Between Us (Part 10)
Sejak hari itu Kaelyn tidak
lagi mengabaikan Algis, tapi tetap membatasi interaksi dirinya dengan Algis.
Menyapa hanya sekedar menyapa, berbincang jika ada hal yang memang perlu di
bicarakan, untuk sisanya Kaelyn menjaga jarak dan selalu mencari alasan untuk
berhenti mengobrol dengan Algis lebih lama. Meski Algis juga merasakannya, tapi
ia mulai mengalah dan menerima hal itu sedikit demi sedikit. Mungkin memang
butuh proses, anggapnya. Seperti memulai kembali dari awal, awal yang
benar-benar awal.
Sementara itu Algis menjadi
semakin dekat dengan Janet. Kaelyn yang melihat hal itu tentu saja merasa
cemburu, namun ia menahannya dan mencoba mengabaikannya karena bagaimanapun ia
tak ingin hubungannya dengan Janet kembali memburuk. Tapi sejak hari itu, Janet
menjadi tak selalu menceritakan harinya dengan Algis pada Kaelyn seperti
sebelumnya. Hubungan Kaelyn dengan Janet juga anehnya menjadi memiliki batas.
Tapi Kaelyn mencoba mengabaikannya juga, mungkin karena mereka memang sama-sama
sibuk. Ketika pulang ke asrama mereka jarang bertemu dalam keadaan masih
sama-sama terjaga. Ada kala ketika Kaelyn pulang larut malam dan Janet sudah
tertidur, begitu juga sebaliknya. Ada kala ketika Kaelyn bangun tidur dan Janet
sudah pergi, begitu juga sebaliknya. Di kampus pun mereka menjadi jarang
berkumpul bersama, waktu luang mereka sering tidak sama.
Sedangkan Edward dan Alice,
hubungan mereka semakin harmonis. Bukan hanya itu, hubungan Alice dan kedua
teman Edward juga -Radley dan Kaelyn- menjadi lebih dekat. Mereka menjadi lebih
sering berkumpul berempat daripada bertiga, Alice sudah seperti menjadi bagian
dari mereka bertiga. Edward dan Alice mungkin sering bertengkar, tapi selalu
tidak lama dan cepat rujuk kembali. Mereka benar-benar seperti sedang dimabuk
cinta. Bahkan Radley dan Kaelyn pun tak menyangka temannya satu itu menjadi
budak cinta Alice, meskipun Alice juga begitu tapi tetap saja ini pertama
kalinya Edward memiliki pacar dan benar-benar jatuh cinta. Edward juga
seringkali menjadi penasihat cinta diantara mereka bertiga, yang seringkali
membuat Radley dan Kaelyn menjadi muak karena seringnya Edward memberi nasihat.
Bahkan Kaelyn yang selama ini menjadi budak cinta yang benar-benar ‘budak’ nya
cinta pun tak kuat dengan Edward yang selalu saja ada nasihatnya setiap mereka
bertemu.
Lalu Radley, ucapan Edward
waktu itu membuatnya berpikir keras. ‘Apakah ini benar perasaan cinta? Atau
hanya perasaan sayang pada sahabat?’ Selama ini Radley merasa ia menyukai
Kaelyn lebih dari seorang sahabat, tapi juga tidak sampai ke tahap ia jatuh
cinta pada sahabatnya itu. Dan ucapan Edward waktu itu membuatnya benar-benar
berpikir ulang akan perasaannya. Ditambah lagi yang akhir-akhir ini Edward
selalu memberikan nasihat tentang percintaan membuat Radley benar-benar
memikirkan perasaannya ini, meskipun jika Edward mengatakannya Radley akan
bersikap seolah ia tak ingin mendengarnya. Disisi lain Radley tak ingin
kehilangan Kaelyn, sebagai seorang sahabat maupun sebagai seseorang yang selalu
ada disisinya selama ini. Ia benar-benar harus yakin akan perasaannya ini, ia
tak boleh mengacaukan persahabatannya. Mereka bertiga sama-sama tak ingin
kejadian masa SMA nya terulang kembali. Tapi jika perasaannya pada Kaelyn lebih
dari sahabat, ia tak bisa mengabaikan perasaannya ini.
Hingga tak terasa 6 bulan pun
berlalu. Ujian akhir semester genap sudah selesai dilaksanakan kemarin. Mulai
hari ini mahasiswa mendapat libur panjang selama 2 bulan. Para mahasiswa yang
tinggal di asrama pulang ke rumah mereka masing-masing. Hari ini kampus tidak
terlalu ramai karena sudah banyak mahasiswa yang langsung pulang sejak kemarin
begitu mereka selesai ujian.
Kaelyn belum pulang hingga
hari ini, begitu juga Janet teman sekamarnya. Seminggu lalu, tepatnya sebelum
mereka ujian Janet mengajak Kaelyn untuk pergi camping setelah ujian
akhir semester ini, dia juga menyarankan untuk mengajak teman-teman dekat
mereka. Karena lebih banyak orang lebih seru bukan? Kaelyn pun setuju. Hingga
sampai hari ini, mereka yang ikut camping sudah berkumpul di depan taman
antara asrama pria dan wanita. Disana sudah ada Kaelyn, Radley, Edward, Alice,
Janet dan kedua temannya (Helen dan Anna) dan Algis dengan kedua temannya
(Daniel dan James).
Kaelyn cukup terkejut ketika
melihat Algis juga ikut. Kaelyn tak menyangka Janet akan mengajak Algis. Ketika
Kaelyn dan Janet merencanakan mereka akan pergi dengan teman dekat mereka,
Kaelyn berpikir hanya Helen dan Anna teman dekat Janet yang ikut. Tapi ketika
Kaelyn bertanya apakah Alice boleh ikut, Janet juga berkata dia ingin mengajak
seorang lagi. Ketika Kaelyn bertanya siapa Janet hanya menjawab ‘Rahasia. Aku
jamin dia orangnya menyenangkan, jadi tidak akan canggung.’ Dan Kaelyn pun tak
bertanya lagi siapa orangnya. Namun melihat hari ini Janet mengajak Algis hari
ini, bisa dianggap mereka memang sudah cukup dekat.
Setelah semuanya berkumpul
mereka pun berangkat menggunakan mobil Edward dan James menuju tempat
perkemahan, jarangnya sekitar 2 jam dari kampus mereka.
Kaelyn, Radley, dan Alice
berangkat dengan mobil Edward. Sedangkan yang lainnya, Janet, Helen, Anna,
Algis, dan Daniel berangkat dengan mobil James.
“Aku tak tahu Algis akan
ikut.” Celetuk Alice dari kursi depan penumpang.
Yap. Alice tahu ‘sejarah’
Algis dengan Kaelyn. Alice benar-benar sudah seperti bagian dari mereka
berempat.
Kaelyn terdiam, Radley menoleh
kesampingnya, Edward mengintipnya lewat kaca spion depannya.
“Kau tak tahu dia akan ikut
Kae?” tanya Edward kemudian, karena Kaelyn tak juga berbicara.
“Hm. Aku tak tahu dia akan
ikut.” Perasaan Kaelyn masih campur aduk atas situasi ini. Pikirannya
dimunculkan pemikiran-pemikiran tak penting atas bagaimana yang akan terjadi
nanti di perkemahan.
“Sudah jangan dipikirkan. Kita
harus menikmati hari ini. Ujian kemarin benar-benar sudah di luar nalar, lebih
baik kita liburan dulu, refreshing. Jangan pikirkan yang aneh-aneh.”
Keluh Radley yang melihat ekspresi wajah Kaelyn menjadi serius sejak tadi.
“Bahkan mahasiswa terpintar
saja merasa ujian kemarin sulit, lalu bagaimana denganku yang mahasiswa biasa.”
Kata Alice kemudian.
“Hey, jurusan kita berbeda.
Kau tak tahu saja pelajaran di jurusanku semuanya di luar nalar. Aku bahkan
bingung mengapa aku memilih jurusan ini.”
“Aku juga bingung kenapa kau
memilih jurusan itu.” Kata Edward, yang jurusnnya mirip dengan Radley.
“Kau tidak merasa kesulitan
Kae ujian kemarin?” tanya Alice memecah lamunan Kaelyn.
“Uhm, sulit sih.” Kaelyn
menjawabnya tidak bersemangat.
“Dia itu memegang prinsip
‘datang, kerjakan, lupakan’ jadi ketika kau bertanya seperti itu dia mungkin
lupa apakah soal ujiannya sulit atau tidak. Jika bertanya yang mana yang sulit,
dia juga pasti tidak akan mengingatnya.” Papar Radley.
Alice tertawa kecil,
“Benarkah?”
Kaelyn mengangguk, “Bahkan
materi itu tidak selalu digunakan untuk sehari-hari, mengapa aku harus terus
mengingatnya.”
Jawaban Kaelyn mendapat tawa
dari Alice dan decakan tak percaya dari Radley dan Edward.
“Benar-benar anak kutub kau.
Sangat dingin bahkan untuk pertanyaan yang seperti ini.” Kata Edward.
**
Sementara itu di mobil James,
semua orang tertawa lepas dengan setiap ucapan Daniel yang entah mengapa
terdengar seperti lelucon.
“Kalian pasti belum pernah
merasakan kan bagaimana rasanya duduk dibangku tepat diatas ban bis. Aku pernah
merasakannya, setiap pergerakan aku bisa merasakannya! Aku bahkan sampai
berpikir aku adalah ban nya!” cerita Daniel dengan raut wajah yang serius.
Meski bukan lelucon, tapi
caranya membicarakannya membuat hal itu terdengar dan terlihat lucu di mata
orang-orang. Semua orang yang di dalam mobil tertawa, terutama para wanita yang
belum pernah mendengar cerita Daniel itu.
“Kenapa ini lucu sekali.” Ucap
Helen yang duduk disamping Daniel di kursi paling belakang. Ia mengatakannya
sambil menahan tawanya.
“Tapi itu serius. Jika ini
adalah bis, kau juga pasti akan merasakannya.” Balas Daniel pada Helen.
“Kalau ini bis, kau sudah
menyakiti hatinya karena menganggap dirimu bagian darinya.”
“Woaa, apa maksudmu. Harusnya
ia merasa terhormat jika aku bannya.” Timpal Daniel tak terima dengan ucapan
James.
Ucapannya tak henti membuat
seisi mobil kembali tertawa. Setiap komentar yang mereka lempar selalu ada saja
yang membuat tertawa, ketika mereka sudah mulai tidak ada pembahasan mereka
menyalakan radio dan melihat pemandangan yang sudah mulai terasa asri.
***
Setelah menempuh perjalanan
hampir 2 jam, mereka pun sampai di tempat perkemahan. Mereka memarkirkan mobilnya
lalu membawa barang bawaan mereka menuju tempat kemah, disana sudah ada orang
lain yang juga berkemah. Tempat ini merupakan tempat yang disediakan khusus
untuk berkemah, tak jarang orang-orang datang kesini meski hanya untuk satu
malam ataupun bahkan lebih. Seperti mereka yang berencana akan berkemah disini
selama 2 malam. Entah apa yang akan mereka lakukan, tapi Janet benar-benar
sudah membuat rundown acara untuk tiga hari dua malam ini.
“Aku check-in dulu ya.”
Ucap Janet pada teman-temannya. Ia pergi bersama Anna menuju sebuah rumah yang
merupakan tempat tinggal orang yang mengoperasikan perkemahan ini, entah
pemiliknya atau hanya sebatas pekerja.
“Woah.. aku tak menyangka ada
disini. Ini kali pertamaku berkemah.” Alice mengedarkan pandangannya pada semua
penjuru area kemah.
“Benarkah? Aku ini juga
pertama kali aku berkemah.” Balas Helen.
“Aku jamin kau pasti akan
ketagihan jika sudah pernah merasakan berkemah!” tutur Daniel kemudian.
“Sepertinya seru jika pergi
sendiri.” Ungkap Kaelyn yang mendapat pandangan tak percaya dari Radley dan
Edward.
“Kau bahkan tak bisa pergi
menonton sendiri, bagaimana bisa ucapan seperti itu tiba-tiba muncul?” ucap Radley
dengan nada sarkastis.
“Cih. Aku kan hanya bicara.”
Balas Kaelyn yang tak kalah sarkastis.
“Benar. Kae hanya bicara.
Jangan percaya ucapannya.” Timpal Edward, membuat Kaelyn memasang ekspresi
kesalnya juga pada Edward.
“Tapi sepertinya seru juga
pergi berkemah sendiri.” Timpal Algis yang membuatnya menjadi pusat perhatian
mereka.
“Bukankah kau pernah berkemah
sendiri?” kata James yang langsung mendapat gelengan dari Algis.
“Aku pernah merencanakannya
tapi tidak jadi.” Jelas Algis.
“Ah.. begitu..”
“AYO!” teriak Janet yang
sedang berjalan menuju mereka.
Mereka pun mulai mengangkat
tas dan barang bawaan mereka lalu berjalan mendekat pada Janet dan Anna yang
keluar dari jalan arah sebelah kanan. Lalu berbelok sedikit ke arah jalan
sebelah kiri menuju area perkemahan.
“Nanti malam kita akan barbequean!”
ucap Janet bersemangat.
“Tapi kita kan tidak membawa
daging.” Kata James.
“Tenang saja. Tuan pengelola
kemah sudah menyiapkan semuanya.” Lanjut Anna.
“Benarkah? Bagaimana bisa?”
tanya Helen.
“Ternyata di dalam rumahnya
banyak sekali harta karun. Kita bisa membeli makanan yang kita inginkan. Bahkan
harganya lebih murah daripada supermarket.” Ungkap Janet, membuat semua orang
terkagum dengan fakta itu.
Mereka pergi kebagian area
perkemahan yang cukup besar. Tanpa lama lagi mereka langsung memasang dua buah
tenda yang mereka bawa. Lalu menyiapkan kasur angin yang akan mereka gunakan
untuk tidur di dalam tenda, merapikan perlengkapan tidur mereka, memasang meja
dan kursi di depan tenda mereka, lalu memasang beberapa lampu di area tenda dan
meja mereka untuk penerangan mereka ketika hari semakin malam.
Setelah mereka makan siang,
Janet mulai melanjutkan rundown mereka. Pergi ke sungai dan
bersenang-senang disana. Susunan acara yang tidak terlalu detail tapi justru
itu yang menyenangkan. Cukup tahu tujuan saja sudah cukup untuk mengisi
hari-hari mereka. Selanjutnya, mereka bersenang-senang dan berbicang sesuka
mereka.
Setelah mereka diberi rundown
acara ke sungai mereka kemudian berpisah, Janet, Helen dan Anna menetap di sisi
sungai sambil berbincang dan bermain air. Edward dan Alice pergi menyusuri
sungai, entahlah mereka hanya ingin berduaan jadi mereka memilih untuk
memisahkan diri lebih jauh. Lalu sisanya Kaelyn, Radley, Algis, Daniel, dan
James memilih untuk pergi menyusuri hutan disana, mencari pemandangan lain yang
mungkin lebih indah dari sisi sungai saja.
Radley, Algis, Daniel, dan
James berjalan sedikit jauh di depan Kaelyn, karena Kaelyn sesekali berhenti
untuk mengambil foto objek yang menurutnya menarik.
Algis menoleh kebelakang,
memastikan Kaelyn masih terlihat, yang juga menandakan jika Kaelyn juga masih
melihat mereka. Namun ketika mereka berjalan lebih jauh dan Kaelyn semakin lama
semakin terlihat kecil dari pandangannya, Algis memutuskan untuk berbalik arah,
tanpa mengucapkan apa-apa pada ketiga temannya itu Algis menghampiri Kaelyn.
Kaelyn yang sedang fokus pada
layar ponselnya untuk mengambil foto dikejutkan dengan kemunculan Algis yang
tiba-tiba ada di layar ponselnya. Kaelyn menyingkirkan ponselnya, membuatnya
kini bertatapan dengan Algis.
“Serius sekali. Kau hampir
ketinggalan tahu.” Ucap Algis.
Kaelyn tersenyum canggung,
tapi masih melihat pada Algis.
“Kau kenapa balik lagi?
Berubah pikiran untuk menjadi penjelajah?” ucap Kaelyn lalu tertawa kecil.
Mereka sebelumnya berdebat untuk pergi ke hutan atau tidak, tapi Daniel bilang
ini kesempatan mereka untuk menjadi penjelajah, karena di kota mereka hanya
bisa menjadi anak kota. Memang sedikit aneh ucapannya, tapi tetap saja mereka
terima dan mereka pun memilih untuk menjadi penjelajah.
Algis juga terkekeh kecil.
“Kau yang sepertinya ingin menyerah menjadi penjelajah. Menjadi fotografer?”
“Tidak mudah menemukan hal
seperti ini. Jarang-jarang kita kesini, jika bisa sedikitnya kita
mengabadikannya biar nanti bisa ingat-ingat kenangan di balik foto itu.” Ucap
Kaelyn panjang lebar, membuat Algis memiliki ide yang tak pernah ia utarakan
sebelumnya.
“Kalau begitu ayo kita foto
bersama.” Katanya, membuat Kaelyn terkejut sebenarnya.
“Foto?”
Algis mengangguk. “Kita belum
pernah foto bersama. Foto di tempat ini sepertinya akan menjadikannya kenangan
indah bukan?”
Kaelyn membisu, ucapannya
terdengar manis tapi Kaelyn tak ingin terlena akan hal itu. Ia sudah
membulatkan niatnya untuk tak lagi menyukai Algis, sebaiknya ia pertahankan hal
itu.
“Ayo. Mana ponselmu.” Ajak
Algis paksa, ia mengambil ponsel Kaelyn lalu berjalan ke arah batu besar yang
ada di sampingnya, mendirikan ponselnya dengan sanggaan potongan kayu disekitar
sana, memasang kamera depan dan pengatur waktu untuk memotret. “Siap ya.” Kata
Algis, memencet tombol potret lalu berjalan mundur menuju samping Kaelyn.
Kaelyn pun langsung bersiap,
berdiri tegak menghadap ponselnya. Algis berdiri disampingnya, melihat pada
kamera ponsel. Bunyi jepretan terengar beberapa kali, Algis menggunakan mode
beruntun yang membuat mereka menghasilkan beberapa foto.
Foto-foto itu menunjukkan
perubahan pergerakan mereka. Berawal dari mereka berdiri canggung menghadap
kamera, lalu Algis yang melihat pada Kaelyn, dan kemudian Kaelyn yang juga
melihat pada Algis. Berakhir dengan foto yang menunjukkan mereka saling melihat
satu sama lain.
TBC

Comments
Post a Comment