Between Us (Part 12) -end
Masa liburan dua bulan tak
terasa terlewati begitu saja.
Mereka mulai kembali
berkuliah. Kini mereka berada di tingkat akhir yang berarti tingkat yang paling
sibuk dan juga paling sulit. Tingkat yang paling sulit untuk pergi
bersenang-senang meski hanya sebentar. Karena jika sudah bersenang-senang
rasanya akan kurang jika sebentar sedangkan mereka tak memiliki waktu lebih
untuk menyelesaikan tugas akhir mereka agar dapat lulus tepat waktu.
Kaelyn, Radley, dan Edward pun
yang bisa dibilang selalu bertemu bahkan saat masa tingkat akhir ini mereka
menjadi jarang bertemu. Bertemu pun terkadang hanya sekedar makan lalu langsung
kembali ke tugas mereka masing-masing.
Tingkat akhir mereka benar-benar
seperti tidak ada waktu lain selain menyelesaikan tugas akhir mereka.
Tiga bulan pertama adalah
waktu mereka untuk mengumpulkan materi untuk melanjutkan ke ujian praktek kerja
lapangan mereka yang akan mereka lakukan selama tiga bulan kedepan.
Setelah menyelesaikan praktek
kerja lapangan, mereka melanjutkan membuat laporan akhir mereka yang
selanjutnya akan disidangkan untuk menentukan kelulusan mereka.
Meski sulit, mereka
menyelesaikan sidang pada percobaan pertama tanpa kendala. Mereka lulus pada
sidang pertama, yang artinya mereka telah menyelesaikan perkuliahan dan tinggal
menunggu waktunya wisuda.
*****
Setelah sekitar sebulan
setengah sejak sidang mereka, hari wisuda pun tiba.
Gedung utama kampus sudah
dipenuhi oleh mahasiswa dan para pendamping yang akan wisuda hari ini. Acara
wisuda akan segera dimulai, para hadirin pun mulai duduk sesuai urutan di kursi
yang sudah tersedia gedung utama.
Pembukaan pun dimulai,
penyambutan oleh rektor disampaikan, lalu prosesi wisuda pun dilaksanakan. Setiap
mahasiswa yang disebutkan namanya maju kedepan podium.
Acara berlangsung sekitar tiga
jam hingga selesai.
Selesai acara para mahasiswa
dan pendamping keluar dari gedung, mereka bertemu dengan keluarga dan
teman-teman lain yang sudah menunggu mereka di luar gedung. Memberi bunga dan
hadiah selamat lainnya sambil mengabadikan momen wisuda mereka.
Kaelyn kini sudah berkumpul
dengan Radley dan Edward, juga kedua orang tua mereka dan beberapa keluarga
dekat mereka. Mereka sedang menunggu keluarga lainnya yang juga akan datang
kesini. Setelah ini mereka akan pergi ke tempat makan bersama-sama.
“Aku masih tak percaya aku
bisa lulus.” Ucap Radley yang selama pengerjaan laporan akhir benar-benar penuh
dengan revisian beribu-ribu kali.
“Aku juga tak percaya aku bisa
lulus.” Sindir Kaelyn.
“Tapi lebih aneh jika kau
tidak lulus. Kau lebih pintar dari kita, bagaimana bisa tidak lulus?” ungkap
Edward yang kemudian diakui oleh Kaelyn.
“Woah. Aku tak percaya Janet
akan menembak Algis di hari wisudanya.” Ucap seseorang yang melewati mereka.
Ucapannya bahkan tak disembunyikan dan dibicarakan dengan suara yang cukup
keras dan jelas.
Kaelyn, Radley, dan Edward
yang mendengarnya seketika terdiam. Mereka mungkin hanya mendengarnya tapi
dengan fakta mereka memang mengetahui Janet sudah lama menyukai Algis, memikirkan
sifat Janet hal seperti itu cepat atau lambat akan terjadi juga.
Kaelyn terdiam, membeku,
rasanya ia tak ingin ada di tempat ini saat ini. Sudah sekitar 6 bulan ia dan
Janet tidak satu kamar, ia tak tahu apa yang akan Janet lakukan akan
perasaannya pada Algis dan mendengar hal tadi cukup mengejutkannya meski ia tak
tahu bagaimana faktanya.
Pada kenyataannya, meski
Kaelyn bilang tidak akan menyukai Algis lagi tapi rasa memang tak bisa
berbohong. Rasa itu masih ada, tidak muncul ke permukaan, hanya saja ia tak
hilang dari tempatnya.
“Aku tidak salah dengar kan?”
tanya Kaelyn menghancurkan keheningan mereka bertiga.
Edward mengangguk, “Aku juga
mendengarnya.”
“Apa Algis menerimanya?” tanya
Radley polos.
“Aku ragu Algis menolaknya.”
Kata Kaelyn tak bersemangat.
***
Setelah menuggu keluarga
lainnya, Kaelyn, Radley, dan Edward bersiap untuk pergi ke tempat selanjutnya.
Ketika mereka sedang berjalan menuju parkiran, seseorang memanggil Kaelyn.
“Kaelyn.” Panggil seseorang
dari belakang mereka.
Kaelyn yang namanya dipanggil
langsung menoleh. Ia mendapati Algis sambil membawa buket bunga. Radley dan
Edward yang melihatnya langsung kembali melanjutkan jalan mereka bersama
anggota keluarga lainnya.
“Al.” panggil Kaelyn sambil
berjalan menghampiri Algis yang juga berjalan menghampiri Kaelyn.
“Selamat ya, sudah lulus.”
Ucap Algis seraya menyulurkan tangannya yang memegang buket bunga.
Kaelyn tersenyum lalu
mengambil buker bunga yang Algis berikan. “Makasih.”
“Buru-buru ya?” tanya Algis,
sambil melihat ke arah gerombolan orang yang kini berada di belakang Kaelyn.
Kaelyn menoleh ke belakang
sebentar, “Ah.. hanya acara keluarga.” Jawabnya singkat.
Algis mengangguk canggung. Ini
pertama kalinya lagi mereka mengobrol sejak pergi berkemah waktu itu. Kesibukan
Kaelyn membuat komunikasi mereka juga ikut menjauh. Berpapasan pun mereka hanya
menyapa seperlunya lalu pergi.
“Ah. Kau juga.. selamat ya.”
Kata Kaelyn kemudian.
“Selamat untuk apa?” tanya
Algis bingung.
“Aku dengar Jane menembakmu?”
“Ah.. itu.. iya..” jawab Algis
canggung.
Kaleyn tersenyum kecil.
“Selamat ya. Semoga langgeng.” Kata Kaelyn lagi.
“Ah.. mengenai itu-“
“KAELYN!” teriak adik Kaelyn
dari kejauhan. Mereka semua sudah sampai di parkiran dan adik Kaelyn pergi
menyusul Kaelyn yang tidak muncul juga di parkiran.
“Ah, sepertinya aku harus
pergi. Keluargaku sudah menunggu.” Ucap Kaelyn setelah memastikan siapa yang
memanggilnya tadi. “Sekali lagi, selamat ya. Terimakasih bunganya.” Lanjutnya
lalu berlari kecil menuju arah adiknya.
Algis yang belum menyelesaikan
ucapannya hanya menghembuskan nafasnya sambil terus melihat kepergian Kaelyn
yang semakin menghilang dari pandangannya.
“Aku pikir ini akan menjadi
akhir. Tapi sepertinya ini akan mejadi awal lain untuk kisah kita.”
THE END

Comments
Post a Comment