The Feelings (Part 7)





Setelah Kaelyn memisahkan diri dari Edward dan Helen, sepanjang jalan sampai rumah Radley, tidak akan perbincangan yang terjadi diantara Edward dan Helen. Helen yang masih merasa bersalah tidak tahu harus memulai pembicaraan seperti apa. Sedangkan Edward yang masih merasa kesal, tentu saja merasa tak ingin berbicara pada Helen.

Sesampainya dirumah Radley, Edward dan Helen langsung dipersilahkan masuk oleh Ibu Radley. Mereka berduapun masuk dan menuju lantai dua rumah Radley.

“Kalian berdua?” tanya Radley begitu Edward dan Helen berada di lantai dua.

“Kae mampir ke Toko musik,” kata Edward lalu menyimpan tasnya di samping sofa.

“Oh iya. Helen, perkenalkan. Ini Camila. Camila, ini Helen,” ucap Radley memperkenalkan mereka.

“Helen..” ucap Helen sambil berjabat tangan dengan Camila.

“Camila...”

Setelah selesai berkenalan mereka memulai perbincangan. Pertanyaan-pertanyaan dasar untuk mengenal mereka satu sama lain lebih dulu.

Setelah cukup lama menunggu Kaelyn yang tidak kunjung datang membuat Radley merasa khawatir jika nanti tiba-tiba Camila dan Kaelyn bertemu kemudian mereka tidak saling suka. Maka akan membuat Radley berada di posisi yang cukup rumit diantara wanita yang dia sukai dan wanita yang ia sayangi seperti keluarga.

Selama perbincangan berlangsung, Edward sebisa mungkin menghindari kontak mata dari Helen ketika Helen sesekali melihat Edward karena merasa takut bersalah karena ia sudah ikut ke acara kumpul mereka yang bisa dibilang ini acara kumpul teman-teman dekat, sedangkan Helen bukan teman dekat dari salah satu mereka.

Terlalu asik dengan obrolan mereka, Radley baru menyadari jika makanan ringan yang tadi disiapkan oleh Ibunya sudah habis. Radley pun pergi untuk membeli makanan ringan lagi dengan Edward.

*** 

“Bagaimana Camila?” tanya Radley pada Edward diperjalanan membeli makanan ringan.

“Yaa.. dia tidak berbeda jauh dengan saat di kelas sebenarnya. Aku tidak tahu perbedaan apa yang harus aku sebutkan tentangnya,” kata Edward yang membuatnya bingung dengan pertanyaan Radley.

“Ah iya.. Kau benar, seharusnya aku menanyakan itu pada Kae bukan padamu. Oh iya dimana Kae? Dia tidak menghubungimu?”

“Tidak ada,” kata Edward begitu melihat layar ponselnya tidak ada pesan atau panggilan tak terjawab dari Kaelyn.

Radley kemudian membuat panggilan pada Kaelyn, terdengar beberapa deringan sebelum akhirnya suara wanita berbicara Nomor yang anda tuju tidak dapat dihubungi. Cobalah beberapa saat lagi..... 

“Hah.. kemana sebenarnya anak itu. Dia tidak tersesat kan?” kata Radley tiba-tiba merasa khawatir pada Kaelyn yang bisa dikatakan buta arah.

“Sepertinya tidak akan. Dia hanya pergi ke Toko musik yang biasa.”

“Kalau begitu ayo kita kesana.”

*** 

Kaelyn dan Algis terlalu larut dalam obrolan mereka mengenai musik, ada banyak perbedaan musik yang mereka sukai tapi juga ada banyak kesamaan musik yang mereka sukai.

Mereka bergantian memutar musik yang Kaelyn lalu yang Algis sukai.
Kaelyn tidak yakin apakah ia sudah menyukai Algis, hanya saja Algis dapat membuat Kaelyn tidak dapat berhenti untuk terus memperhatikannya. Kaelyn merasa tidak pernah bosan untuk melihatnya, memperhatikan gerak-geriknya.

“Ada apa?” pertanyaan Algis membuat Kaelyn berhenti memperhatikan Algis.

“Ah tidak ada. Hanya saja kau terlihat begitu sangat menyukai lagu ini,” kata Kaelyn yang masih merasa tertangkap basah memperhatikan Algis.

Algis tersenyum pada Kaelyn, “Iya.. aku sangat menyukai lagu ini. Sangat tenang saat mendengerkannya, tapi juga menyegarkan, liriknya terdengar menghibur, tapi nadanya terdengar sedih. Terdengar begitu dalam lagunya.” Jelas Algis yang juga diakui Kaelyn. 

** 

Setelah Radley dan Edward membeli makanan ringan, mereka pergi ke Toko musik untuk melihat apa yang Kaelyn lakukan sampai begitu lama disana.

Begitu sampai di depan Toko musik, Radley dan Edward melihat Kaelyn bersama seorang pria dari kaca Toko musik. Mereka terlihat sedang serius mendengarkan lagu. 

“Sepertinya Kae mendapat teman baru,” kata Radley.

Edward menoleh pada Radley, “Sepertinya begitu.”

***

“Sekarang, lagu apa yang akan kau tunjukkan padaku?” tanya Algis begitu mereka selesai mendengarkan lagu kesukaan Algis.

“Sebentar, aku lihat playlistku dulu,” kata Kaelyn lalu mengeluarkan handphonenya. Ia menekan beberapa kali tombol power handphonenya tapi tetap tidak menyala. “Ah, sepertinya handphoneku mati. Aku akan langsung cari disini saja.”

“Oke..”

Begitu Kaelyn hendak mencari album lagu yang ingin ia dengarkan lagi, ia teringat bahwa seharusnya ia berkumpul dengan Edward, Radley, dan yang lainnya. Ia melihat jam tangannya, jarum jamnya menunjukkan waktu pukul 3 lebih 15 menit. “Sial!” gumamnya.

“Ada apa?” tanya Algis yang melihat Kaelyn seperti telah melakukan kesalahan.

Kaelyn berbalik menghadap Algis. “Al, maaf. Sepertinya lain kali kau bisa mendengar lagu kesukaanku. Aku lupa jika aku ada janji dengan temanku. Aku harus segera pulang. Maaf. Aku duluan ya,” ucap Kaelyn cepat lalu berlari. 

“Ah iya..” Algis hanya melihat kepergian Kaelyn.

.
.
.
TBC




Comments

Popular