The Feelings (Part 8)
Kaelyn berlari secepat yang ia bisa sambil sesekali melihat jarum jam pada jam tangannya khawatir jika jam tangannya ternyata mati. Sesekali ia juga menyenggol para pejalan kaki.
“Kae!” panggil seseorang yang baru saja ia tabrak. Kaelyn memutuskan untuk berhenti berlari dan berbalik ke sumber suara karena Kaelyn sangat mengenali suara itu.
“Rad!!!” teriak Kaelyn lalu berjalan cepat mendekati Radley dan Edward. Kaelyn merangkul keduanya dari depan sebagai penopang tubuhnya untuk mengatur nafasnya kembali.
“Darimana saja kau,” kata Edward.
“Maaf. Aku terlalu asik mendengarkan musik.”
Mereka pun kemudian melanjutkan perjalanan mereka.
“Jadi, siapa pria itu?” goda Radley.
“Pria apa?” tanya Kaelyn.
“Pria yang membuatmu terlalu asik mendengarkan musik?” kata Radley tersenyum jail.
“Kalian melihatnya?”
“Kita baru saja dari sana,” kata Edward.
“Kenapa tidak memanggilku!!!” omel Kaelyn yang merasa bersalah karena sudah terlambat di acara mereka hari ini.
“Kalian terlihat seperti ‘Jangan ganggu kami’,” lagi-lagi Radley menggodanya.
“Dia Algis. Kita bertemu disana,” ucap Kaelyn santai.
“Kau menyukainya?” tanya Radley.
Kaelyn mengerutkan keningnya, “Kau gila. Kita bahkan baru bertemu hari ini.”
***
Selama Radley dan Edward pergi Camila dan Helen sibuk dengan dirinya sendiri untuk mencari topik pembicaraan satu sama lain. Helen sebagai orang yang pendiam tidak tahu topik pembicaraan apa yang harus ia lontarkan pada orang seperti Camila.
“Kau menyukai Edward ya?” tanya Camila yang tentu saja membuat Helen tersentak. Pembukaan perbincangan yang terasa membingungkan bagi Helen.
“Ah.. Kenapa kau bertanya seperti itu?”
“Aku memperhatikan kau tadi beberapa kali melihat Edward dengan tatapan yang tidak biasa. Seperti pada orang yang kau sukai..” jelas Camila hati-hati sambil tertawa kecil.
“Ah.. tidak seperti itu.. aku hanya merasa bersalah dan takut Edward bertambah marah padaku karena aku tiba-tiba ikut ke acara kumpul kalian,” kata Helen jujur. Entah kenapa Helen bisa berkata begitu jujur pada orang yang baru saja ia kenal.
“Bertambah marah? Jadi sekarang pun kalian sedang bertengkar?”
“Mmm bukan bertengkar juga sebenarnya. Tapi memang aku yang membuat dia marah padaku.”
“Kenapa?” Camila menjadi penasaran, dan Helen semakin bingung untuk menjelaskan situasinya.
“Ada sedikit kesalahpahaman(?).. Yaa kurang lebih semacam itu.. hehe,” jawab Helen bingung.
“Ahh.. urusan pribadi ya? Haha.. oke oke aku mengerti..” Helen tersenyum malu.
Tak lama kemudian Edward, Radley, dan Kaelyn pun datang dengan tangan mereka yang membawa makanan ringan.
Kaelyn langsung meminta maaf atas keterlambatannya dan mengenalkan diri pada Camila.
Lagi-lagi terdengar tawa mereka yang cukup keras begitu mendengar cerita satu sama lain, sampai tidak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 6 sore.
“Aku harus pulang,” kata Helen.
“Sudah mau pulang?~~” rengek Kaelyn yang merasa senang dengan suasana mereka saat ini.
“Kakakku akan khawatir jika aku pulang terlalu malam.”
“Kalau begitu aku juga pamit pulang, orang tuaku akan pulang malam ini. Aku tidak ingin mereka sampai rumah aku tidak ada.” Kata Camila yang juga membuat Kaelyn menyayangkan suasana hari ini cepat selesai.
Mereka pun turun ke bawah, lalu berpamitan pada Ibu Radley. Radley pergi mengantar Camila, dan dengan paksaan Kaelyn akhirnya Edward mau mengantarkan Helen dan Helen mau diantarkan.
**
“Maaf.” Kata Helen sambil menundukkan kepalanya. Setelah mengumpulkan cukup keberanian, akhirnya Helen bisa berkata sesuatu pada Edward.
Edward menoleh, memastikan jika Helen yang tadi mengatakan ‘Maaf’.
“Maaf atas apa?” tanya Edward.
“Sebenarnya aku tidak tahu aku harus mengatakan maaf atas hal apa. Tapi... entah mengapa aku hanya tidak suka jika kau tidak mencariku beberapa hari ini di sekolah.” Edward masih mendengarkan, ia terus berjalan dan melihat ke depan, tapi hatinya sedikit goyah oleh perkataan Helen.
“...”
“Maaf jika aku terlalu lancang atau tidak tahu malu. Tapi aku merasa merindukanmu Edward.”
**
“Kau menyukai Kaelyn?” pertanyaan acak Camila membuat Radley terkejut.
“Apa maksudmu?” tanya Radley balik sambil tertawa.
“Kau tidak usah pura-pura menyukaiku untuk menunjukkan kau tidak menyukai Kaelyn.” Perkataan Camila yang terdengar begitu bijak, membuat Radley tidak dapat berkata-kata. “Jadi kenapa kau mendekatiku?” Camila yang sudah curiga dengan Radley yang tiba-tiba mendekatinya tentu saja penasaran, dan juga Camila bukan wanita yang dapat dengan mudah jatuh hati pada seorang pria.
“Bukan urusanmu. Kalau kau tidak menyukaiku yasudah, aku bisa mendekati wanita lain lagi.” Perkataan Radley yang terdengar kasar itu tidak membuat Camila merasa tersakiti atau kecewa pada Radley. Camila wanita yang tangguh tapi juga cukup untuk bisa dibilang baik.
“Tentu saja ini urusanku. Kau sudah menyeretku dalam masalah perasaanmu, tentu saja ini juga jadi urusanku juga. Kau tidak bisa mengajak seseorang lalu tiba-tiba membuangnya begitu saja.” Radley hanya mendengarkan ucapan Camila.
Radley sudah memprediksi jika sesuatu seperti ini pasti terjadi, Camila bukan wanita bodoh yang mudah luluh karena pria yang cukup terkenal di sekolahnya.
“Jika kau tidak ingin mengatakannya padaku, maka tidak usah. Tapi setidaknya jangan membuat Kaelyn merasa jika kau tidak menyukainya.”
Radley dan Camila sampai di halte bus, tidak beberapa lama mereka sampai, bus tujuan Camila datang.
“Kau sangat dewasa. Terima kasih atas nasihatnya. Kau mungkin tahu apa yang akan terjadi pada kita selanjutnya. Maaf niatku salah untuk mendekatimu. Sampai jumpa besok.” Radley tersenyum, masih berdiri sampai Camila memasuki bus tujuannya.
.
.
.
TBC

Comments
Post a Comment