Between Us (Part 1)
Kaelyn
berlari melewati kerumunan mahasiswa baru yang berkumpul dibagian-bagian stan
UKM (Unit Kegiatan Mahasiswa) untuk melihat dan mendengarkan promosi yang para
anggotanya lakukan untuk merekrut anggota baru. Kaelyn berhenti di stan UKM Futsal,
menyapa seseorang yang sedang berdiri di balik meja stan.
“Hai
James!” sapa Kaelyn pada orang itu dengan nafas yang tak beraturan.
“Oh. Hai
Kae! Kenapa kau berlari?” tanyanya.
“Kau lihat
Rad?” tanya Kaelyn tanpa menjawab pertanyaan James.
“Ada apa?!”
pria yang merasa namanya dipanggil muncul dari bawah meja stan, sedang mencari
formulir yang ia salah simpan tadi.
“Kau lihat
Ed? Aku tidak bisa menghubunginya.” Tanyanya kemudian.
“Dia sudah
di stannya sepertinya.” Jawab Radley tak yakin.
“Launchpadnya?”
“Sepertinya
juga dia sudah membawanya.” Jawab Radley tak yakin lagi.
“Aishhh.
Kau tak berguna. Kalau begitu aku pergi!” ucap Kaelyn lalu kembali berlari.
Kali ini tujuannya adalah stan UKM Musik.
“Aku masih
penasaran…” kata James begitu Kaelyn pergi.
Radley yang
satu-satunya orang yang ada di dekat James menoleh kearahnya. “Apa?”
“Sebenarnya
kau dan Kaelyn itu apasih??...” tanyanya bingung.
“Apasih
apa? Kenapa orang-orang terus menanyakan itu. Padahal sudah sering dijawab.” Kata
Radley kembali mencari formulir yang ia salah simpan.
“Teman?!
Orang-orang juga tahu tidak ada yang namanya pertemanan antara pria dan
wanita.” Kata James.
“Kita tidak
berteman hanya antara pria dan wanita. Pertemanan kita antara pria, pria, dan
wanita.” Kata Radley santai dan konyol.
James
menghela nafas malas, “Jika tidak ada Ed, kalian hanya pria dan wanita. Begitu
juga jika tidak ada kau, Kae dan Ed hanya pria dan wanita.”
Radley
kembali berdiri, kali ini ia sudah menemukan formulir yang ia cari. “Bukan
urusanmu James.”
***
Kaelyn
sampai di stan UKM Musik, langsung menghampiri senior divisinya, EO (Event
Organizer). Sebelum mengatakan apa-apa, seniornya, Vina sudah mulai berbicara
pada Kaelyn.
“Kau tahu
hampir merusak jadwal hari ini kan?” ucapnya yang tak membuat Kaelyn terkejut
lagi. Sudah hampir biasa Kaelyn kena marah karena sering kali terlambat datang
atau mengumpulkan tugasnya. Salah satu alasannya karena ia memiliki UKM lain
yang ia lebih sukai dan juga sering kali memiliki waktu kumpul yang bertabrakan
dengan UKM Musik.
“Jika kau
tidak bisa membagi waktu antara UKM Musik dengan UKM Photography mu itu, lebih
baik kau keluar dari salah satunya. Aku bisa menyetujui pengeluaranmu dengan
mudah.” Ucapan Vina yang tak juga mengejutkan bagi anggota lainnya. Vina sudah
menjadi anggota yang terkenal galak, jahat, dan tegas diantara mereka.
Sang ketua
UKM Musik, Jack menghampiri mereka. “Kita sudah memutuskan untuk mentolerir hal
seperti itu kan pada anggota. Kau juga jangan berbicara sembarang, kita
membutuhkan anggota untuk UKM Musik. Bagaimana jika anak-anak yang mengikuti
UKM lain benar-benar keluar?” katanya pada Vina.
Vina yang
masih marah hanya mendengarkan dan tak mengatakan apa-apa.
“Kae.
Siapkan untuk acara selanjutnya.” Suruh Jack pada Kaelyn. Kaelyn mengangguk, ia
lalu melihat pada Edward dan tersenyum.
*
Hari ini
tepat dua tahun sejak kejadian yang mereka alami waktu SMA.
Tak lama setelah aksi Kaelyn mau menampar Emma dan Radley dan Edward menahan
lengan Kaelyn untuk benar-benar menamparnya. Sejak hari itu mereka kembali
berbaikan. Edward meminta maaf atas perkataannya yang sepertinya kasar atau
keras pada Kaelyn, mengklarifikasi atas perasaannya pada Kaelyn yang tidak akan
hilang begitu saja tapi akan menerima jika mereka ingin terus berteman. Radley
yang cukup netral disituasi saat itu secara tak langsung membantu hubungan
mereka menjadi tenang lagi.
Hubungan mereka memang tak akan pernah sama lagi, namun hal baik
dari sebuah tragedi adalah sebuah pembelajaran. Pembelajaran
dari pengalaman agar hal seperti itu tak terjadi lagi.
Dan hubungan yang tak pernah sama lagi itu
adalah dimana hubungan mereka kini menjadi semakin lebih erat lagi. Ditambah
umur mereka yang semakin dewasa membuat mereka bisa saling lebih mengerti satu
sama lain lagi
Tak pernah ada rasa penyesalan dari mereka
karena telah mengalami hal itu. Justru mereka senang telah mengalami hal itu,
jika bukan karena waktu itu mereka tidak akan pernah bisa menjadi yang
sekarang.
*
Selagi
anggota EO menyiapkan untuk penampilan selanjutnya, beberapa anggota lain
meminta mahasiswa baru yang telah mendaftarkan diri di UKM Musik untuk
menampilkan bakat mereka. Mereka yang memilih gitar atau bass sebagai alat
musik yang mereka kuasai menampilkan kemampuan mereka di depan stan UKM Musik
yang ditonton oleh orang-orang yang lewat sana.
Waktu semakin sore, setiap
UKM mulai membereskan stan mereka untuk menyelesaikan promosi mereka hari ini.
Setelah selesai setiap anggotanya mulai pulang satu persatu, atau.. tidak. Pada
malam seperti ini biasanya ada saja para senior yang menyiapkan tempat untuk merayakan penyambutan mahasiswa baru di salah satu lapangan kampus. Para mahasiswa baru dipaksa untuk hadir, dan para senior tentu saja
tanpa dipaksa pasti akan datang sehingga biasanya yang lebih mendominasi pesta
ini adalah para senior kampus.
Kaelyn dan
anggota UKM Musik lainnya, mereka sudah hampir selesai membereskan stannya.
Menyimpan barang-barang dan peralatan UKM kembali ke ruang UKMnya dan siap
untuk pergi ke pesta.
“Rad akan
kesini atau kita yang kesana?” tanya Edward begitu Kaelyn menyimpan barang
terakhirnya.
“Jika dia
sudah selesai duluan, mungkin dia akan langsung kesini.” Kata Kaelyn.
Setiap
anggota mulai berpamitan satu-persatu. Jack yang bertugas memegang kunci
ruangan, yang terakhir berpamitan pada Kaelyn dan Edward.
“Kalian
tidak akan pergi?” tanya Jack begitu mengunci pintu ruangan.
“Kita akan
menyusul.” Kata Edward.
Jack
mengangguk. “Tapi ngomong-ngomong. Kalian… benar-benar hanya teman? Tak ada
muncul semacam… itu?....” tanya Jack membuat Kaelyn hanya tertawa kecil.
“Kenapa
orang-orang suka sekali bertanya hal seperti itu…” kata Kaelyn kemudian.
Jack
tersenyum. “Baiklah kalau tidak. Tapi jika ada juga tak apa.” Katanya lalu
tertawa. “Sampai nanti!” pamitnya kemudian lalu pergi.
Tak lama
kemudian, seseorang berlari dari arah Jack pergi menghampiri mereka. “Kae! Kae!
Kae!!!” teriaknya masih berlari.
“Berhentilah
berlari!!” kata Kaelyn yang khawatir karena orang yang menghampirinya berlari
dengan menggunakan high heels dan rok. Pakaian siap pestanya.
Wanita itu,
Janet. Teman satu kamar Kaelyn di asrama kampus ini. Janet tertawa begitu ia
sampai di depan Kaelyn dan Edward.
“Tebak
siapa yang aku temukan.” Katanya sambil terus tersenyum.
“Siapa lagi
pria itu…” kata Kaelyn malas, temannya satu ini tak henti-hentinya membicarakan
pria.
Janet
kembali tertawa. “Maha..siswa.. baru! Dia tampan! Dia sangat tampan!”
“Pria mana
yang tak tampan bagimu..” kata Kaelyn.
“Berhentilah
berbicara mengenai pria. Kae muak mendengarnya.” Radley muncul dari belakang
Kaelyn dan Edward.
Janet hanya
menunjukkan wajah cemberutnya. “Kali ini benar-benar tampan! Dia mendaftar di
UKM mu, aku lihat dia menyisi formulir. Namanya….. Alga? Algas? Agis? Ah aku
tak tau, yang pasti namanya belakangnya Kenrik.” Kata Janet yakin.
Kaelyn
seketika terdiam, ia terkejut mendengar nama Kenrik. Radley refleks melihat
pada Kaelyn, Edward juga diam-diam melihat kearah Kaelyn.
“Kau
mungkin juga akan mengakui dia tampan.” Ucap Janet bersemangat.
“Tipe Kae
dan kau beda.” Kata Radley.
“Bagaimana
jika kau juga akan mengakui ketampanannya?” tanya Janet pada Radley kemudian.
Kaelyn
menggeleng. “Dia tidak tertarik dengan pria.” Katanya mewakili.
“Kau pikir dia
tertarik pada wanita?” kata Edward, membuat yang lain terdiam.
“Ya.. aku
yakin aku tak tertarik pada keduanya.” Kata Radley mengalah, Kaelyn, Edward,
dan Janet tertawa mendengarnya.
***
Mereka kini
sudah sampai di pesta. Pesta malam ini terasa begitu meriah dan sangat ramai. Radley
langsung mencari kekasihnya, dan Janet mulai berpesta dengan teman-teman
pestanya. Sedangkan Kaelyn dan Edward pergi ke meja bar
yang dibuat seadanya, menuangkan minuman
sendiri dan memperhatikan orang-orang yang menari di depan panggung DJ.
“Hah…
kenapa kali ini kalian tidak membiarkanku untuk tidak ikut sih…” ucap Kaelyn
pada Edward. “Pesta kali ini lebih gila dari tahun lalu, sampai ada DJ segala? Siapa yang membayarnya coba?” Lanjutnya. Kaelyn sangat tidak menyukai hal yang semacam ini, suara
yang sangat lantang sangat tidak membuatnya merasa nyaman. Kali ini Kaelyn
kembali harus ikut karena tak ingin aib memalukannya terbongkar dan diketahui
oleh orang-orang.
Edward
tersenyum mendengarnya, “Kau tahu kita bukan kita jika tidak bertiga.” Katanya.
“Ayolah~ nikmati juga malam ini. Tahun lalu kau
bersenang-senang sampai mempunyai aib, kenapa malam ini juga tidak? Kejadian
tahun lalu tak akan jadi aib jika kau menikmatinya.” Lanjutnya terdengar sedang
menasehati Kaelyn.
Kaelyn melihat Edward dengan ekspresi kesal,
sedangkan Edward sedang memperhatikan orang-orang yang baru datang ke pesta,
sedang menunggu teman-teman pestanya karena Kaelyn sangat sulit untuk diajak
bersenang-senang jika mengenai hal seperti ini. Kaelyn perlu diajak oleh orang
baru agar akhirnya mau ikut bersenang-senang. Tahun lalu pun berkat Janet
akhirnya Kaelyn mau bersenang-senang di pesta, sejak saat itulah mereka mulai menjadi
dekat. Berawal dari teman satu kamar, Radley dan Edward meminta Janet untuk
mengajak Kaelyn tanpa Kaelyn ketahui.
“Jangan berani-beraninya pergi ok?!” kata
Edward memberi peringatan, Kaelyn mengangguk dengan ekspresinya yang kesal. “Aku pergi.” Katanya
begitu melihat teman-temannya sudah datang. Meneguk sekali lagi minumannya lalu mengisinya lagi kemudian pergi.
“Teman-teman
kurang ajar memang..” ucap Kaelyn memaki teman-teman
dekatnya. Mereka yang menginginkan dirinya disini tapi mereka juga yang
meninggalkannya sendiri disini.
Kaelyn
kembali mengisi gelasnya, kali ini sampai penuh. Ia lalu pergi ke salah satu anak tangga
yang mengelilingi lapangan ini, paling tidak dirinya tak mati
kepegalan karena harus menunggu teman-temannya berpesta sambil berdiri. Kadang,
menonton orang-orang bersenang-senang juga cukup menyenangkan bagi Kaelyn.
Selagi Radley, Edward, dan Janet berpesta
dengan teman-temannya yang lain, Kaelyn yang masih betah duduk walau minumannya
sudah habis akhirnya menjadi senior yang paling banyak mengenal mahasiswa baru
disini. Setiap ada yang duduk di dekatnya ia menanyakan pertanyaan dan
mengobrol singkat dengan mereka, terus secara berulang-ulang. Setidaknya dia
juga tak mati kesepian malam ini.
Setelah dua orang mahasiswa baru pergi dari
samping Kaelyn -yang tentu saja sudah Kaelyn berikan pertanyaan, seorang pria
dengan kaos dan celana jeans hitam sambil memegang sebotol minuman duduk
disampingnya. Kaelyn merasakan kehadirannya, tapi ia belum memulai
pembicaraannya. Perlu waktu sampai orang yang disampingnya ini benar-benar
sedang duduk disana atau hanya terduduk sementara disana.
Tak lama, pria itu mulai berbicara.
“Lama tak bertemu.” Katanya. Dari ujung mata
Kaelyn ia melihat pria itu tak menoleh padanya.
Kaelyn yang berada tepat disebelahnya tak ingin menoleh karena bisa saja dia
bukan sedang berbicara padanya.
“Kau Kaelyn kan?” katanya lagi. Kali ini pria
itu menoleh pada Kaelyn dan melihat padanya.
Kaelyn langsung menoleh. Ia terkejut dengan
yang dilihatnya saat ini.
“Algis?” ucap Kaelyn terkejut.
Pria yang Kaelyn panggil Algis itu tersenyum.
“Kau masih ingat rupanya.”
“Ah.. iya.. kau bukan tipe yang mudah
dilupakan.” Ucap Kaelyn jujur.
Algis terkekeh kecil mendengarnya.
“Aku tak tahu kau kuliah disini. Mahasiswa
baru?” tanya Algis.
“Aku juga tak tahu kau kuliah disini. Kau
mahasiswa baru?” tanya Kaelyn balik.
“Oh.. kau senior tenyata..” kata Algis.
“Sepertinya begitu..” kata Kaelyn tersenyum
kecil.
“Sepertinya kita akan sering bertemu lagi.”
Ucap Algis.
Kaelyn hanya melihat pada Algis, tak mengatakan apa-apa.
Kaelyn masih tak percaya dengan kehadiran
Algis disampingnya malam ini.
Dua tahun lalu, banyak hal yang terjadi pada Kaelyn. Selain persahabatannya
yang diberikan ujian, saat itu juga Kaelyn berikan ujian atas perasaannya pada
Algis. Tiba-tiba Algis keluar dari sekolah, pindah sekolah tepatnya. Tapi
karena terlalu banyak hal yang terjadi pada Kaelyn saat itu, ia tak tahu jika
Algis keluar dari sekolah saat itu. Algis sempat menghubungi Kaelyn saat itu,
tapi Kaelyn pikir itu bukan hal penting dan bisa diundur. Sampai akhirnya
Kaelyn tahu jika Algis pindah, dan itu sudah terlambat baginya untuk mengubungi
Algis lagi. Sejak saat itulah mereka berhenti berkomunikasi.
“... Jadi, apa kabar?” tanya Algis kemudian.
Kaelyn menoleh. “Ya... seperti yang kau
lihat.. baik-baik saja, dan.. masih berteman dengan Radley dan Edward.” Jawab
Kaelyn.
“Oh, ya.. tadi aku melihat Edward.” Katanya.
“Radley juga kuliah disini?” tanyanya lagi.
Kaelyn mengangguk sambil tersenyum.
“Wahh.. kalian benar-benar tak bisa dipisahkan
ya..” ungkap Algis.
Ekspresi Kaelyn saat ini sangat canggung.
Senyumnya yang di paksakan, dan bingung tak tahu harus melakukan apa.
“Tapi... apa yang kau lakukan disini?” tanya
Kaelyn. “Maksudku, kenapa kau jadi mahasiswa baru disini? Bukankah kau sudah
di...”
“Chicago?” lanjut Algis. Kaelyn mengangguk. “Ya..
tak ada kampus yang menerimaku disana.” Ucapnya tertawa kecil. “Jadi tahun ini
aku mencoba mendaftar kesini, kembali kesini. Dan ternyata, dengan mudahnya aku
diterima disini.” Ceritanya singkat. “Tahu begitu sejak awal aku mendaftar
kesini.” Omelnya bicara sendiri.
Kaelyn tertawa kecil dengan ocehannya.
Algis melihat pada Kaelyn.
“Apa yang kau lakukan disini? Ini pesta, dan kau hanya duduk?” tanya Algis
kemudian.
Kaelyn tersenyum dan terkekeh kecil, “Ya...
aku suka musik, tapi aku tak terlalu suka dengan konser musik. Kau mengerti
maksudkukan(?)” katanya, mudah Algis pahami, ia mengangguk.
“Kalau begitu, mau pergi dari sini?” ajak
Algis.
Kaelyn tersenyum lalu mengangguk, “Baiklah,
ayo.”
Mereka pun pergi dari lapangan, mencari tempat
yang lebih tenang untuk telinga. Kampus ini cukup luas untuk pergi menjauh dari
pesta namun tetap masih berada di lingkungan kampus.
Algis dan Kaelyn pergi ke taman kampus yang digunakan sebagai stan UKM. Mereka
duduk disalah satu anak tangga yang ada disana. Obrolan mereka terus berlanjut
sejak mereka pergi dari pesta, pertemuan pertama mereka setelah sejak lama
seperti tak ada artinya bagi mereka. Waktu bukan penghalang bagi mereka untuk
terus menemukan topik pembicaraan.
***
Radley menghampiri Edward dengan buru-buru,
menariknya paksa ke tempat yang lebih sepi untuk berbicara berdua.
“Algis Kenrik disini!!” kata Radley langsung.
Edward tak terkejut mendengarnya, membuat Radley bingung. “Kau sudah tau????”
ucap Radley sangat terkejut.
“Kau tahu aku juga dekat dengan teman-teman
dekat Algis kan?” kata Edward. “Malam ini mereka datang bersama Algis,
bagaimana bisa aku tak tau?” pertanyaannya menjelaskan keadaannya.
“Kenapa kau tak mengatakannya?!” ucap Radley
kesal.
“Tak ada waktu yang telat untuk mengatakannya!”
Bela Edward.
“Bagaimana jika dia bertemu Kae? Paling tidak
memberinya peringatan? Kae akan sangat marah jika kau tidak mengatakannya.”
“Ya, aku tau. Mereka mungkin sudah bertemu.
Tadi aku melihat mereka berdua di tempat duduk.” Kata Edward santai, Radley
malah terkejut mendengarnya.
“Tempat duduk mana?” Tanya Radley sambil
mencari Kaelyn.
Kali ini Edward yang terkejut, “Dimana
mereka?!” tanyanya begitu melihat tempat duduk yang ia lihat kini kosong.
“Kaelyn, tak akan apa-apa kan?” ucap Radley.
“Dia lebih kuat dari yang kita kira.” Jawab
Edward.
*****
Hari esok
pun tiba, Kaelyn sudah bersiap-siap untuk acara seleksi anggota UKM Musik hari
ini. Janet, teman satu kamarnya di asrama Barden University masih di atas Kasur
tertidur pulas karena mabuk berat tadi malam.
Kaelyn
mengeluarkan barang-barang pentingnya dari tas yang ia gunakan kemarin dan memasukkannya
ke tas yang akan ia pakai hari ini, lalu menambahkan beberapa barang yang
harus ia bawa hari ini ke dalam tasnya.
“Kae..” panggil
Janet dengan suara setengah sadarnya. “Kau sudah mau pergi pagi-pagi begini?”
tanyanya.
Kaelyn yang
sejak tadi berhati-hati dalam bergerak terkejut dengan suara Janet yang tiba-tiba.
“Ah, iya. Ada seleksi hari ini aku harus datang lebih awal. Kalau begitu aku
pergi dulu.” Pamit Kaelyn kemudian.
Janet hanya
mengangguk dan melambaikan tangan tanpa benar-benar melihat Kaelyn pergi, ia
masih terlalu pusing untuk bangun dari tidurnya.
***
Kaelyn
berjalan sambil menunduk menuju tempat seleksi UKM Musik, memperhatikan gerak
kakinya yang menyentuh trotoar kampus. Edward yang melihat Kaelyn dari belakang
langsung berlari menghampirinya dan mengejutkan Kaelyn yang sedang hanyut dalam
lamunannya.
“Jadi
bagaimana semalam?” tanya Edward langsung begitu sampai di samping Kaelyn.
“Biasa
saja.” Jawab Kaelyn kali ini tak lagi berjalan sambil menunduk.
“Walau
bertemu dengan Algis?” tanya Edward lagi.
Kaelyn
berhenti berjalan, Edward juga ikut berhenti.
“AH! KAU!
KENAPA TIDAK MENGATAKAN JIKA AKAN ADA ALGIS DI PESTA?! KAU SENGAJA MEMBAWAKU
KESANA KARENA ADA DIA KAN?” ucap Kaelyn berteriak, hampir menjadi pusat
perhatian bagi orang-orang yang sedang berjalan disekitarnya. Kali ini ia
benar-benar sadar dari lamunan yang bahkan ia sendiri tak tau melamun akan apa.
Edward
berusaha antara menutup telinganya atau menutup mulut Kaelyn.
“Ah tidak, yang lebih penting. Kenapa kau
tidak mengatakan jika dia akan berkuliah disini? Kau pasti tahu karena
teman-temanmu adalah temannya!”
“Sumpah! Aku
juga tidak tahu sama sekali. Dia tiba-tiba datang dengan teman-temannya kemarin dan baru mengatakan jika dia juga mahasiswa disini.”
“Apa kau benar-benar dianggap teman oleh
mereka?” tanya Kaelyn sarkastik.
“Hey.. hati-hati ya kalau bicara.” Kata
Edward.
***
Kaelyn dan
Edward sudah sampai di ruangan seleksi UKM Musik, sesampainya disana mereka
langsung ikut mempersiapkan peralatan dan keperluan lainnya selama seleksi.
Berbagai alat musik seperti drum,
gitar, bass, dan orgen mereka siapkan di atas panggung. Mereka juga
mempersiapkan meja juri dan beberapa dokumen berupa formulir para peserta
audisi.
Sekitar pukul 10 pagi, audisi mulai dilakukan.
Para peserta yang sudah mendaftar menunggu giliran mereka dipanggil sambil
duduk di kursi penonton, mereka juga bisa melihat peserta lain saat audisi.
Para anggota UKM Musik lainnya yang tak memiliki pekerjaan saat audisi
berlangsung juga duduk di kursi penonton tepat di belakang meja juri.
Satu persatu peserta dipanggil naik ke atas panggung dan menunjukkan
kemampuannya. Ada yang bernyanyi, bermain alat musik, bernyanyi sambil bermain
alat musik atau sebaliknya, dan menunjukkan kemampuan lainnya yang berhubungan
dengan musik.
Audisi pun segera berakhir, peserta terakhir
akhirnya dipanggil untuk menunjukkan kemampuannya.
“Algis Kenrik.” Panggil salah satu Juri.
Kaelyn terkejut. Ia menoleh kebelakang untuk
memastikan siapa Algis Kenrik yang dipanggil ini.
Saat Kaelyn mendapati pria ini sedang berjalan menuju panggung, pria ini juga
sedang melihat ke arahnya. Sambil tersenyum.
Algis tahu Kaelyn ada di UKM ini.
Ekspresi terkejut Kaelyn terus terpasang
sampai Algis benar-benar naik ke atas panggung dan mulai berbicara.
Ia mengenalkan dirinya dan mengatakan apa yang akan ia tunjukkan hari ini.
Yang Kaelyn tahu, Algis sangat mahir bermain
gitar. Dan itu salah satu kelemahan Kaelyn hingga membuat dirinya jatuh suka
pada Algis.
“Sial.” Ucap Kaelyn kecil, bergumam pada
dirinya sendiri.
“Hah? Apa?” tanya Edward yang disampingnya.
Kaelyn menggeleng.
Algis mengambil gitar yang ada disana, gitar accoustic.
Lagi. Kelemahan Kaelyn.
Algis kemudian berdiri di depan mic, membenarkan posisi mic. Algis akan bernyanyi.
Ia akan bernyanyi sambil bermain gitar.
“Sial.” Gumam Kaelyn lagi pelan. Kali ini
Edward tak menghiraukannya.
TBC

Comments
Post a Comment