The Feelings (Part 3)
Saat ini sedang jam istirahat SMA Pledis. Semua siswa dan siswi pergi ke kantin untuk menyantap makan siang mereka.
Sebelum pergi ke kantin lagi-lagi Edward berdiri di depan kelas 2-3 untuk menunggu seseorang.
"Ada Helen?" tanya Edward pada salah seorang siswi yang baru saja keluar dari kelas 2-3.
"Ada, dia di dalam," jawabnya.
Sudah empat hari Edward selalu datang dan menunggu Helen di depan ruang kelasnya pada saat jam istiahat. Helen sendiri dibuat bingung oleh Edward yang sering mengganggu dirinya akhir-akhir ini, berbeda dengan saat kelas satu yang lebih sering tebar pesona pada wanita-wanita yang membuat Helen ingin terus mengomeli Edward.
Hari pertama, Edward menunggu Helen hanya untuk menyapanya.
Hari kedua, Edward mengajaknya ke kantin bersama.
Hari ketiga, Edward mengajaknya untuk pulang bersama.
Hari keempat, entah apa yang akan Edward katakan pada Helen hari ini.
Mengetahui jika Edward lagi-lagi sudah ada di depan kelasnya membuat Helen menahan diri untuk tidak keluar kelas atau lebih tepatnya tidak bertemu Edward.
"Apa-apaan nih. Lagi-lagi menunggu Helen? Sudah berubah kau.." ucap Kaelyn yang melihat Edward sedang bersandar di tembok sambil menyilangkan lengannya di dada. "Dulu kau seperti ini saat sedang menungguku, sekarang sudah tidak.. ckckck," Kaelyn menggeleng-gelengkan kepalanya sambil menyilangkan lengannya di dada juga.
"Mana dia? Masih di dalam?"
"Wuahh.. kau mengabaikan perkataanku."
Edward menyeringai. "Kau masih nomor dua di hatiku. Tenang saja," katanya mengacak rambut Kaelyn cepat. Jika kalian bertanya siapa yang nomor satu di hatinya, maka jawabannya adalah Ibunya, tentu saja. Pria yang baik.
"Cih.. mana Rad?"
"Masih di kelas sepertinya, dengan Camila."
"Wahh.. kalian benar-benar tega. Akan meninggalkanku seperti ini?"
"Apa aku boleh masuk?" lagi-lagi mengalihkan pembicaraan.
"Ish! Masuklah, tidak ada larangannya juga." Kata Kaelyn kesal dengan temannya satu ini.
Edward kembali menyeringai dan mengacak rambut Kaelyn kemudian masuk ke dalam kelas.
"Pria bisa berubah karena wanita memang. Hft." Gumam Kaelyn.
"Kau tidak akan keluar?"
Helen dibuat terkejut dengan kedatangan Edward yang tiba-tiba.
Ia melepas earphonenya, menyambut kedatangan Edward. Sebenarnya ia sedikit kesal dengan earphonenya yang berfungsi begitu sangat baik sampai tidak membiarkan dirinya mendengar Edward masuk ke dalam kelas.
"Tidak."
"Kenapa?"
"Tidak apa-apa."
"Kenapa membenciku?" tanya Edward setelah duduk di bangku depan Helen.
"Siapa yang membencimu?"
"Kau?"
"Siapa yang mengatakannya?"
"Aku?"
"Kalau begitu kau salah."
"Kau tidak membenciku?"
"Tidak."
"Kalau begitu aku bisa meminta kontakmu?"
Helen diam sejenak, lagi-lagi kelakuan Edward membuatnya bingung. "Untuk apa?"
"Untuk menghubungimu."
"..."
"Kenapa? Tidak boleh?"
"Kata siapa?" Edward langsung memberikan handphonenya. Dengan ragu, Helen mengambilnya lalu menambahkan nomornya di ponsel Edward.
Edward tersenyum, "Terima kasih! Akan aku hubungi nanti!" dengan riang Edward berlari keluar kelas sambil tersenyum. "Jangan lupa makan siang!" katanya lagi. Tanpa sadar, Helen sedikit tersenyum melihat kelakuan Edward.
***
Setelah bubaran sekolah seperti biasa Edward, Radley, dan Kaelyn pulang bersama. Mereka melewati jalan yang biasa mereka lewati untuk pulang maupun pergi ke sekolah. Beberapa siswa atau siswi pun ada yang pulang melalui jalan yang sama dengan mereka.
Bukan Kaelyn namanya jika ia mengenal semua orang yang ada di sekolahnya. Baik teman satu angkatannya maupun para senior dan juniornya.
"Dia junior kita?" tanya Kaelyn akhirnya setelah ia cukup lama bungkam untuk memperharikan seorang pria yang berjalan tidak jauh di depan mereka.
"Pria dengan tas navy?" tanya Edward memastikan, Kaelyn mengangguk.
"Dia bukan anak baru." Kata Edward. "Kau baru melihatnya?" lanjutnya, Kaelyn mengangguk lagi.
"Wah memang kau ini kurang bersosialisasi. Teman satu angkatanmu saja tidak kenal." Kaelyn tidak marah dengan ucapan Radley ini, karena pada kenyataannya memang benar Kaelyn begitu, Kaelyn terlalu pendiam dan cuek untuk mudah berteman dengan siapa saja.
"Siapa namanya? Kelas berapa? Kenapa dia tidak terkenal?" tanya Kaelyn diakhiri dengan canda.
"Algis," jawab Edward.
"Wahh.. kemana saja kau satu tahun sampai tidak mengenal pria itu?" kata Radley yang masih saja tidak percaya teman satunya ini sulit bersosialisasi.
"Memang kalian mengenalnya?"
"Kelompok dia sama terkenalnya dengan kita bertiga tahu!" celetuk Radley.
"Memang kita terkenal?"
"Kau terkenal karena kita berdua lebih tepatnya," kata Radley narsis.
"Cihh.."
Di SMA Pledis tidak asing dengan yang namanya kelompok kelompok pertemanan. Banyak sebutan dan nama kelompok-kelompok yang ada dari kelas 1 sampai kelas 3. Walaupun yang pada awalnya perkelompokkan pertemanan mereka terbentuk secara tidak sengaja, tapi ada saja orang yang membuat kelompok pertemanan mereka itu menjadi dikenal oleh yang lainnya.
Seperti halnya pertemanan Edward, Radley, dan Kaelyn. Bisa dibilang kelompok mereka merupakan kelompok yang paling terkenal sejak mereka baru pertama kali masuk SMA Pledis. Selain karena Edward dan Radley yang tergolong pria yang tampan dan juga pintar, Kaelyn yang juga tergolong seorang wanita cantik yang berteman dengan dua orang pria seperti mereka merupakan hal yang membuat orang-orang membicarakannya.
.
.
.
TBC

Comments
Post a Comment