Between Us (Part 2)

 




Masih tidak percaya dengan apa yang Kaelyn lihat tadi saat audisi. Sesampainya di kantin, Kaelyn berfikir tapi pada nyatanya ia tidak memikirkan apa-apa. Ada perasaan ia senang, sedih, takut, dan juga berharap. Kaelyn menggelengkan kepalanya, menghilangkan semua pikiran yang membuatnya kembali berharap pada pria itu. Edward hanya memperhatikan Kaelyn, ia sudah curiga apa yang sedang dipikirkan wanita yang duduk di depannya ini.

“Sedang apa kau?” Janet yang baru datang dibuat bingung oleh Kaelyn yang terlihat bengong sambil melihat air minum di depannya.

Kaelyn tersadar dari lamunannya, “Kau sudah datang..” sapanya pada Janet. Janet kemudian duduk di samping Edward.

“Ah! Bagaimana? Apakah tuan Kenrik ada di audisi?” tanya Janet bersemangat. Kaelyn melirik Edward sebentar lalu melihat pada Janet, Edward hanya diam tak merespon apa-apa.

“Iya.. ada..” jawab Kaelyn pelan.

“Apa dia akan lulus?”

“Yah... permainan gitarnya bagus...”

“Benar kan! Apa aku bilang... dia sangat bagus bermain gitar!!”

“Tapi untuk lulus atau tidaknya aku tidak tahu. Aku tidak ikut mengurus itu, aku hanya memberikan pendapat, kau tahu... para senior yang mengambil keputusan.”

“Ya.. aku tahu. Lalu bagaimana dengan namanya? Siapa namanya?”

“Ah... namanya.. kalau tidak salah Algis?” jawab Kaelyn berakting seolah ia tidak begitu ingat nama pria itu. Kaelyn lalu melihat pada Edward.

“Iya, Algis. Aku ingat karena dia peserta terakhir.” Kata Edward, membuat Janet yakin.

“Algis Kenrik...” Janet mengulanginya sambil tersenyum, ia tidak tahu apa-apa mengenai ‘hubungan’ Kaelyn dengan Algis.

“Tapi, kau mau kemana rapi sekali...” kata Kaelyn pada Janet lalu meneguk air minum ada di depannya tadi.

“Malam ini kan pesta penyambutan mahasiswa baru.”

Kaelyn cepat-cepat menelan air minumnya. “Memangnya malam ini?!” Janet mengangguk.

“Bisa-bisanya kau melupakan acara penting.” Ucap Radley begitu ia bergabung dengan mereka.

“Kau.. kenapa selalu datang sambil menjawab pembicaraan kita sih?” omel Kaelyn.

“Aku memang yang selalu datang di waktu yang tepat.” Jawab Radley lalu duduk di samping Kaelyn.

Pesta penyambutan mahasiswa baru. Kali ini pesta yang diadakan atas nama kampus, dan benar-benar diakan untuk penyambutan mahasiswa baru, bukan seperti yang kemarin diadakan oleh para senior.
Pesta malam ini akan lebih terasa formal, dihadiri oleh dosen dari setiap fakultas, mahasiswa baru, dan beberapa senior saja yang boleh menghadiri acara ini -perwakilan dari setiap UKM dan panitia acara yang dipilih secara acak.

Tahun ini Kaelyn menjadi salah satu panitia acaranya, begitu juga dengan Radley, Janet, dan Edward. Karena tak begitu banyak panitia yang dikerahkan untuk acara ini, maka setiap orang yang menjadi panitia acara ini berperan sangat penting.

 

Setelah kemunculan Radley yang juga sudah siap, Kaelyn bergegas berlari ke asramanya untuk bersiap-siap.

“Aku juga pergi dulu, divisiku akan kumpul lebih awal.” Kata Janet pamit pada Radley dan Edward.

“Oh oke. Sampai jumpa!” kata Radley.

Setelah Janet benar-benar pergi dari sana Edward mulai membagikan kejadian hari ini pada Radley.

“Algis masuk UKM Musik.” Kata Edward langsung,

Radley terkekeh kecil, “Kau serius?”

Edward mengangguk. “Entah ini akan menjadi cerita romantis atau melodrama lagi.” Ungkap Edward kemudian.

“Dilihat dari ekspresinya, Kae tak terlihat sedih akan kemunculan Algis. Mungkin malah dia senang karena bisa bertemu dengannya lagi.” Tebak Radley.

“Aku juga berpikir begitu.” Kata Edward.

Disaat hal seperti ini, terkadang orang yang masuk dalam circle mereka akan merasa terasingkan. Ada rahasia yang hanya mereka bertiga simpan tanpa ada niat untuk memberitahukannya pada orang lain. Kaelyn, Radley, dan Edward juga sadar akan hal itu. Banyak sekali rahasia yang mereka simpan bertiga. Sempat terpikirkan untuk berbagi rahasia mereka dengan orang baru disekitar mereka, tapi di sisi lain ada rahasia yang sudah mereka tutup dan tidak ingin mereka buka kembali.

Namun ketika rahasia itu tak sengaja terbuka, orang lain hanya bisa menerimanya tanpa bisa marah pada Kaelyn, Radley, atau Edward. Karena mereka sadar, jika memikirkan dan memutar waktu pada beberapa tahun yang lalu, mereka memang tidak dekat dengan mereka bertiga.

 

***

 

Halaman belakang kampus sudah ramai dipenuhi oleh para mahasiswa baru, para dosen dan senior pun mulai berdatangan. Di depan pintu masuk utama belakang kampus terdapat panggung kecil untuk penyambutan dan beberapa penampilan.

“Oh! Baby Kae! Kau datang juga, aku pikir kau tidak akan datang.” seru Tom sambil menghampiri dan merangkul Kaelyn yang berada di stan minuman.

Kaelyn melepaskan rangkulannya, “Tentu saja aku datang. Aku kan panitia.” Jawab Kaelyn sambil tersenyum walau terpaksa.

Tom adalah ketua salah satu kelompok yang cukup terkenal di kampus, ia juga merupakan ketua dari UKM Baseball. Itulah salah satu alasan ia ada di pesta malam ini. Ia dikenal oleh para mahasiswa sebagai Partyman karena ia sering mengadakan pesta di flathousenya. Tom mengenal Kaelyn pada saat pesta perayaan ulang tahun Tom tahun lalu, pada saat pesta ia selalu mengundang semua siswa kampus, tapi tak selalu semuanya yang hadir karena sejak kehadiran pertama mereka, mereka merasakan jika Tom bukan pria yang cukup menyenangkan untuk dijadikan seorang teman.

Saat itu Kaelyn masih mahasiswa baru, ia dan teman-temannya belum tahu apa-apa sehingga menghadiri acara tersebut dengan perasaan senang. Namun siapa sangka sejak kehadirannya waktu itu Kaelyn menjadi sering “diganggu” oleh Tom dan membuatnya risih, meski kedua teman prianya ini sering kali membantu ataupun sedikitnya menegur sikap Tom, itu tak membuat Tom untuk berhenti terus “mengganggu” Kaelyn.

Saat Tom akan kembali merangkul Kaelyn, ia telah didahului oleh Radley yang sudah merangkul dan menarik Kaelyn ke dalam dekapannya. Radley tahu Kaelyn tidak menyukai perlakuan Tom. Tom hanya melihat, menahan kekesalannya karena Radley adalah teman dekat Kaelyn. “Oke.. nikmati pesta kalian.” Ucap Tom lalu pergi meninggalkan mereka.

Kaelyn dan Radley memperhatikan kepergian Tom tanpa mengatakan apa-apa.

“Hei Kae!” panggil Janet sambil menghampirinya. Kaelyn menoleh setelah ia sedikit menjauh dari tubuh Radley yang juga melepaskan tangannya yang berada di pundak Kaelyn.

“Hey..” balas Kaelyn agak canggung.

“Bagaimana minumannya? Aman?” tanya Janet yang tadi meminta bantuan Kaelyn untuk memeriksa persediaan minuman karena divisinya cukup sibuk.

“Ya, aman. Masih banyak tersedia. Mungkin entah karena masih siang atau karena mereka masih pusing akibat pesta kemarin.” Ucap Kaelyn tertawa kecil diakhir kalimatnya.

“Mungkin juga mereka tak terlalu berani untuk mabuk di depan dosen-dosen mereka.” Bisik Janet pada Kaelyn lalu terkekeh.

“Hey. Hey. Jangan berbisik jika ada orang lain di depanmu. Tidak sopan tau.” Omel Radley pada Janet.

“Kau tidak sibuk? Sudah tahu kita kekurangan orang masih saja bisa leha-leha.” Oceh Janet bercanda.

“Berisik kau. Kalian juga sedang leha-leha sekarang.” Balas Radley lalu pergi.

“Kenapa tiba-tiba sensitif sekali anak itu.” Ucap Janet.

“Benar juga.”

 

Pesta penerimaan mahasiswa baru berjalan dengan lancar. Walaupun ada beberapa kejadian kecil yang terjadi seperti; ada yang menjatuhkan piring atau gelas, serta mahasiswa baru yang mabuk dan membuat keributan.
Paling tidak acara berjalan sesuai dengan rundown acara yang dibuat. Tidak ada yang terlewat dan tidak ada yang terlambat. Semua sesusai dengan yang sudah direncanakan.

Namun, tidak dengan yang terjadi pada mahasiswa yang mengadiri acara ini.

Kaelyn menghampiri Edward yang sedang merapikan kabel-kabel yang tadi digunakan saat acara.

“Kau lihat Radley?” tanyanya setelah sampai di samping Edward.

“Tidak. Kenapa?” tanya Edward.

“Aduhh, kemana dia. Tak bisa dihubungi. Hanya dia yang memegang kunci gudang.” Keluh Kaelyn.

Edward berpikir, ekspresi wajahnya seperti sedang mengingat seuatu.

“Apa?” tanya Kaelyn yang melihat ekspresi Edward.

“Kalau aku tidak salah lihat, tadi dia sempat bertengkar dengan Sally. Apa itu sebabnya dia menghilang sekarang?” ucap Edward.

“Bertengkar? Bertengkar kenapa?” tanya Kaelyn.

“Aku tak tahu. Belum sempat menanyakannya. Tadi benar-benar sibuk, aku hanya melihat mereka berbicara sambil berteriak, frustasi, dan kau tahu.. bertengkar. Radley yang lebih seperti marah pada Sally, dan Sally seperti bersalah? Entahlah, kelihatannya Radley yang marah lebih dulu.” Jelas Edward, yang cukup bisa dibayangkan oleh Kaelyn.

“Ah, bisagila anak itu. Selalu saja tidak bisa memisahkan masalah pribadi dengan bisnis. Merepotkan saja.” Keluh Kaelyn, lagi.

Saat ini acara sudah selesai, dan para panitia sudah mulai membereskan aula. Barang-barang yang dipakai untuk acara perlu dikembalikan ke gudang kampus lagi. Radley yang terpilih sebagai ketua divisi Logistik memiliki tanggung jawab untuk memegang kunci gudangnya. Dan karena Radley tiba-tiba menghilang, pekerjaan panitia untuk membereskan barang-barang tertunda.

Tepat sebelum kejadian Kaelyn dan Tom di meja bar tadi saat acara, Radley yang sedang bertugas sebagai panitia divisi Logistik tentu saja lebih banyak bekerja di “belakang panggung”.

Radley berjalan menuju lorong belakang aula, hendak mengontrol anggotanya yang sedang menyiapkan keperluan untuk acara selanjutnya. Saat berjalan melewati lorong, ia melihat di satu sudut lorong terdapat dua orang –satu pria dan satu wanita- seperti sedang berciuman. Radley yang merasa itu kegiatan pribadi mereka hanya melewatinya begitu saja, hingga ia sadar gaun yang dipakai wanita itu mirip dengan gaun yang Sally –pacarnya pakai tadi saat datang ke pesta ini.

Radley menghentikan jalannya, ia kemudian berbalik dan berhenti tepat di belakang dua orang itu.

“Sally?” panggil Radley ragu.

Kedua orang itu seketika berhenti, wanita yang menghadap belakang dari pandangan Radley seketika menoleh ke belakang. Matanya membelalak, lalu menjauh dari pria yang masih ada dalam pelukannya.

“Radley?” ucap wanita itu, yang ternyata memang benar Sally.

Radley sangat terkejut. Ia tak bisa berkata apa-apa.

“Yaampun.” Kata Radley lalu berjalan menuju pintu keluar aula.

“Radley, tunggu sebentar.” Panggil Sally. “Aku bisa jelaskan.” Katanya.

“Jelaskan? Jelaskan apa maksudmu?” Radley berhenti berjalan, ia berbalik pada Sally.
“Ingin menjelaskan jika kau mencintainya?” ucap Radley. “Oh, atau ingin menjelaskan itu hanya ciuman yang tak berarti apa-apa?”

“Radley, tenang dulu. Dengarkan aku dengan hati-hati jangan emosi.” Sally berbicara dengan sabar. Disisi lain ia terlihat cukup bersalah atas perbuatannya, namun dimata Radley itu seperti hal yang disengaja, dan hal yang disengaja bukan hal yang membuat seseorang merasa bersalah.

“Kau pikir aku bodoh? Dia pria yang selalu mengantarmu pulang kan? Senior? Hanya senior yang mengkhawatirkan juniornya? Apa dia juga khawatir pacarnya ini tak bisa memberikan hal yang juniornya inginkan? Maka dari itu dia memberikannya?” Radley benar-benar berbicara seperti yang kepalanya sedang pikirkan, keluar begitu saja.

“Rad.. kau pikir aku semurahan itu? Apa maksudmu?!” teriak Sally, ia merasa direndahkan oleh Radley.

“Aku tahu kau mengerti maksudku. Aku tak ingin bicara lagi.” Kata Radley lalu berjalan lebih cepat meninggalkan Sally.

Setelah Radley menenangkan perasaannya diluar, ia kembali masuk ke aula dan melihat Kaelyn yang terlihat tak nyaman karena keberadaan seniornya.

 

Di atap Gedung utama kampus, yang digunakan untuk acara mala mini, Radley sedang berdiri sambil bersandar pada tembok yang setinggi perutnya, tangannya ia sandarkan pada bagian atas tembok. Kaelyn yang sudah curiga Radley akan berada disana menghampirinya.

“Jika ingin bolos beres-beres harusnya kau kasih kunci gudangnya ke yang lain.”

Radley yang terkejut dengan suara yang tiba-tiba muncul disana langsung menoleh kebelakang. Ia kemudian mengecek kantung celananya dan mendapati kunci Gudang yang masih ada padanya.

“Ah. Kau benar.” Katanya sambil menunjukkan kuncinya pada Kaelyn.

Kaelyn mengikuti posisi Radley. Dengan tatapan yang juga ke depan, sama seperti Radley. Kaelyn mengatakan sesuatu yang tak masuk akal.

“Kau tahu. Jika tadi kau tidak membantuku dengan Tom, aku sekarang mungkin berada di pesta nya. Dan jika kejadian hari ini tidak terjadi, kita mungkin tak akan sadar apa yang seharusnya untuk kita dan mana yang bukan.”

Radley menoleh pada Kaelyn dan melihatnya untuk beberapa detik. Ia kemudian terkekeh.

“Kau selalu mengatakan hal aneh jika ingin menghibur seseorang.” Katanya.

Kaelyn juga menoleh pada Radley.

“Aku tahu. Aku kadang ingin menghibur seseorang, tapi orang itu kadang tak ingin dihibur. Jadi aku tak tahu harus bagaimana.” Ucap Kaelyn datar. Yang malah membuat Radley tertawa mendengarnya.

“Memang. Keanehanmu itu yang membuatmu lebih menarik dari orang lain yang kukenal.”

“Aku tahu.” Jawab Kaelyn percaya diri, lalu diakhiri dengan senyuman. Ia tak ingin kepercayaan dirinya terlihat sedang menyombongkan diri.

 

**

 

Aula acara selesai dibereskan. Barang-barang yang perlu masuk ke Gudang masih menunggu di depan Gudang. Beberapa panitia, atau bisa dibilang hampir semua panitia merasa kesal dengan penundaan ini karena dirasa seperti kerja dua kali. Melihat situasi ini, Edward yang merasa ikut bertanggung jawab atas perbuatan teman dekatnya ini menyarankan pada ketua panitia untuk membiarkan para panitia lainnya untuk pulang lebih dulu dan sisa barang yang perlu masuk Gudang biarkan menjadi tanggung jawab Radley. Seperti membantu tapi juga mengorbankan temannya.

Ketua panitia yang juga senior Edward setuju dan percaya dengan ucapan Edward, karena ia juga tahu bagaimana hubungannya dengan Radley. Setelah ucapan penutupan Ketua Panitia para panitia lainnya pun satu persatu pulang, tinggal tersisa Edward dan Janet.

“Kau yakin Kae sudah menemukan Radley?” tanya Janet karena dirasa sudah cukup lama dari Edward bilang Kaelyn sudah menemukan Radley.

“Ya aku yakin.” Jawab Edward. Tidak membuat Edward resah karena mereka lama, hal seperti ini sering terjadi baik pada Radley maupun pada dirinya. Kaelyn terkadang punya hal aneh yang membuat kita yang diajak bicaranya mengungkapkan keluh kesah kita padanya.

“Jika kau mau pulang, pulang saja. Aku tak apa-apa menunggu sendiri.” Kata Edward kemudian.

“Jangan ingin menjadi teman setia sendirian. Aku juga setia pada Kaelyn.”

 

**

 

Radley telah menceritakan apa yang terjadi tadi. Kaelyn yang hanya mendengar ending ceritanya saja dari Edward sangat terkejut dengan cerita lengkapnya.

“Aku sangat terkejut. Aku tak punya nasihat apa-apa untukmu, aku hanya akan marah pada Sally saat ini.” Pihak Kaelyn pada Radley.
“Tapi, sepertinya kau harus mendengar penjelasannya juga.” Ucap Kaelyn tiba-tiba menjadi pihak netral.

Radley terkekeh kecil.

“Maksudku. Walaupun kau tidak Kembali dengannya setidaknya kau perlu mendengar cerita lengkapnya dari Sally.” Saran Kaelyn.
“Tapi jika dia benar selingkuh, aku tak mengizinkanmu untuk Kembali dengannya.” Jelas Kaelyn.

Radley mengangguk, raut wajahnya lesu, tubuhnya benar-benar Lelah.

“Jangan sampai kau menyesal putus dengannya tanpa mendengar hal yang sebenarnya terjadi dari sisi Sally. Meskipun itu benar atau salah. Karena sepertinya apapun cerita Sally, aku tahu bagaimana itu akan berakhir.” Tebak Kaelyn yang hanya mendapat senyuman dari Radley.

 

**

 

Sudah hampir setengah jam lebih Edward dan Janet menunggu, akhirnya Radley dan Kaelyn Kembali.

“Kau. Benar-benar ya.” Sapa Edward begitu melihat keduanya dating.

“Kenapa hanya ada kalian berdua?” tanya Radley.

“Karena kau mereka pulang duluan.” Jawab Janet sinis.

“Lalu ini siapa yang membereskan?” tanya Radley lagi.

“Tentu saja kau. Siapa lagi. Aku sudah bilang pada ketua panitia kau yang bertanggung jawab atas barang-barang yang perlu masuk Gudang.”

“Kau serius?”

Edward mengangguk, diikuti Janet sebagai saksi.

“Hanya sedikit, ini tak seberapa dari membersihkan aula tahu.” Kata Kaelyn.

“Tahu gitu aku hanya memberikan kunci Gudang saja tadi tak perlu ada obrolan.”

“Eyy.. justru itu. Biar kau juga ikut membereskan aula.”

 

***

 

Meski Edward, Kaelyn, dan Janet berkata seolah akan membiarkan Radley membereskannya sendiri, pada akhirnya mereka juga ikut membantu Radley agar dapat selesai lebih cepat. Setelah menyelesaikannya selama kurang lebih setengah jam, mereka pun berpisah untuk Kembali ke asramanya masing-masing.

Diperjalanan menuju asrama, Kaelyn tak menduga Janet akan membicarakan hal yang cukup sensitive baginya. Bukan salahnya, karena Janet tak tahu apa-apa mengenai hal itu.

“Kau tau Algis kan? Pria yang aku bicarakan waktu itu, pria yang ikut bergabung dengan UKM Musik juga?” ucap Janet membuka pembicaraan.

Kaelyn langsung menoleh ketika Janet menyebut nama Algis.

“Dia kenapa?” Kaelyn mencoba untuk tetap tenang.

“Sepertinya kali ini aku benar-benar menyukai pria itu.” Ungkap Janet, tapi tak membuat Kaelyn merasa terganggu. Karena sudah beberapa kali, atau mungkin lebih tepatnya setiap kali Janet bilang menyukai pria, ia tak pernah benar-benar menyukainya. Hanya sebatas tertarik, tak pernah begitu menginginkan pria yang ia sukai untuk menjadi kekasihnya.

Kaelyn terkekeh kecil, “Dia semenarik itu hah?”

Bola mata Janet membesar, menandakan bahwa ucapan Kaelyn benar, sangat benar.

“Serius!!! Dia sangat menarik, aku tak tahu dia itu apa atau bagaimana dia ada disini, tapi dia sangat menarik! Sungguh Kae!!!! Dia berbeda dari pria yang aku sukai sebelum-sebelumnya.”

Kali ini, Kaelyn sedikit terusik dengan ucapan Janet.

“Tadi aku sempat berbincang dengannya di pesta. Dan dia sangat mudah diajak bicara, obrolan kita begitu lancar padahal itu pertama kalinya kita bertemu. Dia seumuran kita, dan itu, rasanya tak ada yang kurang! Sial Kae, sepertinya kali ini aku akan benar-benar serius menyukai seorang pria.”

Ungkapan Janet yang terdengar sangat jujur dan juga berbeda dari biasanya sangat membuat Kaelyn terusik. Kaelyn tahu dirinya masih menyukai Algis, tapi ia tak pernah merasa seperti akan kehilangan Algis kali ini. Meski sebelumnya ia tak benar-benar memiliki Algis, tapi kali ini jika ia tak benar-benar mendapatkan Algis, ia rasa dirinya akan benar-benar kehilangan Algis.

 

TBC


Comments

Popular