Hati dan Logika

 


 

Bagaimana bisa sebuah hati berjalan sendiri tanpa perlu adanya logika.

Bagaimana bisa aku kembali luluh setelah susahnya melupakan.

Andai aku punya mesin waktu.

Ingin ku kembali di waktu kita bertemu dan memilih pilihan lain agar kita tak pernah bersatu.

 

Bagaimana bisa kamu menyapaku seolah luka itu tak pernah ada.

Bagaimana bisa kamu berlalu seolah rasa itu tak pernah ada.

 

“Dara!”

Suara seorang pria memecah bisingnya suara kereta dan para calon penumpang keretanya. Suara seseorang yang aku harap tak akan pernah aku dengar lagi.

“Gimana kabar kamu?” Tanyanya setelah menghampiriku.

 

Aku membisu dihadapannya.

Tubuhku mengharapkan diri ini pergi tanpa perlu menjawab pertanyaannya.

Senyumnya masih sama, seperti yang pernah aku liat waktu itu.

Aku tersenyum, bukan senyuman yang biasanya.

Aku merasakan sakit itu hadir lagi.

 

“Udah lama gak ketemu ya. Udah berapa tahun ya.”

“Tujuh tahun.” Jawabku, setelah terdiam beberapa saat.

“Tujuh tahun? Wahh, udah lama banget ya. Kamu gimana kabarnya? Udah nikah?”

Aku kembali terdiam, lalu menggeleng pelan.

“Wahhh sepertinya Dara yang dulu aku kenal udah berubah ya. Dulu kamu pengen banget nikah muda, tapi sekarang udah mau 29 tahun masih ngejar karir ya.”

Aku terdiam sejenak.
“Tujuh tahun emang kedengeran lama. Tapi bagi aku itu kaya masih kemarin Arga.” Ucapku yang mungkin terdengar ketus.
“Dan juga, aku tak pernah ingin menikah muda.” Lanjutku.

Seketika, aku melihat senyumnya hilang.
“Tujuh tahun itu lama Dara.”

Saat aku hendak pergi, aku melihat seorang wanita dan dua anak kecil menghampiri kami. Aku membeku ketika mereka semakin dekat. Disisi lain hatiku berharap mereka bukan seperti yang aku pikirkan.

“Temen kamu Sayang?” tanya wanita itu pada Arga.

 

Hatiku runtuh.

Entah kenapa harus runtuh, tapi melihat kenyataan ini, diriku belum siap.

Tujuh tahun ini aku benar-benar mencoba menghapus dirinya dari hidupku. Tak ingin mengharapkan apapun dari dirinya lagi. Aku benar-benar ingin menghentikan perasaan ini dan melupakannya dari hidupku. Kenyataan bahwa kita harus berakhir sangat membuatku terluka. Meski hatiku tahu jika rasa ini tak bisa hilang begitu saja, namun logikaku tahu jika aku harus menyelesaikan semua tentangnya.

Namun siapa sangka, sapa itu malah kembali luluhkan aku. Luluhkan aku pada rasa sakit itu lagi.

 

Arga menoleh lalu tersenyum pada wanita itu.

“Sayang. Iya ini temen SMA aku, Dara. Dara kenalin ini istri dan anak-anakku.”

Aku masih membeku. Melihat mereka membuat logikaku tersadarkan bahwa waktu sudah lama berlalu. Tapi aku masih tertahan.

“Halo Dara. Aku Tiara, istri Arga.” Ia mengulurkan tangannya sambil tersenyum.

Aku terdiam sejenak sambil melihat tangannya, lalu meraih tangannya. “Dara.” Kataku.
“Kalau gitu, aku duluan ya.” Kataku kemudian, lalu pergi menjauh dari mereka. Mengabaikan panggilan Arga yang entah mau apa lagi.

 

Namun anehnya, setelah menjauh dari mereka, rasanya dada ini semakin sesak. Pandanganku pun mulai buram, semakin lama semakin buram.
Seketika air mataku terjatuh.
Aku terhenti. Aku menangis dalam hening. Terduduk di tempatku berdiri.

Bagaimana bisa hadirmu begitu menyakitkan.

Aku bahkan sudah melupakanmu. Tapi kenapa rasa sakit itu masih ada. Tujuh tahun ini tak pernah mudah bagiku. Meski terasa sebentar, tapi aku tahu tujuh tahun itu lama.

Selama itu juga aku berusaha melupakanmu.

Sepertinya otakku sudah membohongi hatiku. Tentang aku sudah melupakanmu, sepertinya itu hanya bualan yang menyenangkan telinga. Karena sepertinya hatiku tak pernah sedikitpun melupa.

Hadirnya akan selalu membuatku teringat akan perasaan itu. Semua perasaan yang ada tentangnya. Entah itu bahagia ataupun sakit.

 

*

 

Suasana sekolah pada jam istirahat selalu berisik, para siswa-siswi berlalu-lalang, ada yang menuju kantin, ada yang pergi ke kelas lain, ada yang berkumpul di beberapa area di sekolah. Sedangkan aku, sedang berdiri di balkon depan ruang kelas melihat para siswa yang sedang bermain bola di lapangan bawah. Lebih tepatnya melihat satu orang manusia yang beberapa hari lalu menarik perhatianku, yang entah bagaimana aku baru menyadari kehadirannya di sekolah ini. Dia juga manusia pertama yang membuatku yakin bahwa dia adalah “orangnya”.

Pandanganku tak berhenti melihat padanya, arah pandangku terus mengikutinya mengitari lapangan bola. Semakin hari rasanya perasaanku semakin tak terkendali, manusia itu mampu membuatku yakin jika aku telah jatuh cinta. Setidaknya, begitu yang aku pikirkan.

“Dara, ayo masuk, udah bel.” Panggil temanku yang sejak tadi ada disampingku berbincang dengan yang lain.

“Iya bentar.” Kataku padanya, mataku masih memperhatikan manusia itu sampai ia kembali ke kelasnya.

Namun sesaat sebelum ia masuk ke kelasnya, aku yakin ia mendapatiku sedang melihatnya. Karena untuk beberapa detik, ia terhenti di ambang pintu masuk dan pandangannya melihat ke arahku. Pandangan kami tertahan sampai terhenti karena guru sudah mulai datang ke kelas.

Kejadian itu, sangat mendebarkan hingga membuatku tak bisa fokus pada pelajaran selanjutnya.

Tak terasa bel pelajaran selesai berbunyi, bel itu juga menandakan bahwa pembelajaran hari ini sudah selesai. Para siswa kembali berisik sambil merapikan buku-buku pelajaran mereka ke dalam tas, bersiap untuk pulang. Meski tak ada satupun yang aku ingat dari pembahasan pelajaran terakhir, aku tetap senang karena bisa pulang dan melihat pria itu lagi. Aku merapikan tasku dengan cepat, lekas keluar kelas agar tak melewatkan pria itu yang lebih dulu meninggalkan sekolah.

Begitu aku keluar kelas, aku terkejut karena melihat pria itu berada tak jauh dari kelasku. Aku melihatnya di arah tangga, dia baru sampai di lantai dua. Namun yang membuatku semakin terkejut adalah dia melihatku begitu ia menyadari jika aku ada disana. Arah pandanganku pun tak aku alihkan, aku menantikan kehadirannya dihadapanku. ‘Jika dia akan mengomel karena aku melihatnya tadi saat jam istirahat, aku tinggal memberikan alasan apapun, tak peduli jika terdengar tak masuk akal sekalipun.’

Benar saja. Dia berhenti dihadapanku.

“Kamu yang tadi kan?” tanyanya langsung.

Beberapa orang yang melewati kami, menoleh penasaran karena merasa ini adalah kejadian yang tak biasa.

Aku terdiam sejenak. “Iya. Kenapa?” jawabku tegas, menunjukkan jika aku tak takut dengan omelannya selanjutnya.

“Aku Arga.” Katanya sambil mengulurkan tangannya.

Aku membeku. Terkejut dengan yang aku dengar. ‘Dia memperkenalkan dirinya? Apa itu perlu jika ingin mengomel?’

“Lalu?” kataku ketus. Menahan agar perasaanku tak terlihat olehnya.

Dia memiringkan kepalanya, bingung dengan balasanku.

“Apa aku harus bilang kalau aku tertarik sama kamu biar kamu kasih tau nama kamu?”

Aku kembali membeku. ‘Apa ini yang namanya mimpi jadi nyata?’ ‘Pria yang membuatku jatuh cinta menunjukkan ketertarikannya juga padaku?’

“Kamu gak akan terima jabatan tangan aku?” katanya menyadarkanku.

Spontan, aku pun langsung menerima uluran tangannya.

Dia tersenyum melihat tingkahku yang canggung.

“Jadi nama kamu?” tanyanya lagi, tangan kami masih bertautan.

“Ah. Dara.” Jawabku cepat.

“Dara…” ia mengulang ucapanku.

Aku mengangguk, sambil terus melihatnya. Rasanya tak nyata. Masih tak menyangka pria yang selama ini aku lihat dari kejauhan kini ada di depanku, bahkan aku bisa menyentuhnya.

“Ah.” Seruku, lalu melepas jabatan tangan kami yang sudah tertahan cukup lama. Cukup lama dari biasanya orang berjabatan tangan untuk berkenalan.

“Kita bisa pulang bareng?” tanyanya yang kembali membisukanku.

 

Hari itu adalah hari pertama kami berbincang. Obrolan ringan yang cukup membekas untuk dijadikan sebuah kenangan. Sebuah interaksi yang tak pernah aku sangka sebelumnya. Angan-angan yang perlahan menjadi kenyataan terus membayangiku bahwa semua yang terjadi tentangnya -atas kita, adalah nyata.

 

Aku membuka sebuah amplop berisikan surat kecil yang Arga berikan padaku tadi siang saat jam istirahat.

“Karena nanti sore kita gak bisa pulang bareng, ini surat buat kamu. Baca nya nanti aja ya setelah sampai rumah.” Kata Arga saat ia memberikan surat itu padaku.

Setelah hampir tiga bulan kami dekat, ini pertama kalinya kami tak pulang sekolah bersama sejak hari pertama kami berkenalan.

Senyumku langsung tergambar ketika membaca kalimat pertama surat itu.

‘Pada manusia yang tak peduli pada manusia’

Sejauh ini yang aku tahu, Arga adalah orang yang paling mengenalku. Meski baru tiga bulan kami kenal, tapi rasanya seperti teman lama yang baru bertemu lagi. Semua hal remeh kami ceritakan satu sama lain, hingga tak sadar mengungkapkan hal-hal yang terlewat privasi. Saat hal itu terjadi, kami akan terdiam sejenak lalu tertawa, menertawakan informasi yang seharusnya tidak terungkap.

Mengenalnya bagaikan sebuah anugerah bagiku. Mencintainya adalah bonus yang didapatkan.

Tak pernah aku duga bahwa aku akan benar-benar jatuh cinta pada manusia satu ini. Pikiranku yang selalu menyuruhku sadar bahwa menyukainya adalah hanya sebatas perasaan. Namun ternyata kini aku sadari, jika harapan tanpa tindakan akan selalu menjadi sebatas harapan.

Aku bersyukur dia mengajarkanku hal itu. Bahwa tindakannya hari itu benar-benar mengubah cara pandangku terharap sebuah perasaan dan harapan.

‘Pada manusia yang tak peduli pada manusia.
Apa kamu tau apa yang membuatmu berbeda dari yang lain?
Bukan tentang bagaimana kamu tidak peduli dengan omongan orang lain atas hubungan kita saat ini.
Tapi tentang bagaimana aku menganggapmu berbeda dari perempuan, bahkan manusia yang sudah aku temui sejauh ini.
Aku tak tau apakah kamu masih ingat dengan pertemuan pertama kita.
Tapi, aku ingat sekali.
Tatapan seorang manusia yang entah mengapa membuatku terasa tenang dan hangat.
Sebenarnya sampai saat ini pun aku tak tau kenapa tatapan itu terasa berbeda dengan tatapan orang lain padaku.
Namun yang bisa aku pastikan saat ini adalah, sepertinya aku sudah jatuh cinta padamu.
Mungkin ini cinta pada pandangan pertama.
Tapi aku selalu menyangkal bahwa hal seperti itu tak mungkin terjadi.
Hingga setelah beberapa bulan berlalu, dan aku menyadari jika perasaanku ada bukan karena ia akhirnya tertanam. Melainkan karena ia sudah ada dan semakin hari semakin berkembang.

Maka dari itu, Dara.
Di dunia yang ramai dan dingin ini, aku ingin memiliki seseorang yang membuatku tenang dan menghangatkan.

Sekarang, apa kamu bisa keluar?’

Kalimat terakhir dalam surat itu membuatku bingung. ‘Apa dia salah tulis?’ pikirku, namun aku mencoba memastikan kalimat itu lalu pergi keluar.

Aku terkejut, tubuhku mematung seketika membuka pintu rumah.

Terlihat ada Arga sudah berdiri di halaman rumahku sedang membawa buket bunga mawar merah. Dibelakangnya ada teman-temanku dan teman-temannya memegang secarik kertas yang tersusun kalimat ‘Jadilah pacarku Dara’

Tanganku menutup mulutku. Aku benar-benar terkejut dengan yang ia lakukan.
‘Apa ini sebabnya ia tak ingin pulang bareng?’ pikirku.

“Dara!” panggilnya menyadarkanku.

“Apa ini..” kataku pelan masih tak percaya, seraya berjalan menuju Arga. Teman-temanku dan teman-temannya tersenyum gembira. Sepertinya mereka menikmati kegiatan ini.

Arga tersenyum lebar mellihatku.

“Apa ini..” aku mengulang ucapanku, sambil tertawa padanya.

Arga terus tersenyum, ia menyodorkan buket bunga yang ia pegang. Seranya mengucapkan beberapa kata.
“Dara. Entah apa yang bikin aku menyukai kamu. Tapi semakin hari, aku semakin sadar kalau perasaan ini bukan sekedar rasa suka biasa. Ada rasa ingin memiliki dan bersama disaat senang maupun sedih. Aku mungkin bukan pria yang sempurna, tapi aku akan pastikan bahwa aku adalah pria yang sempurna buat kamu, Dara.” Perkataan yang Arga lontarkan membuat teman-temanku dan teman-temannya merasa muak. Sepertinya mereka juga tak menyangka akan mendengar Arga berbicara seperti itu, sama sepertiku.
“Maka dari itu Dara. Apa kamu mau menjadi pacarku?” Arga melanjutkan kalimat terakhirnya untukku jawab.

Sedangkan aku masih tersenyum, namun air mataku rasanya tak terbendung. Ini bukan air mata kesedihan, melainkan air mata bahagia karena bisa melewati hubungan hingga sejauh ini.

Pertama kali melihatknya tak pernah terlintas dipikiranku Arga akan menyukaiku juga. Aku hanya berpikir ini mungkin hanya sekedar cinta bertepuk sebelah tangan. Dimana dalam sepanjang perjalanan kisahnya, hanya aku yang jatuh cinta sendirian, lalu pada akhirnya hanya aku juga yang akan menyelesaikannya sendirian. Tanpa ada yang tahu bagaimana perasaan ini terus berkembang bahkan saat ia tak pernah ada disisiku.

Saat ia tak ada disisiku saja rasa it uterus bertumbuh, apalagi ketika ia selalu ada bersamaku. Aku pikir perasaan itu akan mencapai klimaksnya.

 

Arga hendak berlutut seraya memberikan buket bunganya namun aku menahannya.

“Aku mau.” Kataku sambil memegang buket bunga yang juga masih Arga pegang.

“Mau apa?” tanya Arga usil, senyuman usilnya membuatku malu melihatnya.

“Aku mau jadi pacar kamu.” Kataku sekali lagi, lebih jelas.

Teman-temanku dan teman-teman Arga lalu berlari pada kami dan memeluk kami bersamaan. Mereka bersorak seolah rencana mereka juga berjalan dengan baik. Aku tertawa dalam pelukan mereka. Aku senang dengan kenyataan yang masih terasa mimpi ini. Arga selalu terasa bagaikan sebuah mimpi bagiku. Rasanya ia terlalu nyata untuk berada dalam pelukanku.

Arga melepas pelukannya, ia mengelus kepalaku sambil tersenyum usil. Katanya ketika ia melakukan itu karena aku terlihat lucu saat sedang cemberut. Tapi justru karena ia melakukan itu, aku malah jadi tersenyum.

 

Sudah 6 bulan kami resmi berpacaran. Menikmati hari-hari penuh dengan kebahagiaan masa muda. Semua hal yang terjadi terasa begitu mudah dilalui. Aku bahagia menjalin hubungan dengan Arga. Rasanya tak ada sehari pun aku merasa marah padanya, meski terkadang ada tingkahnya yang jika dilakukan orang lain aku tidak menyukainya. Tapi karena itu dia, rasanya semua itu tak masalah.

Kalian mungkin bisa membayangkan bagaimana menyenangkannya menjalin hubungan di usia 17 tahun. Usia dimana kita masih polos sekaligus memiliki perasaan yang paling tulus, karena saat itu banyak hal yang baru pertama kali kita dilakukan.

 

“Aku ingin menikah denganmu.”

Kalimat sederhana yang bermakna besar.

Inilah pertama kalinya Arga mendeklarasikan bahwa ia menjalin hubungan denganku atas dasar keseriusan dan masa depan.

Arga melihatku dengan tatapan yang dalam dan serius. Sedangkan aku masih terkejut dengan kalimat yang ia ucapkan. Di usia yang masih muda ini, ia sudah merasa yakin untuk menikah denganku? Bukankah itu hal yang sangat mendebarkan?

Tawaku yang sejak tadi tersirat seketika hilang begitu mendengar ucapan Arga.

“Apa?” seruku bingung. Aku mendengar apa yang Arga ucapkan.

 “Apa aku pernah bilang kalau aku ingin nikah muda?” ucap Arga, aku langsung menggeleng.
Arga mengangguk lalu tersenyum. “Itulah yang aku rasakan saat bersamamu. Rasanya kalau sama kamu, semua hal bisa jadi mungkin.” Tutur Arga singkat.

“Memang apa yang gak mungkin?” tanyaku pelan.

“Menikah muda?” seru Arga sambil tersenyum usil.

Aku berdecak, menanggapi jawabannya yang seperti candaan.

“Aku pernah berpikir, kenapa ada orang yang menikah muda. Padahal mereka belum punya rumah, gaji mereka pas-pasan atau ada juga yang masih belum pekerjaan tetap, bahkan Tabungan juga hampir belum ada. Tapi mereka memutuskan untuk menikah? Apa yang sebenarnya mereka pikirin?” Arga terdiam sejenak.
“Tapi setelah aku ketemu kamu. Rasanya pertanyaanku itu terjawabkan.”

Aku memasang wajah penasaran, “Memang apa jawabannya?” tanyaku.

“Cinta.” Jawabnya mempesona. Aku terdiam terpana melihatnya. Entah sudah berapa kali aku dibuat jatuh cinta padanya.
“Setelah aku mengenal cinta, kayanya aku ngerti kenapa orang-orang memutuskan untuk menikah. Jawabannya ya mungkin karena mereka udah menemukan belahan jiwa mereka, dan gak ada alasan lain untuk cari yang lain.”
“Jadi aku rasa, mungkin dengan cinta, semua hal tak mungkin itu bisa menjadi mungkin.”

Aku tak bisa berkata-kata. Bagaimana bisa dia mengeluarkan kalimat seperti itu.
Membuatku semakin yakin itu aku telah jatuh cinta padanya.

“Aku gak nyangka kamu punya pikiran kaya gitu.” Kataku pelan.

“Kalau kamu gimana?” tanyanya kemudian.

“Pendapat tentang nikah muda?” tanyaku memastikan.

Arga menggeleng.
“Tentang menikah dengan aku.” Jawabnya yang membuatku tersenyum malu.

“Kalau itu kamu…” jawabku malu-malu, namun sepertinya Arga mengerti maksudku.

Pria itu tersenyum dengan jawaban singkatku. Ia mengelus kepalaku pelan. Lalu aku kembali dibuat jatuh padanya.

 

 

Hubungan asmara dengan lika-liku Pendidikan yang masih menjadi tanggung jawab di usia kami terasa sepele namun berdampak besar pada hubungan kami. Meski pada akhirnya kami masuk ke Universitas yang sama, namun dengan jurusan yang berbeda, semakin lama terasa waktu sibuk dan luang kami berbeda, yang pada akhirnya menjadi sumber pertengkaran kami. Setelah melewati masa sekolah yang penuh dengan kegembiraan. Ketika masuk ke masa kuliah, entah bagaimana semuanya terlihat lebih realistis.

Persoalan yang sebelumnya tak menjadi masalah, kini kami menjadi lebih sadar bahwa kini itu menjadi masalah.

“Kalau kita mau nikah setelah kelulusan, apa itu artinya aku harus ngelamar kamu waktu wisuda? Ah enggak, apa kelamaan? Waktu sidang skripsi?”

Mata Arga kembali berbinar ketika ia mengatakan mengenai pernikahan.

Sudah lima tahun hubungan kita berjalan, tak terasa waktu yang Arga tunggu akhirnya datang juga. Setelah aku meminta Arga agar kita menyelesaikan kuliah dulu baru menikah, meski dengan rengekan akhirnya ia pun setuju. Awalnya ia ingin kami menikah sebelum kelulusan, agar saat kelulusan hubungan kami sudah sah sebagai suami istri. Namun dari sisiku, jika pada akhirnya kita akan bersama, diundur pun tak akan jadi masalah bukan?

Namun mendengar ucapan Arga barusan, rasanya seperti memberi tekanan padaku. Aku sudah cukup dibuat pusing dengan laporan skripsiku, ditambah aku harus membantunya menyelesaikan skripsinya juga yang dimana materinya diluar dari yang aku kuasai. Tapi dia masih sempat-sempatnya memikirkan hal itu sekarang.

Bukannya menghiburku, ucapannya malah membuatku merasa makin kesal. Namun aku mengabaikannya, aku mencoba kembali fokus pada buku-buku yang ada didepanku.

“Kamu ada keinginan gak mau dilamar dimana?” ucap Arga lagi, aku kembali mengabaikannya.

“Hmm, kayanya aku harus nyiapin kejutan lagi kali ini. Terakhir aku kasih kejutan, apa waktu aku minta kamu jadi pacar aku ya?”

Arga terus mengoceh, dan aku terus mencoba fokus dengan yang aku baca.

“Kamu lagi apa sih? Aku ngomong kok malah dianggurin gini. Ini kan untuk masa depan kita.” Tegur Arga menutup buku yang sedang aku coba baca.

Aku menoleh pelan padanya.

“Apa kita gak bisa selesaiin ini dulu baru ngomongin itu?” tanyaku hampir membentak.

“Kalau bisa dua-duanya kenapa enggak?” balasnya.

“Tapi kan kamu janji kali ini kita bakal selesaiin ini hari ini.” Aku menunjuk ke arah buku dan laptop yang ada di meja.

“Dara. Ini tuh masih ada waktu. Kamu gak usah khawatir.” Ucapan Arga yang tenang malah membuatku semakin geram.

Mataku tertutup. Air mataku terasa seperti terkumpul. Aku raih belakang rambutku dan mengepalnya pelan namun bertenaga. Aku ingin menangis dengan situasi saat ini.

“Arga, ini tuh bukan sekali dua kalinya kamu bilang gitu. Ini udah hampir tiga bulan dan kamu masih belum selesaiin laporan kamu. Aku udah mau bantu, tapi kamu malah makin males-malesan. Kamu sebenernya niat buat lulus gak sih?” Aku menahan amarahku, sebisa mungkin aku berbicara senormal mungkin.

“Jadi kamu gak mau bantu aku? Sayang sama waktu berharga kamu itu buat bantu aku yang males-malesan?”

Aku tercengang mendengarnya. Bisa-bisanya dia membalikkan ucapanku.

“Aku gak ngerti sejak kapan kamu jadi kekanak-kanakan kaya gini.”

Aku lalu menutup laptopku, membereskan buku-bukuku, lalu pergi meninggalkan Arga yang terlihat frustasi. Entah karena menyesal telah berkata seperti itu, atau kesal dengan ucapanku yang lagi-lagi tak bisa ia terima.

 

Sudah hampir satu tahun ini kami lebih sering bertengkar. Rasanya semua persoalan bisa menjadi bahan pertengkaran kami setiap kali bertemu. Entah karena kami sama-sama sensitif karena ini tahun terakhir kami kuliah, atau memang kami yang sama-sama jenuh dengan hubungan kami.

Lima tahun kami sudah bersama, namun entah mengapa setiap Arga membahas tentang pernikahan, aku merasa ragu padanya.

Aku takt ahu apakah ini perasaan yang biasanya orang-orang rasakan jika akan melanjutkan ke jenjang pernikahan, atau memang Arga yang membuatku tidak merasa yakin untuk melanjutkan ke jenjang yang lebih serius dengannya.

Meski aku tahu jika aku mencintainya, dan bagaimana dia selalu membuatku merasa jatuh cinta. Namun berpikir untuk menikah dengannya.

Apa aku siap?

 

“Dara!” Arga memanggilku dari belakang.

Ini sudah dua hari sejak kejadian di perpustakaan.
Aku semakin marah padanya karena dia meminta maaf lewat pesan singkat hari itu dan tak menelepon atau menemuiku setelah itu.

“Dara! Tunggu sebentar!” panggilnya lagi hampir berteriak, kali ini aku mendengar suara langkah kakinya yang cepat, berlari mengejarku.

“Dara!” panggilnya lagi, tangannya menarik lenganku, membuatku berhenti berjalan.

“Apalagi.” Kataku ketus.

“Kamu kenapa masih marah. Aku kan udah minta maaf.” Katanya samil sedikit terengah.

“Memangnya kamu tahu apa salah kamu sampai harus minta maaf?”

Arga mendesah. “Ini lagi.” Gumamnya, namun dapat aku dengar.

“Jangan kamu pikir minta maaf bisa nyelesaiin masalahnya ya.”

“Dara…. Kamu juga kan tahu kalau nada bicara aku memang gitu. Kemarin waktu..”

“Dua hari lalu.” Ralatku memotong ucapannya.

Arga terdiam sejenak. Lalu membenarkan kata-katanya.
“Iya. Maksudnya dua hari lalu, nada bicara aku mungkin kedengeran agak keras tapi aku gak bermaksud marah ke kamu.”

“Aku tahu. Tapi bukan itu masalahnya.” Ungkapku, terlihat Arga kembali bingung.

“Terus apa masalahnya? Nanyain kamu tempat lamaran? Minta bantuan kamu untuk tugas? Karena aku leha-leha?”

“Nah itu tahu.” Kataku datar.

“Yang mana? Semuanya?”

Aku mengangguk, dia terkejut frustasi.

“Aku gak tahu harus bilang apa.” Ucap Arga pasrah.

“Arga. Sekarang ini kita sebagai mahasiswa punya prioritas sebagaimana seorang mahasiswa harus melakukan kewajibannya. Jadi saat ini yang harus kita pikirin itu juga hal yang berhubungan sebagai mahasiswa.”

Ucapanku terdengar begitu berbelit bagi Arga.

“Maksud kamu, aku gak boleh bahas tentang pernikahan?” simpul Arga tepat sasaran pada ucapan samarku.

“Serakang. Iya.” Kataku.

Arga menghela nafasnya.
“Boleh aku tanya sesuatu?” tanyanya, aku terkesiap, tak menduganya.

“Apa?”

“Kamu sebenernya mau nikah sama aku atau enggak sih?”

Aku kembali terdiam. Kali ini aku gugup. Pertanyaannya adalah pertanyaan yang aku utarakan pada diriku juga akhir-akhir ini. Dan aku belum mendapatkan jawabannya.

“Apa diamnya kamu bisa aku simpulin sendiri?” ucap Arga lagi, yang tak tahan dengan diamku.

“Jangan.” Kataku cepat.
“Aku mau nikah sama kamu, tapi aku gak tahu apakah ini waktu yang tepat.” Lanjutku pelan, namun masih terdengar oleh Arga.

“Tepat? Maksudnya waktu yang tepat itu kaya apa?
Kita udah bahas untuk menikah setelah wisuda. Apa sekarang kamu ngerasa itu juga bukan waktu yang tepat?”

Aku melihat padanya. Pada matanya. Ekspresinya terlihat seperti menahan kekesalan.

“Aku gak tahu apakah aku siap.” Jawabku sambil menatap matanya.

Arga mengangkap alisnya, terkejut dengan jawabanku yang seperti candaan bagi Arga.

“Kamu bercanda.” Katanya sambil tersenyum kecut.

Aku terdiam tak menyangkalnya. Karena memang begitulah yang aku rasakan.

“Aku gak tahu harus gimana.” Ungkapnya. Ekspresinya terlihat marah. Dia mengalihkan pandangannya, tak ingin melihatku.

Aku masih terdiam, aku merasa tak enak karena mengatakannya.
Arga sangat menantikan hari itu, tapi ini sudah kedua kalinya aku mengatakan belum waktunya.

“Kamu gak mau lepasin aku, tapi gak mau nikah sama aku juga? Gitu?” tanyanya lagi, setelah ia menata amarahnya agar tak meledak.

“Bukan gitu…”

“Terus apa apa? Kamu selalu ngundur dan gak kasih aku kepastian apa kamu mau nikah sama aku atau enggak.” Suaranya sedikit meninggi, membuat beberapa orang yang ada disekitar sana menoleh kearah kami.
“Terus kalau ini diundur lagi. Apa kamu yakin mau nikah sama aku?
Jujur aja, kalau aku ‘enggak. Aku ak yakin kamu bakal ‘ngerasa siap’ buat nikah sama aku.
Karena rasanya kamu selalu gak siap.”

Arga betul-betul marah padaku. Kepalaku menunduk. Benar-benar merasa berasalah.

“Pernikahan itu bukan tentang kesiapan, tapi tentang kesediaan kamu menjalani hidup dengan orang yang kamu yakini.” Kata Arga lagi.

Aku mendongak melihatnya. Ucapan Arga tak salah. Tapi justru itu masalahnya.
‘Orang yang kamu yakini’

Aku tak yakin dengannya.

“Aku gak yakin sama kamu.”

Entah mengapa, aku juga membencinya.

Wajah Arga terkejut. Sepertinya ia benar-benar tak menyangka aku akan mengatakan itu.

Untuk beberapa saat Arga tak mengatakan apa-apa, begitu juga denganku, menunggu respon Arga selanjutnya.

Saat itu aku pun sudah pasrah jika harus menyelesaikan hubungan kita. Karena aku tak ingin malah membuatnya semakin tersakiti dengan ketidakpastianku ini.
Setelah mendapat pesan permintaan maaf Arga dua hari lalu, dan tak ada kabar lagi darinya selama dua hari ini. Aku banyak berpikir mengenai hubungan kami. Karena rasanya banyak hal yang berubah tak seperti itu. Entah memang begitu, atau mungkin aku yang sudah berubah sehingga tak merasa hal yang dulu aku rasakan cukup, terasa tak cukup sekarang.

Meski hubungan kamu sudah terjalin lama dan penuh dengan suka cita. Terkadang aku merasa kesepian disana. Rasanya seperti peran yang seharusnya ia lakukan untukku, tapi malah aku yang melakukan untuknya. Harapan-harapan agar dia bisa melakukan sesuatu untukku, tapi tak pernah melakukannya, membuatku kecewa dalam diam karena merasa dia tak mengenalku padahal sudah bersama selama lima tahun.

Lima tahun ini rasanya aku tak menerima hal yang aku inginkan darinya.
Rasanya aku yang jatuh cinta sendirian.
Dengan bodohnya.

“Harusnya kamu bilang dari dulu.” Kata Arga memelas.

“Maaf.” Kataku tak menyangkalnya. Meski nyatanya aku pun baru menyadarinya.

Arga terdiam untuk beberapa lama.
“Aku rasa hubungan kita gak bisa dilanjutin lagi.” Katanya kemudian.

Aku tak terkejut

“Aku gak tahu harus gimana.
Tapi, makasih atas waktunya selama ini.
Lima tahun.. Semoga kamu gak ngerasa itu sia-sia “

Aku mengangguk.
“Masalahnya aku. Bukan kamu. Maaf bikin kamu kecewa setelah lima tahun kita.”

Arga juga mengangguk, mencoba menerimanya.
“Iya.. Aku ngerti.”

Aku tersenyum kecut padanya. Dia tersenyum sekilas.

“Kalau gitu.. sukses sama skripsinya, aku yakin kamu gak akan kesulitan sama itu.”

“Kalau kamu perlu bantuan buat skripsi, aku bisa bantu kok.” Tawarku.

Arga langsung menggeleng.
“Gak perlu. Aku gak mau buang waktu kamu lagi buat orang kaya aku.”

Perkataannya, membuatku merasa bersalah.

“Arga.” Panggilku, menegur ucapannya.
“Aku bahagia sama kamu.”

Arga melihatku dengan ekspresi yang tak dapat aku baca.
“Aku senang mendengarnya.”

Setelah berpandangan cukup lama, Arga pun pamit pergi.
Meninggalkanku yang tak mampu melangkah dari tempat itu. Seolah setiap langkah Arga menyadarkanku pada kenyataan bahwa dia bukan hanya pergi dari tempat tadi ia berdiri, tapi juga dari kehidupanku.
Semakin ia menjauh dariku, semakin terasa sesak dadaku seakan tertarik oleh tubuh Arga yang meninggalkanku. Mataku mulai berkaca-kaca. Setiap kenangan sejak kami bertemu kembali terulang. Hari dimana pertama kali aku melihatnya masih terasa indah meski kini rasa sakit ikut menjadi bagiannya. Hari dimana dia menegurku, hari dimana aku jatuh cinta, hari dimana kami tertawa, hari dimana aku jatuh cinta, hari dimana dia menyatakan perasaannya, hari dimana aku jatuh cinta, hari dimana kami bersama, hari dimana aku jatuh cinta. Hingga hari dimana yang membuatku terluka, juga dirinya.

Aku memejamkan mataku, memperjelas kenangan kami yang kini akan hanya sebatas kenangan.

Tanpa suara, aku meneteskan air mata, menahan tangis karena ramainya orang belalu Lalang. Namun hati tak dapat menahan rasa sakit yang tak pernah aku rasakan sebelumnya. Membuat tubuhku merinding karena menahan tangis atas rasa sakit ini.

Mencintainya adalah hal yang paling terasa benar dalam hidupku.
Jatuh cinta padanya adalah hal yang paling membahagiakan bagiku.

Namun memikirkan bagaimana dia bisa melepasku tanpa ragu.

Membuatku bertanya-tanya, apakah selama ini hanya aku yang jatuh cinta.

 

Setelah hari itu, kami tak pernah berkomunikasi. Jika bertemu di kampus, dia selalu menghindariku. Lalu lama-lama, aku yang menghindarinya. Kami tak pernah bertemu lagi sejak hari itu. Bahkan pada hari wisuda, taka da dari kami yang menemui satu sama lain untuk mengucapkan sekedar selamat. Hari itu benar-benar hari terakhir kami bertemu dan berbincang.

Beberapa bulan setelah wisuda, aku mendapat berita dari temanku bahwa Arga mempunyai kekasih, mungkin lebih tepatnya calon istri. Karena saat itu adalah berita lamaran mereka. Lalu tak beberapa lama dari situ aku mengetahui pernikahannya. Arga benar-benar menikah di usia muda. Mimpinya untuk menikah muda tercapai.

Aku tersenyum melihat foto pernikahannya.

Senang karena dia bisa menggapai keinginannya.
Kesal karena rasanya hanya aku yang masih belum bisa melupakannya.

Meski sudah beberapa bulan berlalu, tapi rasanya seperti baru kemarin kita memutuskan hubungan kita.

Aku bahkan masih jatuh cinta padanya. Bisa bisanya.

 

Hari-hari aku lewati dengan segala upaya untuk melupakannya. Berhenti mencintainya. Perasaan tak rela ia memiliki orang lain selain aku masih terasa beberapa tahun sejak ia menikah.

Namun perlahan, aku pun mulai menerima.

Yakin dengan penyataan bahwa, “Apa yang ditakdirkan untukku, tidak akan melewatkanku.”
Dan jika pada kenyataannya dia sudah melewatkanku, maka itu artinya dia memang bukan buatku.

Aku belajar Ikhlas. Aku menerima kenyataan bahwa cintaku sudah waktunya selesai padanya.

 

Tujuh tahun berlalu. Aku sudah ikhlas. Namun aku masih ingat rasanya. Rasa sakitnya, rasa cintanya.

Sesosok pria seketika mencuri perhatianku. Memecah keramaian para penumpang stasiun kereta. Seolah yang lainnya hitam putih, dan hanya dia yang berwarna. Meski dari belakang, entah mengapa aku yakin dia siapa.

Aku terpana melihatnya.

Bersama seorang wanita sebayanya, dan dua anak kecil disekelilingnya.

Jantungku berdegup kencang.

Aku yakin dia siapa.

Aku segera memalingkan tubuhku sesaat menyadari pria itu sudah bergerak dan berbalik kearahku.

 

Bagaimana bisa kamu menyapaku seolah luka itu tak pernah ada.

Bagaimana bisa kamu berlalu seolah rasa itu tak pernah ada.

 

“Dara! Gimana kabar kamu?”

 

 

 

.Selesai.

Comments

Popular