The Feelings (Part 4)
Hari ini hari Minggu, tidak seperti biasanya Edward sudah rapi dan siap untuk pergi keluar pada pagi hari. Ada alasan tentunya mengapa Edward pergi pada pagi hari ini.
Ini berhubungan dengan Helen. Kemarin malam Edward mengirim pesan pada Helen dan mengajaknya untuk pergi bermain siang hari ini, tapi Helen menolak dengan alasan ia akan pergi ke Toko buku menemani kakaknya dari pagi hari dan kemudian akan pergi mengantarkan kakaknya setelah itu dan entah akan selesai sampai pukul berapa. Entah benar atau bohong, maka Edward menutuskan untuk memastikannya.
Sebenarnya sikap Edward yang seperti itu terasa janggal baginya. Dia tidak benar-benar merasa menyukai Helen, tapi entah mengapa ia selalu berusaha untuk mengambil hati Helen. Terkadang saat Edward akan melakukan sesuatu pada Helen ia kembali teringat mengenai ‘pengakuan’nya waktu itu pada Kaelyn. Berpikir apakah Kaelyn benar-benar menganggap ucapannya itu sebuah latihan atau tidak.
***
Helen dan Kakaknya kini sedang berada di Toko buku. Alasan Helen yang mengatakan akan menemani Kakaknya ke Toko Buku tidak bohong, tapi bukan Kakaknya yang meminta Helen menemaninya, Helen sendiri yang mengajukan diri pada Kakaknya begitu ia mendapat ajakan Edward untuk pergi.
“Kak, apa aku harus pergi mengantar Kakak setelah ini?” tanya Helen ragu pada Kakaknya.
“Kenapa? Kau tidak ingin ikut?”
Helen tersenyum lebar, membenarkan ucapan Kakaknya.
“Kau yang ingin ikut kenapa tiba-tiba jadi tidak ingin ikut?”
“Aku merasa bersalah menolak ajakan temanku.”
“Yasudah kalau begitu pergilah.”
“Ah! Tidak tidak! aku akan ikut Kakak saja,” kata Helen cepat menyibakkan pikiran bersalahnya pada Edward.
“Kenapa kau ini, labil sekali. Terserah kau saja, Kakak bisa pergi sendiri.” Ucapnya santai sambil terus mencari-cari buku.
*
Sesampainya di Toko buku, Edward langsung masuk karena ia sudah dapat melihat ada Helen bersama seseorang yang kemungkinan adalah Kakaknya sedang melihat-lihat buku.
Edward berjalan perlahan-lahan sambil pura-pura melihat-lihat buku mendekati Helen dan Kakaknya seolah-olah buku yang ia cari berada di sekitar sana. Sambil sesekali ia melirik kearah Helen dan Kakaknya jika seandainya mereka melihat dan menyadari kehadiran Edward lebih dulu.
“Oh! Helen?” ucap Edward begitu sudah ada di dekatnya, seolah-olah baru menyadari kehadiran Helen di Toko ini. Akting Edward sangat buruk. Dengan tangan kanan yang sedang memegang buku yang entah apa judulnya, Edward berbalik membetulkan berdirinya menjadi benar-benar menghadap Helen.
Helen dan Kakaknya menoleh, Helen sangat terkejut melihat Edward ada disana. Helen mencurigai ini bukan suatu kebetulan. “Oh.. Edward, kau juga disini,” katanya ragu, entah harus merasa senang atau bagaimana.
“Siapa Len?” tanya Kakaknya sedikit berbisik pada Helen.
Mau tidak mau Helen harus mengenalkan Edward pada Kakaknya. “Ah, ini Ka. Teman satu sekolahku. Edward,” kata Helen mengenalkan Edward pada Kakaknya. “Edward, kenalkan. Ini Kakakku, Vina.” Dengan terpaksa, Helen tersenyum saat memperkenalkan mereka berdua satu sama lain.
“Halo Ka...” sapa Edward sambil tersenyum lalu bersalaman dengan Vina.
“Sedang mencari buku apa?” tanya Vina pada Edward.
“Mmm.. sebenarnya aku memiliki tugas mengenai Ilmu Alam, tapi aku tidak tahu buku apa yang harus aku cari, hehe..”
Helen melihat Edward dengan tatapan yang sinis, ia tahu Edward pintar dalam berbagai mata pelajaran salah satunya Ilmu Alam dan sekarang ia tidak tahu buku apa yang harus ia cari untuk mengerjakan tugas Ilmu Alam? Tidak masuk akal. Pikir Helen.
“Oh! Kalau begitu Helen bisa membantumu. Dia cukup pintar dalam pelajaran, dia pasti bisa membantumu menemukan buku yang kamu butuhkan.” Vina tersenyum jail pada Helen, karena tidak biasanya Helen menunjukkan mempunyai teman pria.
Edward langsung melihat kearah Helen, menunggu persetujuan apakan Helen mau atau tidak.
“Bukannya kita harus pergi lagi? Kakak sedang buru-buru kan?” kata Helen buru-buru, memalingkan wajahnya dari tatapan Edward pada Kakaknya. Ia tidak ingin berlama-lama dengan Edward.
“Oh kalian akan pergi.. kalau begitu tidak usah, tidak apa-apa,” kata Edward menolak tawaran Vina.
Setelah melihat kearah Edward untuk mendengar perkataannya, Helen kembali melihat Vina dengan tatapan penuh harap agar Kakak satu-satunya ini cepat-cepat mengajaknya pergi.
“Oh tidak, tidak apa-apa. Helen bisa tidak pergi denganku. Lagipula aku akan bertemu dengan temanku disana, jadi tidak apa-apa Helen tidak ikut.”
“Tapi ka-..”
“Kalau begitu aku pergi duluan ya..” ucap Vina lalu pergi ke meja kasir untuk membayar buku yang telah ia pilih.
Helen masih memandangi punggung Kakaknya, berharap ia berbalik dan mengajaknya pergi. Tapi harapan hanyalah harapan, setelah mengucapkan itu dan berpamitan padanya dan Edward, Vina pergi meninggalkan mereka dengan senyuman yang mengembang di wajahnya.
Helen bergumam mengatai Kakaknya dalam hati yang pengertian tapi juga tidak pengertian.
“Sedang apa kau disini?” tanya Helen dingin begitu Vina sudah tidak terlihat lagi.
“Bukannya sudah aku katakan tadi? Aku sedang mencari buku tentang Ilmu Alam,” ucap Edward polos sambil menunjukkan buku yang sejak tadi masih ia pegang.
“Jangan bohong. Aku tahu kau lebih pintar dariku tentang Ilmu Alam.”
Edward tersenyum mendengarnya. Perkataan Helen terdengar lucu baginya. Ia seperti sedang dimarahi tapi juga dipuji sekaligus.
Helen mengerutkan keningnya, tidak mengerti maksud dari senyuman Edward. “Kenapa tersenyum?” tanyanya.
“Kau lucu,” kata Edward lalu berpaling dan mulai benar-benar mencari buku yang ia butuhkan.
Ucapan Edward mampu membuat Helen membeku untuk sesaat. Helen benar-benar dibuat tidak mengerti dengan perubahan sikap Edward yang drastis ini. Dulu Edward begitu sombong, egois, juga menyebalkan dimatanya. Tapi sekarang Edward terlihat rendah hati, sopan, dan juga baik.
.
.
.
TBC
SELAMAT TAHUN BARU!!! PEMBACA CERITAKU YANG MEMBACANYA TAHUN 2019!
SEMOGA TAHUN 2020 MENJADI TAHUN YANG LEBIH BAIK BAGI KITA SEMUA.
SAMPAI JUMPA TAHUN 2020 :))) UNTUK CERITA SELANJUTNYAAA
<3

Comments
Post a Comment