Between Us (Part 9)

 




Semua acara yang diadakan setelah ujian tengah semester berjalan dengan seharusnya, meski ada beberapa kejadian tak terduga tapi tak membuat acara menjadi terkendala. Setelah masa ujian tengah semester lalu hiburan lalu mereka kembali pada rutinitas mengukti kelas mata kuliah dan menghadiri kegiatan rutin UKM setiap minggu. Hingga tak terasa tiga bulan pun berlalu. Tak terasa ujian akhir semester sudah datang lagi, rasanya baru kemarin mereka menyelesaikan ujian tengah semester.

Hari ini hari terakhir mereka ujian, seperti biasa mereka kembali bersenang-senang setelah masa ujian berakhir. Bedanya kali ini mereka akan bersenang-senang sedikit lebih lama karena mendapat hari libur selama 2 minggu untuk kembali masuk ke semester selanjutnya.

Setelah selesai ujian Kaelyn, Radley, Edward, dan Janet pergi ke kantin bersama di kantin mereka bertemu dengan Daniel dan James – teman dekat Algis, dan mereka memutuskan untuk duduk bersama meja kantin yang cukup besar.

Saat di kantin Alice, pacar Edward yang sudah jalan tiga bulan datang menghampiri mereka untuk ‘menjemput’ Edward. Mereka hari ini memiliki janji untuk pergi bersama setelah ujian. Edward tak mengatakan akan kemana atau melakukan apa, katanya itu rahasia. Meski itu membuat Kaelyn dan Radley curiga tapi Edward tetap tak ingin memberitahu mereka berdua tujuan kencannya itu.

Edward pun beranjak dari duduknya lalu melambaikan tangan pada mereka yang ada meja yang ia duduki tadi, begitu juga Alice. Kaelyn dan Radley bisa dibilang sudah cukup akrab dengan Alice, meski mereka jarang berkumpul bersama tapi kepribadian Alice yang mudah ramah membuat mereka tak sungkan untuk membuat topik pembicaraan.

“Aku penasaran apakah kalian pernah saling suka.” Celetuk Daniel seraya melihat kepergian Edward dan Alice.

Mereka berempat yang ada di meja seketika menoleh pada Daniel.

“Mereka maksudmu?” tunjuk Janet pada Kaelyn dan Radley.

Daniel mengangguk.

Kaelyn dan Radley sudah tahu mereka yang Daniel maksud, tapi mereka tak berniat untuk menjawab pertanyaannya. Karena jika dibilang ‘tidak’ saat SMA mereka punya histori Edward pernah menyukai Kaelyn, yang membuat mereka sempat bertengkar. Lalu jika dibilang ‘iya’ sepertinya itu hal yang sedikit sensitif jika diketahui oleh orang lain.

“Sepertinya tidak.” Jawab Kaelyn.

“Kenapa ada kata ‘sepertinya’?” tanya Daniel lagi.

“Bukankah pertemanan kita hingga saat ini sudah menujukkannya?”

Daniel  mengangguk-angguk, “Kau benar juga. Jika salah satu dari kalian ada yang saling suka mungkin kalian sudah tidak bertiga lagi.”

“Lalu berberapa? Berdua?” terbak Radley.

Daniel menggeleng, “Sendiri.” Ucapnya.

“Kenapa sendiri?” tanya James yang menjadi penasaran.

“Menurutku kalian itu seperti sudah tak bisa tergantikan. Jika kalian berpisah, kalian tak akan mencari teman dekat lagi, atau mungkin lebih tepatnya kalian tidak bisa menemukan teman dekat lagi. Kalian sudah saling ketergantungan, sepertinya akan sulit untuk menemukan teman yang seperti itu lagi di umur kita yang sekarang ini.” Jelas Daniel, membuat James dan yang lainnya mengangguk paham.

Meski ucapan Daniel tak bisa dipercaya karena mereka belum mengalaminya, tapi mengenai mereka saling ketergantungan sepertinya itu memang benar karena Kaelyn ataupun Radley tak meralat ucapannya itu.

Percakapan ini membuat Kaelyn mengingat ucapan Janet waktu itu, saat mereka memutuskan untuk baikan. ‘Salah satu dari mereka menyukaimu.’
Waktu itu Kaelyn tak ambil pusing karena kenyataan jika Edward pernah menyukainya waktu SMA membuat Kaelyn merasa jika ucapan Janet memang benar.
Tapi hari ini tiba-tiba Kaelyn terpikirkan, bagaimana jika orang yang Janet maksud itu bukan Edward?
Melihat Edward yang sepertinya benar-benar jatuh cinta pada Alice membuatnya ragu jika itu bukan Edward.

Kaelyn melihat pada sebelahnya, tempat Radley duduk. Ia beberapa saat melihat padanya disaat yang lainnya sedang asik berbincang.

Radley yang merasakan arah pandang Kaelyn lalu menoleh pada Kaelyn.
“Kenapa?” katanya, membuat Kaelyn tersadar.

Kaelyn menggeleng.

Janet yang melihat hal itu hanya terdiam, tapi masih terus memperhatikan Kaelyn.

 

*****

 

Waktu berlalu begitu cepat. Masa liburan dua minggu tak terasa habis begitu saja. Para mahasiswa disibukkan dengan pulang kerumah orang tua mereka selama dua minggu itu. Sebelum mereka kembali ke asrama dan kampus untuk memulai ajaran semester genap mereka.

Walau rasanya senang mereka bisa menempuh pelajaran, melewati setiap ujian, dan menyelesaikan setiap masalah yang mereka dapatkan untuk mendekati tujuan akhir mereka. Tapi ada kalanya juga mereka ingin berhenti karena setiap pelajaran yang mereka dapatkan tak juga bisa mereka mengerti, ujian yang mereka lewati tak sesuai dengan harapan mereka, dan masalah yang mereka dapatkan hanya membuat masalah baru.

Semester genap pun datang, mereka mulai kembali berkuliah seperti biasanya. Pelajaran yang semakin sulit terkadang tak terasa ketika berkumpul dengan teman-teman mereka yang seperjuangan.

Kaelyn menghampiri Edward yang sedang berdiri di depan mading kampus menunggu kekasihnya datang. Selama liburan kemarin Kaelyn dihantui ucapan Janet waktu itu, tapi tak ada keberanian pada dirinya untuk menanyakan hal itu pada Edward ataupun Radley meski mereka masih sering bertemu saat liburan kemarin. Rasanya seperti terlalu percaya diri, tapi juga tak percaya dengan penglihatan Janet.

“Kemana Rad?” tanya Kaelyn begitu sampai di samping Edward.

Edward yang sedang memainkan ponselnya berhenti lalu melihat pada Kaelyn lalu mengangkat bahunya, “Tak tahu, aku juga belum bertemu dengannya sejak di asrama.” Jawabnya lalu kembali pada ponselnya sambil sesekali tersenyum pada pesan yang ia dapatkan dari kekasihya, Alice.

“Kau masih menyukaiku?” tanya Kaelyn tiba-tiba. Langsung membuat Edward mengubah ekspresinya menjadi serius dan berhenti melihat pada ponselnya.

“Jika menyukai yang kau maksud itu seperti seorang pria pada wanita, maka jawabannya tidak. Aku tak ingin kita bertengkar lagi seperti saat SMA, aku tak ingin mengorbankan persahabatan kita. Tapi aku menyukaimu tentu saja, menyayangimu bahkan, tapi ya sebagai seorang sahabat.” Jelas Edward meski ia masih bingung kenapa Kaelyn bertanya seperti itu.

Kaelyn mengangguk mengerti, ia cukup yakin Edward tak menyukainya dengan cara yang seperti itu. Jadi jawaban Edward tak membuatnya begitu lega, tapi cukup untuk meyakinkan dirinya, setidaknya sebagiannya. Karena ia tak tahu dengan Radley.

“Memang kenapa?” tanya Edward setelah Kaelyn tak memberikan respon apa-apa lagi.

Kaelyn melihat pada Edward beberapa detik, ia tak tahu bagaimana harus mengatakannya.

Edward mengangguk, “Katakan saja.” Meyakinkan Kaelyn bahwa apapun ucapan Kaelyn dapat dimengerti olehnya.

“Waktu itu Jane memberiku pernyataan aneh. Aku jadi ragu.” Ungkap Kaelyn kemudian.

“Ragu, pada?...”

“Pada diriku, pada kalian, pada Jane..? Entahlah, hanya saja ucapannya terus terpikirkan olehku.”

“Memang apa yang Janet ucapkan?”

“Ummm, salah satu dari kalian ada yang menyukaiku?” ucap Kaelyn hati-hati, ia malu jika Edward akan tertawa pada ucapannya itu.

Edward seketika terdiam, membuat Kaelyn menjadi was-was. Ini bukan respon yang Kaelyn bayangkan dari Edward.

“Kau kenapa?” tanya Kaelyn.

“Jujur. Aku tak ingin kejadian waktu SMA terulang lagi.” Ungkap Edward tiba-tiba.
“Tapi, apa kau yakin tak ingin memiliki hubungan romantis dengan salah satu diantara kita?” tanyanya kemudian.

Kaelyn mengerutkan dahinya, “Pertanyaan macam apa itu? Kenapa aku harus mempertimbangkannya?”

“Entahlah, tapi bukankah lebih nyaman menua bersama sahabatmu?” katanya.

Kaelyn mendengus, “Kenapa kalian mengatakan hal yang sama?” katanya mengingat Janet juga pernah mengatakannya.

“HEY! Sedang apa kalian?” Radley yang baru selesai kelasnya tiba-tiba muncul ketika mereka berdua sedang saling memberikan ekspresi serius.

“Tidak ada.” Kata Kaelyn cepat lalu pergi meninggalkan mereka.

Radley bingung melihat Kaelyn yang malah pergi.
“Dia kenapa?” tanyanya pada Edward.

“Kau beneran menyukai Kae?”

Radley memundurkan tubuhnya, “Kenapa tiba-tiba ada pertanyaan itu.”

“Saranku, lebih baik kau pikirkan baik-baik. Entah apapun itu, tapi aku tak ingin kita bercerai berai lagi.” Kata Edward lalu juga pergi meninggalkan Radley.

“Hey! Kau mau kemana?” teriak Radley. Edward hanya melambaikan tangannya tanpa menoleh kearah Radley.

Sedangakn Radley dibuat bingung dengan ucapan Edward barusan. Ditambah lagi sikap Kaelyn tadi.

“Apa aku melewatkan sesuatu?” Radley berbicara sendiri setelah memutar ulang kejadian barusan.

 

***

 

Janet sudah duduk di bangku kelas barisan tengah, di sampingnya ada Algis yang juga berada dimata kuliah ini yang mengambil mata kuliah semester atas agar ia bisa lebih cepat menyelesaikan pendidikannya.

Kaelyn masuk ke kelas dengan perasaan canggung, sejak di pintu masuk ia sudah melihat Janet dan Algis duduk bersampingan. Ia tak tahu Algis akan ada di kelas ini juga, tapi hal itu tak membuatnya penasaran hingga ingin mengetahui alasannya saat itu juga.

Kaelyn melewati barisan mereka tanpa menyapa, berharap mereka berdua tak menyadari kehadirannya karen mereka sedang asik berbincang.

“Kae!” panggil Algis ketika Kaelyn sudah melewati mereka.

Kaelyn terhenti, Janet menoleh karena panggilan Algis yang tiba-tiba ketika mereka sedang mengobrol.

“Duduk disini saja.” Kata Algis menunjukkan kursi di sampingnya.

Kaelyn membeku, ia melihat ke arah Janet.
“Ah aku duduk disini saja, teman-temanku juga akan datang.” Ucap Kaelyn menunjuk pada kursi yang berada di tiga baris belakang kursi Algis dan Janet.

“Oh, okey.” Kata Algis kemudian lalu melanjutkan perbincangannya dengan Janet.

Kaelyn memperhatikan mereka dari kursi belakang, ada rasa iri karena mereka terlihat lebih dekat dari sebelumnya. Membuatnya bertanya-tanya apa liburan kemarin mereka sering bertemu atau berkomunikasi, dan apakah ia melewatkan sesuatu pada hubungan mereka?

Tak lama kemudian Dosen pun datang, mereka kembali dipertemukan dengan acara pengenalan pada Dosen baru mereka di semester ini. Lalu selanjutkan sang Dosen mulai pengenalan pada pelajaran yang akan mereka pelajari pada mata kuliah ini.

Begitu kelas selesai Kaelyn membereskan bukunya dengan cepat, ia ingin pergi lebih dulu dari Janet dan Algis. Tapi ketika Kaelyn melewati mereka Algis lagi-lagi memanggilnya.

“Kaelyn!” panggilnya sedikit teriak karena Kaelyn berjalan lebih cepat dari biasanya.

Kaelyn mencoba mengabaikannya tapi panggilan Algis semakin kencang, ia pun menghentikan jalannya dan terhenti di depan pintu keluar.

Algis berpamitan pada Janet untuk pergi lebih dulu, Janet hanya mengiyakan tapi perasaannya campur aduk. Ada rasa cemburu tapi ia mencoba untuk tetap tenang dan percaya dengan ucapan Kaelyn mengenai perasaannya pada Algis waktu itu.

Kaelyn melihat pada Janet ketika Algis berjalan menghampirinya, terlihat ada rasa tak senang karena Algis menghampirinya. Tapi Kaelyn juga tak bisa berbuat apa-apa karena Algis tak tahu apa yang sebenarnya terjadi pada perasaan Kaelyn maupun perasaan Janet.

“Bisa kita bicara?” tanya Algis begitu sampai di depan Kaelyn. Ekspresinya terlihat serius, Kaelyn tak bisa menebak apa yang akan Algis bicarakan.

Kaelyn mengangguk, “Mengenai apa?”

“Jangan disini.” Kata Algis, ia lalu memberi isyarat untuk mengikutinya.

Sebelum Kaelyn mengikutinya, ia melihat ke arah Janet yang sedang sibuk mengobrol dengan teman-temannya.

Algis dan Kaelyn sudah berjalan cukup jauh dari ruangan kelas tadi. Algis yang posisinya berada di depan Kaelyn membuat Kaelyn sulit untuk melihat ekspresinya. Jalannya cukup cepat, tak mengatakan apa-apa, dan terlihat seperti kesal.

“Kita mau kemana?” teriak Kaelyn akhirnya. Mereka berhenti di lorong menuju area belakang kampus.

Algis pun akhirnya berbalik, menunjukkan wajahnya pada Kaelyn.

“Kau kenapa?” tanyanya membuat Kaelyn ikut bingung.

“Kenapa apanya?” tanya Kaelyn balik.

“Kau menghindariku akhir-akhir ini. Kenapa? Sejak aku mengantarmu dari pesta pantai, kau menghindariku hingga hari ini. Apa aku berbuat salah padamu hari itu?” tanyanya panjang lebar.

Kaelyn terdiam, ia tak tahu bagaimana harus mengatakannya.
Malam ketika Algis mengantarnya pulang dari pesta pantai, malam itu juga ia berbaikan dengan Janet, dan malam itu juga ia bertekad untuk benar-benar tak lagi menyukai Algis. Sejak keesokan harinya Kaelyn selalu mencari cara untuk meghindar dari pandangan Algis.

“Karena aku membuatmu memelukku, kau marah padaku?” tanyanya lagi dengan suara yang lebih keras.

Kaelyn seketika melihat sekeliling, takut jika ada orang yang salah paham dengan ucapannya.

“Tidak usah keras-keras. Itu kecelakaan, bukan memeluk disengaja.” Kata Kaelyn sedikit kesal.

“Lalu, kenapa? Aku menelponmu selalu tak diangkat, aku mengirimi pesan selalu tak dijawab, aku menyapamu selalu tak gubris, aku memanggilmu selalu pura-pura tak dengar.” Katanya lagi membuat Kaelyn tak bisa berkata-kata.

“Itu.. karena aku memang jarang pegang handphone, dan mungkin saat kau menyapa atau memanggilku aku memang tidak melihat atau mendengarmu.” Balas Kaelyn membuat Algis merasa jengkel.

“Jadi kau marah padaku karena hari itu?” tanyanya lagi memastikan, “Karena apapun yang terjadi pada hari itu?” lanjutnya.

“Aku tak marah padamu. Tapi mungkin sikapku yang begini akhir-akhir ini memang karena apa yang terjadi pada hari itu. Tapi itu tak ada hubungannya denganmu. Sama sekali tak ada. Lagipula kita tak begitu dekat untuk selalu berkomunikasi bukan?” kata Kaelyn jujur namun terasa menyakitkan bagi Algis.

Algis mendengus kesal, tangannya menyisir rambutnya kebelakang kasar, frustasi.
“Jadi, aku harus bagaimana agar kita bisa terus berkomunikasi?” tanyanya.

“Kenapa?”

“Kenapa apanya?”

“Kenapa kita harus terus berkomunikasi?”

“Kita sekarang satu kelas mata kuliah, bukankah sudah seharusnya teman satu kelas saling berkomunikasi?” ucap Algis alasan.

“Lalu kenapa kau harus masuk ke mata kuliah yang sama denganku?”

“Kau mengabaikanku hampir 3 bulan, hanya itu cara agar aku bisa menemuimu tanpa izinmu dulu.”

Ucapan Algis seperti menampar Kaelyn. ‘Apa maksudnya?’

Kaelyn membeku, Algis juga membeku.

Kaelyn berpikir mungkin itu salah satu dari berbagai alasan yang Algis punya untuk mengikuti mata kuliah tadi.

Algis seketika salah tingkah, ia merasa ucapannya terlalu jujur untuk diungkapkan pada orang yang bersangkutan.

“Kalau begitu, aku pergi dulu. Mulai sekarang jangan mengabaikanku lagi jika tak ingin aku salah paham.” Kata Algis kemudian, ia kemudian pergi ke arah mereka datang dan meninggalkan Kaelyn yang masih mematung.


TBC


Comments

Popular