Forgotten Feelings
Tak lama
setelah kelulusan, Kaelyn, Radley, dan Edward satu persatu mulai mendapatkan
pekerjaan. Namun kali ini mereka mau tak mau harus berpisah dan tak bisa
bekerja di satu tempat yang sama. Kaelyn mendapatkan pekerjaan di London.
Edward mendapat pekerjaan di Jerman. Dan Radley mendapat pekerjaan Prancis.
Setelah
mulai bekerja, mereka seolah dihadapi oleh kenyataan hidup yang ternyata tak
semudah saat mereka masih mencari ilmu. Jarak yang jauh dari rumah dan
orang-orang dekat, serta waktu yang tak terasa habis begitu saja, membuat
mereka sulit bertemu ataupun berkomunikasi via telepon.
Meski
begitu jika mereka mendapat libur panjang atau mendapat cuti akhir tahun
diwaktu yang sama mereka selalu menyempatkan bertemu. Entah pulang ke tempat
asal mereka, atau pergi ke salah satu kota tempat mereka bekerja dan
menghabiskan waktu mereka disana beberapa hari.
Hingga tak
terasa hal tersebut sudah mereka jalani selama tiga tahun. Seperti baru
sebentar, tapi tanpa disadari banyak hal yang berubah yang menandakan bahwa
waktu tiga tahun bukanlah waktu yang sebentar.
Selama tiga
tahun ini hubungan Edward dan Alice sudah penuh dengan suka duka, namun tak ada
satupun dari mereka yang mengatakan ingin mengakhiri hubungan mereka.
Kepercayaan merupakan salah satu hal penting dari hubungan jarak jauh, dan satu
hal yang paling penting adalah komunikasi. Mereka terkadang bertengkar karena salah
satu dari mereka sedang sibuk hingga kelupaan untuk mengabari, tapi tak lama
kemudian mereka berbaikan dengan cara orang yang lupa mengabari itu terus
menerus mengabari setiap menit hal yang mereka lakukan hingga hal-hal yang tak
penting sekalipun.
Hubungan jarak jauh ini membuat Edward dan Alice menjadi lebih mengenal satu
sama lain, bisa dibilang cukup aneh tapi dengan jarak ini mereka menjadi
semakin yakin satu sama lain dan semakin percaya satu sama lain untuk membawa
hubungan mereka ke jenjang yang lebih serius lagi.
Lalu
Radley, orang yang tiga tahu lalu masih bertanya-tanya apa itu cinta. Kini ia
pun bisa merasakannya. Setelah dua tahun bekerja di perusahaannya, ada beberapa
karyawan baru yang menjadi tanggung jawab untuk dilatih olehnya. Salah satu
karyawan baru bernama Hanna, ia secara tiba-tiba membuat Radley tertarik lebih
dari biasanya. Hingga saat ini hubungan mereka masih ditahap pendekatan, namun
Radley berkata ia merasa jatuh cinta pada Hanna.
Mengenai perasaannya pada Kaelyn, sebenarnya tiga tahun lalu setelah selesai
wisuda ada pembicaraan antara Radley dan Kaelyn, saat mereka selesai acara
makan siang dengan keluarga. Radley mengungkapkan kebingungan akan perasaannya
pada Kaelyn, saat itu ia bertaruh dengan pertemanannya saat harus mengungkapkan
itu. Tapi untungnya, Kaelyn membalasnya dengan positif. Saat itu malah Kaelyn
memberikan solusi akan kebingungan perasaan Radley. Terdengar lucu memang. Tapi
ucapan Kaelyn waktu itu membuat keduanya yakin jika perasaan itu memang cinta,
tapi bukan perasaan yang harus untuk dimiliki. Karena kenyataannya mereka hanya
perlu untuk selalu ada disamping mereka satu sama lain.
Saat itu,
Radley pun menyadari jika perasaannya pada Kaelyn sama seperti perasaan Edward
pada Kaelyn saat SMA. Hanya saja perasaan Edward lebih dulu ditemukan dibanding
dirinya.
Sedangkan
Kaelyn, hingga saat ini ia masih disibukkan dengan kehidupan pribadinya yang
entah mengapa semakin lama semakin banyak hal yang perlu dilakukan bahkan hingga
hal yang di luar pekerjaannya sekalipun. Membuatnya merasa tak begitu tertarik
untuk mengurusi kehidupan percintaannya. Atau mungkin, baginya kehidupan
percintaannya sudah berakhir tiga tahun lalu, hari saat ia wisuda. Sejak saat
itu hatinya berhenti berdebar untuk seseorang.
Hari ini
akhir pekan, tinggal satu minggu hari kerja untuk akhirnya libur panjang
ditambah cuti akhir tahun.
Handphone
Kaelyn berdering, ada pesan masuk dari Radley.
“Minggu
depan jadi pulang kan? Jangan lupa besoknya ada undangan pernikahan Janet, kau
harus datang juga.”
Kaelyn
mengerutkan keningnya, pernikahan Janet? Kenapa ia melupakan hal itu, padahal
Janet sudah mengatakan padanya sebulan yang lalu. Tapi dibandingkan dengan itu,
tiba-tiba hatinya berdenyut. Siapa pengantin prianya?
Terakhir
yang Kaelyn tahu Janet berpacaran dengan Algis. Sejak saat itu Kaelyn tak
mencari tahu hubungan mereka berdua, ataupun tentang Janet, atau tentang Algis,
baik melalui sosial media ataupun dari teman-temannya. Kaelyn hanya tak ingin
tahu tentang mereka berdua.
Lalu
sekarang, Janet akan menikah. Janet tak mengatakan siapa pengantin prianya,
bahkan ia pun tak mendapatkan surat undangan untuk pernikahan Janet. Radley
maupun Edward juga mengatakan tak tahu dengan siapa Janet akan menikah. Cukup
membuat Kaelyn penasaran, tapi disisi lain Kaelyn merasa takut untuk datang ke
pernikahan Janet. Jika nanti yang berdiri di samping Janet adalah Algis, apakah
ia tidak akan sakit hati? Mendengarnya saja sudah cukup menyakitkan. Jika harus
melihatnya mungkin ia benar-benar akan hancur.
Kaelyn lupa
akan hal itu.
Selain perkembangan sifat Kaelyn yang semakin dewasa selama tiga tahun ini, selama
tiga tahun ini juga ia menjadi semakin pintar menyembunyikan perasaannya.
Hingga ia lupa jika perasaan itu masih ada.
Selama
seminggu ini pikirannya pergi kemana-mana, ia melakukan simulasi akan kejadian
yang mungkin terjadi nanti di hari pernikahan Janet. Ada harapan, ada pesimis,
ada rasa sakit.
Kini Kaelyn
sudah ada di bandara, ia sudah sampai di kampung halamannya. Udara yang sudah
lama tak ia hirup, ternyata walaupun ia suka London, rumah tetap yang paling
dirindukan.
Dari
kejauhan Radley dan Edward sedang melambaikan tangan. Kaelyn tersenyum begitu
melihatnya. Meskipun mereka teman yang paling menyebalkan, tapi tetap mereka
teman yang paling Kaelyn rindukan. Radley dan Edward sudah lebih dulu sampai,
jadi merekapun memutuskan untuk menjemput Kaelyn di bandara.
“Sepertinya
minggu liburan kali ini akan berbeda dari biasanya.” Kata Kaelyn begitu mereka
sudah bertemu.
Radley
mengambil koper Kaelyn lalu memasukkannya ke bagasi mobilnya.
“Hari ini
pulang ke rumah. Besok kita mulai perjalanan kita.” Ucap Edward seraya
membukakan pintu untuk Kaelyn.
Kaelyn
terenyum lalu masuk ke dalam mobil.
“Besok kita
ke pernikahan Janet kan?” tanya Radley dari kursi belakang, mereka kini sudah
mulai melajukan mobilnya.
“Kita
benar-benar tak tahu dengan siapa Janet akan menikah?” tanya Kaelyn dari kursi
depan mobil.
Edward
mengangguk, dan Radley menggeleng bersamaan.
“Dia tak
mengatakannya padamu?” tanya Edward.
Kaelyn
menggeleng. “Dia bilang aku pasti akan kaget, dan katanya aku juga tahu siapa
orangnya.”
“Kau..
tidak berpikir itu Algis kan?” tanya Radley hati-hati.
Kaelyn
terdiam sebentar. “Tentu saja.” Jawabnya ambigu.
“Tentu saja
apa? Tentu saja iya atau tentu saja tidak?” tanya Edward.
“Terakhir
yang aku tahu, Janet berpacaran dengan Algis. Hanya itu yang terpikirkan
olehku.”
Edward dan
Radley terdiam. Memang masuk akal jika harus diperhitungkan seperti itu.
“Tapi kau
tetap akan datang besok?”
“Ya. Kenapa
tidak? Bukan salah mereka menikah dengan siapa. Setidaknya mereka tahu jika aku
juga ikut berbahagia dengan keputusan mereka bukan?”
*****
Hiasan
bunga berwarna putih serta hiasan berwarna senada menyambut para tamu undangan
di pintu masuk area pernikahan. Acara yang digelar secara outdoor membuat semua
area pernikahan sudah telihat bahkan dari area parkiran.
Para tamu
undangan mulai memenuhi kursi yang menghadap ke arah altar pernikahan. Altar
yang berwarna putih dihiasi dengan warna berwarna putih, kursi yang berjejer
dengan warna dan dihias senada dengan altar. Di depan altar terbentang kelopak
bunga mawar putih sepanjang jalan untuk pengantin lewat nanti.
Kaelyn
berjalan masuk ke area pernikahan bersama Radley, Edward dan Alice. Jantung
Kaelyn mulai berdebar, ketika melihat inisial yang tergantung pada pintu masuk
tadi, J & A. Dalam hati ia tahu ini akan terjadi, namun tetap saja itu
terasa sakit.
Dari
kejauhan Kaelyn sudah melihat Algis berdiri di altar bersama dengan teman-teman
dekatnya, ada Daniel, James, dan teman-teman SMA nya. Saat itu jantung Kaelyn
terasa sesak, rasanya ia ingin pergi dan tak melihat mereka berdua mengikat
janji suci mereka.
Namun
bagaimanapun juga, ada dorongan pada dirinya untuk tetap disana dan melihat
semua hal ini terjadi agar dirinya tahu jika ini benar-benar berakhir untuknya.
Kaelyn
duduk di kursi paling belakang sisi kiri, bersama dengan Radley, Edward dan
Alice. Tatapan terus melihat pada arah altar, melihat semua pergerakan Algis
dan teman-temannya. Kaelyn sedang menikmati perasaan sakit hatinya.
Tak lama
dari situ MC pun naik ke podium yang berada di pinggir altar, ia mulai memandu
acara. Mempersilahkan para tamu untuk duduk di kursi yang sudah disediakan, dan
mengumumkan kedatangan mempelai wanita.
Teman-teman
Algis yang tadi berkumpul di altar satu persatu turun. Kaelyn yang melihatnya
terkejut ketika Algis juga ikut turun dan menyisakan seorang pria yang juga ia
kenal dari masa sekolah.
Dari
samping Kaelyn merasa teman-temannya sedang melihatnya. Kaelyn menoleh, dan
terkejut lagi.
“Kalian
sudah tahu yaa??!” tanyanya sambil menahan teriakannya.
Radley,
Edward dan Alice hanya tersenyum, menahan tawanya. Terutama Radley yang terlihat
sedang menahannya dengan susah payah.
Kaelyn
memberikan tatapan sinis padanya lalu mulai fokus pada acara.
Terdengar
dari speaker disegala sisi, lagu romantis mulai diputar. Sang mempelai pria
merapikan jasnya yang sudah rapih, dan berdiri tegak menghadap depan, ke arah
kedatangan mempelai wanita. Janet perjalan muncul, digandeng oleh Ayahnya
menuju altar. Melewati jalan menuju altar yang penuh dengan taburan bunga mawar
putih. Dari kejauhan mereka terlihat tersenyum satu sama lain. Sang pria
terlihat gugup, tapi juga terpana dengan kecantikan Janet yang berjalan menuju
dirinya. Janet yang terlihat gugup tangannya yang menggandeng ayahnya sesekali
dicengkram keras, tapi ia tetap tersenyum ketika melihat sang pria yang
menunggu kedatangannya.
Disisi lain
Algis melihat kemunculan Kaelyn hari ini. Matanya tak berhenti melihat pada
Kaleyn sejak ia turun dari altar dan mendapati Kaelyn yang sedang berbincang
dengan teman-temannya. Algis dan teman-temannya berdiri di samping altar,
menjadi groomsmen dari salah satu teman dekatnya, Andrew.
Janji
pernikahan diucapkan. Janet dan Andrew kini resmi menjadi pasangan suami istri.
Keluarga, teman-teman, dan para tamu yang hadir bertepuk tangan bahagia dengan
resminya hubungan mereka.
**
Janet dan
Andrew sedang bersiap untuk acara selanjutnya, selagi menunggu para tamu mulai
menyantap makanan disana.
Radley
duduk disalah satu kursi meja makan yang telah disediakan, diikuti oleh Kaelyn
serta Edward dan Alice. Menyimpan piring yang sudah mereka isi dengan makanan
di atas meja.
“Sejak
kapan kalian tahu? Kapan Jane memberitahu kalian?” tanya Kaelyn begitu mereka
semua sudah duduk.
Radley
tertawa, tawanya yang tertahan tadi seolah dikeluarkan sekaligus sekarang.
“Jika kau
bukan temanku, aku pasti akan sangat marah mendengarmu tertawa saat ini.” Ucap
Kaelyn kesal.
“Jane tidak
bilang, kita dapat surat undangannya.” Kata Alice jujur, sambil mengeluarkan
surat undangan dari tas jinjingnya.
“Kapan
kalian mendapatkan ini?” tanya Kaelyn terkejut, ia mengambil surat undangan
yang disodorkan Alice lalu melihatnya dengan seksama.
“Sekitar
seminggu yang lalu..” jawabnya lagi.
Kaelyn jadi
ingat kejadian seminggu lalu, saat Radley mengirimnya pesan yang
mengingatkannya untuk datang ke acara pernikahan Janet.
Kaelyn
menghela nafas.
Masih tak mengerti apa maksud teman-temannya ini, tapi ia tak begitu peduli.
Karena kini ia merasa lega. Ternyata bukan Algis yang menikah dengan Janet. Ia
tak perlu cemas untuk menghindar dari Janet lagi. Tak bisa dipungkiri, tapi
memang Kaelyn merasa cemburu jika Algis bersama wanita lain apalagi ketika ia
melihatnya langsung.
Tentang perasaannya tiga tahun lalu yang berencana untuk tak lagi menyukai
Algis. Siapa sangka, ternyata hal itu hanya membuatnya menjadi semakin menyukai
Algis selama tiga tahun ini. Meski ia tak tahu bagaimana kabarnya, tapi
entahlah ia seperti punya firasat tersendiri yang yakin jika Algis belum
sepenuhnya dimiliki oleh seseorang. Lalu hari ini firasatnya terbukti, jika
Algis belum bersama seseorang. Tapi tetap saja, ada banyak kemungkinan degan
kehadiran Algis seorang diri ke pesta pernikahan temannya ini. Melihat
teman-temannya yang lain datang bersama pasangan mereka masing-masing, entah
istri ataupun kekasih, kedatangan Algis sendirian ke pesta pernikahan ini
seolah memberi harapan pada Kaelyn jika Algis benar-benar masih sendiri. Belum
memiliki kekasih, dan belum menikah.
“Hey.” Sapa
seseorang yang suaranya terdengar familier. Kaelyn, Radley, Edward, dan Alice
seketika menoleh ke sumber suara. Mereka lalu tersenyum begitu melihat orang
yang menyapa mereka.
“James!!
Sudah lama tak bertemu.” Radley langsung berdiri, bersalaman, lalu memeluknya
singkat.
James juga
tersenyum, ia juga merasa senang bisa bertemu dengan mereka.
“Kalian
benar-benar manusia super sibuk ya.” Katanya sambil duduk disalah satu kursi
kosong disana.
“Hey, aku
bahkan masih bisa bermain sosial media. Kita bahkan bertemu tahun lalu.”
Sangkal Radley.
“Ohya?”
ucap Kaelyn tak tahu mengenai hal itu.
“Aku juga
ikut.” Timpal Alice, yag artinya Edward juga ikut.
“Nah ini. Nona
Kaelyn, yang paling sibuk. Aku DM bahkan tak ada jawaban hingga hari ini,
dibacapun tidak.” Omel James kemudian.
Kaelyn memasang
wajah terkejut. “Benarkah? Sudah lama aku tidak membuka sosial media.”
“Benar-benar
manusia sibuk ya kau. Apa kau sekarang menjadi workaholic?” tanya James.
Kaelyn
terkekeh. “Tentu saja tidak. Aku sangat menjunjung tinggi aturan jam kerja. Hanya
saja memang banyak yang aku lakukan diluar pekerjaan.” Ungkap Kaelyn.
“Nah kan.
Tetap saja kau yang paling sibuk. Sulit sekali dihubungi.”
“Kau harus
memberi kesan misterius jika mengiriminya pesan. Maka dia akan membalasmu
karena penasaran, atau takut juga itu hal penting. Kau pasti langsung
menjelaskan niat dan tujuanmu menghubunginya kan?” kata Edward, mendapat
ekspresi terkejut dari James.
“Kau benar.
Ternyata harus dibuat seolah itu hal penting ya.” James mengangguk-angguk. “Oke.
Aku mendapat pelajaran baru hari ini.” Lanjutnya.
“Eh, ngomong-ngomong kau sudah bertemu Algis?” James berbicara pada mereka
berempat, tapi tatapannya hanya pada Kaelyn.
Kaelyn yang
merasakan tatapannya, seolah terdorong harus ia yang menjawab pertanyaan itu.
“Tadi sempat lihat, tapi belum menyapanya.” Jawab Kaelyn.
“Oh ya?
Sepertinya dia belum melihat kalian. Nanti aku suruh dia kesini. Aku pergi
dulu, ternyata menajdi groomsmen tak semudah yang aku kira.” Katanya lalu pamit
pergi.
“Kenapa
tidak kau saja yang pergi menemuinya?” ucap Radley, sambil melahap makanannya.
Kaelyn
yang merasa ucapan Radley adalah
untuknya langsung menoleh. “Kenapa? Dia juga mungkin ingin bertemu dengan
kalian juga. Biar saja dia yang kesini, bukankah lebih mudah?” ucap Kaelyn.
“Dia
mungkin ingin menghampirimu disini. Tapi tiga tahun lalu, kau yang pergi begitu
saja darinya bukan? Bukankah sekarang seharusnya kau yang jalan kembali
padanya?” ucapan Radley seketika membuat mereka terkejut, ucapannya terdengar
sangat dewasa.
Kaelyn yang
mendengar hal itu seolah tersadarkan, tapi hal itu tak membuatnya yakin jika
Algis juga menyukainya.
Tak lama
kemudian Janet dan Andrew datang ke meja mereka. Setelah berkeliling menyapa
orang-orang, kini mereka sudah duduk di meja Kaelyn dan yang lain.
“Aku senang
sekali kau bisa datang hari ini.” Ucap Janet bersemangat, tangannya menggenggam
dan menggoyang-goyangkan tangan Kaelyn. Kaelyn hanya tersenyum dengan
kelakuannya.
“Kau tidak
berubah ya.” Ucap Kaelyn. “Aku juga senang bisa datang hari ini.” Lanjutnya.
“Kau sudah
bertemu dengan Algis?” lanjut Janet.
Kaelyn
hampir mengeluh mendengar pertanyaannya. Dia sudah dibuat pusing dengan ucapan
Radley tadi, kini Janet juga malah mengingatkannya. Kaelyn merasa yakin dengan
perasaannya, tapi entah kenapa ia tak yakin pada dirinya sendiri untuk ingin
memiliki Algis menjadi seseorang dalam kehidupannya.
Kaelyn
hanya menggeleng menjawab pertanyaan Janet.
Alice yang
paham dengan situasinya, ia langsung mengalihkan pembicaraan.
“Kalian bagaimana bisa bertemu?” tanya Alice pada Janet dan Andrew.
Janet
melihat pada Andrew lalu tersenyum. Tangannya ia lingkarkan pada lengan Andrew.
“Tiga tahun
lalu.. kalian tahu kan jika aku mengungkapkan perasaanku pada Algis?” Mereka
seketika terdiam lalu mengangguk pelan. “Saat itu aku mengungkapkannya di depan
teman-temannya, termasuk ada Andrew disana.”
*flashback*
Tiga
tahun yang lalu.
Di
lorong kampus banyak para mahasiswa dan mahasiswa yang masih menggunakan toga.
Mereka baru menyelesaikan wisuda mereka, banyak keluarga dan teman-teman dari
para mahasiswa-I yang berkumpul dan datang untuk memberi selamat atas kelulusan
mereka.
Janet
berjalan menuju sekumpulan pria bersama kedua temannya Helen dan Anna.
Sekumpulan pria itu merupakan Algis, James, Daniel, dan lima teman SMAnya.
Janet
dengan berani menanggil Algis.
“Algis.”
Panggilnya, tak jauh dari tempat para pria itu berkumpul. “Bisa bicara
sebentar?” tanyanya kemudian.
Kemunculan
Janet menarik perhatian teman-teman Algis. Ada yang bersorak pelan, ada juga
yang hanya terdiam memperhatikan.
Algis
langsung menghampiri Janet dan memang tak jauh dari tempatnya berkumpul dengan
teman-temannya. “Ada apa?” katanya kemudian.
“Aku
ingin mengatakan sesuatu.” Kata Janet.
“Apa
kita perlu pergi ke tempat yang lebih tenang?” usul Algis, yang langsung
mendapat gelengan dari Janet.
“Tidak
usah. Disini saja.”
Algis
mengangguk, lalu terdiam, ia menunggu Janet mulai berbicara.
“Umm..
Kau tahu aku menyukaimu kan?” tanya Janet, membuat teman-teman Algis terkejut
mendengarnya.
Algis
yang mendengarnya tak memasang wajah terkejut. Ia tahu, ia dapat merasakannya.
Janet
kemudian meralat ucapannya. “Aku menyukaimmu.” Katanya kemudian cepat. Volume
suaranya kali ini terdengar lebih keras dari sebelumnya, membuat orang-orang
yang ada disekitarnya pun ikut mendengarnya.
Algis
lagi-lagi hanya terdiam.
“Ini
bukan hanya sekedar mengungkapkan. Aku ingin kau menjadi pacarku.” Kata Janet
melanjutkan ucapannya.
Teman-teman
Janet dan Algis semakin terkejut dengan ucapan Janet barusan. Jarang terjadi
seorang wanita meminta hal itu lebih dulu. Teman-temannya seharusnya pergi
ketika obrolan mereka lebih serius seperti ini, tapi entah setan darimana
mereka malah menjadi lebih penasaran dengan hal yang akan terjadi selanjutnya,
terutama jawaban Algis mengenai hal itu.
“Kau
tahu aku menyukai wanita lain kan?” tanya Algis dingin. Membuat teman-temannya
dan Janet semakin terkejut.
“Apa tak
ada celah untukku?” tanya Janet.
“Maaf.”
Jawab Algis. “Bahkan walaupun ada, aku akan mengisinya untuk dia.” Lanjutnya.
Janet
mulai meneteskan air mata.
Algis
pun mulai berpaling dari Janet, berjalan menjauh darinya dan teman-temannya.
*flashback
end*
Mendengar
cerita Janet, mereka semua terkejut. Ini pertama kalinya mereka mengetahui hal
itu.
“Hari itu,
aku menangis sendiri menjauh dari orang-orang bahkan keluargaku. Lalu kemudian
Andrew menghampiriku, menghiburku, yang entah mengapa saat itu juga aku tak
lagi merasakan sakit hati. Sejak saat itu kita menjadi dekat, setahun kemudian
kita berpacaran, dan dua tahun kemudian kami menikah.” Lanjut Janet
bersemangat. Ia menunjukkan cincin di jari manisnya sambil tersenyum.
“Saat itu
Al sepertinya pergi untuk wanita itu. Tapi Al bilang dia sudah pergi lebih
dulu.” Ungkap Andrew kemudian.
Kaelyn
membeku, ia kembali ingat kejadian tiga tahun lalu. Ia ingat Algis
menghampirinya, sepertinya ingin mengatakan sesuatu. Tapi saat itu Kaelyn sibuk
untuk buru-buru pergi dari dirinya. Kini ia merasa bersalah, rasanya kesempatannya
sedang terbuang sia-sia.
“Selama
tiga tahun ini aku dan yang lain sudah sering mengenalkannya pada wanita, tapi
sepertinya tak ada yang terlihat atau bahkan terasa menarik baginya.” Kata
Andrew. “Biasanya dia yang sering memikat para wanita, tapi entahlah wanita
macam apa yang bisa-bisanya membuatnya begitu terpikat seperti itu.” Lanjutnya.
Yang
lainnya tak merespon ucapan Andrew, mereka saling lihat-lihatan dan sesekali
melihat pada Kaelyn.
Tak lama
kemudian Kaelyn pun bangun dari duduknya lalu pergi dari sana tanpa mengucapkan
apa-apa.
“Kau tak
tahu siapa wanita itu?” tanya Janet pada Andrew.
Andrew
tersenyum, “Tentu saja tahu. Bagaimana tidak, Al bahkan terang-terangan
menanyakan keadaan Kaelyn pada kita, menyuruh kita untuk mencari tahu
tentangnya.”
*flashback*
“Kau
tahu aku menyukai wanita lain kan?” tanya Algis dingin. Membuat teman-temannya
dan Janet semakin terkejut.
“Apa tak
ada celah untukku?” tanya Janet.
“Maaf.”
Jawab Algis. “Bahkan walaupun ada, aku akan mengisinya untuk dia.” Lanjutnya.
Janet
mulai meneteskan air mata.
Meski
perasaan ini belum bisa dibilang sebagai cinta sejati, tapi tetap saja
mengetahui secara langsung orang yang kita sukai ternyata menyukai wanita lain
dan tak ada niat untuk membuka hati untuk wanita lain. Itu tetap terasa
menyakitkan. Ditambah lagi Janet sudah memiliki harapan jika pengungkapannya
ini paling tidak ada peluang 0,01% untuk diterima. Namun kenyatannya, bahkan
peluang 0% pun tidak pernah ada.
Algis
pun mulai berpaling dari Janet, berjalan menjauh darinya dan teman-temannya.
Janet
kemudian berlari mengejar Algis, menghadangnya dari depan, menghentikan Algis
berjalan.
“Apa itu
Kaelyn?” tanya Janet pelan.
Algis
melihat pada Janet. “Aku harap aku yang pertama kali mengatakan padanya.”
Ucapnya, terdengar seperti permintaan juga, ia lalu kembali berjalan melewati
Janet.
*flashback
end*
**
Kaelyn
keluar dari ruang makan dengan perasaan yang tergesa-gesa. Rasanya ia telah
menghabiskan waktu untuk menunggu, padahal jika ia menghadapi dengan lebih
dewasa kejadian tiga tahu lalu ia tak perlu menunggu selama ini dengan perasaan
was-was jika mungkin Algis berakhir dengan wanita lain.
Kaelyn
berjalan cepat, hampir berlari ke segala penjuru tempat area pernikahan. Ia tak
menyangka tempat ini akan begitu besar. Ia pergi ke aula pernikahan, tempat belakang
area pernikahan, halaman belakang, halaman depan hingga ke parkiran.
**
James
kembali datang ke meja makan Radley dan yang lain, kali ini ia datang bersama
Daniel dan Algis. Disana masih ada Janet dan Andrew.
Mereka
saling bersalaman, menyapa dan basa basi singkat, hingga kemudian Algis
bertanya mereka seketika terdiam.
“Kaelyn
mana?” tanyanya. Setelah ia memastikan jika diantara mereka tidak ada keberadaan
Kaelyn.
“Tadi dia keluar.
Sepertinya mencarimu.” Kata Andrew buka suara.
Tak lama
kemudian, Algis kemudian langsung pergi keluar dari ruang makan. Ia mencari
keberadaan Kaelyn.
**
Pencarian
Kaelyn terhenti di area upaca pernikahan, tempat Janet dan Andrew tadi mengucap
janji suci. Ia mulai membuka handphonenya, entah mengapa ia mendapat dorongan
untuk membuka sosial medianya yang sudah lama tak ia buka. Ada dorongan untuk
menghubungi Algis lewat sana, karena tiga tahun lalu Kaelyn benar-benar mencoba
melupakan Algis, menghapus nomornya, hingga mengganti nomor miliknya sendiri.
Kaelyn
membuka akun Instagram dan Twitter miliknya, terdapat banyak pesan yang belum
dibaca. Benar saja, ada beberapa pesan dari James, teman-teman UKM nya, hingga
teman-teman SMA nya, dan yang paling menarik perhatian darinya adalah pesan
dari Twitter. Terdapat banyak pesan dari sana, tapi hanya dikirimkan oleh satu
orang. Algis.
Kaelyn
membuka pesan tersebut. Terdapat pesan dari tiga tahun lalu hingga kemarin.
Algis
November,
2019
Hey. Aku
tak bisa menghubungi nomor teleponmu, apakah kau ganti nomor? Bisa hubungi aku?
Ada yang ingin aku bicarakan.
Ngomong-ngomong,
aku tak pacaran dengan Janet.
Januari,
2020
Hey. Ini
aku.
Aku dengar kau pergi ke London. Aku tak tahu kau akan pergi.
Ada yang ingin aku bicarakan.
Mungkin bisa hubungi aku?
Desember,
2020
Aku
bertemu Radley dan Edward tadi. Katanya kau juga ada disini, tapi tak ingin
ikut kumpul. Sepertinya kau memang menghindariku ya?
Januari,
2021
Hey..
Selamat ulang tahun. Aku membuat playlist lagu setelah sekian lama. Lagunya
mengingatkanku padamu.
https://open.spotify.com/playlist/1URkTey8Q7d3uB6h47bCFP?si=kRPHRCGURw2Oi0Xf7Rd0tw
April,
2021
Hey. Ini
Aku lagi. Aku sedang di London. Aku tak tahu kenapa aku kesini, sepertinya
ingin mencarimu. Tapi aku tak tahu harus mencari kemana. Kau bahkan tak membaca
pesanku kan?
Tapi disini menyenangkan, kau pasti sangat betah disini.
Januari,
2022
Sudah
bulan Januari lagi. Aku tak tahu harus bagaimana, ada yang ingin aku bicarakan,
tidak banyak, hanya saja ini sudah tertahan cukup lama. Aku tahu ini terlambat,
tapi lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali bukan?
Sudah lama tak melihatmu. Apa hanya aku yang merasa rindu?
Ngomong-ngomong, selamat ulang tahun Kaelyn.
Yesterday
November, 2022
Aku
merindukanmu.
Kaelyn
membeku ditempat begitu membaca pesan-pesan yang Algis kirim.
Ia pikir hanya dirinya. Ternyata bukan hanya dirinya. Rasanya ia sudah membuat
kesalahan pada dirinya sendiri maupun pada Algis.
Kaelyn
menengok ke depan, ia merasakan ada seseorang yang datang di depannya dan kini
sedang melihat kearahnya. Benar saja. Algis sudah berdiri di depannya, jaraknya
masih cukup jauh, tapi sudah cukup untuk memastikan jika Algis sedang
melihatnya.
Kaelyn tak
berkata apa-apa, tapi tatapannya terus melihat pada Algis. Begitu juga dengan
Algis, ia untuk beberapa saat hanya berdiri di tempat sambil terus melihat pada
Kaelyn.
Algis
kemudian mulai berjalan mendekat pada Kaelyn, sedangkan Kaelyn hanya terdiam
ditempat.
“Aku tak
tahu akan membutuhkan waktu selama ini untuk akhirnya bisa berbicara denganmu
lagi.” Katanya begitu berada tepat di depan Kaelyn.
Kaelyn tak
mengatakan apa-apa. Matanya masih terus tertuju pada Algis, pada wajahnya, pada
matanya. Jantungnya berdegup sangat kencang. Tangannya rasanya bergetar karena
tak percaya. Kaelyn merasa gugup, juga tak percaya, yang ia lihat hari ini
terasa begitu indah hingga rasanya seperti mimpi.
“Aku bisa
mengatakannya sekarang?” tanya Algis, seperti melanjutkan pesan yang ia kirim
selama ini.
Kaelyn
terdiam sejenak lalu mengangguk pelan.
“Aku tahu
ini terlambat. Aku tak ingin mengulang semuanya. Aku ingin kita melanjutkan hal
yang belum kita lakukan. Aku tak menyesali hal yang membuat perasaan kita
tertahan selama ini, karena jika bukan karena itu aku tak akan seyakin ini
dengan perasaanku. Aku sudah menyukaimu, aku sudah jatuh cinta padamu, dan aku
tak ingin mengulang dimana aku belum yakin akan perasaanku saat itu. Karena
ternyata mengetahui aku mencintaimu lebih baik daripada aku tak menyadarinya
padahal aku sudah jatuh cinta.” Ungkap Algis, yang membuat Kaelyn membisu tapi
tak menghentikan jantungnya yang semakin berdegup kencang.
“Aku
mencintaimu.” Kata Algis. Seketika menghentikan jantung Kaelyn yang sedang
bergedup kencang. Kaelyn menahan matanya yang seperti akan meneteskan air mata.
“Kau boleh
menangis, atau aku yang menangis.” Ucap Algis bercanda.
Kaelyn
kemudian tertawa kecil mendengarnya, ia lalu mulai meneteskan air mata.
Algis
berjalan lebih dekat pada Kaelyn lalu memeluknya.
“Maaf aku
terlambat.” Katanya dalam pelukan.
“Maaf juga
karena aku egois.” Kata Kaelyn seraya membalas pelukan Algis.
The End.

Comments
Post a Comment