Between Us (Part 7)
Keesokan paginya.
Setelah argumen Kaelyn dan
Janet kemarin malam, Kaelyn kembali keluar dari asrama dan kembali ke asrama
sekitar tengah malam lebih dan saat itu Janet sudah tertidur lelap.
Lalu pagi harinya, hari ini.
Mereka terbangun diwaktu yang hampir bersamaan, dan tidak ada obrolan kecil
yang biasanya mereka lakukan di pagi hari. Pagi ini suasana kamar mereka cukup
hening dan canggung.
Janet yang memang ada kelas
pagi hari ini langsung keluar dari kamar tanpa pamit pada Kaelyn. Kaelyn yang
juga merasa tak bersalah hanya mengabaikan Janet.
Siang harinya, setelah selesai
kelas hari ini Kaelyn, Radley, dan Edward bertemu di kantin, seperti biasanya.
Edward yang sudah lebih dulu duduk di bangku kantin menunggu Kaelyn dan Radley
datang.
“Ah.. aku sangat kesal dengan
kelas hari ini.” Keluh Kaelyn seraya ia duduk di bangku seberang Edward.
“Kenapa?”
“Bagaimana bisa nilai quiz
yang selama ini dilakukan tidak jadi nilai tambahan untuk nilai akhir?! Eughhh,
sangat menyebalkan.”
“Itu benar-benar menyebalkan.
Tapi kalau kelasku begitu aku akan senang karena nilai quizku tak pernah diatas
rata-rata.” Kata Edward.
“Ah! Benar-benar tak adil.”
Kaelyn mengacak rambutnya kesal.
“Apa yang tak adil?” tanya
Radley baru datang, ia langsung duduk di samping Kaelyn.
“Nilai quiznya tidak masuk
jadi nilai akhir.” Kata Edward mewakili.
“Benarkah? Kelasku juga
begitu!” kata Radley terdengar bersemangat.
Kaelyn langsung menoleh, “Apa
kita harus lakukan demo untuk itu?!!” Kaelyn juga terdengar bersemangat untuk
memprotes masalah itu.
“Tidak.” Kata Radley cepat. “Aku
cukup pintar untuk dapat nilai hanya dari nilai ujian.” Lanjutnya sombong.
Kaelyn menunjukkan ekspresi kesal,
“Aishh, menyebalkan.”
“Kalian masih ada kelas lagi
setelah ini?” tanya Radley kemudian.
Kaelyn menggeleng.
“Tidak ada. Kenapa?” tanya
Edward.
“Bagaimana jika kita makan
keluar? Aku bosan beberapa hari ini hanya makan makanan kantin.” Keluh Radley.
“Ah!! Kau benar, aku juga.” Ucap
Kaelyn setuju.
“Sebelum itu.” Ucap Edward
hati-hati.
Radley yang tak tahu kejadian
kemarin bingung dengan sikap Edward yang tak seperti biasanya. Sedangkan Kaelyn
hanya menunggu ucapan Edward selanjutnya karena ia sudah memperkirakan Edward
akan mengatakan hal kemarin pada mereka cepat atau lambat.
“Sepertinya aku akan menembak
Alice.” Ucap Edward langsung pada intinya.
Radley sangat terkejut. Kaelyn
juga terkejut, karena meskipun ia tahu dasarnya tapi tak menyangka hal itu akan
benar-benar terjadi, sedikit berbeda dengan perihal yang terjadi kemarin malam.
“Alice? Dia siapa? Apa hanya
aku yang tak mengenalnya?” tanya Radley dengan nada yang terkejut.
Kaelyn terkekeh, “Bagaimana
bisa kau terkejut tapi tak tahu siapa yang Ed maksud.”
“Aku terkejut karena Ed bilang
akan menenmbak seseorang, bukankah itu yang paling mengejutkan? Tentang siapa
yang dia tembak itu lebih pada urusannya.” Kata Radley menjelaskan.
Kaelyn mengangguk setuju, “Kau
benar juga.”
“Tapi tunggu, kenapa Kaelyn
tak seterkejut aku? Kau sudah tahu?!” Radley bertanya lalu melihat pada Kaelyn
dan Edward bergantian.
“Aku tak sengaja melihat
mereka berdua. Hanya itu, tak tahu detail lebihnya.” Jawab Kaelyn cepat, takut
malah membuat Radley merasa diasingkan.
Edward juga mengangguk cepat.
“Aku sengaja belum mengatakan pada kalian karena aku belum yakin akan kemana
arah hubungan kami. Tapi kemarin setelah Kaelyn melihatku dengan Alice,
membuatku memikirkan hal yang perlu aku ambil untuk hubungan kami selanjutnya.”
jelas Edward, yang mendapat ekspresi kagum dari Radley maupun Kaelyn.
“Woah, bagaimana bisa kau
mengatakan hal yang sangat menyebalkan itu Ed?!” kata Radley merasa tak
menyangka dengan ucapan Edward.
“Sebagai seorang wanita, aku
merasa ucapanmu sangat keren Ed.” Ucap Kaelyn merasa bangga memiliki teman
seperti Edward. “Wanita itu membutuhkan kepastian, dan sebenarnya apapun
keputusanmu setidaknya dia harus tahu agar tak membuatnya terus berharap dan
malah menyakiti dia jika tak sesuai harapannya.” Lanjut Kaelyn.
“Berhenti atau lanjut?” kata
Radley.
Kaelyn menoleh lalu
mengangguk.
*****
Seminggu pun tak terasa
dilewati, ujian tengah semester sudah selesai mereka jalani. Hari ini adalah
hari terakhir para mahasiswa ujian. Selesai ujian hari terakhir merupakan waktu
yang sangat mengasyikan bagi mereka, entah magis apa yang membuat waktu
tersebut merupakan waktu yang paling seru di kampus.
Para mahasiswa keluar dari
kelas setelah selesai ujian, mereka saling mencari teman-teman mereka yang
berada di kelas yang berbeda. Sepulang dari kampus di hari terakhir ujian
paling seru adalah mereka pergi keluar bersama. Entah pergi ke rumah salah satu
teman mereka, atau pergi ke tempat wisata, atau pergi ke tempat seru lainnya
yang mereka rasa mereka inginkan, tapi yang pasti mereka hanya ingin berkumpul
dengan teman-teman mereka.
Sama seperti mahasiswa lain,
Kaelyn, Radley dan Edward juga bertemu setelah mereka selesai ujian. Mereka
kini sudah ada di depan jalan taman kampus.
“Hari ini aku akan
menembaknnya.” Kata Edward pada Kaelyn dan Radley, dia juga terus melihat
kearah pintu Gedung kampus menunggu Alice keluar.
Edward yang terlihat gugup,
membuat Kaelyn dan Radley juga ikut gugup.
“Kenapa aku gugup
membayangkannya.” Ucap Kaelyn.
“Oh! Itu dia!” kata Radley
sambil melihat ke arah pintu Gedung. “Kau pasti bisa kawan. Aku yakin kau akan
diterima!” katanya seraya merapikan baju Edward yang tidak seberantakan itu.
“Okey!” katanya sambil
menunjukkan kepalan tangan, menandakan semangat. Kaelyn dan Radley juga refleks
ikut memberi kepalan tangannya.
Edward berjalan menuju Alice,
berlari kecil agar dapat mengejar Alice yang juga sedang berjalan bersama teman-temannya.
“Alice!” panggilnya ketika
sudah cukup dekat dengan Alice.
Alice menoleh, begitu juga
dengan keempat temannya.
“Bisa bicara sebentar?” tanya
Edward. Ucapannya membuat teman-teman Alice menyoraki Alice girang, Alice
mengisyaratkan teman-temannya untuk berhenti. Beberapa mahasiswa sekitarnya
yang mendengarnya menoleh penasaran. Kaelyn dan Radley melihat mereka dari kejauhan.
Edward mengajak Alice ke
tempat yang lebih tenang, tak terlalu jauh dari sana namun ke tempat yang tidak
terlalu ramai. Masih berada di tempat yang terlihat oleh teman-teman Alice dan
Edward.
“Ada apa?” tanya Alice begitu
Edward berhenti berjalan di tempat yang cukup tenang.
Edward tertunduk, ia lupa
mengeluarkan kata-kata yang sudah ia siapkan sebelumnya.
“Jika sudah depan mata, aku
jadi lupa apa yang ingin aku katakan.” Kata Edward jujur.
Alice tersenyum kecil, “Tidak
apa-apa. Walaupun berbelit-belit aku akan mendengarkannya, santai saja tidak
usah buru-buru.” Kata Alice ramah. Inilah salah satu sifat Alice yang membuat
Edward tertarik padanya.
Edward juga tersenyum kecil
mendengarnya. “Uhm.. kita mungkin belum terlalu lama kenal. Tapi karena satu
dan lain kejadian, selama tiga bulan ini entah kenapa aku merasa kita semakin
dekat. Rasanya seperti bukan tiga bulan malah, aku merasa kita sudah saling
kenal jauh dari itu.” Kata Edward berhenti sejenak, melihat ekspresi Alice.
Alice mengangguk, tak
mengatakan apa-apa, terus mendengarkan.
“Aku tahu ini tidak romantis
dan terkesan buru-buru. Tapi aku sudah menahannya selama seminggu lebih dan ini
menyiksaku.” Edward sekali lagi terdiam. “Aku menyukaimu. Aku ingin membuat
hubungan kita lebih serius lagi. Apa kau mau jadi pacarku?” Edward melanjutkan
ucapannya dengan tempo yang lebih cepat dari sebelumnya. Sekarang jantungnya
berdegup sangat kencang, ia tak tahu apa jawaban Alice tapi mengatakannya saja
sudah membuat jantungnya hampir copot.
Jantung Alice juga berdegup
kencang. Meskipun ia sudah mengharapkan hal itu, tapi tetap saja jika hal itu
terjadi rasanya akan lebih mendebarkan dari bayangannya. Alice masih membeku,
ia senang dengan ucapan Edward yang dikatakan padanya namun tetap saja masih
mengejutkan ketika didengar langsung.
“Ah. Jika kau butuh waktu
untuk menjawabnya silahkan. Aku akan menunggu, tapi jangan terlalu lama, ini
terlalu menyiksaku. Hehe..” Kata Edward cepat karena Alice tak juga memberi
respon. “Apa ini terlalu cepat ya?” tanya Edward pelan seperti bergumam.
“Iya!” kata Alice tiba-tiba.
Edward sedikit terkejut
mendengarnya, karena mengingat pertanyaan terakhirnya barusan.
“Maksudku, iya, aku mau jadi
pacarmu.” Kata Alice menjelaskan, jantungnya kembali berdegup kencang. Begitu
juga dengan Edward, kali ini dia yang membeku. “Aku juga menyukaimu.” Katanya
lagi. “Aku sempat berpikir bagaimana mengatakannya padamu dan kapan aku bisa
mengatakannya padamu. Dan ternyata, kau juga yang membuka jalannya.” Ungkap
Alice tersenyum, menahan degupannya walaupun suaranya terdengar bergetar.
Edward tersenyum, tanpa sadar
ia langsung memeluk Alice erat. Membuat Alice terkejut tapi kemudian membalas
pelukannya. Teman-teman Alice, Kaelyn dan Radley yang sejak tadi terus melihat
mereka tersenyum begitu Edward memeluk Alice dengan girang, itu artinya apapun
yang Edward katakan mendapat jawaban yang juga Edward inginkan.
“Umm, tapi sepertinya kita
tidak bisa merayakan hari jadi kita yang pertama. Karena aku sudah janji untuk
pergi dengan teman-temanku.” Kata Alice dalam pelukan mereka.
Edward melepas pelukannya tapi
tangannya masih memegang pundak Alice.
“Ya, tentu saja. Tidak apa-apa. Aku juga sudah ada janji dengan Rad dan Kae
sebenarnya. Antisipasi jika ini tak sesuai harapanku.” Ucap Edward lalu
tersenyum.
Setelah mereka mengungkapkan
perasaan mereka dengan singkat, lalu saling berpamitan untuk pergi dengan
mereka, mereka pun berpisah dan menghampiri teman-teman mereka.
Ketika Alice kembali pada
teman-temannya dan menceritakan apa yang mereka bicarakan barusan seketika
teman-temannya berteriak girang, cukup kencang untuk diketahui Edward maupun
Radley dan Kaelyn yang berada cukup jauh dari mereka.
“Owww. Mr Edward!!! Kini sudah
memiliki kekasih!!!” gurau Kaelyn sedikit berteriak ketika Edward masih
berjalan menuju mereka.
Edward tersenyum girang
mendengarnya.
“Aku tak menyangka kau
melakukannya Ed.” Kata Radley, seraya mereka berjalan.
“Aku juga tak menyangka aku
melakukannya. Aku tak pernah seyakin ini mengambil keputusan untuk hubungan
percintaanku.” Kata Edward, membuat Radley dan Kaelyn merasa geli mendengarnya.
“Auwh, kau benar-benar berubah
sejak bertemu Alice ya ternyata.” Ucap Radley masih merasa geli dengan ucapan
Edward tadi.
“Memang tanpa sadar cinta itu
bisa mengubah seseorang.” Timpal Kaelyn, juga membuat Radley merasa geli
mendengarnya.
“Auwh, kau juga Kae. Kau
benar-benar tak pernah berhenti menjadi wanita mellow ya. Selalu saja ada
bahasannya jika menyangkut percintaan.”
Kaelyn tersenyum, “Kau tak
tahu saja jika itu mengasyikan.”
“Apa yang seru dari cinta
bertepuk sebelah tangan.” Ucap Radley, tak dapat Kaelyn sangkal.
“Tapi memang benar, aku juga
merasakan jika aku berubah sejak dekat dengannya. Rasanya ingin menjadi orang
yang lebih baik.” Ungkap Edward untuk pertama kalinya.
“Sebesar itukah cinta?” tanya
Radley.
“Kau kan sudah sering
berpacaran, apa tidak ada wanita yang membuatmu seperti itu Rad?” tanya Kaelyn.
Radley terdiam lalu menggeleng,
“Woahhh. Kau benar-benar
berpacaran hanya karena ingin punya pacar saja?” Kaelyn tak menyangka teman
satunya ini tak pernah merasa jatuh cinta setidaknya pada salah satu wanita
yang pernah ia pacari. Karena menurut Kaelyn untuk apa berpacaran jika tak
merasa jatuh cinta pada orang itu, dan jika ternyata orang yang membuat kita
jatuh cinta tak menyukai kita itu bukan alasan kita untuk berpacaran dengan
yang lain. Bukan begitu?
“Hey, aku tidak sesering itu
ya berpacaran. Jangan berkata seolah aku hanya mempermainkan mereka.” Bela
Radley pada dirinya sendiri.
“Tapi jika dipikir-pikir lagi,
kau tak akan tahu kapan bisa merasakan hal itu dan pada siapa. Iya tidak Kae?”
kata Edward lalu bertanya pada Kaelyn.
Kaelyn terdiam sejenak, lalu
mengangguk. “Kau benar.” Jawabnya. “Lalu tiba-tiba saja orang itu tak pernah
bisa lepas dari pikiran, dan tanpa sadar hati juga ikut merasakan kehadirannya dipikiran.”
Lanjutnya.
“Hey! Jangan asingkan aku
karena belum pernah merasakannya ya!” teriak Radley pada mereka berdua.

Comments
Post a Comment