The Feelings (Part 9)
Edward kini dideru kebingungan akan perasaannya. Pernyataan Helen yang mengatakan merindukannya itu sangat membuatnya goyah. Walaupun memang berhasil rencana awal Edward mendekati Helen untuk menjailinya, tapi ia tidak percaya dirinya akan merasa goyah seperti ini pada Helen. Selain itu, kenyataan beberapa hari ini dirinya merasa sedih akan sikap Helen saat itu juga masih terbayang dibenaknya.
"Ada apa aku ini! Yang aku sukai Kaelyn bukan Helen! Kenapa memikirkan Helen. ARGHHHH." Omel Edward frustasi mengacak rambutnya kasar yang sesekali ia melihat langit-langit kamar, mengingat kembali kejadian tadi saat mengantar Helen kemudian kembali tengkurap untuk menghilangkan pikirannya akan kejadian tadi.
"Apa aku harus mengatakannya saja? Pada Kaelyn jika aku menyukainya?"
Edward kembali terdiam lalu mengacak rambutnya.
Edward bangun lalu mengambil ponselnya. Menekan kontak seseorang lalu melakukan panggilan pada Radley.
"Ada apa?"
"Kau sudah tidur?" pertanyaan awal Edward berubah begitu mendengar suara Radley yang tidak bersemangat.
"Belum. Ada apa?"
"Suaramu terdengar lelah. Kau habis olahraga?"
"Aku memang lelah tapi bukan karena olahraga. Aku lelah berpikir. Ada apa?" ini pertanyaan 'ada apa' ketiga Radley.
"Untuk apa kau berpikir malam-malam? Kau tidak pernah berpikir jika sedang belajar."
"Jika kau menelponku hanya untuk mengkhawatirkanku, aku tutup sekarang." Ancam Radley yang sudah kesal.
"Ehh tidak tidak. Aku ingin bertanya sesuatu padamu."
"..."
"Tapi karena kau lelah, maka besok saja! Selamat malam!" ucap Edward cepat-cepat lalu menutup telfonnya.
***
"Sial! Manusia ini menggangguku berpikir saja," oceh Radley pada ponselnya begitu Edward menutupnya secara sepihak.
"Agh! Sudah berpikir sampai mana aku!"
Masih tidak disangka dan tidak dipercayai oleh Radley. Perasaan yang ia percayai ini tidak ingin Radley percayai. Radley yang mendengar kenyataan atas pernyataan cinta Edward pada Kaelyn saat itu sangat membuatnya merasa bingung dan takut.
Berbagai macam pertanyaan seketika muncul dikepalanya, perasaan aneh dan asing tiba-tiba terasa begitu pekat. Ia tidak percaya akan perasaannya yang sakit begitu mendengar jika Edward menyukai Kaelyn.
'Ada apa dengan perasaanku?' 'Apakah ini benar?'
'Apa ini mimpi?'
'Apa Ed sedang bercanda?'
'Apa Kae juga menykai Ed?'
'Apa aku menyukai Kae?'
'Apa persahabatan kita akan hancur?'
'Apa aku harus mengatakannya? Pada siapa?'
'Aku harus mengatakan pada Ed? Atau Kae?'.
Sejak hari itu Radley mencoba untuk mengabaikan perasaannya yang muncul saat itu. Mengabaikan perasaannya yang berubah pada Kaelyn, mengabaikan Edward yang menyukai Kaelyn.
Tapi pada kenyataannya tidak semudah itu, kenyataan jika mereka bertiga sering bertemu setiap hari tidak jarang bagi Radley untuk kembali mengingat Edward yang menyukai Kaelyn dan merasakan perasaannya pada Kaelyn.
Menyakitkan dan tidak ingin mempercayainya.
Dan juga, ia merasa kesal dengan Camila yang begitu menyadari akan perasaan yang bahkan dirinya sendiripun tidak. Camila mengingatkannya akan perasaannya dan juga kenyataannya.
.
.
.
TBC

Comments
Post a Comment