The Feelings (Part 0)






"Kaelyn... Aku menyukaimu..." ucap seorang pria lembut sambil menatap wanita yang tadi ia panggil Kaelyn.
"Kau mau tidak menjadi pacarku?" lanjutnya, dengan tatapan mata yang lebih dalam disertai dengan angin malam yang mendukung sebuah perkataan pengakuan terdengar lebih serius.

Sang wanita, Kaelyn. Terpaku mendengar pengakuan pria ini. Terdengar begitu serius dan tulus.
"Kau.. sangat mencintainya ya?" tanya Kaelyn terkagum-kagum melihat temannya bisa begitu tulus saat mengungkapkan cintanya.

"Hehehe..." Edward, pria itu merasa kikuk telah berlatih pada Kaelyn.

Edward yang sering besikap kaku tidak pernah melakukan hal yang seperti itu. Kaelyn yang teman dekatnya Edward pun merasa begitu tersentuh sebagai wanita mendengar perkataannya itu. Walaupun terlihat tidak romantis, tapi jika mendengar setiap perkataannya terdengar begitu dalam, tulus, dan jujur, begitu indah dan menenangkan. Setidaknya, begitulah yang Kaelyn rasakan.

"Apa ini. Situasi macam apa ini.." seorang pria lain datang dari balik pintu balkon membawa piring yang berisi buah-buahan yang telah disiapkan Nyonya pemilik rumah.

"Wuahh.. kau melewatkan sesuatu Rad! Aku tidak menyangka Ed bisa melakukan hal seperti itu..." ucap Kaelyn menceritakan yang baru saja terjadi pada Radley. Terdengar berlebihan memang, tapi begitulah Kaelyn. Ia akan bersikap berlebihan hanya pada teman dekatnya saja. Jika pada orang lain, ia akan sangat dingin sangat tidak peduli dengan orang lain.

"Kau akan menembak Emma?" tanya Radley setelah menyimpan piring yang ia bawa di meja.

"Hmmm?"

"Kenapa hmm? Bukankah dia menyukaimu?" ucap Kaelyn cepat, seperti membentak.

"Kenapa marah?! Memang kenapa jika dia menyukaiku?" Balas Edward sedikit berteriak.

"Kalian kan sudah dekat juga, kau tidak menyukainya?" Kaelyn balas membentak.

"Memangnya dekat harus suka?"

Kaelyn membisu, ucapan Edward ada benarnya juga. Sama seperti hubungan mereka, dekat tapi tidak saling suka. "Kau benar... haha" Kaelyn tertawa canggung.

Radley mengacak rambut Kaelyn cepat, "Makanya, carilah pacar agar kau tahu apa itu suka dan hanya sekedar dekat," ucap Radley seperti meledek tapi juga menasehati Kaelyn.

Kaelyn merupakan satu-satunya dari mereka bertiga yang belum pernah berpacaran sekalipun. Banyak pria yang mendekatinya, Kaelyn dengan mudah menerimanya, namun ketika pria itu hendak menyatakan cinta, Kaelyn perlahan mundur.

"Jika aku tahu. Aku sudah punya pacar sekarang Rad..." kata Kaelyn menekan perkataannya sambil melepaskan tangan Radley yang masih berada di atas kepalanya. "Sudah pukul sepuluh. Aku harus pulang," lanjutnya lalu bangkit dari tempat duduk, "Jika ingin menembak seseorang, jangan lupa katakan padaku ya!!!" 

Edward menunjukkan huruf O dengan jarinya pada Kaelyn sesaat sebelum Kaelyn hilang dari pandangannya.

"Jadi kau latihan pada Kae untuk menembak siapa?" Radley membuka perbincangan setelah Kaelyn pergi. Kali ini terasa seperti obrolan pria.

"Aku tidak latihan," jawabnya cuek.

Radley menoleh pada Edward, memperhatikan Edward sebentar. "Sejak kapan?" Radley memang mempunyai insting yang kuat.

"Tidak tahu." Jawab Edward tersenyum kecil pada Radley.

"Kau yakin dengan perasaanmu itu? Bukan perasaan pada seorang sahabat?"

"Tidak tahu juga. Aku akan mengonfirmasinya nanti, sekarang aku akan mendekati Helen."

"Helen? Wanita yang sangat membencimu itu?" 

Edward menyengir. "Bukankah dia sangat menarik? Aku sangat penasaran mengapa ia begitu membenciku."

"Woahh, kau benar-benar gila. Tadi kau menyatakan cinta pada Kae, sekarang kau ingin mendekati Helen."

"Aku kan masih belum tahu perasaan itu benar atau tidak."

"Lalu, bagaimana kau akan mendekatinya?"

"Biarkan itu berjalan sendirinya."

.
.
.
See u .  .  .




Comments

Popular