Between Us (Part 1)

 




Kaelyn berlari melewati kerumunan mahasiswa baru yang berkumpul dibagian-bagian stan UKM (Unit Kegiatan Mahasiswa) untuk melihat dan mendengarkan promosi yang para anggotanya lakukan untuk merekrut anggota baru. Kaelyn berhenti di stan UKM Futsal, menyapa seseorang yang sedang berdiri di balik meja stan.

“Hai James!” sapa Kaelyn pada orang itu dengan nafas yang tak beraturan.

“Oh. Hai Kae! Kenapa kau berlari?” tanyanya.

“Kau lihat Rad?” tanya Kaelyn tanpa menjawab pertanyaan James.

“Ada apa?!” pria yang merasa namanya dipanggil muncul dari bawah meja stan, sedang mencari formulir yang ia salah simpan tadi.

“Kau lihat Ed? Aku tidak bisa menghubunginya.” Tanyanya kemudian.

“Dia sudah di stannya sepertinya.” Jawab Radley tak yakin.

“Launchpadnya?”

“Sepertinya juga dia sudah membawanya.” Jawab Radley tak yakin lagi.

“Aishhh. Kau tak berguna. Kalau begitu aku pergi!” ucap Kaelyn lalu kembali berlari. Kali ini tujuannya adalah stan UKM Musik.

“Aku masih penasaran…” kata James begitu Kaelyn pergi.

Radley yang satu-satunya orang yang ada di dekat James menoleh kearahnya. “Apa?”

“Sebenarnya kau dan Kaelyn itu apasih??...” tanyanya bingung.

“Apasih apa? Kenapa orang-orang terus menanyakan itu. Padahal sudah sering dijawab.” Kata Radley kembali mencari formulir yang ia salah simpan.

“Teman?! Orang-orang juga tahu tidak ada yang namanya pertemanan antara pria dan wanita.” Kata James.

“Kita tidak berteman hanya antara pria dan wanita. Pertemanan kita antara pria, pria, dan wanita.” Kata Radley santai dan konyol.

James menghela nafas malas, “Jika tidak ada Ed, kalian hanya pria dan wanita. Begitu juga jika tidak ada kau, Kae dan Ed hanya pria dan wanita.”

Radley kembali berdiri, kali ini ia sudah menemukan formulir yang ia cari. “Bukan urusanmu James.”

 

***

 

Kaelyn sampai di stan UKM Musik, langsung menghampiri senior divisinya, EO (Event Organizer). Sebelum mengatakan apa-apa, seniornya, Vina sudah mulai berbicara pada Kaelyn.

“Kau tahu hampir merusak jadwal hari ini kan?” ucapnya yang tak membuat Kaelyn terkejut lagi. Sudah hampir biasa Kaelyn kena marah karena sering kali terlambat datang atau mengumpulkan tugasnya. Salah satu alasannya karena ia memiliki UKM lain yang ia lebih sukai dan juga sering kali memiliki waktu kumpul yang bertabrakan dengan UKM Musik.

“Jika kau tidak bisa membagi waktu antara UKM Musik dengan UKM Photography mu itu, lebih baik kau keluar dari salah satunya. Aku bisa menyetujui pengeluaranmu dengan mudah.” Ucapan Vina yang tak juga mengejutkan bagi anggota lainnya. Vina sudah menjadi anggota yang terkenal galak, jahat, dan tegas diantara mereka.

Sang ketua UKM Musik, Jack menghampiri mereka. “Kita sudah memutuskan untuk mentolerir hal seperti itu kan pada anggota. Kau juga jangan berbicara sembarang, kita membutuhkan anggota untuk UKM Musik. Bagaimana jika anak-anak yang mengikuti UKM lain benar-benar keluar?” katanya pada Vina.

Vina yang masih marah hanya mendengarkan dan tak mengatakan apa-apa.

“Kae. Siapkan untuk acara selanjutnya.” Suruh Jack pada Kaelyn. Kaelyn mengangguk, ia lalu melihat pada Edward dan tersenyum.

 

*

Hari ini tepat dua tahun sejak kejadian yang mereka alami waktu SMA.
Tak lama setelah aksi Kaelyn mau menampar Emma dan Radley dan Edward menahan lengan Kaelyn untuk benar-benar menamparnya. Sejak hari itu mereka kembali berbaikan. Edward meminta maaf atas perkataannya yang sepertinya kasar atau keras pada Kaelyn, mengklarifikasi atas perasaannya pada Kaelyn yang tidak akan hilang begitu saja tapi akan menerima jika mereka ingin terus berteman. Radley yang cukup netral disituasi saat itu secara tak langsung membantu hubungan mereka menjadi tenang lagi.

Hubungan mereka memang tak akan pernah sama lagi, namun hal baik dari sebuah tragedi adalah sebuah pembelajaran. Pembelajaran dari pengalaman agar hal seperti itu tak terjadi lagi.

Dan hubungan yang tak pernah sama lagi itu adalah dimana hubungan mereka kini menjadi semakin lebih erat lagi. Ditambah umur mereka yang semakin dewasa membuat mereka bisa saling lebih mengerti satu sama lain lagi

Tak pernah ada rasa penyesalan dari mereka karena telah mengalami hal itu. Justru mereka senang telah mengalami hal itu, jika bukan karena waktu itu mereka tidak akan pernah bisa menjadi yang sekarang.

 

*

Selagi anggota EO menyiapkan untuk penampilan selanjutnya, beberapa anggota lain meminta mahasiswa baru yang telah mendaftarkan diri di UKM Musik untuk menampilkan bakat mereka. Mereka yang memilih gitar atau bass sebagai alat musik yang mereka kuasai menampilkan kemampuan mereka di depan stan UKM Musik yang ditonton oleh orang-orang yang lewat sana.

 

Waktu semakin sore, setiap UKM mulai membereskan stan mereka untuk menyelesaikan promosi mereka hari ini. Setelah selesai setiap anggotanya mulai pulang satu persatu, atau.. tidak. Pada malam seperti ini biasanya ada saja para senior yang menyiapkan tempat untuk merayakan penyambutan mahasiswa baru di salah satu lapangan kampus. Para mahasiswa baru dipaksa untuk hadir, dan para senior tentu saja tanpa dipaksa pasti akan datang sehingga biasanya yang lebih mendominasi pesta ini adalah para senior kampus.

Kaelyn dan anggota UKM Musik lainnya, mereka sudah hampir selesai membereskan stannya. Menyimpan barang-barang dan peralatan UKM kembali ke ruang UKMnya dan siap untuk pergi ke pesta.

“Rad akan kesini atau kita yang kesana?” tanya Edward begitu Kaelyn menyimpan barang terakhirnya.

“Jika dia sudah selesai duluan, mungkin dia akan langsung kesini.” Kata Kaelyn.

Setiap anggota mulai berpamitan satu-persatu. Jack yang bertugas memegang kunci ruangan, yang terakhir berpamitan pada Kaelyn dan Edward.

“Kalian tidak akan pergi?” tanya Jack begitu mengunci pintu ruangan.

“Kita akan menyusul.” Kata Edward.

Jack mengangguk. “Tapi ngomong-ngomong. Kalian… benar-benar hanya teman? Tak ada muncul semacam… itu?....” tanya Jack membuat Kaelyn hanya tertawa kecil.

“Kenapa orang-orang suka sekali bertanya hal seperti itu…” kata Kaelyn kemudian.

Jack tersenyum. “Baiklah kalau tidak. Tapi jika ada juga tak apa.” Katanya lalu tertawa. “Sampai nanti!” pamitnya kemudian lalu pergi.

Tak lama kemudian, seseorang berlari dari arah Jack pergi menghampiri mereka. “Kae! Kae! Kae!!!” teriaknya masih berlari.

“Berhentilah berlari!!” kata Kaelyn yang khawatir karena orang yang menghampirinya berlari dengan menggunakan high heels dan rok. Pakaian siap pestanya.

Wanita itu, Janet. Teman satu kamar Kaelyn di asrama kampus ini. Janet tertawa begitu ia sampai di depan Kaelyn dan Edward.

“Tebak siapa yang aku temukan.” Katanya sambil terus tersenyum.

“Siapa lagi pria itu…” kata Kaelyn malas, temannya satu ini tak henti-hentinya membicarakan pria.

Janet kembali tertawa. “Maha..siswa.. baru! Dia tampan! Dia sangat tampan!”

“Pria mana yang tak tampan bagimu..” kata Kaelyn.

“Berhentilah berbicara mengenai pria. Kae muak mendengarnya.” Radley muncul dari belakang Kaelyn dan Edward.

Janet hanya menunjukkan wajah cemberutnya. “Kali ini benar-benar tampan! Dia mendaftar di UKM mu, aku lihat dia menyisi formulir. Namanya….. Alga? Algas? Agis? Ah aku tak tau, yang pasti namanya belakangnya Kenrik.” Kata Janet yakin.

Kaelyn seketika terdiam, ia terkejut mendengar nama Kenrik. Radley refleks melihat pada Kaelyn, Edward juga diam-diam melihat kearah Kaelyn.

“Kau mungkin juga akan mengakui dia tampan.” Ucap Janet bersemangat.

“Tipe Kae dan kau beda.” Kata Radley.

“Bagaimana jika kau juga akan mengakui ketampanannya?” tanya Janet pada Radley kemudian.

Kaelyn menggeleng. “Dia tidak tertarik dengan pria.” Katanya mewakili.

“Kau pikir dia tertarik pada wanita?” kata Edward, membuat yang lain terdiam.

“Ya.. aku yakin aku tak tertarik pada keduanya.” Kata Radley mengalah, Kaelyn, Edward, dan Janet tertawa mendengarnya.

 

 ***

 

Mereka kini sudah sampai di pesta. Pesta malam ini terasa begitu meriah dan sangat ramai. Radley langsung mencari kekasihnya, dan Janet mulai berpesta dengan teman-teman pestanya. Sedangkan Kaelyn dan Edward pergi ke meja bar yang dibuat seadanya, menuangkan minuman sendiri dan memperhatikan orang-orang yang menari di depan panggung DJ.

“Hah… kenapa kali ini kalian tidak membiarkanku untuk tidak ikut sih…” ucap Kaelyn pada Edward. “Pesta kali ini lebih gila dari tahun lalu, sampai ada DJ segala? Siapa yang membayarnya coba?” Lanjutnya. Kaelyn sangat tidak menyukai hal yang semacam ini, suara yang sangat lantang sangat tidak membuatnya merasa nyaman. Kali ini Kaelyn kembali harus ikut karena tak ingin aib memalukannya terbongkar dan diketahui oleh orang-orang.

Edward tersenyum mendengarnya, “Kau tahu kita bukan kita jika tidak bertiga.” Katanya. “Ayolah~ nikmati juga malam ini. Tahun lalu kau bersenang-senang sampai mempunyai aib, kenapa malam ini juga tidak? Kejadian tahun lalu tak akan jadi aib jika kau menikmatinya.” Lanjutnya terdengar sedang menasehati Kaelyn.

Kaelyn melihat Edward dengan ekspresi kesal, sedangkan Edward sedang memperhatikan orang-orang yang baru datang ke pesta, sedang menunggu teman-teman pestanya karena Kaelyn sangat sulit untuk diajak bersenang-senang jika mengenai hal seperti ini. Kaelyn perlu diajak oleh orang baru agar akhirnya mau ikut bersenang-senang. Tahun lalu pun berkat Janet akhirnya Kaelyn mau bersenang-senang di pesta, sejak saat itulah mereka mulai menjadi dekat. Berawal dari teman satu kamar, Radley dan Edward meminta Janet untuk mengajak Kaelyn tanpa Kaelyn ketahui.

“Jangan berani-beraninya pergi ok?!” kata Edward memberi peringatan, Kaelyn mengangguk dengan ekspresinya yang kesal. “Aku pergi.” Katanya begitu melihat teman-temannya sudah datang. Meneguk sekali lagi minumannya lalu mengisinya lagi kemudian pergi.

“Teman-teman kurang ajar memang..” ucap Kaelyn memaki teman-teman dekatnya. Mereka yang menginginkan dirinya disini tapi mereka juga yang meninggalkannya sendiri disini.

Kaelyn kembali mengisi gelasnya, kali ini sampai penuh. Ia lalu pergi ke salah satu anak tangga yang mengelilingi lapangan ini, paling tidak dirinya tak mati kepegalan karena harus menunggu teman-temannya berpesta sambil berdiri. Kadang, menonton orang-orang bersenang-senang juga cukup menyenangkan bagi Kaelyn.

Selagi Radley, Edward, dan Janet berpesta dengan teman-temannya yang lain, Kaelyn yang masih betah duduk walau minumannya sudah habis akhirnya menjadi senior yang paling banyak mengenal mahasiswa baru disini. Setiap ada yang duduk di dekatnya ia menanyakan pertanyaan dan mengobrol singkat dengan mereka, terus secara berulang-ulang. Setidaknya dia juga tak mati kesepian malam ini.

Setelah dua orang mahasiswa baru pergi dari samping Kaelyn -yang tentu saja sudah Kaelyn berikan pertanyaan, seorang pria dengan kaos dan celana jeans hitam sambil memegang sebotol minuman duduk disampingnya. Kaelyn merasakan kehadirannya, tapi ia belum memulai pembicaraannya. Perlu waktu sampai orang yang disampingnya ini benar-benar sedang duduk disana atau hanya terduduk sementara disana.

Tak lama, pria itu mulai berbicara.

“Lama tak bertemu.” Katanya. Dari ujung mata Kaelyn ia melihat pria itu tak menoleh padanya.
Kaelyn yang berada tepat disebelahnya tak ingin menoleh karena bisa saja dia bukan sedang berbicara padanya.

“Kau Kaelyn kan?” katanya lagi. Kali ini pria itu menoleh pada Kaelyn dan melihat padanya.

Kaelyn langsung menoleh. Ia terkejut dengan yang dilihatnya saat ini.

“Algis?” ucap Kaelyn terkejut.

Pria yang Kaelyn panggil Algis itu tersenyum. “Kau masih ingat rupanya.”

“Ah.. iya.. kau bukan tipe yang mudah dilupakan.” Ucap Kaelyn jujur.

Algis terkekeh kecil mendengarnya.

“Aku tak tahu kau kuliah disini. Mahasiswa baru?” tanya Algis.

“Aku juga tak tahu kau kuliah disini. Kau mahasiswa baru?” tanya Kaelyn balik.

“Oh.. kau senior tenyata..” kata Algis.

“Sepertinya begitu..” kata Kaelyn tersenyum kecil.

“Sepertinya kita akan sering bertemu lagi.” Ucap Algis.
Kaelyn hanya melihat pada Algis, tak mengatakan apa-apa.

Kaelyn masih tak percaya dengan kehadiran Algis disampingnya malam ini.
Dua tahun lalu, banyak hal yang terjadi pada Kaelyn. Selain persahabatannya yang diberikan ujian, saat itu juga Kaelyn berikan ujian atas perasaannya pada Algis. Tiba-tiba Algis keluar dari sekolah, pindah sekolah tepatnya. Tapi karena terlalu banyak hal yang terjadi pada Kaelyn saat itu, ia tak tahu jika Algis keluar dari sekolah saat itu. Algis sempat menghubungi Kaelyn saat itu, tapi Kaelyn pikir itu bukan hal penting dan bisa diundur. Sampai akhirnya Kaelyn tahu jika Algis pindah, dan itu sudah terlambat baginya untuk mengubungi Algis lagi. Sejak saat itulah mereka berhenti berkomunikasi.

“... Jadi, apa kabar?” tanya Algis kemudian.

Kaelyn menoleh. “Ya... seperti yang kau lihat.. baik-baik saja, dan.. masih berteman dengan Radley dan Edward.” Jawab Kaelyn.

“Oh, ya.. tadi aku melihat Edward.” Katanya. “Radley juga kuliah disini?” tanyanya lagi.

Kaelyn mengangguk sambil tersenyum.

“Wahh.. kalian benar-benar tak bisa dipisahkan ya..” ungkap Algis.

Ekspresi Kaelyn saat ini sangat canggung. Senyumnya yang di paksakan, dan bingung tak tahu harus melakukan apa.

“Tapi... apa yang kau lakukan disini?” tanya Kaelyn. “Maksudku, kenapa kau jadi mahasiswa baru disini? Bukankah kau sudah di...”

“Chicago?” lanjut Algis. Kaelyn mengangguk. “Ya.. tak ada kampus yang menerimaku disana.” Ucapnya tertawa kecil. “Jadi tahun ini aku mencoba mendaftar kesini, kembali kesini. Dan ternyata, dengan mudahnya aku diterima disini.” Ceritanya singkat. “Tahu begitu sejak awal aku mendaftar kesini.” Omelnya bicara sendiri.

Kaelyn tertawa kecil dengan ocehannya.

Algis melihat pada Kaelyn.
“Apa yang kau lakukan disini? Ini pesta, dan kau hanya duduk?” tanya Algis kemudian.

Kaelyn tersenyum dan terkekeh kecil, “Ya... aku suka musik, tapi aku tak terlalu suka dengan konser musik. Kau mengerti maksudkukan(?)” katanya, mudah Algis pahami, ia mengangguk.

“Kalau begitu, mau pergi dari sini?” ajak Algis.

Kaelyn tersenyum lalu mengangguk, “Baiklah, ayo.”

Mereka pun pergi dari lapangan, mencari tempat yang lebih tenang untuk telinga. Kampus ini cukup luas untuk pergi menjauh dari pesta namun tetap masih berada di lingkungan kampus.
Algis dan Kaelyn pergi ke taman kampus yang digunakan sebagai stan UKM. Mereka duduk disalah satu anak tangga yang ada disana. Obrolan mereka terus berlanjut sejak mereka pergi dari pesta, pertemuan pertama mereka setelah sejak lama seperti tak ada artinya bagi mereka. Waktu bukan penghalang bagi mereka untuk terus menemukan topik pembicaraan.

 

***

 

Radley menghampiri Edward dengan buru-buru, menariknya paksa ke tempat yang lebih sepi untuk berbicara berdua.

“Algis Kenrik disini!!” kata Radley langsung. Edward tak terkejut mendengarnya, membuat Radley bingung. “Kau sudah tau????” ucap Radley sangat terkejut.

“Kau tahu aku juga dekat dengan teman-teman dekat Algis kan?” kata Edward. “Malam ini mereka datang bersama Algis, bagaimana bisa aku tak tau?” pertanyaannya menjelaskan keadaannya.

“Kenapa kau tak mengatakannya?!” ucap Radley kesal.

“Tak ada waktu yang telat untuk mengatakannya!” Bela Edward.

“Bagaimana jika dia bertemu Kae? Paling tidak memberinya peringatan? Kae akan sangat marah jika kau tidak mengatakannya.”

“Ya, aku tau. Mereka mungkin sudah bertemu. Tadi aku melihat mereka berdua di tempat duduk.” Kata Edward santai, Radley malah terkejut mendengarnya.

“Tempat duduk mana?” Tanya Radley sambil mencari Kaelyn.

Kali ini Edward yang terkejut, “Dimana mereka?!” tanyanya begitu melihat tempat duduk yang ia lihat kini kosong.

“Kaelyn, tak akan apa-apa kan?” ucap Radley.

“Dia lebih kuat dari yang kita kira.” Jawab Edward.


*****


Hari esok pun tiba, Kaelyn sudah bersiap-siap untuk acara seleksi anggota UKM Musik hari ini. Janet, teman satu kamarnya di asrama Barden University masih di atas Kasur tertidur pulas karena mabuk berat tadi malam.

Kaelyn mengeluarkan barang-barang pentingnya dari tas yang ia gunakan kemarin dan memasukkannya ke tas yang akan ia pakai hari ini, lalu menambahkan beberapa barang yang harus ia bawa hari ini ke dalam tasnya.

“Kae..” panggil Janet dengan suara setengah sadarnya. “Kau sudah mau pergi pagi-pagi begini?” tanyanya.

Kaelyn yang sejak tadi berhati-hati dalam bergerak terkejut dengan suara Janet yang tiba-tiba. “Ah, iya. Ada seleksi hari ini aku harus datang lebih awal. Kalau begitu aku pergi dulu.” Pamit Kaelyn kemudian.

Janet hanya mengangguk dan melambaikan tangan tanpa benar-benar melihat Kaelyn pergi, ia masih terlalu pusing untuk bangun dari tidurnya.

 

***

 

Kaelyn berjalan sambil menunduk menuju tempat seleksi UKM Musik, memperhatikan gerak kakinya yang menyentuh trotoar kampus. Edward yang melihat Kaelyn dari belakang langsung berlari menghampirinya dan mengejutkan Kaelyn yang sedang hanyut dalam lamunannya.

“Jadi bagaimana semalam?” tanya Edward langsung begitu sampai di samping Kaelyn.

“Biasa saja.” Jawab Kaelyn kali ini tak lagi berjalan sambil menunduk.

“Walau bertemu dengan Algis?” tanya Edward lagi.

Kaelyn berhenti berjalan, Edward juga ikut berhenti.

“AH! KAU! KENAPA TIDAK MENGATAKAN JIKA AKAN ADA ALGIS DI PESTA?! KAU SENGAJA MEMBAWAKU KESANA KARENA ADA DIA KAN?” ucap Kaelyn berteriak, hampir menjadi pusat perhatian bagi orang-orang yang sedang berjalan disekitarnya. Kali ini ia benar-benar sadar dari lamunan yang bahkan ia sendiri tak tau melamun akan apa.

Edward berusaha antara menutup telinganya atau menutup mulut Kaelyn.

“Ah tidak, yang lebih penting. Kenapa kau tidak mengatakan jika dia akan berkuliah disini? Kau pasti tahu karena teman-temanmu adalah temannya!”

Sumpah! Aku juga tidak tahu sama sekali. Dia tiba-tiba datang dengan teman-temannya kemarin dan baru mengatakan jika dia juga mahasiswa disini.

“Apa kau benar-benar dianggap teman oleh mereka?” tanya Kaelyn sarkastik.

“Hey.. hati-hati ya kalau bicara.” Kata Edward.

 

***

 

Kaelyn dan Edward sudah sampai di ruangan seleksi UKM Musik, sesampainya disana mereka langsung ikut mempersiapkan peralatan dan keperluan lainnya selama seleksi. Berbagai alat musik seperti drum, gitar, bass, dan orgen mereka siapkan di atas panggung. Mereka juga mempersiapkan meja juri dan beberapa dokumen berupa formulir para peserta audisi.

Sekitar pukul 10 pagi, audisi mulai dilakukan. Para peserta yang sudah mendaftar menunggu giliran mereka dipanggil sambil duduk di kursi penonton, mereka juga bisa melihat peserta lain saat audisi. Para anggota UKM Musik lainnya yang tak memiliki pekerjaan saat audisi berlangsung juga duduk di kursi penonton tepat di belakang meja juri.
Satu persatu peserta dipanggil naik ke atas panggung dan menunjukkan kemampuannya. Ada yang bernyanyi, bermain alat musik, bernyanyi sambil bermain alat musik atau sebaliknya, dan menunjukkan kemampuan lainnya yang berhubungan dengan musik.

Audisi pun segera berakhir, peserta terakhir akhirnya dipanggil untuk menunjukkan kemampuannya.

“Algis Kenrik.” Panggil salah satu Juri.

Kaelyn terkejut. Ia menoleh kebelakang untuk memastikan siapa Algis Kenrik yang dipanggil ini.
Saat Kaelyn mendapati pria ini sedang berjalan menuju panggung, pria ini juga sedang melihat ke arahnya. Sambil tersenyum.

Algis tahu Kaelyn ada di UKM ini.

Ekspresi terkejut Kaelyn terus terpasang sampai Algis benar-benar naik ke atas panggung dan mulai berbicara.
Ia mengenalkan dirinya dan mengatakan apa yang akan ia tunjukkan hari ini.

Yang Kaelyn tahu, Algis sangat mahir bermain gitar. Dan itu salah satu kelemahan Kaelyn hingga membuat dirinya jatuh suka pada Algis.

“Sial.” Ucap Kaelyn kecil, bergumam pada dirinya sendiri.

“Hah? Apa?” tanya Edward yang disampingnya. Kaelyn menggeleng.

Algis mengambil gitar yang ada disana, gitar accoustic.
Lagi. Kelemahan Kaelyn.

Algis kemudian berdiri di depan mic, membenarkan posisi mic. Algis akan bernyanyi.
Ia akan bernyanyi sambil bermain gitar.

“Sial.” Gumam Kaelyn lagi pelan. Kali ini Edward tak menghiraukannya.

 

TBC

 

Comments

Popular