Between Us (Part 8)
Kaelyn, Radley, dan Edward tak
begitu lama dirumah Kaelyn. Mereka pergi ke pesta teman SMA mereka yang
diadakan di pantai dekat sana. Jarang-jarang pestanya berada di area terbuka.
Meski mereka bertiga tak terlalu menyukai pesta, terutama Kaelyn. Tapi karena
yang diundang ke pesta kebanyakan adalah alumni SMA mereka yang pastinya banyak
yang mereka kenal maka mereka pun memutuskan untuk datang kesana.
Sesampainya disana, benar saja
banyak orang yang mereka kenal. Mereka saling menyapa dan berbincang singkat
untuk kemudian menyapa yang lainnya lagi. Jika dilihat-lihat lagi hampir semua
yang datang ke pesta ini adalah alumni SMA mereka.
“Hey Kae.” Sapa Algis yang
juga datang kesana.
Kaelyn menoleh, diikuti Radley
dan Edward yang masih bersamanya.
“Eh, hey… kau juga datang
kesini.” Balas Kaelyn.
Algis mengangguk, “Sudah lama
tak bertemu teman-temanku.” Katanya sambil menunjuk pada gerombolan pria yang
sedang berkumpul.
Kaelyn mengangguk, mereka tak
asing dimata Kaelyn. Algis dan teman-temannya cukup terkenal di satu angkatan
SMA. Sehingga tak ada yang tak tahu mereka di sekolah. Itu juga salah satu hal
yang membuat Kaelyn merasa tak berani untuk mengungkapkan perasaannya pada pria
yang ada di depannya ini.
Mereka mengobrol cukup lama
dengan teman-teman SMA mereka, hingga tak terasa waktu sudah hampir tengah
malam. Sebenarnya pesta seperti ini semakin malam semakin ramai, tapi Kaelyn
merasa sudah lelah dan memilih untuk pulang lebih dulu. Karena Edward dan
Radley terlihat masih betah disana, Kaelyn memutuskan untuk pulang tanpa bilang
pada keduanya.
“Kau mau kemana?” sapa Algis
yang entah muncul darimana.
Kaelyn sedikit tersentak
karena kemunculan Algis yang tiba-tiba.
“Pulang.” Jawab Kaelyn singkat.
“Sudah mau pulang? Puncak
acaranya belum dimulai.” Kata Algis. Puncak acara yang dimaksud adalah pesta
kembang api, yang sengaja di persiapkan oleh tuan rumah, atau lebih tepatnya tuan
yang mengadakan pesta.
Kaelyn melihat waktu di
ponselnya, 11:32 PM. Masih butuh waktu sekitar setengah jam untuk sampai ke
puncak acaranya.
Melihat Kaelyn yang ragu untuk
tetap berada di pesta Algis pun memutuskan untuk tak memaksanya.
“Kau pulang dengan siapa?” tanyanya kemudian.
“Uhm.. sendiri.”
“Edward dan Radley?”
“Mereka masih dengan yang
lain.”
“Kau pulang naik apa?”
“Ah.. entahlah, mungkin
taksi.”
“Mana ada taksi pukul segini.
Biar aku antar.”
Kaelyn dengan cepat menolak,
“Tidak usah. Aku bisa sendiri, kalau tidak ada taksi mungkin bus atau mungkin
jalan atau mungkin aku akan menginap dirumah untuk malam ini.”
“Rumahmu dekat sini?”
Kaelyn mengangguk.
“Kau yakin? Bukannya besok ada
acara UKM pagi-pagi sekali?” tanya Algis lagi meyakinkan.
Kaelyn tak terkejut mendengar
Algis mengetahuinya, karena dia juga berada di UKM yang sama dengannya. Jika
dipikir-pikir memang lebih enak jika sekarang ia langsung kembali ke kampus
agar dirinya tak perlu bangun pagi-pagi untuk kembali ke kampus. Ditambah lagi
dia bagian dari panitia, perlu lebih pagi ia menyiapkan acaranya.
“Biar aku antar.” Ucap Algis
lagi meyakinkan Kaelyn.
Kaelyn pun mengangguk.
Mereka berjalan menuju
parkiran pantai. Hari ini Algis menggunakan motor, Kaelyn sudah lama tak
melihat Algis mengendarai motor sejak SMA. Dia merindukan masa-masa SMA.
Algis memberikan helm pada
Kaelyn, lalu menggunakan helm untuk dirinya sendiri. Kaelyn menerimanya tanpa
basa-basi dan langsung menggunakannya.
Ini pertama kalinya Kaelyn
dibonceng oleh Algis, sedikit canggung rasanya -ummm sangat canggung rasanya. Kaelyn
tak tahu harus memegang kemana saat motor mulai melaju dengan kecepatan yang
dianggap normal namun tetap saja terasa kencang.
“Pegang pundakku saja jika
canggung memelukku.” Katanya membuat Kaelyn tak bisa berkata-kata. ‘Mengapa dia
mengucapkannya dengan mudah, aku bahkan merasa malu membayangkannya.’
Kaelyn berteriak, “Iya.” Lalu
seketika ia memeluk Algis karena pria itu tiba-tiba menghentikan motornya.
Algis yang mengendarai motor
juga terkejut ketika kucing tiba-tiba lewat dijalannya.
“Kau tidak apa-apa?” tanya
Algis mengecek keadaan Kaelyn yang mungkin juga terkejut.
Kaelyn mengangguk dan
mengiyakan, ia kemudian menjauhkan tubuhnya pada punggung Algis seraya
melepaskan tangannya yang juga berada di pinggang Algis.
Sebelum tangan Kaelyn
benar-benar lepas dari pinggang Algis, Algis dengan cepat menahan tangan
Kaelyn. “Begini saja, biar lebih aman.” Ucapnya lalu menarik tangan Kaelyn agar
berpegangan pada pinggangnya lebih baik.
Saat itu Kaelyn seketika
membeku, ia tidak bisa berkata apa-apa juga tidak bisa menolak perlakuan tangan
Algis pada tangannya itu. Jantungnya berdegup sangat kencang, ia sendiri bahkan
bisa mendengarnya.
Sepanjang perjalanan kembali
menuju kampus mereka tak berbicara apa-apa, Kaelyn juga tak mempunyai bahan
pembicaraan yang biasanya muncul meski bukan hal penting. Posisinya saat ini
hanya akan membuatnya semakin salah tingkah jika harus mengajak Algis
berbincang, karena tubuhnya harus mendekat pada Algis agar pria itu bisa
mendengarnya berbicara, begitu juga Kaelyn agar ia bisa lebih mendengar ucapan
Algis.
Sesampainya di depan asrama
mereka pun berpisah, Algis benar-benar hanya mengantarkan Kaelyn lalu kembali
ke asramanya juga. Karena seperti yang dikatakan tadi, besok juga dirinya ada
acara UKM yang perlu dihadiri.
Kaelyn masuk ke dalam kamar
asrama, mendapati Janet yang masih duduk di depan meja belajarnya sambil
menatap layar laptopnya. Kaelyn masuk tanpa mengatakan apa-apa, ia kemudian
langsung ke kamar mandi untuk membersihkan diri dan bersiap untuk tidur.
Ketika Kaelyn hendak
membaringkan tubuhnya, Janet memanggilnya menahannya untuk tidur.
“Aku mau bicara.” Kata Janet
sudah berbalik ke arah Kaelyn.
Kaelyn melihat kearah Janet
tanpa mengatakan apa-apa, ia duduk di tepian kasur miliknya.
“Aku minta maaf atas ucapanku
waktu itu.” Kata Janet terdengar lirih.
Kaelyn juga sebenarnya sudah
ada rencana untuk meminta maaf pada Janet, karena meskipun ucapannya waktu itu
membuat Kaelyn kesal tapi jika dipikirkan lagi ucapan Janet tak ada salahnya,
malah justru dirinyalah yang berbohong pada Janet.
“Aku juga minta maaf Jane.
Waktu itu sepertinya aku sedang lelah, jadi aku merasa pertanyaanmu waktu itu
seperti menyinggungku.” Jawab Kaelyn Jujur. “Aku juga minta maaf jika terlalu
dekat dengan orang yang suka, harusnya aku menjaga jarak tapi aku malah seperti
itu.”
Janet berdiri lalu berjalan
mendekati Kaelyn dan duduk disampingnya.
“Tidak. Tidak apa-apa,
harusnya aku juga mengerti waktu itu kau sedang lelah. Aku menayakan hal itu
seperti aku tidak mempercayaimu, maaf aku ya. Aku juga salah.” Ucap Janet
lembut.
Kaelyn tersenyum kecil kearah
Janet.
“Jadi kita baikan kan?” ucap
Janet girang.
“Iya. Kita baikan.” Kata
Kaelyn pelan tapi dengan senyuman.
“Ah, akhirnya. Aku tak sanggup
lagi harus perang dingin denganmu. Tidak berantem saja kau sudah cukup dingin,
apalagi jika berantem. Benar-benar menyeramkan kau tahu?” kata Janet membuat
Kaelyn tertawa. Ucapannya tak salah, sudah banyak orang yang mengatakan jika
dirinya dingin, sehingga membuatnya yakin jika dirinya memang orang yang cukup
dingin pada orang-orang, lebih tepatnya orang yang belum begitu mengenalnya.
Karena jika dengan Radley atau Edward, Kaelyn cukup hangat, mungkin akan
terlihat tidak peduli namun tiba-tiba ia bisa menjadi orang yang selalu ada
disamping mereka tanpa mereka minta.
“Tapi.. apa aku boleh bertanya
apa ada orang yang kamu sukai saat ini?” tanya Janet hati-hati. “Aku ingin
membicarakan gebetan kita sesekali, sepertinya seru.” Lanjutnya kegirangan.
Kaelyn mendengarnya juga cukup
tertarik, ia belum pernah benar-benar menceritakan tentang orang yang ia sukai
pada teman-temannya. Karena selama ini orang yang sukai hanya satu, Algis. Dan
Kaelyn sudah pernah membicarakannya pada Radley dan Edward. Lalu untuk
selanjutnya, ia hanya menyimpannya dalam hati, semacam tidak ada hal lain yang
bisa ia ceritakan tentang Algis pada teman-temannya karena pada kenyataannya
pun mereka tak benar-benar memiliki komunikasi rutin yang bisa sewaktu-waktu
merubah perasaannya juga.
Kaelyn menggeleng setelah
berpikir untuk sejenak, “Sepertinya tidak ada, aku tak terlalu tertarik
berpacaran atau hal yang semacam itu.” Ungkapnya kemudian.
“Kau serius? Aku baru tahu.
Well, aku juga seperti itusih sampai akhirnya bertemu Algis yang membuatku
ingin memacarinya.” Ucap Janet lalu terkekeh geli membayangkan dirinya
berpacaran dengan Algis.
Kaelyn juga ikut terkekeh, ia
masih berbohong pada Janet tentang perasaannya. Tapi sepertinya hari ini ia
harus memutuskan untuk berhenti menyukai Algis, karena alasan pertamanya adalah
ia sudah mengatakan tak menyukai Algis pada Janet dan itu harus benar-benar
terjadi, ia tak ingin malah ketahuan berbohong setelah mereka berbaikan seperti
ini. Lalu untuk alasan yang kedua, sepertinya alasan yang kedua ini sudah
menjadi alasan Kaelyn untuk berhenti menyukai Algis sejak lama, yaitu Algis tak
menyukai dirinya.
Karena jika dipikirkan secara
logika, untuk apa terus menyukai seseorang yang tak menyukai kita juga bukan?
Sejak lama Kaelyn ingin berhenti, tapi entah kenapa rasanya tak bisa, tak ada
orang lain yang bisa membuatnya jatuh cinta lebih dari perasaannya pada Algis.
Dan.. ya, hingga saat ini ia masih bergelut dengan alasan itu. Tapi sepertinya
kali ini ia bisa mengandalkan alasan pertamanya itu untuk perlahan berhenti
mengharapkan Algis.
“Kalau dengan Radley atau
Edward? Kau tidak pernah menyukai salah satu dari mereka?” pertanyaan Janet
membuat Kaelyn tertawa.
“Kau bercanda.” katanya sambil
tertawa. “Jika aku menyukai salah satu dari mereka, aku tak akan bisa berteman
dengan mereka.”
“Tapi bukankah hal itu terjadi
secara naluriah? Karena mereka selalu ada, karena mereka lawan jenis, kita jadi
merasa mereka berbeda dari teman satu jenis kita? Bukan begitu?” papar Janet
terdengar serius.
“Aku pernah menyukai teman dekatku waktu SMA, aku mengungkapkannya, tapi ya
berakhir tragis karena kini kita tidak berteman lagi. Dia merasa risih denganku
katanya.” Penjelasan Janet membuat Kaelyn merasa miris.
“Aku sering dengar yang
seperti itu, jadi aku memilih untuk tidak menyukai mereka.” Kata Kaelyn membuat
Janet terkejut.
“Jadi kau memilih untuk tidak
menyukai mereka? Memang bisa?” tanyanya membuat Kaelyn bingung.
“Kenapa tidak bisa?”
“Bukannya kau juga tahu jika
perasaan tak bisa dikendalikan? Bagaimana bisa kau memilih untuk menyukai dan
tidak menyukai siapa?”
Kaelyn mengangguk mengerti,
“Tapi, ada yang namanya mengalah. Ketika rasa sukamu besar pada sahabatmu,
disitu kamu harus memilih. Egois untuk mendapatkan apa yang kamu inginkan, atau
mengalah untuk mendapatkan apa yang mereka berdua inginkan. Dalam persahabatan
ataupun percintaan, mereka sama-sama tak ingin kehilangan orang itu kan? Itulah
kenapa mengalah terkadang perlu. Terkadang juga dalam persahabatan kau keliru
dengan perasaan itu, karena pada nyatanya persahabatan juga perlu ada rasa kasih
sayang, hanya saja saat itu kau bersahabatnya dengan lawan jenis.” Ucapan
Kaelyn terdengar banyak metaforanya bagi Janet, namun untungnya perkataannya
bisa dimengerti Janet maksudnya.
“Kau benar juga. Sepertinya
kebanyakan orang seperti itu. Tapi bukankah memang lebih nyaman menghabiskan
sisa hidup kita dengan sahabat kita sendiri? Aku saja yang membayangkannya akan
merasa senang.”
“Itu sebabnya aku bilang, itu
pilihan. Kalau ternyata sahabatmu tak ingin denganmu? Bagaimana? Seperti kau
dulu, kau akan kehilangan sahabatmu.” Ucap Kaelyn.
Kaelyn selalu memiliki perkataan
yang cukup berdasarkan realita, dan terkadang dirinya juga kesal karena
menyadari jika perkataannya itu memang benar.
“Tapi kau benar tak menyukai
salah satu dari mereka?” tanya Janet lagi sambil bercanda, Kaelyn mengeluh
mendengar pertanyaan itu lagi. “Karena kelihatannya salah satu dari mereka
menyukaimu.” Lanjutnya lalu pergi dari kasur Kaelyn. Janet terkekeh kecil
setelah mengatakannya lalu kembali duduk di meja belajarnya.
TBC

Comments
Post a Comment