sebentar lalu menutup bukunya keras, membuat orang-orang dikelas seketika terdiam dan melihat kearahnya.
Helen kemudian bangun dan pergi, ia melewati Kaelyn yang juga terdiam ketika hendak masuk ke dalam kelas.
“Len..” panggilnya begitu Helen melewatinya. Helen menghiraukannya dan terus berjalan.
“Ada apa?” Radley menghampiri Kaelyn begitu melihat apa yang sedang terjadi.
“Sepertinya Helen masih marah pada kita,” ucap Kaelyn masih melihat pada jalan yang Helen tadi lewati.
Radley yang menyetujui itu juga mengikuti arah pandangan Kaelyn.
“Aku tidak percaya ya seorang Kaelyn bisa melakukan hal seperti itu pada teman satu kelasnya sendiri,” teriak Emma dari dalam kelas pada Kaelyn yang ada di pintu masuk kelas yang tentu saja akan membuatnya menjadi pusat perhatian di dalam kelas.
Kaelyn dan Radley berbalik, mengerutkan keningnya akan pernyataan Emma. Orang-orang di kelas hanya terdiam, menunggu ucapan Emma selanjutnya.
“Aku pikir kalian bertiga itu baik, ramah, setia, pintar, dan bla bla bla lainnya seperti yang orang-orang katakan. Tapi ternyata mereka merencanakan sesuatu untuk balas dendam pada Helen yang sejak kelas 1 membenci Edward.”
Ucapan Emma terdengar masuk akal ditelinga orang-orang yang mendengarnya. Dengan kenyataan hubungan mereka saat ini yang sedang berjauhan. Sangat masuk akal dan seakan mendapat jawaban dari pertanyaan orang-orang pada mereka selama ini.
Kaelyn tersenyum kesal, ia menyisir rambut dengan tangannya perlahan tapi juga dengan tekanan. “Lanjutkan.” Katanya masih terus berdiri memperhatikan Emma.
Beberapa anak kelas lain juga menjadi ikut berkumpul di sekitar kelas karena mendengar informasi melalui grup chat.
“Oh! Kau ingin aku membongkar aibmu?” kata Emma sambil tertawa meremehkan. “Aku tahu kenapa kalian bertiga menjadi seperti ini sekarang. Perlu ku katakan?” Pancing Emma yang membuat Kaelyn merasa tertantang.
“Kau menyukai Edward, tapi Edward menyukai Helen, dan kau mencoba menggoda Edward dan puncaknya kau menggoda Edward di depan mata Helen sehingga membuat Edward juga marah padamu. Dengan begitu Edward mulai menjauhimu, lalu Helen mulai menjauhi kalian, dan Edward mulai menjauhi Helen.”
Orang-orang sangat terkejut mendengar ucapan Emma. Ini benar-benar jawaban yang sangat tepat untuk membuktikan alasan mereka berempat menjadi bersikap seperti sekarang ini.
Radley yang juga sebagai teman Kaelyn maupun Edward merasa sangat kesal dengan ucapan Emma. Sangat ingin rasanya ia memukul Emma, tapi sangatlah tidak pantas seorang pria memukul seorang wanita.
“Biar aku saja,” kata Kaelyn yang juga merasakan hal yang sama dengan Radley. Kaelyn berjalan mendekati Emma. Ia melihat Emma untuk beberapa saat, hendak melayangkan tangannya untuk menampar Emma.
Tepat sebelum Kaelyn melayangkan tangannya, seseorang –tidak- dua tangan menahan lengannya agar tidak dapat bergerak. Kaelyn melihat pada tangan kanannya, ada satu orang dari sampingnya dan satu orang dari belakangnya menahan lengannya. Kaelyn tahu tangan itu milik siapa, dan ia tersenyum kecil.
“Jika kau membenciku hancurkan saja aku, jangan teman-temanku. Kau bukan salah satu diantara kita. Kau juga bukan teman dekat kita. Maka dari itu, tidak usah mengatakan sesuatu tentang kita dengan percaya diri, karena kau tidak tahu apa-apa tentang kita.” Edward yang menahan lengan Kaelyn dari samping langsung berbicara pada Emma tanpa melihat pada Kaelyn ataupun Radley yang menahan lengan Kaelyn dari belakang.
Ucapannya sangat membuat orang-orang yang mendengarnya menjadi terpesona dan mengaguminya lagi. Emma yang menjadi sasaran Edward pun menjadi goyah dan tidak berani untuk kembali membalasnya.
Orang-orang yang yang pada awalnya mulai percaya akan semua perkataan Emma dan meragukan segala sikap dan sifat Edward, Radley, dan Kaelyn selama ini. Dengan ucapan Edward tadi, membuat mereka tidak lagi meragukan mereka bertiga yang selama ini mereka ketahui.
Helen melihat kejadian tersebut dari luar ruang kelas, dan ia menyadari akan sesuatu diantara mereka bertiga. Sesuatu yang tidak ia miliki, sesuatu yang jarang ia lihat.
Perasaan diantara mereka bertiga, rasa sayang yang mereka tumbuhkan, rasa cinta yang mereka miliki, tidak dapat diputuskan ataupun dihilangkan sekali pun. Perasaan mereka satu sama lain tulus dan tidak dapat dipisahkan, tapi juga bukan berarti seseorang tidak dapat masuk ke dalam hati mereka.
Hubungan mereka lebih dari sekedar teman tapi tidak lebih dari yang namanya kekasih. Mereka sesuatu yang tidak dapat diartikan. Tidak ada kata yang tersedia untuk menggambarkan hubungan mereka bertiga.
Perasaan Edward yang berujung pengakuan, akan menjadi kebohongan bagi mereka yang tak mengetahui kebenarannya.
Perasaan Radley yang masih ia ragukan, akan menjadi kebohongan dirinya sampai ia mengakuinya.
Perasaan Kaelyn yang tak diketahui, akan menjadi rahasia baginya yang memunculkan kebohongan.
Persahabatan yang telah terjalin cukup lama, tak membuat mereka cukup mengenal perasaan mereka satu sama lain.
Karena sebuah perasaan bukanlah rahasia yang kasatmata.
-
-
THE
END
END
-
-
Seperti yang kalian lihat di poster Part 12 ini, cerita The Feelings ini merupakan cerita bagian pertama dari cerita yang aku sebut "The Relationship".
Sebenernya cerita ini mau aku jadiin satu cerita dengan judul "The Relationship" tapi setelah dipikir-pikir lagi, kayanya bakal seru kalau punya cerita yang berbeda-beda dengan nama pemeran yang sama.
Jadi aku memutuskan untuk membuat beberapa cerita dengan latar belakang pemeran yang sama.
Tokoh tiga orang sahabat itu juga terinspirasi dari pengalaman pribadi juga -tokohnya ya bukan ceritanya.
Untuk cerita yang "The Man Who Marry Me", kalian bisa baca di Wattpad aku (@zyrshr).
Cerita "The Man Who Marry Me" aku buat langsung di Wattpad dan partnya lumayan banyak, jadi belum tau apakah bakal di upload di Blog atau engga, hehe.
Terimakasih sudah membaca! Tunggu cerita selanjutnya ya!!

Comments
Post a Comment