Between Us (Part 5)


 


Selama melewati masa penerimaan dan orientasi mahasiswa baru, perkuliahan berjalan seperti biasa. Semester baru bagi semua mahasiswa merupakan masa pengenalan kembali mahasiswa pada mata kuliah yang akan mereka pelajari selama satu semester ke depan juga masa pengenalan bagi para mahasiswa di kelas baru yang mereka ambil.

Hingga tak terasa tiga bulan pun terlewati. Tiga bulan yang penuh dengan perayaan dan hal-hal yang masih berbau mengasyikan karena kedatangan mahasiswa baru. Sampai tak sadar jika seminggu lagi mereka akan menempuh ujian tengah semester.

Hari ini hari senin di minggu terakhir menuju ujian tengah semester, para mahasiswa sudah mulai berdatangan ke kampus untuk berkuliah seperti biasa.

Kaelyn berjalan melewati lorong kampus menuju kelas paginya hari ini.

“Aku hampir lupa ada kelas pengganti pagi ini.” Radley yang tiba-tiba muncul di samping Kaelyn, hampir membuat Kaelyn berkata kasar karena kehadirannya yang tak disangka.

“Kau bisa menyapaku lebih dulu tidak? Aku hampir mengira kau hantu kampus.”

“Kau percaya dengan ucapan para senoir kita? Hantu kampus itu tidak ada, itu hanya untuk menakut-nakuti kita agar ospek lebih menyenangkan.” Ucapan Radley ada benarnya, karena dua bulan lalu mereka juga melakukan hal yang sama saat ospek junior mereka.

“Pantas saja Sally berpaling, ternyata memang pacarnya yang berpaling lebih dulu.”

Ucapan pria yang dilewati Radley dan Kaelyn seketika menyadarkan mereka jika ucapannya ditujukan untuk menyinggung Radley. Langkah mereka berdua seketika memelan, hampir berhenti.

“Kae, lebih baik kau hati-hati pada pria itu jika tak ingin menjadi wanita murahan seperti Sally.” Teriak pria itu, langsung menghentikan jalan Radley dan Kaelyn. Beberapa mahasiswa sekitar sana pun ikut menoleh ke sumber suara, karena suara teriakan itu cukup keras hingga bisa didengar oleh Radley dan Kaelyn yang sudah cukup jauh dari pria itu.

Kaelyn menoleh, “Leon, lebih baik kau diam.” Kaelyn memberi peringatan pria itu. Kaelyn mengenalnya, begitu juga dengan Radley, karena Leon merupakan salah satu teman dekat Tom dan hampir tidak ada satu orang di kampus yang tidak mengenal Tom dan teman-teman dekatnya.

Bugh!

Radley yang sempat berhenti langsung berbalik dan berjalan cepat menghampiri Leon dan langsung memukul wajahnya. Leon seketika terhuyung karena tak menyangka hal itu akan terjadi. Kaelyn yang juga tak menyangka hal itu terkejut dan seketika membeku ditempat.

Para mahasiswa yang melihatnya juga terkejut dengan kejadian yang mereka lihat. Ada beberapa yang terdiam di tempat dan masih melihat apa yang akan terjadi selanjutnya, tapi ada juga yang tak peduli dan terus melanjutkan jalan mereka meski sesekali masih menoleh ke arah tempat kejadian.

“Sebaiknya kau hati-hati jika berbicara. Perkataanmu bahkan tidak pantas untuk dikatakan pada dirimu sendiri. Sally tak pantas dekat-dekat denganmu, sepertinya dia sudah tahu hal itu.” Radley mengucapkannya dengan penuh penekanan, Leon tak mengatakan apa-apa tapi tangannya tak tahan ingin membalas pukulan Radley.

Leon adalah pria yang berciuman dengan Sally saat di acara penerimaan mahasiswa baru waktu itu. Mereka sudah dekat cukup lama bahkan ketika Sally dan Radley masih berpacaran. Saat Sally dan Radley akhirnya memutuskan untuk putus, tak lama kemudian Sally berpacaran dengan Leon. Namun hanya beberapa minggu kemudian Radley mendengar Sally putus dengan Leon, ia tak tahu apa alasannya, ia juga tak ingin menanyakan hal itu pada Sally. Tapi setelah mendengar ucapan Leon tadi, sepertinya Radley sudah mendapat gambaran kasar apa yang terjadi pada hubungan Sally dan Leon hingga membuat mereka tak lama menjalin hubungan.

Radley berbalik untuk kembali melanjutkan jalannya menuju kelas.

Kaelyn yang masih menghadap mereka melihat pergerakan Leon yang berjalan mengikuti Radley. Kaelyn seketika berlari menuju mereka, ingin menahan Leon dan menyingkirkan Radley dari pandangan Leon.

Kaelyn berhenti dibelakang Radley, membuatnya berhadapan dengan Leon dan Leon dengan cepat menyingkirkan Kaelyn, entah karena Kaelyn yang masih belum seimbang atau tenaga Leon yang tertalu besar, namun Kaelyn langsung tersungkur hingga jatuh ke laintai.

Debuk!

Leon yang melakukannya pun ikut terkejut, ia berhenti dan hanya melihat Kaelyn yang jatuh. Kaelyn membetulkan duduknya dan menyadari jika tangannya terasa sakit karena menahan tubuhnya yang jatuh. Kejadiannya begitu cepat hingga Radley pun bingung apa yang terjadi.

“Kae! Kau tak apa-apa?” Radley langsung berlari begitu melihat Kaelyn sudah jatuh di lantai.

Kaelyn mengangguk kecil, “Sepertinya tak apa-apa.” Ucapnya sambil menahan rasa sakit tubuhnya yang juga terbentur tembok.

Radley langsung melihat Leon dan hendak berdiri lagi tapi Kaelyn menahan tangannya. “Jangan sia-siakan aku yang sudah terjatuh. Biarkan saja.” Kata Kaelyn pada Radley pelan.

“Tapi kau terluka Kaelyn!!” ucapan Radley hampir berteriak.

“Tidak, tidak apa-apa. Hanya sakit, tak ada darah, bukan masalah besar. Ok?” bujuk Kaelyn agar Radley tak lagi terbawa emosi.

“Kae.. sorry.” Ucap Leon lirih, mendekat pada Kaelyn. Meski tadi Leon terdengar seperti orang yang berengsek karena merendahkan Sally dan Kaelyn, tapi dia termasuk orang yang tidak melakukan kekerasan pada orang lain apalagi pada seorang wanita, dan para mahasiswa di kampus juga tahu jika mereka memperhatikannya.

“Iya, iya. Tidak apa-apa.” Jawab Kaelyn pelan pada Leon.

“Lebih baik kau pergi selagi aku masih bisa menahan amarahku.” Radley mengatakannya tanpa melihat pada Leon. Kaelyn memberi isyarat pada Leon untuk pergi darisana.

“Kita ke UKS.” Ajak Radley kemudian.

“Tidak, tidak apa-apa. Kita harus ke kelas.”

“Kau gila?! Jangan aneh-aneh, kau harus ke UKS. Tanganmu sepertinya terluka.”

Kaelyn melihat tangannya, “Tidak, tidak terluka..” katanya sambil memainkan tangannya “Aw!”

“Sudah kubilang tanganmu terluka! Kita ke UKS.” Ucap Radley memerintah.

Radley langsung membantu membangunkan Kaelyn dari lantai, lalu menopangnya berjalan menuju UKS.

“Aku tak mengerti kenapa kau melakukan itu.” Ucap Radley sambil berjalan menuju UKS.

Kaelyn menoleh pada Radley. “Aku juga tak mengerti kenapa kau melakukan itu.”

Radley menoleh sebentar, lalu kembali melihat ke depan. “Kau dengar perkataannya kan? Bisa-bisanya mengatakan hal seperti itu pada sesama manusia. Ibunya bahkan seorang wanita, apa dia tak memikirkan hal itu? Aku harap Sally tak berhubungan dengannya lagi.” Omel Radley.

Kaelyn mengangguk-angguk. “Kalau itu aku juga mengerti.”

“Lalu? Kenapa masih menanyakannya.”

“Aku terluka di tangan, tapi kenapa kau menopangku? Kakiku bahkan bisa digunakan berlari saat ini juga.” Kata Kaelyn polos sambil melihat Radley.

Radley menghentikan jalannya sambil melihat pada Kaelyn untuk beberapa detik. “Benarkah? Kakimu tak apa-apa?” Radley melepaskan lengan Kaelyn yang ia sautkan pada lehernya.

Kaelyn mengangguk. “Positif. Kakiku tak terluka sama sekali.” Katanya sambil menghentak-hentakkan kakinya ke lantai.

“Badanmu? Bagaimana dengan badanmu? Bukankah seharusnya badanmu terbentur tembok jika posisi akhirmu seperti tadi?”

“Kalau badanku, mungkin.. ya.. sedikit sakit, tapi tak apa-apa.”

Radley langsung kembali menyautkan lengan Kaelyn pada lehernya, dan tangan kiri Radley ia sautkan pada pinggang Kaelyn. “Kalau begitu kau benar harus di topang.” Katanya lalu kembali melanjutkan jalannya, membuat Kaelyn juga mau tak mau ikut berjalan.

Kaelyn tersenyum dan tertawa kecil karenanya.

 

**

 

“Ah… tahu begini harusnya aku pukul wajahnya sekali lagi. Bisa-bisanya dia menyerangmu tanpa aba-aba begini.” Sepanjang perjalanan menuju UKS Radley terus mengoceh kekesalannya pada Leon yang membuat Kaelyn terluka. Kaelyn hanya mendengarkannya dan menjawab seadanya jika Radley bertanya. Kaelyn merasa merasa itu suatu bentuk perhatian Radley padanya, jadi Kaelyn hanya tersenyum mendengar semua ocehan Radley.

“Ini lagi, kenapa dokter UKS belum datang juga? Sudah jam berapa ini, bisa-bisanya leha-leha utnuk pergi bekerja.”

“Lebih baik kau ke kelas. Aku bisa menunggunya sendiri.” Suruh Kaelyn.

“Apa kita pergi ke rumah sakit saja? Sepertinya lebih cepat daripada menunggu dokter disini.”

Kaelyn menggeleng tegas. “Tidak, sepertinya itu hanya akan memakan waktu lebih lama. Lebih baik kau pergi, sebentar lagi jam masuk kelas kau bisa terlambat.”

“Tidak apa-apa aku akan bolos untuk hari ini. Tanganku juga sakit karena mukul pria itu.”

Selagi Kaelyn dan Radley asik berbincang hal yang tak penting, ia tak sadar jika Algis sudah berada di dalam UKS.

“Kae, kau kenapa?” Algis yang sudah berapa di depan kasur Kaelyn membuat Radley dan Kaelyn terkejut karena kedatangannya yang tiba-tiba.

“Oh, hey Algis.” Sapa Kaelyn.

“Kau benar-benar menakutkan, kau tahu?” ucap Radley pada Algis.

Algis tersenyum kecil mendengarnya. “Tadi aku lihat kalian masuk sini. Kae, kau di topang. Ada apa? Kau kecelakaan?” tanyanya terdengar khawatir.

“Ya! Kecelakaan besar, dia jatuh ke lantai sangat keras. Lihat! Tangannya bahkan terkilir.” Radley masih melanjutkan ocehannya.

“Ada apa? Jatuh dari tangga?”

Kaelyn memukul lengan Radley, menyuruhnya berhenti mengoceh hal tak penting. “Tidak, bukan kecelakaan besar. Aku hanya terjatuh, dan tanganku sepertinya terkilir saat menahan tubuhku.”

“Hanya terjatuh katamu?! Jelas-jelas kau didorong, itu benar-benar masalah besar. Aku tak bisa membiarkannya lolos begitu saja.”

“Rad.. Aku tidak apa-apa, berhenti mengoceh hal tak penting. Kau tahu kau juga masalahnya kan? Kalau kau menahan emosi aku tak akan menahannya untuk membalas memukulmu.”

Algis yang seperti sedang mendengarkan dua sejoli bertengkar hanya terdiam.

Radley yang seketika menyadari hal itu juga ikut terdiam. “Aku akan ke kelas.” Ucapnya lirih.

“Ya. Pergilah.” Kata Kaelyn ketus.

“Al, kau ada kelas?” tanya Radley sebelum ia keluar dari ruang UKS.

“Tidak ada, biar ak-“

“Tolong jaga Kaelyn ya! Kalau ada apa-apa hubungi aku.” Kata Radley kemudian.

Algis mengangguk, “Ya. Ok. Sampai nanti.”

Radley kemudian berlari menuju kelasnya, ia sudah terlambat untuk masuk kelas.

Algis kemudian melihat Kaelyn, lalu kembali melihat arah pandang Kaelyn yang masih melihat arah Radley pergi.

“Kau sepertinya lebih dekat dengannya daripada dengan Edward ya.” Kata Algis lalu berjalan ke samping kasur Kaelyn.

“Ah? Benarkah? Sepertinya sama saja, jika tidak ada dia aku akan dengan Edward, jika tidak dengan Edward aku akan dengan dia, begitu juga mereka.”

“Begitu ya.. mungkin aku hanya lebih sering melihatmu berdua dengan Radley jadi aku berpikir seperti itu ya.”

Kaelyn mengangguk mengiyakan. “Ngomong-ngomong, kau benar tidak apa-apa menungguku disini?”

Kali ini Algis yang mengangguk. “Ya, tidak apa-apa. Aku tidak ada kelas hari ini, tadi hanya ada perlu ke kantor Administrasi.”

“Kau tidak perlu mendengarkan Radley, jika kau ada keperluan lain aku tidak apa-apa menunggu sendiri, sebentar lagi dok-“

“Tidak.” Potong Algis tiba-tiba.

“Apa?” tanya Kaelyn lagi, terkejut dengan jawaban Algis yang memotong perkataannya.

“Aku tidak mendengarkan Radley. Aku disini karena aku mau disini.” Ucapan Algis membuat Kaelyn terdiam.

“Apa aku membuatmu tidak nyaman karena menunggu bersamamu disini?” pertanyaan Algis terdengar tegas.

“Ah.. tidak, bukan begitu. Aku hanya takut merepotkanmu.” Jawab Kaelyn hati-hati.

“Oh?! Kenapa pagi-pagi sudah ada pasien?” Dokter UKS datang, menjeda percakapan mereka yang entah mengapa terasa menegangkan. Sang Dokter langsung menuju meja kerjanya dan mulai bersiap-siap untuk bertugas.

“Aku harap kau bisa terus merepotkanku tanpa merasa khawatir aku akan kesal karena hal itu.” Algis mengucapkan itu pelan agar hanya Kaelyn yang mendengarnya. “Tangannya terkilir Dokter.” Kata Algis pada Dokter, dengan suara yang lebih keras dari yang tadi.

“Terkilir? Bagaimana bisa?” tanya sang Dokter yang masih menggunakan jas dokternya.

Kaelyn yang terkejut dengan ucapan Algis terakhir disadarkan dengan suara sang Dokter. “Ah, tadi aku terjatuh.” Jawab Kaelyn.

“Harusnya kau berhati-hati. Sebentar saya lihat dulu.” Kata sang Dokter lalu mulai memeriksa tangan Kaelyn.

Perbincangan mereka seketika berhenti. Banyak pertanyaan yang muncul di kepala Kaelyn karena ucapan Algis yang terakhir, tapi pertanyaan yang paling besar adalah ‘APA MAKSUDNYA?’. Benar-benar tak bisa dimengerti oleh Kaelyn, lebih tepatnya Kaelyn tak ingin mengharapkan apa-apa dari perkataan Algis barusan.

Meskipun hubungan mereka menjadi kembali dekat selama tiga bulan ini, namun tidak ada pendekatan yang menjurus pada hubungan yang romantis. Pendekatan mereka hanya seperti pendekatan pada teman dekat pada umumnya, setidaknya seperti itu yang Kaelyn rasakan. Lalu jika ditanya bagaimana perasaan Kaelyn akan hal itu? Jika harus jujur, Kaelyn justru lebih senang dengan pendekatan seperti ini, terasa lebih natural. Namun kekurangannya, ada kemungkinan jika hubungan ini memang hanya sebatas teman, tidak lebih.

Keheningan menyelimuti mereka selagi sang Dokter memerban tangan Kaelyn. Kaelyn sesekali melihat pada Algis, namun Algis hanya fokus pada tangan Kaelyn yang sedang di perban oleh Dokter.

“Sudah selesai. Jangan dilepas selama dua hari, tapi besok pagi kesini lagi untuk gati perban ya.” Ucap Dokter pada Kaelyn.

“Iya dokter, terimakasih.”

Tanpa mengatakan apa-apa Algis langsung membawa tas Kaelyn. “Aku bisa sendiri-..” suara Kaelyn mengecil di akhir kalimat.

“Biar aku bawakan.” Kata Algis dingin. “Terimakasih dokter.” Katanya kemudian sekaligus pamit pada sang Dokter.

Kaelyn hanya terdiam lalu mengikuti Algis berjalan keluar. Entah mengapa Kaelyn jadi merasa patuh pada Algis karena ucapannya tadi. Kaelyn tak menyangka Algis memiliki sosok seperti itu. Bukan berarti membuat Kaelyn membencinya, hanya saja itu hal baru baginya. Selama Kaelyn dekat dengan Algis, ia tak pernah melihat Algis marah atau kesal. Tapi tadi ia melihat Algis seperti kesal akan sesuatu. Penasaran? Tentu saja. Tapi Kaelyn tak tahu bagaimana menanyakannya.

“Jangan terlalu dipikirkan ucapanku barusan.” Kata Algis selagi mereka berjalan, Algis juga merasakan Kaelyn menjadi lebih pendiam sejak ucapannya tadi di UKS.

“Ah. Maaf.”

“Kenapa minta maaf?”

“Ah.. Sepertinya aku jadi mengabaikanmu karena terlalu memikirkan ucapanmu tadi.”

Algis terdiam. Mengingat Kaelyn yang berkali-kali melihat padanya saat ia diperban. “Sepertinya tidak.” Kata Algis pelan, hampir tak didengar Kaelyn.

Kaelyn menoleh, memastikan jika Algis berbicara padanya. “Apa?” tanya Kaelyn, memastikan ucapan Algis yang ia lewatkan.

“Ucapanku keterlaluan ya?” kata Algis dengan suara yang lebih besar, tak mengulangi ucapannya tadi.

Kaelyn menggelang cepat. “Tidak tidak, hanya saja ucapanmu seperti memberi harapan.” Kaelyn seketika membeku, ia baru sadar apa yang baru saja ia katakan.

Algis tersenyum kecil mendengarnya. “Ah… begitu..” katanya masih sambil tersenyum kecil.

“Bukan, bukan begitu maskudku. Kau tahu.. kata-katamu bisa saja membuat orang lain salah paham jika mendengarnya.” Kaelyn mencoba mengoreksi maksudnya.

“Jadi kau salah paham dengan ucapanku tadi?” Algis bertanya sambil tersenyum.

Kaelyn melihatnya dengan raut wajah kesal, “Tidak lucu. Jangan berbicara lagi denganku.” Kaelyn lalu berjalan lebih cepat mendahului Algis.

“Hey, mau kemana! Aku masih memegang tas mu!” teriak Algis yang langsung membuat Kaelyn berhenti berjalan agar Algis bisa menyusulnya. Algis yang melihatnya hanya tersenyum lalu berjalan mendekati Kaelyn.

Di sisi lain, Janet melihat kejadian itu. Meski cukup jauh, tapi Janet bisa melihat siapa yang ada disana dan apa yang terjadi di sana. Ada senyuman, ada guyonan, ada perasaan. Untuk pertama kalinya, Janet merasa telah dibohongi oleh Kaelyn.

 

TBC


Comments

Popular