The Feelings (Part 5)





Berhubung Edward tak bisa ikut hari ini, akhirnya Radley dan Kaelyn memutuskan untuk pergi berdua ke Arcade. Sepanjang perjalan menuju Arcade, Radley dan Kaelyn membuat beberapa orang melihat ke arah mereka karena kelakuan mereka satu sama lain yang terkadang terlihat bertengkar, bercanda, dan bersikap manis layaknya sepasang kekasih.

Radley dan Kaelyn yang sering seperti itu merasa biasa saja walaupun beberapa orang melihat mereka. Berbeda dengan Edward, Kaelyn jika sedang bersama dengan Edward mereka akan bersikap seperti Kakak-beradik.

Pertemanan mereka yang sudah terjalin cukup lama membuat mereka tidak memikirkan akan suatu batas pertemanan yang sering teman-temannya katakan. Takut jika akan terjadinya cinta segitiga yang mampu membuat pertemanan hancur, lalu mengatakan jika tidak ada yang namanya persahabatan antara pria dan wanita, dan lain sebagainya yang serupa seperti itu. 

“Jika aku mengajak Camila berkumpul dengan kita bagaimana?” tanya Radley tiba-tiba sambil terus berjalan lalu merangkul Kaelyn.

Kaelyn menengok, melihat Radley untuk beberapa detik. “Memangnya dia sudah mau diajak berkumpul dengan kita?” 

“Sepertinya begitu. Dia lebih berani dari yang aku pikir,” kata Radley yakin.

“Tahu dari mana?”

“Kemarin dia mengajakku nonton.”

Kaelyn mengerutkan keningnya tidak percaya. Seorang wanita, mengajak kencan duluan pria, benar-benar pemberani. Jarang sekali menemukan wanita seperti itu.
“Wah, dia pemberani ternyata. Lalu? Kapan?”

“Hari ini.”

“Jam berapa?”

“Siang ini tepatnya. Ya.. sekitar jam segini..” jawab Radley santai sambil melihat jam tangannya.

Kaelyn terkejut. Mendengar Radley ada janji tapi dia masih santai dan hendak main di Arcade. “Lalu? Kau tidak akan pergi?”

Radley mengacak rambut Kaelyn cepat. “Tidak. Aku sudah mengatakan padanya jika hari ini aku tidak bisa, dan sebagai gantinya aku mengajaknya untuk berkumpul dengan kita Jumat depan sepulang sekolah,” jelasnya membuat Kaelyn merasa sedikit tenang dan tidak merasa bersalah karena membuat temannya terlambat datang berkencan. 

Dilain sisi Kaelyn merasa begitu mengagumi temannya yang satu ini saat ini, Radley tidak membatalkan janjinya dengan temannya. “Oww~~” goda Kaelyn, Radley tahu keputusannya itu terlihat begitu romantis sebagai teman.

***

“Jadi ini rencanamu?” Edward dan Helen keluar dari ruangan bioskop.

Tidak sesuai rencana, tapi Edward senang akhirnya berhasil mengajak Helen pergi.

“Bagaimana filmnya? Seru tidak?” Edward malah mengalihkan pembicaraan.

“Setidaknya tidak membosankan.”

“Kau lapar tidak?”

“Tidak, aku akan pulang saja.”

“Karena kau sudah membantu menjalankan rencanaku, aku akan mentraktirmu.”

“Nanti saja, sekarang aku benar-benar harus pulang.”

“Terjadi sesuatu?”

“Tidak, aku hanya harus pulang sekarang.”

Mendengar Helen sudah mengatakan tiga kali jika ia akan pulang, membuat Edward merasa bodoh. Helen jelas-jelas seperti merasa tidak nyaman dengan keberadaan Edward tapi Edward terus memaksakan kehadirannya.

“Kalau begitu aku akan mengantarmu.”

“Tidak usah, terima kasih.”

“Baiklah kalau begitu.Terima kasih telah membantuku.”

Edward masih berdiam diri untuk melihat Helen pergi, membuatnya berpikir apakah Helen benar-benar membencinya atau tidak. Jika mengingat perkataan Helen beberapa hari lalu saat di kelas, jelas-jelas Helen mengatakan jika ia tidak membencinya tapi melihat Helen hari ini seperti ia membenci Edward. 

“Apa dia marah karena aku ajak nonton secara paksa?” gumam Edward sambil berjalan keluar dari bioskop.

“Kenapa sebenarnya pria itu..” gumam Helen begitu keluar dari gedung Bioskop. “Dia ingin balas dendam atau apa.. membuat salam paham saja..” omelnya merasa tidak terima akan perlakuan Edward padanya, membuat bingung dan goyah.

.
.
.
TBC




HAPPY 2020 TEMAN-TEMAN!!!



Comments

Popular