Between Us (Part 6)

 



Jam makan siang, kantin sudah mulai ramai. Kaelyn dan Radley sudah duduk disalah satu meja kantin dengan makanan yang sudah mereka pesan.

“Hey.” Sapa Edward seraya duduk di samping Radley lalu menyimpan nampan makanan yang ia bawa di atas meja.

“Kemana saja kau, kenapa baru kelihatan.” Balik sapa Radley. Edward hanya menyengir menanggapinya.

“Kae?! Tanganmu kenapa?” tanya Edward terkejut begitu melihat tangan Kaelyn yang di perban.

“Kau benar-benar kemana saja sejak pagi?! Kau bahkan tak ada kuliah pagi ini tapi sudah tak ada di kamar sejak pagi.” Omel Radley.

“Aku ada kerja kelompok.” Jawab Edward.

“Kerja kelompok macam apa yang dilakukan pagi-pagi sekali.” Omel Radley lagi-lagi.

“Sebentar. Kenapa kau banyak mengomel hari ini?” tanya Edward. Kaelyn hanya memperhatikan mereka sambil terus makan.

Radley yang sadar akan hal itu seketika terdiam lalu melanjutkan makannya.

“Serius Kae, tanganmu kenapa?” Edward menanyakannya lagi, kali ini ia mengharapkan Kaelyn yang menjawab.

“Radley memukul Leon, saat Leon akan membalasnya aku menghadangnya, tapi dia refleks mendorongku, dan aku terjatuh lalu mendapatkan ini.” Jelas Kaelyn singkat lalu menunjukkan tangan kirinya yang diperban.

“Kenapa kau memukul Leon?” kali ini pertanyaan Edward tertuju pada Radley.

“Dia mengatakan Kaelyn murahan.” Jawab Radley malas tanpa melihat pada Edward, ia masih kesal jika harus mengingat perkataan Leon lagi.

“Aaa~ tidak-tidak. Leon mengatakan Sally murahan dan menyuruhku hati-hati agar tidak sepertinya.” Koreksi Kaelyn.

Edward melihat pada Radley lalu pada Kaelyn. “Jadi intinya dia merendahkan kalian berdua? Begitu kan?” singkat Edward.

Kaelyn terdiam sejenak lalu mengangguk, “Sepertinya begitu.”

“Lalu kau menghadang Leon agar tak memukul Radley?” sidik Edward, Kaelyn mengangguk. “Kau membela Leon?!” ucap Edward hampir berteriak.

Kaelyn terkejut, “Kenapa kesimpulannya jadi seperti itu?!” volume suaranya pun tak jauh beda dengan volume suara Edward tadi.

Radley memasang wajah berpikir, “Kenapa aku baru terpikirkan hal itu?” katanya, membuat Kaelyn merasa semakin dipojokkan.

“Hey ... teman-teman, kalian bodoh atau bagaimana sih? Aku menghadang Leon agar dia tak memukulmu.” Kaelyn menunjuk Radley. “Itu sama dengan aku menolongmu agar tidak kena pukul. Bagaimana bisa kesimpulannya aku jadi membela Leon? Bodoh.” Jelas Kaelyn dengan kesal.

Edward dan Radley saling tatap-tatapan. “Itu lebih masuk akal sih.” Kata Radley.

“Lalu, sekarang bagaimana? Kau ada masalah dengannya sekarang?”

“Jangan memancing Ed, urusan kita sudah selesai.” Jawab Kaelyn.

“Bagaimana bisa selesai? Kau terluka karenanya, kau direndahkan olehnya, tentu saja ini menjadi masalah.” Kata Edward tak terima.

Radley memukul Edward setuju, “Sudah kukatakan!! Sudah aku katakan pada wanita ini, tapi dia malah ingin menerimanya begitu saja. Sungguh menyesakkan.”

“Kau benar-benar harus terus aku ingatkan ya.” Kaelyn melihat Radley “Ini tidak akan terjadi jika kau-“

“Bersabar dan tak memukul Leon. Oke oke aku mengerti, memang salahku.” Potong Radley mengakui hal itu.

Kaelyn mengangguk lalu melihat pada Edward, menyuruhnya untuk mendengarkan ucapan Radley tadi. “Jangan buat ini jadi masalah besar oke? Aku rela untuk terluka, jangan buat sia-siakan tanganku ini.” Titah Kaelyn yang tak bisa disangkal oleh Radley maupun Edward.

 

***

 

Hari ini Kaelyn kembali ke asrama cukup larut. Setelah masuk kuliah siangnya, lalu melanjutkan mengerjakan tugas kelompok setelahnya, akhirnya Kaelyn merasa lega bisa kembali ke kamarnnya dan beistirahat setelah harinya cukup sibuk sejak kejadian tadi pagi yang tak terduga.

Saat Kaelyn masuk kamar, Janet sudah ada dikamar sedang berbaring sambil memainkan ponselnya di kasur.

“Kau suka dengan Algis ya?” Janet tiba-tiba mengatakan itu ketika Kaelyn melepaskan blazzernya.

Kaelyn menoleh, dia masih melihat Janet berbaring di kasur dengan tangan dan mata yang fokus pada ponselnya. “Kau berbicara denganku?” tanya Kaelyn ragu.

Janet kemudian bangun dari tidurnya dan duduk bersila di kasurnya, ponselnya ia singkirkan ke pinggir. “Lebih baik kau jujur padaku, aku tak ingin seperti orang bodoh.” Kata Janet kemudian.

Kaelyn terkejut, disatu sisi ia takut ini menjadi masalah dan disisi lain ia merasa kesal karena ternyata ia masih belum bisa beristirahat hari ini.

“Apa maksudmu?” ucap Kaelyn frustasi, ia tak bisa menutupi kekesalannya.

“Tadi pagi aku melihatmu dengan Algis berjalan bersama. Sepertinya hubungan kalian lebih dekat dari yang aku duga.” Ungkap Janet.

Kaelyn menghembuskan nafasnya keras. Meskipun sebenarnya Kaelyn memang menyukai Algis, tapi Kaelyn merasa hal itu tak harus ia ungkapkan dengan pertanyaan seperti itu.

“Jane.. serius. Kau ingin aku menjelaskan hubunganku dengannya hanya karena kita akrab? Apa aku bahkan tak boleh dekat dengan seseorang selain Radley dan Edward?” Kaelyn benar-benar kesal, harinya cukup melelahkan dan ia ingin kembali ke kamar untuk istirahat tapi Janet malah mengintrogasinya seperti ini.

“Kau tahu aku menyukainya kan? Meski aku sering mengatakan menyukai seseorang tapi aku sudah pernah katakan jika kali ini aku serius kan?” nada bicara Janet kali ini terdengar lebih tinggi dari sebelumnya.

“Aku bahkan tak berpegangan tangan dengannya, dan kau mempermasalahkan aku berjalan bersama dengannya? Apa berjalan bersampingan dengan seseorang itu artinya kita menyukai orang itu?!”

“Kenapa kau marah? Aku hanya bertanya apakah kau menyukai Algis atau tidak, jika tidak kau bisa jawab ‘tidak’ kenapa harus marah-marah.”

Kaelyn tertegun mendengar ucapan Janet. Ucapannya memang tak salah, tapi Kaelyn ingin Janet lebih mengerti jika kejadian tadi pagi itu bukan apa-apa, dan ia tak perlu mempermasalahkannya. Tapi Kaelyn merasa Janet malah membuat hal itu seperti sebuah masalah, dan Kaelyn merasa kesal akan hal itu.

Kaelyn menghembuskan nafasnya lagi keras, menahan amarahnya agar tak menggebu sia-sia. “TIDAK. AKU, TAK, MENYUKAINYA.” Kaelyn mengatakannya penuh dengan penekanan disetiap katanya. “Begitu kan yang ingin kau dengar?” tanyanya kemudian. Janet hanya terdiam lalu kembali memainkan ponselnya.

Kaelyn yang hendak ganti baju untuk beristirahat kembali menggunakan blazzernya lalu pergi keluar dari kamar asrama.

 

***

 

Edward berjalan menuju asrama bersama seorang wanita yang akhir-akhir dekat dengannya. Namanya Alice, dia merupakan teman satu angkatannya. Berbeda jurusan namun mereka sering kali berada di kelas yang sama sejak tingkat satu, dan pada semester ini mereka dipertemukan kembali di kelas yang sama juga masuk ke dalam kelompok yang sama. Karena keterikatan itu, sejak mereka berada di kelompok yang sama mereka menjadi lebih dekat dari sebelumnya. Seiring berjalannya waktu, tanpa disadari hubungan mereka menjadi seperti pendekatan pada hubungan romantis. Edward juga mengakui hal itu, ia menyadari ia memiliki perasaan pada Alice, namun Kaelyn atau Radley belum ada yang mengetahui mengenai hal tersebut. Edward berencana memberitahu mereka ketika Edward sudah meresmikan hubungannya dengan Alice, yang entah kapan hal itu akan terjadi.

Namun sepertinya saat ini mau tidak mau Edward harus memberitahu kedua temannya mengenai hal tersebut, karena saat ini Kaelyn sedang melihat Edward berjalan bersama Alice menuju asrama wanita, yang menurut tebakan Kaelyn adalah Edward sedang mengantar Alice untuk kembali ke asramanya.

Begitu melihat Edward semakin mendekat dengan asrama, Kaelyn dengan cepat mencari persembunyian agar tak terlihat mereka berdua. Meskipun begitu, Kaelyn tetap akan menanyakannya pada Edward ketika Alice sudah masuk kedalam asrama.

“Terimakasih sudah mengantarku.” Kata Alice begitu mereka sudah sampai di depan pintu gedung asrama.

Edward mengangguk, “Ya.. tak masalah. Kalau begitu, sampai jumpa besok. Aku akan menghubungimu.” Kata Edward sambil melambaikan tangan.

Alice tersenyum sambil mengangguk, lalu melambaikan tangan malu-malu sambil perjalan berjalan mundur untuk masuk kedalam asrama.

Edward masih berdiri di depan asrama sampai Alice benar-benar hjlang dari pandangannya.

Kaelyn yang tadi sempat bersembunyi diantara pepohonan dekat asrama kini sudah keluar dan berjalan menuju Edward yang masih fokus melihat ke arah Alice pergi tadi.

“Jadi dia alasanmu sering menghilang akhir-akhir ini.” Kata Kaelyn langsung. Membuar Edward tersentak dan hampir berkata kasar namun menahannya begitu melihat orang yang mengejutkannya adalah Kaelyn.

“OMG. Kae! Sedang apa kau disini?” tanya Edward refleks.

“Kamarku ada di gedung ini.” Jawab Kaelyn polos.

Edward sadar pertanyaannya terlalu ambigu, “Maksudku, kenapa kau diluar pukul segini? Bukannya kau seharusnya sudah ada di kamar sejak tadi?” Pertanyaan Edward terdengar seperti sedang memastikan bagi Kaelyn.

“Itu tak penting. Yang penting sekarang adalah, kenapa kau mengantar Alice? Apa kau dan dia da hubungan spesial?” tanya Kaelyn sambil memasang wajah usilnya.

“Kau mengenalnya?” Edward sedikit terkejut Kaelyn mengenalnya, karena dirinya saja baru menyadari jika Alice sejak tinggat satu sering satu kelas dengannya.

“Tentu saja. Kita sering satu kelas dengannya sejak semester satu. Beberapa kali aku juga satu kelompok dengannya waktu itu.” Jelas Kaelyn sambil memperhatikan wajah Edward yang terlihat terkejut juga bingung. “Kenapa kau terkejut aku mengenalnya? Apa aku salah?”

Edward menggeleng, “Tidak, kau tidak salah.”

“Kau pacaran dengannya?” tanya Kaelyn langsung menembak. Membuat Edward menjadi lebih gugup menjawab.

Edward melambaikan tangannya, menyangkal. “Tidak. Belum.”

Kaelyn terkejut senang mendengarnya, “Oh? Belum? Sejak kapan kalian dekat sebenarnya, kenapa aku tak tahu apa-apa.” Kata Kaelyn sambil tersenyum.

Edward menggaruk kepala belakangnya, ia bingung bagaimana mengatakannya. “Uhm.. tak terlalu lama..” kata Edward ragu “Sekitar.. tiga bulan?” lanjutnya hati-hati.

Kali ini Kaelyn benar-benar terkejut. “Tiga bulan? Dan kau tak mengatakan apa-apa? Radley tahu? Apa hanya aku yang tidak tahu? Kau benar-benar…”

Edward langsung memotong ucapan Kaelyn, ucapan Kaelyn yang semakin lama semakin cepat menandakan ledakan emosi yang semakin tinggi. “Tidak, tidak. Radley juga tidak tahu. Tidak ada yang tahu. Aku berencana memberitahu kalian, hanya saja hubungan kita belum benar-benar resmi untuk diceritakan pada kalian. Aku tak tahu bagaimana harus mengatakannya.”

Emosi Kaelyn sedikit demi sedikit mereda ketika Edward berbicara. “Oke.. kalau begitu, aku lebih tenang. Ini benar-benar pembahasan yang tak boleh kau lewatkan Ed..” kata Kaelyn memberi peringatan.

Edward mengangguk cepat. “Aku akan menceritakan setiap detailnya pada kalian. Tenang saja. Setiap detik yang terjadi denganku dan Alice akan aku ceritakan dengan rinci serinci rincinya.”

“Oke, itu terlalu berlebihan.” Kata Kaelyn.

Edward hanya tersenyum lebar menanggapinya.

“Tapi kau benar-benar mau kemana pukul segini? Bukannya tadi kau sudah masuk?” tanya Edward menanyakan kembali pertanyannya yang belum terjawab.

Kaelyn menghembuskan nafasnya. “Aku tak ingin membahasnya sekarang.” Jawabnya malas. “Lebih baik kau kembali sana.” Usir Kaelyn.

Edward yang memahami Kaelyn tak lagi menanyakan apa-apa. “Lebih baik kau mengantarku ke asrama.” Usul Edward. Meski terdengar merepotkan, tapi ini salah satu caranya menghibur Kaelyn yang ia duga tak memiliki tujuan tapi tak ingin kembali ke asrama.

Kaelyn melihat Edward untuk beberapa detik. “Kau benar-benar merepotkan.” Katanya kemudian tapi mulai berjalan.

Edward tersenyum melihatnya lalu berjalan mengejar Kaelyn.


TBC


Comments

Popular