The Feelings (Part 2)
Sepanjang jalan dari sekolah sampai rumah, Kaelyn terus mengomel pada dirinya sendiri karena kejadian tadi dengan Emma.
Saat Emma mengatakan kata-kata itu Kaelyn merasa biasa saja tapi setelah ia pikir-pikir kembali perkataan Emma sangat membuat Kaelyn merasa kesal, marah, dan jengkel. Ia merasa dikhianati oleh Emma, yang dulu sering bersikap baik padanya tapi tiba-tiba berbicara seperti itu hari ini.
"Kau gila ya?" pertanyaan Radley kali ini membuat Kaelyn tersadar dari segala ocehannya.
"Hah? Kenapa?"
"Kenapa kau di hari pertama? Ada yang mengusikmu?"
"Ada! Tentu saja ada! Tahu Emma satu kelas denganku saja sudah sangat mengusikku, dan sekarang? Ia duduk tepat di depan bangkuku dan marah-marah padaku tidak jelas! UGH!"
Edward dan Radley tertawa mendengarnya.
"Menyenangkan?" kata Kaelyn dengan wajah masamnya, "Menyebalkan sekali kalian ini."
"Dia kan dulu sering mengikutimu kemana-mana. Mungkin kalian berdua memang ditakdirkan bersama! Hahahaha," ucap Radley yang mengundang tawa baginya dan Edward.
Kaelyn kesal melihat kedua temannya ini, ia meninggalkan mereka lalu masuk ke rumah Edward seperti kedalam rumahnya sendiri.
Begitu masuk, Kaelyn disambut oleh asisten rumah tangga Edward yang menjaga Edward dan Eric -adiknya- selama kedua orang tuanya berada di luar kota. Bisa dikatakan lebih tepatnya jika yang tinggal disini hanya Edward dan Eric saja, kedua orang tuanya tinggal di kota lain karena pekerjaan ayahnya. Edward dan Eric baru kembali pindah kesini lagi tahun lalu saat musim liburan, untuk bisa masuk sekolah pada semester baru.
Kaelyn langsung pergi menuju taman belakang rumah Edward, disana terdapat gazebo yang biasa mereka tempati untuk bermain dan berkumpul bersama.
"Kae! Sepertinya Rad sedang jatuh cinta," kata Edward begitu sampai di gazebo.
Kaelyn sedikit terkekeh, "Jatuh cinta? Seorang Radley bisa jatuh cinta? Sejak kapan? Hahaha"
"Kau sedang balas dendam?" kata Radley mengingat dia baru saja menertawai Kaelyn.
"Oh! Benar juga!" jawab Kaelyn kembali tertawa, Edward hanya tersenyum melihat kelakuan mereka.
"Siapa orangnya?" tanya Kaelyn.
"Teman satu kelas, dia sangat cantik! Benar-benar tipeku!" kata Radley kembali mengingat wanita itu.
"Siapa namanya?"
"Camila."
"Sudah kau dekati?"
"Sudah, kita sudah mulai saling berkirim pesan."
"Pantas terlihat sibuk dengan ponsel, tidak seperti biasanya" ejek Kaelyn, karena biasanya Radley hampir tidak menyentuh ponselnya, kecuali untuk bermain game.
Radley mencekik leher Kaelyn dengan lengannya, bercanda. Kaelyn memukul lengan Radley beberapa kali meminta untuk dilepaskan.
"Kau bagaimana?" tanya Radley pada Edward begitu melepaskan cekikannya pada Kaelyn.
"Aku? Kenapa?"
"Bukankah kau ingin mendekatinya?"
"Tentu saja, tapi ini butuh proses. Aku tidak sepertimu yang begitu gesit."
"Kau benar. Hanya aku yang bisa melakukan hal gesit seperti ini."
Kaelyn terus menoleh bergantian pada Edward dan Radley, ia sedikit bingung dengan objek yang mereka bicarakan. Ia seperti tertinggal topik penting dari mereka.
"Apa ini. Kenapa aku tidak mengerti? Kau mau mendekati siapa? Bukannya kau sudah dekat dengan Emma? Kenapa mendekatinya lagi?"
Edward tersenyum, "Sejak kapan aku mendekatinya. Ini Helen."
Kaelyn terkejut. Terkejut senang lebih tepatnya. "Woah! Pilihan yang tepat! I love you Ed! Aku tidak akan pernah setuju kau dan Emma menikah. Bahkan berpacaranpun tidak!"
Edward tertawa kecil, "Bagaimana dengan Helen?"
"Untuk sekarang aku menyetujuinya,"
Edward terkekeh mendengar jawabannya.
Hubungan pertemanan mereka bertiga berada dititik dimana bisa saling mencampuri urusan pribadi mereka satu sama lain, atau mungkin mereka bisa disebut sebagai keluarga.
Mereka bertiga setuju untuk saling memberikan pendapat mengenai pasangan mereka satu sama lain dimasa depan. Pasangan yang tidak bisa 'berteman' dengan teman mereka, akan dipastikan sulit untuk menjalin hubungan dengan orang bersangkutan. Hubungan mereka bertiga seperti sudah terikat.
Walaupun kekanak-kanakan memang, tapi mereka orang-orang yang tidak ingin kehilangan teman baik mereka. Mereka terlalu mencintai hubungan mereka saat ini sampai tidak ingin orang lain merusaknya.
.
.
.
TBC

Comments
Post a Comment