Between Us (Part 3)



 

Kaelyn terbangun dari tidurnya, jam dindingnya menunjukkan pukul 6 pagi. Tidak terlalu buruk untuk memulai hari ini yang jika dipikirkan lagi kemarin adalah hari yang cukup sibuk baginya. Atau mungkin bisa dikatakan ini terlalu pagi untuk seseorang yang baru saja bekerja disebuah acara.

Kaelyn terduduk lalu melihat Kasur di sampingnya. Janet masih tertidur pulas. Hari libur memang hari yang paling cocok untuk berleha-leha.

Ketika Kaelyn akan memulai harinya, tiba-tiba ia teringat akan ucapan Janet tadi malam. Ia mengatakan dengan jelas bahwa kali ini ia benar-benar menyukai seseorang. Meski Kaelyn meragukan hal itu, namun tetap saja hal itu mengusik pikirannya.

Meski hari libur, jika kau ada di asrama kampus tentu saja mau tak mau kau akan bertemu dengan teman-teman kuliahmu. Memikirkan hal itu terdengar melelahkan bagi Kaelyn, namun akan lebih melelahkan jika dirinya harus pergi keluar jauh dari kampus.

Tapi karena ucapan Janet yang meresahkannya kemarin malam, pagi ini ia menutuskan untuk setidaknya tak melihat Janet atau berbincang dengannya saat ia bangun nanti, karena jika itu terjadi Kaelyn akan kesal pada Janet tanpa sebab dan itu hanya akan menimbulkan pertanyaan.

Hanya mencuci muka dan sikat gigi, Kaelyn keluar dari asrama menggunakan hoddie dan topi berwarna krem favoritnya. Tak ada tujuan yang jelas kemana ia akan kemudian setelah keluar dari asrama, Kaelyn hanya berjalan mengikuti Langkah kakinya dan mengitari area kampus. Karena cukup malas untuk pergi jauh dari sana.

Walaupun dapat dikatakan Kaelyn hanya berjalan mengitari kampus, namun lebih tepatnya Kaelyn hanya berjalan. Karena dalam pikirannya secara tak sadar menuntutnya pada perkataan Janet semalam. Kaelyn terlalu takut untuk melanjutkan apa yang akan terjadi jika ucapan Janet benar-benar terjadi. Berbagai pertanyaan dan pernyataan yang mungkin sekilas muncul dipikirannya, ia singkitkan begitu saja atau lebih tepatnya ia halangin dengan ucapan Janet terus menerus. Tak ingin ada kelanjutkan setelah ucapan Janet.

Kaelyn tersentak ketika seseorang tiba-tiba menepuk pundaknya, pikirannya seketika ambyar dan hatinya tiba-tiba terasa lega begitu melihat orang yang menepuk pundaknya tadi.

“Hey, kau sedang apa?” tanyanya dengan nada khawatir.

“Oh, hey Algis.” balas Kaelyn. Ia tahu mengapa hatinya tiba-tiba merasa lega.

“Kau ku panggil-panggil tidak menyahut. Ada apa? Terjadi sesuatu?” tanyanya lagi.  Mendengar pernyataannya Kaelyn hanya tersenyum, ia sangat tak sadar jika sejak tadi ada yang memanggilnya.

“Tidak ada apa-apa. Hanya sedang memikirkan sesuatu.” Jawab Kaelyn. Lalu Kembali berjalan diikuti oleh Algis.

“Kau benar-benar suka berpikir ya..” ungkap Algis tersenyum. “Kau juga pasti mensimulasi berbagai kemungkinan dipikiranmu ya?” tebaknya.

Kali ini Kaelyn yang tersenyum, “Kali ini aku tidak mensimulasikannya.”

Kening Algis mengkerut, “Kenapa?”

“Karena… aku takut?”

“Takut? Takut kenapa? Itukan hanya simulasi, kau bisa membuatnya dengan ratusan bahkan ribuah versi yang lebih baik lagi bukan?”

Algis benar, itu hanya simulasi. Kasarnya Kaleyn biasa menyebutkan sebagai ‘imaginasi’. Dan hal yang Algis katakan itu biasanya selalu menjadi dasar dari imajinasinya. Meski tak ingat jika harus di jabarkan dengan kata-kata, tapi Kaelyn tahu, Kaelyn sadar bahwa imajinasinya hanya sebatas imaginasi dan yang ia pikirkan akan terjadi dengan sebaliknya. Bagi Kaelyn itu hanya manipulasi otak yang ia rasa menyenangkan bagi dirinya, tak masalah jika ternyata hal yang sebenarnya terjadi tak sama dengan imajinasinya.

Namun, berbeda dengan kali ini. Kaelyn tak ingin imajinasi ini menguasai hati dan pikirannya. Karena ia ingin semuanya realitas. Entah hal itu menyenangkan atau menyakitkan, Kaelyn hanya ingin itu nyata, bukan hanya imajinasi yang berpaku pada harapan kosong.

“Kali ini aku ingin kejutan.” Ungkap Kaelyn. “Aku rasa hal ini akan menjadi hal yang paling menarik dalam hidupku.”

“Bukankah itu beresiko tinggi jika kau tak menyiapkan kemungkinan yang akan terjadi di depan?”

“Kau benar. Tapi terkadang kau harus mengorbankan sesuatu untuk mendapatkan sesuatu. Dan aku rasa, jika aku mengorbankan ‘keselamatan’ku di depan aku bisa mendapatkan hal yang bisa diambil dengan lebih bijak. Entah itu hal baik atau hal buruk nantinya.”

Mendengar ucapan Kaelyn, Algis tersenyum puas. Kaelyn terdengar lebih dewasa dan bijak dari dua tahun yang lalu.

 

***

 

“Kemarin aku sangat tenang, kenapa sekarang aku sangat gelisah?!!”

Edward yang sudah bangun lebih dulu dari Radley merasa lelah melihat Radley mondar mandir di kamarnya sejak tadi.

“Bisakah kau berhenti?” ucap Edward frustasi, nadanya sedikit meninggi namun tak membuat Radley tersinggung.

Radley berhenti lalu duduk di tepian Kasurnya.
“Apa aku harus memutuskannya karena kejadian kemarin?” tanya Radley kemudian pada Edward.

Edward hanya melihat pada Radley, tak mengatakan apa-apa.

“Maksudku, kau tahu banyak alasan bagiku ingin memutuskannya. Dan kejadian kemarin?”

“Kau berengsek.” Ucap Edward. Dua kata, namun bermakna.

“Aku tahu. Tapi, itu sangat beralasan. Aku sudah merasa ia berselingkuh bahkan jauh dari beberapa bulan yang lalu, dan kemarin seperti sebuah bukti jika dia benar-benar selingkuh. Aku tak tahu dengan siapa ia berselingkuh sebelumnya, tapi kemarin sangat meyakinkan.”

Saat ini, entah perselingkuhan Sally benar atau tidak. Radley hanya ingin mengakhiri hubungannya dengan Sally. Banyak keluhan yang Radley rasakan saat menjalin hubungan dengan Sally, tidak sejak awal tapi semakin lama semakin banyak.

Dalam sebuah hubungan, semakin lama sebuah hubungan berjalan, maka semakin banyak hal yang diketahui pasangan satu sama lain. Hal itu juga yang menuntut sebuah pasangan dalam menghadapi fase-fase yang terjadi dalam sebuah hubungan. Fase yang terjadi harus dilalui oleh kedua orang dalam hubungan tersebut agar hubungan dapat terus berjalan. Dan yang terjadi pada Radley dan Sally, mereka seperti sedang melalui suatu fase namun dengan arah yang berbeda.

Hubungan mereka terkadang terlalu tenang, dan hal itu yang sebenarnya menakutkan. Karena ditakutkan dalam hubungan tersebut tidak terdapat perasaan yang cukup emosional yang dapat mengingat hubungan tersebut.

Jika mengulang Kembali pada kejadian tadi malam, Radley marah pada Sally. Radley tahu perasaan saat itu bukan marah atas pengkhianatan akan perasaan, melainkan marah akan pengkhianatan pada sebuah hubungan. Hubungan mereka, status, saat itu Sally sedang berpacaran dengan Radley, dan kejadian kemarin malam adalah pengkhianatan akan itu. Karena jika kau mempunyai status dengan seseorang maka sudah seharusnya kau berkomitmen dengan status yang kau bagikan dengannya, itu semacam tanggung jawab yang harus kau jaga.

Perasaan Cinta mungkin berubah, dan untuk bisa terus bersama seseorang itu harus lebih dari perasaan cinta. Pada kasus Sally, Radley tak merasa ia memiliki perasaan lebih dari cinta itu pada Sally.

“Jika sudah begini, memang lebih baik kau putus dengannya. Kau sendiri sudah tak ingin bersamanya. Apa gunanya memperjuangkan yang bahkan kita sendiri tak ingin memperjuangkannya?”

Edward merasa hubungan Radley dan Sally sudah tidak sehat. Hubungan mereka saja berpacarann tapi perasaan mereka satu sama lain tak menunjukkan sebagai sepasang kekasih. Mending jika mereka terlihat seperti pasangan suami istri, yang tak perlu ada perasaan yang menonjol tapi cukup harmonis untuk Bersama. Untuk mereka, bahkan untuk berteman pun sepertinya tak bisa. Malah rasanya Radley lebih bisa perhatian dan nyaman Bersama Kaelyn temannya daripada Sally pacarnya sendiri.

“Lalu kapan aku harus mengatakannya?” tanya Radley, membuat Edward menggeram.

 

***

 

Janet keluar dari kamar, ia sudah bersiap untuk pergi keluar. Hari ini dia memiliki rencana untuk bertemu teman-teman dekatnya saat sekolah. Ia mengirim Kaelyn pesan, memberitahu bahwa dirinya pergi dan akan pulang cukup larut.

Disisi lain, Kaelyn dan Algis masih bersama sejak pertemuan tadi. Mereka berdua berbincang cukup lama sambil berjalan hingga akhirnya sampai di depan Gedung asrama Kaelyn. Begitu mereka sampai dan hampir berpamitan, Janet memanggilnya dari pintu keluar Gedung asrama.

“Kae!!” panggilnya, memecah perbincangan Kaelyn dengan Algis dan langsung menoleh ke sumber suara.

“Apa aku bisa meminta tolong?” tanya Kaelyn cepat pada Algis begitu melihat Janet.

“Apa?”

“Jangan katakan kita pernah satu sekolah.” Pinta Kaelyn.

“Kenapa?”

“Nanti aku jelaskan, tapi untuk kali ini aku minta bantuanmu.” Ucap Kaelyn dengan wajahnya yang memohon.

Untunglah Janet tak berlari agar bisa sampai pada Kaelyn, mereka sama-sama berjalan dan jarak mereka cukup jauh tapi masih bisa terlihat siapa orang tersebut.

“Kenapa kalian bisa bersama?”

Mereka akhirnya berada di jarak yang cukup dekat untuk berbincang.

“Tidak sengaja bertemu, dan ya..” Kaelyn tak tahu harus mengatakan apa pada Janet, karena situasi tak pernah terpikirkan oleh Kaelyn sebelumnya.

“Menanyakan beberapa hal tentang UKM Musik.” Kata Algis. “Kau tahu aku sangat penasaran dengan banyak hal bukan?” nada bicara Algis terdengar sangat akrab pada Janet, dan itu membuat Kaelyn terusik.

Janet tertawa kecil mendengarnya, “Kau benar juga. Aku lupa hal itu, padahal baru kemarin.” Tawa kecil di akhir kalimatnya diiku oleh Algis.

Kaelyn yang entah mengapa merasa canggung hanya tersenyum mendengarnya.
“Sepertinya kalian cukup akrab ya.” Ungkap Kaelyn terpaksa.

“Benarkah? Kita terlihat akrab? Aku merasa Algis sangat mudah diajak berbincang, padahal baru kemarin kita bertemu. Betul tidak?”

Algis yang mendengarnya mengangguk mengiyakan, “Aku juga tak tahu ada orang yang mudah diajak berbincang sepertimu.” Pujinya pada Janet, yang lagi-lagi membuat Kaelyn terusik.

Kaelyn tak mengatakan apa-apa mengenai hal itu.

“Oh, kau mau kemana?”

Pakaian Janet yang sudah rapi membuat Kaelyn bertanya-tanya.

“Ah. Aku akan menemui teman-temanku. Aku sudah mengirimmu pesan, kau tidak membacanya?”

“Ah, aku tidak membawa ponsel. Kalau begitu pergilah, hati-hati. Aku akan masuk dulu.” Katanya sambil melihat pada Algis juga.

Algis mengangguk, “Sampai jumpa lagi Kae.”

Kaelyn melambaikan tangannya seraya berjalan menjauh dari Algis dan Janet. Setelah berjalan cukup jauh dari mereka Kaelyn kembali menoleh ke belakang dan melihat Algis dan Janet berjalan bersama sambil berbincang dan tertawa.

Sungguh, ini membuat Kaelyn gila. Ia merasa cemburu. Tapi jika dipikrikan lagi, itu bukan salah Algis jika dirinya memang orang yang mudah bergaul dan ramah. Jika memutar kembali waktu, sepertinya hal itu juga yang membuat Kaelyn menyukai Algis saat sekolah. Melihat Janet dengan Algis, mengingatkan pada dirinya di masa lalu. Hal itu membuat Kaelyn berpikir, jika dirinya menyukai Algis di masa lalu namun masih menyukainya di masa sekarang. Hal itu juga bisa saja terjadi pada Janet. Namun bedanya, untuk Janet mungkin hubungan mereka akan berhasil, tak seperti dirinya di masalalu.

Mungkin memang benar yang namanya ‘orang yang tetap di waktu yang salah’ itu benar-benar ada. Saat itu, Kaelyn lebih memilih kedua sahabatnya daripada Algis. Meski bukan hal besar yang seperti membuat keputusan untuk hubungannya dengan Algis. Namun saat itu, ia memilih untuk menghabiskan waktunya untuk memperbaiki hubungannya dengan Edward dan Radley yang membuat Kaelyn perlu melepas komunikasinya dengan Algis sepenuhnya. Jika bisa beralasan, pilihan itu tak sengaja. Kaelyn menjadi tak punya waktu bertemu dengan orang lain selain kedua sahabatnya. Namun ini juga bukan berarti ia terpaksa memilih kedua sabahatnya, tapi saat itu Kaelyn tahu ia tak ingin persahabatannya hancur.


TBC


Comments

Popular