Between Us (Part 11)
Malam hari pun tiba, mereka
sudah berkumpul di depan tenda mereka untuk memulai barbequean. James
dan Radley sedang berusaha menyalakan api untuk membakar daging. Sementara itu
Janet yang dibantu dengan Anna menyiapkan daging yang sudah mereka bawa dari
rumah penjaga kemah. Edward dan Alice menyiapkan makanan pendamping mereka
serta menyiapkan peralatan makan mereka yang seadanya. Helen yang dibantu oleh
Daniel membuat bumbu dan campuran lainnya untuk makan daging nanti. Kaelyn dan
Algis membuat beberapa jenis minuman yang sudah dipesan oleh teman-temannya
tadi.
Api sudah siap, daging pun
sudah siap. Mereka mulai membakar daging serta makanan pendamping lainnya yang
juga perlu dibakar, seperti jamur dan sayuran lainnya.
Kaelyn menyimpan minuman yang
sudah ia dan Algis buat di meja makan mereka. Ada teh, beberapa macam kopi,
hingga beberapa minuman campuran susu lainnya. Beberapa dari mereka ada yang
langsung mengambil minuman mereka, udara malam yang bisa dibilang di tengah
hutan ini terasa cukup dingin ketika hari semakin malam.
Mereka yang sudah
menyelesaikan tugas utama mereka duduk di bangku yang melingkari meja makan
mereka sambil berbincang dan mengenal satu sama lain. Karena pada kenyataannya
mereka tak begitu dekat untuk pergi camping bersama jika bukan karena teman
mereka. Begitu juga James dan Radley yang ditinggal berdua di depan pembakaran bersama
dengan daging.
“Kau menyukai Kaelyn?” tanya
James tiba-tiba pada Radley yang ada di sampingnya, ia bertanya dengan suara
yang cukup pelan agar hanya Radley yang bisa mendengarnya. Untungnya juga
teman-temannya itu sedang mengobrol dan sesekali tertawa lepas yang membuat
mereka cukup berisik untuk mendengar suara lain di sekitar mereka.
Radley menoleh terkejut.
“Kenapa bertanya begitu. Aku sudah berteman lama dengannya, perasaan seperti
itu sudah tak mempan untuk kita.” Jelas Radley, meskipun akhir-akhir ini
dirinya juga mempertanyakan perasaannya itu pada Kaelyn.
“Ah.. benarkah?”
Radley kembali menoleh
bingung. “Memangnya kenapa? Kau ingin mengatakan sesuatu?” tebak Radley.
Kali ini James yang menoleh,
ia kemudian menoleh pada teman-temannya lebih dulu lalu kembali menoleh pada
Radley. “Aku pikir Al menyukai Kaelyn.” Ucap James sedikit berbisik.
“Benarkah?” Radley cukup terkejut
mendengarnya, karena selama ini yang ia tahu hanya Kaelyn lah yang menyukai
Algis, tapi tidak dengan sebaliknya. Jadi ketika ia mendengar ini ada rasa
senang tapi juga ada keraguan karena baginya Algis tak terlihat menyukai
Kaelyn.
James mengangguk. “Terlihat
jelas. Aku pernah bertanya padanya, tapi dia tak mengakuinya. Tapi hari ini
terlihat jelas jika ucapannya itu berbohong.” Ungkap James. “Kau pernah dengar
ungkapan mata tak pernah berbohong kan?” Radley mengangguk atas pertanyaan
James itu. “Hari ini aku melihat tatapan Algis pada Kaelyn. Tatapannya bukan
tatapan biasa. Ah, bagaimana aku menjelaskannya. Tapi bagaimana bisa seseorang
melihat pada seseorang seperti sedang menjelajahi isi dunia orang tersebut?”
jelas James susah payah. “Kau mengerti maksudku kan?” kata James lagi, ia
sendiri tak tahu bagaimana mengungkapkan tatapan Algis yang ia lihat beberapa
kali hari ini pada Kaelyn.
Radley mengangguk-angguk
pelan. “Sepertinya aku mengerti.” Katanya, pandangannya menunjuk pada kumpulan
teman-temannya.
James mengikuti arah pandangan
Radley. “Seperti itu!” tunjuk James refleks. Memperlihatkan Algis yang sedang
melihat pada Kaelyn yang duduk di seberangnya. Padahal mereka sedang berisik
berbincang dan bercanda tapi Algis merespon sambil terus melihat pada Kaelyn.
Tangan James seketika turun
ketika Janet bangun dari kursinya dan menghampiri mereka.
“Sudah matang?” tanyanya
begitu di depan James dan Radley.
“Sebentar lagi matang semua.”
Jawab Radley.
“Ah! Kita tanya Jane.” Kata
James pada Radley.
Janet mengerutkan dahinya,
penasaran.
“Menurutmu A-“ ucapannya
terhenti ketika Radley dengan cepat menendang kaki James. James langsung
menoleh, ekspresinya mempertanyakan apa maksud dari tendangannya itu.
Radley menggeleng kecil sambil
menambahkan gerakan lainnya agar tak terlalu kentara bagi Janet.
Janet tentu saja melihatnya,
ia menjadi semakin penasaran. “Apa? Kenapa tidak jadi bicaranya? Rad, kau
menyembunyikan apa?”
James yang merasa berada di
ujung tanduk merasa harus menyelesaikan ucapannya dengan kalimat yang berbeda.
“Ah.. menurutmu a… api. Iya api. Api yang digunakan untuk membakar itu harus
kecil atau besar?”
Ekspresi Janet terlihat kecewa
karena mendengar pertanyaannya, tapi juga menjadi lebih tenang karena mendengar
ucapan yang tadi seperti sempat dirahasiakan.
“Bukankah kecil lebih bagus? Agar dagingnya matang sampai ke dalam?” jawab
Janet ragu.
“Sebentar.” Wajahnya kembali mamasang ekspresi penasaran. “Kalian membuat
dagingnya gosong yaa?!” tebaknya. Kali ini ekspresinya terlihat seperti akan
marah.
James langsung menggeleng,
begitu juga Radley.
“Tidak tidak. Kita pastikan dagingnya matang merata..” ucap Radley pelan-pelan
dan jelas.
Tapi mata Janet masih
mengintorgasi. “Kita akan tahu ketika memakannya.” Katanya kemudian.
Tak lama kemudian daging pun
sudah selesai dibakar. Mereka mulai melahap makanannya tanpa komentar negatif,
dagingnya dibakar dengan baik, mereka makan dengan lahab, dalam sekejap daging
seketika sudah habis. Setelah selesai makan mereka langsung membereskan alat makan
dan peralatan makan yang lainnya.
Setelah selesai beres-beres
mereka kembali duduk di kursi mereka sambil membawa gelas masing-masing yang
sudah mereka isi kembali dengan minuman hangat yang mereka suka. Mereka duduk
melingkari api unggun yang sudah dibuat oleh James baru saja. Untuk beberapa
lama mereka hanya melihat pada api sambil menyesap minuman mereka.
“Bagaimana jika kita memainkan
permainan?” usul Daniel, membuatnya menjadi pusat perhatian.
“Permainan apa?” tanya Algis
yang duduk disampingnya.
“Truth or Drink?”
“Truth or Drink? Bukan Truth or Dare?”
tanya Helen memastikan.
Daniel mengangguk. “Aku
membawa bir.” Ungkapnya kemudian yang mengejutkan teman-temannya bahkan teman
dekatnya.
“Kau gila?!” kata Algis dan
James hampir bersamaan, yang lainnya hanya memasang wajah terkejut tanpa
mengatakan apa-apa.
“Aku belum pernah mencobanya
sih..” ungkap Kaelyn kemudian, mengalihkan perhatian mereka dari Daniel kepada
dirinya.
“Hey! Jangan macam-macam kau.”
Kata Radley.
“Awas saja kalau kau
mencobanya.” Kata Edward.
Radley dan Edward juga
mengatakannya hampir bersamaan.
“Kalau begitu, kau tinggal
perlu menjawab jujur pertanyaan. Bukan begitu?” kata Daniel, seolah tak peduli
dengan fakta yang baru saja Kaelyn ungkapkan.
Kaelyn yang menjadi merasa
tertantang menyetujui usul Daniel, yang lainnya pun satu persatu setuju.
“Ini sama saja seperti Truth
or Dare. Tak ada yang berani minum kecuali Daniel.” Ucap Anna.
Daniel langsung menggeleng,
“Al dan James juga sering minum.” Ucap Daniel membeberkan fakta tentang kedua
temannya itu.
Sedangkan kedua temannya hanya
terdiam tak menyangkalnya.
Daniel kemudian mengeluarkan
satu krat bir dari tasnya, yang kembali membuat teman-temannya terkejut karena
membawa sebanyak itu. Ia kemudian mulai membuka satu kaleng lalu menuangkannya
pada gelas kecil yang mereka bawa dan mengisi setengahnya.
“Jika tak ingin jawab, kalian
harus meminumnya sekaligus.” Kata Daniel kemudian yang langsung disetujui oleh
teman-temannya.
Mereka pun memutuskan untuk
memulainya dari Daniel dan berputar searah jarum jam untuk giliran selanjutnya.
Siapapun boleh bertanya tapi hanya boleh satu pertanyaan yang ditanyakan lalu
langsung berputar ke orang selanjutnya.
“Siapa yang mau bertanya.”
Tantang Daniel.
James mengangkat tangannya,
“Apakah kau pernah ditolak oleh wanita karena kau terlalu sering membuat
lelucon?” tanyanya sambil bertanya. Algis yang duduk disampingnya langsung
tertawa. Yang lainnya terkejut tapi diselingi dengan tawa kecil mereka.
“Hey! Kau bahkan sudah tahu
jawabannya kenapa menanyakannya lagi?!” Daniel merasa tak terima.
“Yang lain tidak tahu.” Bela
James pada dirinya sendiri.
“Benarkah?” ucap Janet sambil
menahan tawanya.
“Hey! Berhenti tertawa! Aku
bahkan tak membuat lelucon.” Rengek Daniel lalu langsung mengambil gelasnya dan
meneguknya sekaligus.
“Kau bahkan tak berniat
menjawab padahal jawabannya sudah jelas. Kau memainkan ini hanya karena ingin
minum saja kan?” ucap Algis kemudian. Daniel mengangkat alisnya sambil
tersenyum, membenarkan ucapan Algis.
“Ok, selanjutnya. Helen.” Kata
Daniel sambil menuangkan kembali minumannya. “Aku mau bertanya.” Katanya
mengajukan diri, teman-temannya tak ada yang melarangnya. “Kau menyukai kan?”
tanyanya yang langsung membuat keributan kecil dari teman-temannya.
“Pertanyaan macam apa itu. Kau
bahkan tak memikirkannya sama sekali.” Ucap Radley.
Janet dan Anna terdiam,
seperti mengetahui sesuatu, mereka hanya melihat pada Helen menunggu reaksinya
selanjutnya.
Selah cukup lama terdiam Helen
kemudian mengambil gelas dan langsung meminumnya. Mereka terlihat terkejut
dengan keputusan Helen terutama Janet dan Anna, karena yang mereka tahu Helen
belum pernah mencoba minuman beralkohol.
“Woahh. Ini sungguhan? Aku
pikir akan hanya Daniel yang meminumnya.” Kata Kaelyn yang merasa terkejut
dengan yang dilihatnya.
“Lebih baik kau berkata jujur Kae.”
Usul Radley yang juga merasa khawatir pada teman dan dirinya yang tidak pernah
meminum minuman seperti itu.
“Hel, kau tidak apa-apa kan?”
tanya Janet yang juga khawatir pada temannya itu.
Helen mengangguk cepat meski
wajahnya mengernyit karena rasa yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
“Ok.. Kita lanjut ya, kau
yakin tidak apa-apa kan Hel?” ucap Daniel memastikan. Helen kembali mengangguk.
“Ada yang ingin bertanya? Jika tidak, aku ingin bertanya.” Teman-temannya pun
mempersilahkan.
“Kau menyukai Radley kan?” tanya Daniel yang kemudian mendapat dari
teman-temannya lagi.
“Hey… Kau akan menanyakan hal itu
pada kita semua?!” omel James.
“Benar.. aku sudah
memperhatikan kalian semua. Dan kalian… sudah dipastikan….” Ucapan Daniel
terpotong-potong, membuat yang lainnya penasaran tapi juga kesal.
“Berhenti berhenti, ini
curang. Permainan dibatalkan.” kata James.
“Hey! Aku sudah minum!!”
teriak Helen yang merasa tak terima.
Daniel langsung berdiri.
“Benar.. dia bahkan sudah menjawab satu pertanyaan, setidaknya kita semua
menjawab satu pertanyaan.” Ia mengatakannya seperti sedang berpidato.
“Aku tidak menjawabnya ya.”
Koreksi Helen, meski tetap saja pilihannya untuk minum membuat jawabannya
menjadi lebih jelas di mata teman-temannya itu.
James kembali terdiam, ia juga
merasa tak enak jika salah satu dari mereka sudah menjadi “korban” muslihat
Daniel.
Daniel kembali duduk, “Anna.
Pertanyaanku masih itu, atau yang lain ada yang ingin bertanya?”
“Kapan pertama kali kau
melihat Radley?” Algis buka suara.
Daniel langsung menoleh lalu
tersenyum, ia merasa senang ada teman yang mendukunya.
“Al!!....” keluh Janet.
“Kau!!” omel James.
“Kau boleh memilih untuk
menjawab yang mana saja.” Usul Daniel.
“Kalian.. benar-benar.
Orangnya bahkan ada disini.” Keluh Anna, bimbang untuk menjawabnya atau minum.
“Itu yang membuat permainannya
seru!” kata Daniel.
Tanpa pikir panjang lagi Anna
mengambil gelas lalu meminumnya.
“An.. kau juga.” Ucap Janet
pasrah, kini temannya sudah tau rasanya bir.
“Pilihan bagus An.” Kata
Daniel memberikan highfive pada Anna.
“Setidaknya semua meminumnya sekali.” Lanjutnya usil.
“Aku akan bertanya.” Alice
mengangkat tangannya. “Aku tak tahu ini pantas atau tidak, tapi kita semua
disini mungkin sudah tahu jika kau sering dekat dengan seseorang tapi tak
pernah berakhir berpacaran dengan salah satu dari mereka. Aku ingin tanya,
kenapa?”
Semua orang seketika menjadi
serius, pandangannya kini tertuju pada Janet.
“Ah.. itu.. Sepertinya aku
bisa menjawabnya.” Janet mengungkapkannya dengan hati-hati. “Aku pernah
menyukai sahabatku waktu SMA, lalu menembaknya dan ditolak, lalu hubunganku dengannya
benar-benar hancur. Jadi sekarang, ketika menyukai seseorang aku hanya
menyukainya lalu membuatnya menjadi temanku, tapi beberapa dari mereka tak
menginginkan hal itu jadi mereka pergi, dan.. ya.. “ ungkap Janet diakhiri
dengan tawa canggung diakhir kalimatnya.
Helen dan Anna pun baru
mengetahui hal itu, dan meskipun Kaelyn tau cerita tentang sahabat SMA nya itu
tapi tak tahu jika hal itu mempengaruhi kisah cintanya hingga saat ini.
“Tapi apa yang membuatmu
sekarang benar-benar menyukai –“ Kaelyn seketika tersadar, ia menghentikan
bicaranya.
“Menyukai apa?” tanya Daniel
usil.
“Satu orang, satu pertanyaan.”
Bela Kaelyn.
“Ckck. Kau benar-benar bisa
membuat orang penasaran ya.” Keluh Daniel. “Kita lihat apakah kali ini kau akan
kembali membuat penasaran atau tidak. Pertanyaan?”
“Aku akan bertanya!” seru
Janet semangat.
“Sebutkan nama orang yang sedang kau sukai!”
Kaelyn terkejut. Radley,
Edward, dan Alice yang juga mengetahuinya terkejut dengan pertanyaan Janet.
“Benarkah?” tanya Kaelyn
memastikan. Janet mengangguk.
“Kenapa? Apa orangnya ada
disini?” tanya Daniel, kembali usil. Kaelyn terdiam.
“Benarkah?! Ada disini?” tanya
Janet lagi.
“Tidak. Tidak, tidak.” Jawab
Kaelyn cepat.
“Kau harus jujur atau kau
harus minum Kae..” kata Helen mengingatkan. “Kau berbohong maka kau harus
minum.” Katanya lagi karena ia merasa jika jawaban Kaelyn tadi berbohong.
“Oke. Sebentar. Aku hanya
perlu menjawab satu pertanyaan kan?” kata Kaelyn cepat, ia tak ingin meminum
minuman itu.
“Kalau begitu ini
pertanyaannya.” Seru Janet cepat. “Siapa nama orang yang kau sukai disini?!”
pertanyaannya Janet membuat Daniel merasa puas.
“Sebentar. Aku tidak pernah
mengatakan orang yang kusukai ada dirini.” Bela Kaelyn.
“Memang tidak. Jika tidak ada
jawab saja tidak ada, tapi dengan jujur ya.” Ucap Janet sambil tersenyum. Ia
merasa senang dengan pertanyaannya sendiri karena ia sudah penasaran dengan
orang yang disukai oleh teman sekamarnya itu.
Wajah Kaelyn sangat frustasi,
ia tak ingin meminumnya tapi ia tak bisa menjawabnya.
“Lebih baik kau menjawabnya
Kae.” usul Radley yang lebih terdengar seperti desakan.
Kaelyn yang sedang memandang
gelas untuk berpikir meminumnya seketika tersadar.
“Aku benar-benar kena
masalah.” Gumamnya tapi masih dapat didengar oleh teman-temannya meski pelan.
“Minum saja Kae. Segitu tak
akan terasa, aku jamin kau tak akan menyesal mencobanya.” Seru Daniel
bersemangat.
Kaelyn hanya melihat pada
gelas itu, mengabaikan ucapan teman-temannya.
“Black knight disini berlaku
kan?” tanya Algis tiba-tiba.
Yang lainnya terlihat bingung
dengan pertanyaan Algis yang tiba-tiba, tapi mereka mengerti maksudnya lalu
mengangguk ragu bergantian.
“Kae. Kau akan menjawabnya
atau tidak?” tanya Algis, kali ini tertuju hanya pada Kaelyn.
Kaelyn menoleh lalu menggeleng
pelan. “Tidak. Aku akan menja-“ ucapannya terpotong ketika Algis sudah
mengambil gelasnya lalu meminumnya cepat sekaligus.
Kaelyn terkejut, begitu juga dengan yang lainnya, apalagi Janet yang ditambah
rasa cemburu karena perilaku Algis yang mengatasnamakan Kaelyn.
Mereka semua membeku dan
membisu, mereka hanya melihat pada Algis tanpa mengatakan apa-apa.
Algis menaruh gelasnya lalu
melihat sekeliling.
“Kenapa?”
“Kau menjadi black knight
Kaelyn. Kau nanti harus membuat permintaan pada Kaelyn dan Kaelyn harus
memenuhinya.” Ucap James pada Algis, ia lalu menoleh pada Kaelyn. “Kau tahu
kan?”
“O..oh… i.. iyaa. Aku tahu.
Tapi, bukankah harusnya kau bilang dulu jika akan meminumnya?!” kata Kaelyn
hampir membentak pada Algis.
Algis yang terkejut dengan
nada suara Kaelyn menjadi salah tingkah dengan pertanyaan yang diajukannya. “Haya
kita bertiga yang terbiasa meminumnya. Mereka tidak akan menggantikanmu,
bukankah aku orang yang tepat untuk menggantikanmu meminumnya?” ucap Algis
polos.
“Kata siapa? Memangnya kenapa
kita tidak bisa menggantikannya?” tanya James merasa tersinggung.
“Kalian baru berteman
dengannya saat kuliah, itupun tidak terlalu dekat. Aku sudah dekat dengannya
sejak SMA, bukankah itu wajar?” ucapnya lagi polos, tanpa sadar Algis
membeberkan fakta baru diantara mereka dan membuat Kaelyn juga terkejut
mendengarnya.
“Kau dekat dengannya sejak
SMA?” tanya Daniel pada Algis.
“Kau satu SMA dengannya?”
tanya Janet pada Kaelyn.
Suasana seketika hening dan
udara seketika menjadi lebih dingin.
Teman-teman Algis memang tidak
tahu kedekatannya dengan Kaelyn saat SMA. Mereka berdua lebih sering bertemu
dan dekat di luar sekolah dibandingkan saat di sekolah, dan Algis pun tak sempat
menceritakan pada teman-temannya karena hubungannya dengan Kaelyn ternyata
lebih cepat “berakhir” dari yang mereka duga.
“Bagaimana jika kita lanjutkan
permainannya?” usul Algis mengalihkan pembicaraan.
“Tidak.” Jawab James, Daniel,
dan Janet bersamaan.
“Kae, sepertinya kau harus
menjelaskan sesuatu padaku.” Ucap Janet, nada bicaranya serius. Kaelyn
benar-benar terkena masalah meskipun tak menjawab pertanyaannya.
Yang lainnya terdiam dan
saling berpandangan canggung dengan situasi saat ini.
“Kita bicara berdua saja.”
Ajak Kaelyn sambil berdiri dari duduknya.
“Tidak perlu. Disini saja. Aku
tidak apa-apa.” Ucap Janet seperti menantang.
Kaelyn yang sudah berdiri
seketika terpaku, ia melihat pada teman-temannya lalu kembali duduk canggung.
Teman-teman yang lainnya pun
tak mampu pergi darisana karena ucapan Janet itu.
Kaelyn terdiam, ia memikirkan
skenario apalagi yang perlu ia ucapkan untuk menyempurnakan kebohongannya lagi.
“Ah.. aku minta maaf karena
tak mengatakan Algis dan aku satu SMA. Aku hanya tak ingin ikut campur dengan
perasaanmu padanya. Kau tahu, aku tak suka ikut campur dengan urusan orang
lain. Maaf jika aku terkesan jahat, tapi jika aku mengatakan aku mengenalnya
aku takut kau meminta bantuanku dan kau tahu aku sulit untuk menolak, itu
sebabnya aku memilih untuk tak mengatakannya sejak awal.” Jelas Kaelyn, yang
tentu saja berbohong tapi setelah ia pikir-pikir memang cukup masuk akal dengan
sikapnya yang memang terlalu bodo amat akan sesuatu, dan baru ia sadari juga
jika ternyata dirinya cukup jahat pada orang lain karena sikapnya yang sering
bodo amat.
Janet terdiam, tapi wajahnya
tak menunjukkan ekspresi kesal lagi.
Sementara Daniel, James, dan
Algis seperti menerka-nerka maksud dari ucapan Kaelyn tersebut. Sedangkan yang
lainnya tentu saja sudah tahu jika Janet menyukai Algis.
“Ini maksudnya Jane menyukai
Al?” tanya James memastikan kebingungannya.
Janet menoleh tapi terdiam,
begitu juga Kaelyn, yang lainnya terdiam dan hanya melihat ke arah lain. Tak
ada yang berniat untuk menjawabnya. Helen dan Anna sudah seharusnya
menyembunyikan hal itu karena Janet yang memintanya. Radley, Edward, dan Alice
tahu jika fakta itu sulit diterima oleh Kaelyn jadi mereka tak ingin membuatnya
semakin tertekan akan fakta itu.
James melihat sekeliling teman-temannya,
penasaran dengan jawaban mereka tapi tetap nihil mereka tak ada yang menjawab
ataupun memberikan kisi-kisi akan hal itu. Tapi sebenarnya ucapan Kaelyn tadi
saja sudah cukup untuk dijadikan kisi-kisi atas pertanyaan James tadi.
Algis yang mengerti akan
situasinya langsung berdiri dan pergi dari sana tanpa mengatakan apa-apa.
“Al, mau kemana?” teriak
Daniel yang menyadari Algis pergi berjalan lebih jauh dari tempat mereka.
Suasana kembali hening dan
canggung.
“Maaf. Gara-gara aku
suasananya jadi begini.” ucap Kaelyn penuh dengan rasa penyesalan.
“Tidak. Situasinya masih
menyenangkan ko.” Balas Alice dengan nada bicara yang ceria. “Bagaimana jika
kita membakar marshmellow?” ajaknya kemudian.
“Ah! Benar. Kita masih punya
itu.” Helen kemudian berdiri menyusul Alice yang pergi mengambil marshmellow,
Anna kemudian mengikuti Helen.
Janet tertunduk, kini ia
merasa bersalah pada Kaelyn karena merasa kembali salah paham.
“Maaf.” Ucap Janet pelan pada
Kaelyn.
“Tidak. Aku yang minta maaf.
Seharusnya aku tidak berpikir seperti itu pada teman.”
“Aku terlalu sering
mencurigaimu.”
“Tidak. Tidak apa-apa. Aku
juga salah membuatmu curiga padaku.”
James menepuk lutut Radley
pelan, mengisyaratkan untuk pergi mengikutinya.
Radley yang mengerti maksudnya
langsung pergi mengikutinya.
“Ada apa ini. Kau tahu Janet
menyukai Algis?” tanya James langsung begitu mereka sudah cukup jauh dari
tempat mereka.
Radley mengangkat bahunya,
menandakan ia tahu tapi tak ingin terlalu terlibat akan hal itu.
“Apa Algis juga sudah tahu?”
Radley menggeleng, “Aku tidak
tahu.”
“Apa itu sebabnya Kaelyn
bertingkah seolah tak menyukai Al?” tanya James lagi.
“Kau bisa melihat Kae menyukai
Algis juga?” Radley terkejut dengan pertanyaan James yang tepat sasaran.
“Jadi Kaelyn juga menyukai
Al?” James malah balik bertanya.
“Sial. Itu pertanyaan
jebakan?” umpat Radley.
“Kau tahu semuanya tapi tak
mengatakan apa-apa padaku tadi.”
“Kae teman dekatku. Siapa kau
bisa aku ceritakan rahasia teman dekatku.” Oceh Radley.
James mengangguk, ia tak
tersinggung karena memang begitu faktanya. “Kau benar juga.”
Begitu James dan Radley pergi,
Daniel langsung pindah tempat duduk ke sebelah Edward.
“Apa.” Kata Edward dingin
begitu Daniel duduk di sampingnya.
“Kau pasti tahu sesuatu kan
mengenai kejadian tadi.” Ucap Daniel sedikit berbisik pada Edward karena Kaelyn
dan Janet masih berbincang di tempat duduknya.
“Tentu saja aku tahu. Tapi
jangan harap aku akan mengatakan sesuatu mengenai hal itu padamu.” ucap Edward paham
dengan trik Daniel saat ini.
Daniel mendengus, “Padahal
bukan seperti ini permainan yang aku bayangkan.” Keluhnya.
“Kau mengharapkan semua orang
meminum minuman itu kan?” tebak Edward.
Daniel menegakkan duduknya,
matanya melotot terkejut. “Bagaimana kau tahu?!” serunya yang terdengar konyol.
“Sudah kuduga. Wajahmu
terlihat kecewa ketika Janet menjawab pertanyaannya dengan jujur. Bisa bisanya
kau menjerumuskan temanmu.” Oceh Edward.
“Minum itu menyenangkan jika
bersama-sama kau tahu. Jarang-jarang kita berkumpul, jika ditambah meminum itu
kita akan semakin dekat karena ucapan kita tak ada yang berbohong.” Ungkap
Daniel bersemangat. Edward hanya bisa menggeleng-geleng, benar-benar alasan
yang kekanak-kanakan.
“Nih, coba ini.” Seru Alice
dari samping Edward. Ia memberikan marsmellow yang sudah ditusukkan pada
tusukan kayu pada Edward dan Daniel.
*****
Keesokan paginya, mereka
bangun cukup pagi karena akan melihat matahari terbit bersama-sama. Mereka
pergi ke atas bukit agar bisa melihat matahari terbit lebih jelas. Dengan
menggunakan jaket yang cukup tebal mereka kini sudah berada di atas bukit dan
sudah berbaris menghadap timur menunggu matahari terbit.
“Ini pertama kali aku melihat
matahri terbit.” Ucap Alice sambil terus melihat ke arah depan.
“Aku juga.” Seru Anna, diikut
Helen dan Janet.
“Meski aku sudah pernah
melihatnya, tapi matahari terbit selalu terlihat indah dengan cara yang
berbeda.” Ungkap James yang mendapat persetujuan dari yang pernah melihatnya
juga.
“Oh! Sudah mulai keluar.”
Tunjuk Anna pada matahari yang terlihat mulai menunjukkan cahayanya.
Semua orang terlihat terkesan
dengan yang mereka lihat, mata mereka tak bisa beralih ke tempat lain ketika
matahari terlihat bergerak semakin naik.
“Wah..” seru Kaelyn pelan.
“Ini akan menjadi matahari
yang paling indah yang pernah aku lihat.” Ucap Algis yang berdiri paling ujung
tapi juga di samping Kaelyn.
Kaelyn menoleh ke sampingnya,
dan mendapati Algis sudah melihat kearahnya. Membuat Kaelyn terkejut sekaligus
salah tingkah.
Algis tersenyum kecil lalu
kembali melihat ke depan, pada matahari yang kini sudah muncul sepenuhnya.
Setelah melihat matahari
terbit, mereka sarapan dan mulai bersiap untuk pulang. Kini liburan panjang
mereka benar-benar akan dimulai. Meski hanya sebentar mereka kini sudah semakin
dekat satu sama lain, mereka juga sudah merencakan untuk melakukan hal ini lagi
tahun depan. Yang juga merupakan tahun terakhir mereka di kampus kecuali Algis
yang memang beda satu angkatan masuk kuliah dengan mereka.
TBC

Comments
Post a Comment