Between Us (Part 4)
Radley dan Sally sudah duduk berhadapan di sebuah café dekat kampus. Mereka sudah memesan minuman, dan sudah terdiam cukup lama sejak minuman mereka datang. Salah satu dari mereka seperti tidak ada yang ingin memulai pembicaraan. Sally yang secara kasat mata bersalah karena kejadian kemarin malam, seperti tak ada rasa bersalah, tak aada keinginan untuk meminta maaf atau meminta pengertian Radley atas kejadian kemarin. Radley yang merasa harus menerima penjelasan kemarin malam, melihat kelakuan Sally siang ini membuatnya mengerti dan tak memerlukan penjelasan Sally atas kejadian kemarin malam.
“Aku rasa
kita harus putus.” Kata Radley langsung. Tak mengejutkan Sally, tapi tetap saja
mendapat ekspresi tak tertuga dari Sally.
“Kau yakin?”
tanya Sally, yang entah mengapa terdengar angkuh bagi Radley.
“Ya. Aku
yakin. Melihatmu hari ini setelah kejadian kemarin malam sepertinya memperjelas
padaku jika kau memang tak menginginkan hubungan ini lagi.” Ungkap Radley. Yang
walaupun sebenarnya Radley juga tak menginginkannya.
“Kau tak
ingin tahu alasanku menciumnya kemarin?”
“Apa itu
pertama kali kau mencium seseorang? Aku rasa tidak.”
Sally
sedikit tersentak, Radley diam-diam tahu apa yang Sally lakukan di belakangnya.
“Lalu, kau
tak ingin tahu kenapa aku melakukan itu semua?”
“Apa aku
harus tahu?”
“Ya. Kau
harus tahu.”
“Lalu kenapa
kau tidak memberitahuku saja sejak awal dan bukannya malah pergi sana sini dan
mempermainkan hubungan kita? Kau tahu kita pernah saling jatuh cinta satu sama
lain hingga akhirnya kita setuju untuk berpacaran. Tapi yang terjadi saat ini?
Apa aku sejak awal salah sangka jika kau juga jatuh cinta padaku?”
Sally
tersenyum mendengar ucapan Radley. “Jatuh cinta.” Katanya terkekeh kecil. “Itu
masalahnya.” Kata Sally. “Aku tak pernah merasa kau jatuh cinta padaku. Setiap
kita bersama selalu ada nama lain yang mengganggu kebersamaan kita. Satu dua
kali aku mengerti, namun setelah berkali-kali aku merasa yakin kau tak
mencintaku, tak pernah. Kau ingin berpacaran denganku karena rasa tertarikmu
akan diriku, bukan karena perasaanmu yang benar-benar menyukaiku.” Ungkapan
Sally membuat Radley bingung.
“Apa
maksudmu.”
“Kau tahu,
terkadang intuisi wanita itu tak pernah salah. Dan nama yang selalu ada
diantara kita itu, itu yang membuatmu tak mencintaiku, tak bisa jatuh cinta
padaku, karena kau sudah jatuh cinta padanya, sudah mencintainya.”
Radley
terdiam. Ia kira Sally yang jahat dalam hubungannya ini, tapi setelah ucapan
Sally, sepertinya dirinyalah yang jahat dalam hubungan mereka.
“Aku mungkin
egois, tapi ketika kita sudah jatuh cinta pada seseorang kita juga ingin
menerima cinta dari seseorang. Ketika aku tahu aku tak bisa mendapatkannya
darimu, aku ingin mencari orang lain yang bisa mencintaiku. Aku memang salah
karena melakukan ini tapi tak melepaskanmu, tapi.. ya itu karena aku egois. Aku
mencintamu. Tapi aku tak mendapatkannya darimu.” Ungkap Sally. “Dan kejadian
kemarin malam, itu baru pertama kali. Aku ingin membuat diriku jatuh cinta pada
orang yang mencintaiku juga.”
Selama Sally
berbicara, Radley hanya melihat padanya dan tak mengatakan apa-apa.
“Aku juga
merasa hubungan kita harus berakhir. Ini tak sehat bagi kita berdua. Aku tak
merasa aku jahat, tapi aku akui aku egois.” Sally menyelesaikan ucapannya.
“Setelah ini, aku rasa kita tak perlu saling sapa lagi.” Kata Sally lalu
berdiri dari bangkunya.
Radley
berdiri cepat begitu Sally akan pergi.
“Aku minta
maaf.” Kata Radley menahan Sally. “Aku tak tahu harus meminta maaf atas hal
spesifik apa, karena sepertinya terlalu banyak kesalahanku. Tapi yang jelas,
aku minta maaf karena sudah salah sangka padamu.” Kata Radley. Sally tersenyum
mengangguk, menerima permintaan maaf Radley, lalu pergi.
***
Setelah
kejadian tadi siang, banyak hal yang Radley pikirkan. Radley tak ingin kejadian
yang terjadi saat sekolah terulang kembali. Radley sangat sadar dan tahu orang
yang Sally maksud. Sebenarnya tak ada hal yang perlu Radley pertimbangkan,
karena dirinya pun sadar jika ia mencintai Kaelyn. Entah bentuk cinta dalam
sebuah persahabatan atau sebuah dua insan manusia, Radley tak peduli dengan
itu. Namun yang pasti ia tahu ia mencintai Kaelyn dan memang benar Kaelyn
berada di peringkat atas prioritasnya.
Namun
semakin lama Radley memikirkannya, ia menjadi tersadarkan. Hal ini juga sudah
terjadi dua kali dalam kehidupan percintaannya. Mereka tak pernah berhasil dan
itu karena perasaannya pada Kaelyn. Dan ini mungkin bisa saja terjadi untuk
ketiga, keempat, atau mungkin kelima kalinya sampai Kaelyn menemukan seseorang
untuk dirinya dan begitu juga dengan Radley.
“Woah!! Kau
mengejutkanku, sedang apa kau?!” Edward masuk ke kamar asrama, mendapati Radley
sedang terlentang di atas kasurnya dengan mata terbuka yang melihat ke atas
langit-langit kamar.
“Darimana
saja kau.” Tanya Radley masih dalam posisinya.
“Mencari
makan. Kapan kau pulang?”
“Sudah sejak
tadi. Kau mencari makan kemana jam segini baru kembali.”
“Cih. Kau
pikir hanya kau yang punya kehidupan pribadi.”
“Aku sudah
putus dengan Sally.” Ungkap Radley.
“Sudah
kuduga.” Kata Edward. “Tapi kenapa kau seperti tak senang? Apa ini fase penyangkalan?”
tebak Edward.
“Tidak. Ini
fase ikhlas.” Kata Radley, nada bicaranya seperti memelas.
“Woah,
ikhlas? Sudah fase terakhir? Kau benar-benar ingin putus dengannya rupanya.”
“Tentang
itu.” Radley bangun dari tidurnya, ia duduk di tepian kasur menghadap kasur
Edward dengan kepala sedikit menunduk.
“Kenapa
dengan itu?” Edward mengikuti duduk di tepian kasurnya dan membuat mereka kini saling
berhadapan.
“Sepertinya
aku benar-benar tak mencintainya.” Ucap Radley.
“Ya. Memang
terlihat begitu.” Kata Edward memverifikasi pernyataan Radley.
“Benarkah?
Kenapa aku tak menyadarinya?”
“Memang
begitu. Orang yang menjalaninya tak pernah peka akan perasaannya sendiri sampai
ia sudah kehilangan hal itu.”
“Kau benar.”
Radley mengakui hal itu sekarang.
“Kau tahu, selama ini aku kira Sally tak pernah mencintaiku. Dan aku selalu
bertanya-tanya jika dia tak mencintaiku kenapa dia tak pernah meminta putus
denganku? Namun setelah perbincangan dengan Sally tadi siang, aku seperti
tersadarkan. ‘Ah.. jadi ini alasanku mempertakankan Sally walaupun sebenarnya
aku tahu aku tak pernah mencintainya.’ Karena kau tahu, meskipun aku merasa dia
tak mencintaiku tapi tak pernah ingin putus denganku, itu seperti kesempatan
untukku mempertahankan hubungan dengannya meskipun tak ada rasa apa-apa
disana.”
“Woah..
hubungan percintaan memang tak pernah mudah.” Ungkap Edward yang selama ini
masih melajang. “Dan kau tahu apa yang membuatmu tak mencintainya?” Radley
mengangguk menjawab pertanyaan Edward. “Masih orang yang sama?” tebak Edward,
dan mendapat anggukan lagi dari Radley.
“Aku tahu
yang kau pikirkan.” Kata Radley menahan Edward kembali berbicara. “Aku tak
ingin mengulang kejadian saat sekolah.” Kata Radley, tepat sasaran dengan yang
akan Edward katakan.
“Aku pikir
sekarang sudah beda. Saat itu kita masih belum dewasa dalam menyelesaikan
masalah, dan saat itu masalahnya adalah aku. Aku pikir kali ini akan berhasil.
Dan jika harus ‘memberikan’ Kaelyn pada seseorang, aku lebih percaya
menyerahkannya padamu.” Radley tak menyangka dengan yang Edward katakan, butuh
keberanian dan pengorbanan untuk mengatakan hal itu terkait wanita yang kita
sukai.
Ada
keheningan setelah Edward mengatakn hal itu. Radley tak yakin, dan dia tak
pernah mempertimbangkan untuk mengungkapkan perasaannya pada Kaelyn, atau
mungkin lebih tepatnya ia sudah memutuskan untuk tak mengungkapkan perasaannya.
Tiba-tiba
pintu kamar mereka terbuka dan menampilkan seseorang menggunakan hodie gombrang
dengan kepala yang tertutup kupluknya. “Ayo kita makan.” Katanya mengejutkan
Radley dan Edward sambil menujukkan sekantung keresek berisi makanan cepat
saji.
“Woah!! Kae!
Sial. Kau mengejutkanku.” Radley memegang dadanya seraya terbaring di atas
kasur.
Sedangkan
Edward berlari kecil menghampiri Kaelyn yang masih diambang pintu kamar, lebih
tepatnya Edward berlari menuju pintu kamar karena setelah itu Edward memeriksa
kanan kiri lorong asrama apakah ada orang yang melihat kedatangan Kaelyn ke
kamar mereka lalu dengan cepat menutup pintu kamar.
“Kau gila
datang ke asrama pria?” omel Edward setelah menutup pintu kamar.
“Kalian juga
pernah datang ke asrama wanita, memang kenapa?” Kaelyn mengucapkannya sambil
mengeluarkan makanan yang ia bawa dari kantung kreseknya.
“Heh, memang
kau dan kita sama? Bagaimana jika ada pria yang menyegatmu dan membawamu pergi
tanpa sepengetahuan orang-orang?!” kali ini Radley yang mengomel.
“Ada kalian.
Jika aku hilang kalian akan tahu.” Kata Kaelyn lalu menjulurkan lidah pada
Radley.
“Bagaimana
jika kita sedang berganti baju atau bahkan tak berbusana?”
Kaelyn
berhenti sejenak, “Tentang itu, aku tak memikirkannya. Lagipula kalian tak
begitu menggoda bagiku.”
“Woahh, kau
tidak tahu saja. Jika kau mellihatnya,..” Radley menunjuk Kaelyn tak jelas,
tubuhnya mengisyaratkan banyak hal.
Kaelyn
mengibaskan tangannya pada Radley, menyuruh Radley untuk berhenti membicarakan
hal itu.
“Hey
bangunlah, ayo kita makan.” Ajak Kaelyn pada Edward yang entah sejak kapan
sudah berbaring di atas tempat tidurnya.
“Kalian
makan saja, aku baru selesai makan.” Kata Edward lalu mulai memejamkan matanya.
“Woa… kau
sedang kelaparan atau kau baru saja memungut makanan? Kenapa banyak sekali?”
kata Radley yang sudah bergabung dengan Kaelyn di lantai.
“Aku
memungutnya dijalan! Kenapa?”
“Cih.. kau
hanya membeli dan memakannya sedikit lalu memberikan sisanya pada kita kan.”
“Enak saja,
aku tidak memberikan sisa. Ini masih baru semua, aku belum memakannya sama
sekali.”
“Jika kau
sudah memakannya tapi tak menghabiskannya lalu memberikannya pada kita itu
namanya sisa tahu!”
“Itu namanya
hanya mencoba! Aku kan hanya memakannya sedikit. Memakan sedikit itu namanya
mencoba. Men-co-ba.”
“Tidak, jika
mencoba itu pemilik makannya harus memakannya dulu lalu orang lain memakannya
sedikit. Itu baru mencoba, tak ada orang yang mencoba memakannya lebih dulu
dari pemiliknya.”
“Tidak.
Tidak. Itu beda, itu berlaku untuk orang asing bukan orang dekat.”
“Mencoba
makanan seseorang sudah pasti mereka dekat, tak ada yang mecoba makanan milik
orang asing.”
“Bisa saj-“
“MAKAN SAJA!
YATUHAN!!!” teriak Edward yang sudah tak tahan dengan perdebatan tak berarti
kedua temannya itu. “Kalian benar-benar tak bisa dibiarkan berdua jika ada aku
ya.” Ungkap Edward yang sudah terduduk di atas kasurnya.
Radley dan
Kaelyn seketika terdiam dan mulai membuka makanan mereka.
“Woahh.
Benar-benar.” Keluh Edward sambil memperhatikan mereka berdua. “Aku heran
bagaimana kalian bisa akur jika hanya berdua tapi selalu bertengkar jika ada
aku.” Edward menggeleng-geleng lalu bangun dari kasur.
“Kau mau
kemana?” tanya Radley yang melihat Edward kembali memakai jaketnya.
“Aku mau
keluar, kalian harus ditinggal berdua agar bisa akur.” Katanya acuh lalu keluar
dari kamar.
Radley dan
Kaelyn hanya saling melihat lalu melanjutkan makan. Berbeda dengan tadi, mereka
makan dengan keadaan tenang dan berbagi dengan sukacita. Benar-benar akur,
seperti yang Edward katakan. Entah mengapa, tapi memang benar jika hanya berdua
mereka benar-benar akur dan saling ketergantungan, namun jika bersama Edward
mereka berdua ingin mendapat dukungan dari Edward.
***
Suara musik
dari taman kampus terdengar cukup keras begitu Edward keluar dari gedung
asrama. Malam ini, ada pesta lain yang diadakan senior yang masuk ke semester
akhir. Semua mahasiswa kampus di undang, dan tentu saja tidak semuanya datang
ke pesta tersebut. Salah satunya Kaelyn dan Radley yang sedang makan di
kamarnya, dan Edward yang tadinya tak akan datang tapi setelah kejadian tadi
membuatnya berubah pikiran.
Cukup banyak
orang yang Edward kenal datang ke pesta itu, selain itu mahasiswa mana yang
ingin melewatkan sebuah pesta? Bahkan mereka yang pendiam pun ada kalanya di
tarik oleh teman mereka untuk datang ke pesta walaupun tak melakukan apa-apa
saat sudah di tempat.
Edward
mengambil segelas minuman lalu mencari tempat duduk yang jauh dari kerumunan,
obrolan tadi dengan Radley ternyata tak semudah yang ia kira. ‘Menyerahkannya
padamu’ Edward terkekeh mengingat ucapannya lagi, “Bagaimana aku bisa begitu
percaya diri.” Ucapnya pada diri sendiri, dan menertawakan dirinya sendiri.
Meskipun
Edward terlihat sudah merelakan perasaannya pada Kaelyn, namun jauh di lubuk
hatinya ia masih menyukai Kaelyn dan satu sisi di lubuk hatinya itu masih
menginginkan Kaelyn untuk dirinya. Apa yang terjadi saat sekolah, yang membuat
hubungan persahabatan mereka hampir hancur, saat itu Edward sadar jika Kaelyn
tak bisa menerimanya lebih dari teman. Dan ketika kemudian ia mengetahui bahwa
teman dekatnya, Radley juga ternyata menyukai Kaelyn. Rasa egois untuk memiliki
Kaelyn sedikit demi sedikit berkurang, dan seperti melihat situasi yang ada
juga, ‘Mungkin jika itu Radley, Kaelyn bisa menerimanya.’ Itulah salah satu
alasan lain Edwrad tak marah saat mendengar Radley menyukai Kaelyn.
“Memang
selalu ada alasan seseorang berteman dekat.” Ucapan seseorang itu memecah
lamunan Edward. Ia menoleh kesampingnya dan mendapati Algis yang masih berjalan
menghampirinya.
“Oh, hey!”
Edward mengangkat tangannya seraya memberikan tos pada Algis.
“Waktu aku
pertama kali melihat Kaelyn, dia juga sedang duduk jauh dari keramaian pesta.
Apa nanti aku akan bertemu Radley dengan cara yang sama juga?” uangkap Algis
seraya duduk di samping Edward.
Edward
terkekeh mendengar ucapan Algis, “Untuk Radley sepertinya itu pengecualian.”
Algis
mengangguk setuju, meski dirinya tak begitu mengenal Radley tapi Radley cukup
terkenal di sekolah sebagai orang yang sangat aktif dan sangat mudah bergaul
dengan siapa saja. Bahkan bagi Algis yang juga orang yang mudah bergaul, Radley
melebihi dirinya.
“Kau hanya
sendiri? Tidak dengan yang lain?”
Edward
menggeleng, “Mereka sedang makan, aku kesini karena menjauh dari mereka. Jika
sedang bertiga mereka selalu bertengkar.”
“Oh ya?
Hubungan pertemanan yang menarik.” Ungkap Algis.
“Oh, ngomong-ngomong kau kenal dengan Janet?”
“Janet teman
satu kamar Kaelyn maksudnya?”
“Ya. Yang
itu.”
“Ada dengan
Janet?”
“Tidak ada,
hanya saja tadi pagi Kaelyn memintaku untuk merahasiakan jika kita pernah satu
sekolah pada Janet. Aku ingin tahu alasannya, siapa tahu kau tahu.”
Edward
mencerna sejenak ucapan Algis, dan berpikir sepertinya Kaelyn ingin
menceritakan sesuatu makannya ia datang
ke kamar asramanya tadi.
Edward
menggeleng, “Aku tak tahu kenapa, mungkin sepertinya Kaelyn hanya tak enak pada
Janet karena belum mengatakan hal itu lebih dulu.”
Raut wajah
Algis juga kebingungan, hal itu membuat Algis penasaran.
Namun
setelah menjawab pertanyaan Algis tadi, Edward langsung berdiri dan pamit pergi
pada Algis dan berlari kembali ke asrama.
Suasana
asrama sekarang cukup ramai, berbeda dengan tadi. Beberapa mahasiswa sudah
mulai berhamburan keluar untuk pergi ke pesta, dan beberapa diantaranya ada
yang sudah kembali dari pesta, seperti dirinya.
Edward masuk
ke dalam kamar dan melihat keduanya sudah terlentang di atas lantai dengan
sampah makanan yang berserakan.
“Kalian
benar-benar menghabiskannya?”
Makanan yang
Kaelyn tadi bawa benar-benar sangat banyak, satu kantung keresek besar yang
penuh dengan makanan berat. Bukan sekedar cemilan kue dan sebagainya, tapi
semacam sandwitch, sushi, nasi kotak, dan sebagainya.
“Aku
benar-benar kenyang, jangan ajak aku bicara.” Kata Kaelyn dengan suara yang
terdenagr sengsara karena kekenyangan. “Harusnya aku hanya mencoba semua
makanan itu, bukan benar-benar memakannya.”
“Jangan
salahkan orang lain, kau sendiri yang ingin memakannya.” Potong Radley, mulai
mengajak Kaelyn berdebat lagi.
“Aku tak
bertenaga berdebat denganmu Rad.”
Edward duduk
di lantai, di salah satu sisi yang kosong antara Kaelyn dan Radley.
“Kau ingin
bercerita sesuatu ya?” tanya Edward langsung setelah ia duduk.
Radley yang
tak tahu siapa yang Edwatd ajak bicara membangunkan tubuhnya sedikit melihat
arah pandang Edward. Radley pun mengikuti arah pandang Edward yang melihat pada
Kaelyn. Sedangkan Kaelyn, seketika membeku ketika Edward mengatakan itu. Ia
langsung sadar jika Edward mengatakan hal itu untuknya.
“Ada apa
Kae?” tanya Radley yang sudah terduduk.
Kaelyn masih
berbaring, sebenarnya ia tak tahu bagaimana harus mengatakannya oleh sebab itu
ia membawa banyak makanan yang siapa tahu bisa memancingnya untuk memulai
bercerita.
Kaelyn
bangun dari tidurnya, terdiam sejenak beberapa saat untuk menyiapkan mentalnya.
“Aku rasa
aku sudah gila.” Ucap Kaelyn tiba-tiba. Membuat kedua temannya itu bingung.
“Bukankah
kau memang sudah gila?” kata Radley.
“Kalau itu,
aku setuju.” Edward membela Radely.
“Cih. Aku
bahkan baru sadar sekarang.”
“Tapi kau
tahu, kadang menjadi gila itu lebih baik daripada menjadi bodoh.”
“Oh..
sebentar, terdengar benar tapi seperti ada yang aneh dikalimatnya.” Radley tak
bisa mencerna ucapan Edward yang terdengar masuk akal namun terlelu ekstrim.
Kaelyn
tersenyum mendengar mereka. Namun pikirannya terpikirkan hal lain.
“Jadi,
masalahnya gini.” Kaelyn tiba-tiba membuka perbincangan. “This girl…” ia
berkata sambil menunjuk dirinya sendiri. “Sepertinya masih menyukai pria yang
ia sukai saat SMA.” Lanjutnya.
Radley dan
Edward tak terkejut mendengarnya, mereka sudah mempunyai prasangka itu. Mereka
tahu perasaan yang belum terselesaikan gaakan pernah berakhir sampai itu
bener-bener terselesaikan. Kemunculan Algis lagi dalam kehidupan Kaelyn akan
kembali membuka lembaran lama Kaelyn.
“Tapi kali
ini ceritanya akan berbeda, karena ternyata, sepertinya temannya ini juga
menyukai pria yang sama. Dan sepertinya, pria ini lebih berpeluang menyukainya
daripada menyukai wanita ini.” Kaelyn mengatakannya dengan pelan-pelan. Karena
meskipun pikirannya mengakui hal itu tapi jika ia harus mengatakannya maka itu
menjadi sebuah pengakuan yang mutlak. Kaelyn harus benar-benar mengakui jika
hal itu akan benar-benar terjadi dan Kaelyn takut jika hal itu benar-benar
terjadi. Karena bagaimanapun, patah hati bukan hal yang menyenangkan.
“Warning
alert.” Kata Edward, Kaelyn menoleh dan terdiam sejenak lalu mengangguk.
“Jadi, apa
yang bakal kamu lakuin sekarang?”
Kaelyn
menoleh pada Radley, “Get hurt…?”
“Get hurt?”
Radley mengulang ucapan Kaelyn.
“Aku pikir,
satu-satunya jalan untuk menyelesaikan ini adalah siap untuk tersakiti. Bukan
maksdunya aku ingin ini berakhir buruk, tapi skenario terburuk dari jatuh cinta
itu ya patah hati. Feel the sweet, feel the pain. Aku pikir itu cara
adil untuk merasakan jatuh cinta. Aku pikir, ketika kita siap untuk patah hati
aku bisa menikmati setiap prosesnya penuh dengan suka tanpa khawatir dengan
kalimat ‘jangan terlalu bahagia nanti bisa jadi terlalu sedih’ “
“Kau
tahu..?” kata Radley.
Kaelyn
menggeleng.
“Kau benar-benar
gila.”
Ucapan
Radley membuat mereka tertawa, tertawa bebas. Sebuah komentar yang tak terduga
dari perbincangan yang cukup serius tadi.
TBC

Comments
Post a Comment