Kecelakaan Hati

 



Aku tahu tak seharusnya merasakan perasaan ini. Tapi, aku bisa apa. Ketika pelukannya tiba-tiba terasa hangat dan hatiku tiba-tiba merayu jika dia yang aku inginkan selama ini.

Aku Mawar, gadis remaja yang masih duduk di bangku kelas tiga SMA. Salah satu murid yang cukup populer di sekolah karena kemampuan bersosialisasiku yang tinggi, dari para senior sebelumnya, para juniorku, hingga penjaga kantin dan satpam sekolah, mereka semua mengenalku.

Meski aku mudah bersosialisasi, hanya satu orang yang bisa aku jadikan teman. Namanya Alex, seorang pria yang aku temui ketika masa orientasi sekolah angkatan kami. Bukan hanya tampan, tapi dia juga cukup pendiam. Hal itu yang membuatku tertarik untuk dekat dengannya saat itu.

Setelah masa orientasi sekolah, kami masuk di kelas yang sama. Sejak saat itu aku menjadi lebih dekat dengannya. Semakin mengenalnya, aku menyadari jika kebiasaan kami seperti pinang dibelah dua, banyak kesamaan pada kegiatan yang kami sukai.

Orang-orang yang melihat kami selalu pergi berdua kemana-mana, selalu bertanya padaku ataupun pada Alex apa hubungan kami berdua. Tapi seperti yang kami rasakan sebenarnya, kami selalu menjawab ‘hanya teman’ atau ‘teman dekat’ atau ‘sahabat’ tapi mereka selalu tidak percaya.

Tahun pertama kami sekolah, pertanyaan seperti itu selalu ada, namun saat kami naik ke kelas dua pertanyaan itu perlahan hilang.

Alasan yang pertama adalah sepertinya mereka sudah bosan dengan jawaban kami yang itu-itu aja. Alasan yang kedua adalah kami tidak satu kelas dan kebersamaan kami terlihat berkurang. Lalu alasan ketiga, alasan yang paling mujarab adalah ketika seorang pria bernama Galih dengan nekatnya memproklamasikan jika dia menyukaiku di depan kelas, lalu tak lama kemudian Alex mempunyai pacar, dan aku pacaran dengan Galih.

Sebenarnya aku sangat tak menyangka Galih akan menyukaiku, dia adalah pria yang membuatku tertarik sejak kelas satu. Selalu berharap bisa mengenalnya lebih dekat namun tak ada kesempatan untuk mengenalnya lebih jauh. Namun kemudian doaku terjawab, kelas dua aku satu kelas dengan Galih dan sejak itu perasaanku mulai tumbuh padanya dan yang sepertinya begitu juga dengannya.

Namun ternyata ekspektasi memang tak seindah dengan realita.
Galih, pria yang aku inginkan untuk menjadi pendamping hidupku di masa depan ternyata tak sesuai dengan pria yang aku butuhkan. Menjalin hubungan dengannya membuatku mengenalnya lebih jauh dari sekedar teman, banyak hal yang membuatku kesal dengan sikapnya padaku. Aku pikir cinta itu bisa membuat seseorang menerima segala kekurangan pasangannya. Tapi Galih tidak membuatku merasakan hal itu, ia tak membuatku merasa aman berada didekatnya, ia tak membuatku merasa diinginkan, ia tak membuatku merasa dicintai. Namun di lain sisi ada sikapnya yang selalu membuatku terpana, ketika aku tak bisa melakukan hal itu dan ternyata dia bisa, dengan seketika aku kembali jatuh cinta padanya.

***

Hari ini aku dan Alex berencana untuk pergi bersama untuk merayakan ulang tahun kami. Setelah 6 bulan kami tidak pergi bersama karena disibukkan dengan kegiatan sekolah dan pacar kami masing-masing. Kami pun memutuskan untuk menjadwalkannya di hari liburan panjang kenaikan kelas.

Kami tak pergi ke tempat yang istimewa, hanya pergi ke restoran, lalu jalan-jalan menelusuri kota, lalu masuk ke café, lalu masuk ke café lainnya. Seharian itu kami benar-benar seperti balas dendam dengan waktu kami yang sudah lama tak mengobrol banyak. Seharian itu kami benar-benar membicarakan segala hal yang terjadi selama kelas dua ini yang memang belum kami usik.

Berbincang dengannya selalu terasa menyenangkan, setiap hal kecil bisa menjadi bahan obrolan untuk kami. Meski bisa dibilang ketika pergi berdua dengannya selalu terasa sebentar, rasanya masih kurang walaupun sudah seharian mengobrol.

Semakin malam obrolan kami semakin dalam, kami mulai terbuka membicarakan hubungan dengan pasangan kami masing-masing.

Alex menceritakan tentang bagaimana hubungannya yang terasa seperti sweet and sour. Terkadang ia merasa bosan dengan pasangannya, terkadang bosan dengan hubungannya, terkadang bosan obrolannya yang seperti tak ada kemajuan dalam hubungannya. Namun ia suka saat mereka bertengkar, membuatnya menjadi lebih mengenal satu sama lain katanya. Ia juga selalu dibuat suka dengan sikap Bella -kekasihnya- yang manja, membuatnya selalu merasa dibutuhkan, membuatnya bisa memberikan rasa aman dan nyaman pada Bella. Tapi bukan cuma itu, karena Bella juga selalu bisa memastikan bahwa dirinya akan selalu ada untuk Alex kapanpun dan dimanapun.
Lalu diakhir kalimatnya ia bilang,
“Aku pikir aku gak akan pernah bisa nemuin orang yang bisa selalu ada buat aku selain kamu. Tapi setelah kenal Bella, ternyata ada orang lain selain sahabat yang bisa memberikan itu juga.”

Aku tersenyum mendengarnya, namun disaat yang sama ucapan Alex seketika menghentikan detak jantungku, membuat pikiranku bertanya-tanya. ‘Ada apa dengan perasaanku?’ , kenapa jantungku terkejut mendengar ucapan Alex? Bukankah seharusnya jantungku berdebar senang mendengar sahabatnya menemukan belahan jiwanya? Apakah aku iri dengan hubungannya yang penuh dengan suka, sedangkan aku rasanya penuh dengan duka?

Aku kemudian menceritakan tentang bagaimana hubunganku yang terasa seperti bittersweet, atau mungkin lebih banyak ke bitter nya. Aku akui jika aku jatuh cinta pada Galih, ada beberapa hal kecil yang mungkin dianggap biasa oleh orang lain namun bagiku itu bisa membuatku jatuh cinta padanya. Bahkan senyumannya rasanya bisa melelehkan hatiku saat itu juga. Namun ketika menjalin hubungan dengannya, aku sering merasa tak dicintai olehnya. Merasa seperti aku menjalani hubungan ini sendirian, dia seolah tak pernah benar-benar peduli dengan perhatian yang aku berikan padanya. Bukannya aku egois karena terlalu mengharapkan hal lebih darinya, namun bukankah sebuah hubungan itu harus saling memberi? Tapi kenapa disini rasanya hanya aku yang memberi? Bisa dibilang kami memang jarang bertengkar, kami lebih sering saling mengalah dan mengabaikan semua hal yang terjadi. Tak pernah benar-benar membahasnya jika ada hal yang dipermasalahkan, dan hal itu yang membuatku merasa semakin lama semakin tertekan berada dalam hubungan ini yang sudah terjalin hampir satu tahun.

Tak banyak yang Alex katakan mengenai hubunganku ini, ia hanya bilang.
“Kalau kau sudah tidak sanggup menjalani hubungan itu, kamu boleh kok berhenti. Kadang kamu harus mengalah atas perasaanmu, karena mungkin itu adalah awal darimu untuk menemukan orang yang lebih baik darinya.”

Aku terdiam mendengar ucapannya, rasanya ini pertama kalinya ia mengatakan hal yang seperti itu. Jujur, saat ini rasanya aku ingin memeluknya. Mataku rasanya berkaca-kaca, aku tak bisa tersenyum untuk menahan rasa sesak di dadaku saat ini, aku menundukkan kepalaku, yakin jika aku akan menteskan air mata. Lalu seketika, ia memelukku, tangannya menyandarkan kepalaku pada dadanya lalu mengelus kepalaku pelan, dan air mataku seketika menetes dalam pelukannya. Ini juga pertama kalinya aku menangis di depannya, dalam pelukannya.

Tapi bukannya sesak ini mereda, justru dadaku semakin sesak. Tiba-tiba muncul perasaan yang belum pernah aku rasakan sebelumnya, dan pikiranku seketika bersorak menginginkan sesuatu yang tak seharusnya.

***

Selama libur panjang kenaikan kelas aku dan Galih hampir tidak bertemu. Sejak obrolanku dengan Alex malam itu, aku sudah memutuskan akan bagaimana hubunganku dengan Galih.

Aku masuk ke kelas Galih, kelas tiga kami tidak satu kelas.

Teman-temannya yang lebih dulu melihatku, kemudian Galih menoleh kebelakang lalu berlari kecil menujuku sambil tersenyum.

“Aku perlu bicara.” Ucapku dingin begitu ia sampai di depanku, dengan sekuat tenaga aku menahan luluhnya hatiku karena melihat senyumnya.

“Ada apa?” tanyanya yang terlihat kebingungan.

Tanpa menjawab pertanyaannya aku langsung menarik tangannya lalu membawanya ke bagian belakang sekolah.

“Aku rasa kita harus berhenti.” Kataku langsung begitu kami sampai di belakang sekolah.

Galih mengerutkan dahinya, “Berhenti apa maksudmu?”

“Aku gak bisa lanjutin hubungan kita lagi.”

Raut wajah Galih terlihat terkejut, “Kenapa?” tanyanya bingung.

Aku terdiam sejenak, “Aku ngerasa, gak ada yang bisa kita pertahanin lagi dalam hubungan kita.”

“Karena Alex?” ucapnya cepat.

Aku mengerutkan dahiku, “Kenapa jadi Alex?”

“Aku lihat kamu pergi berdua sama dia waktu libur panjang, tapi kalau aku ngajak kamu pergi waktu itu kamu selalu nolak dan selalu beralasan gak bisa. Aku gak bisa sedangkan Alex selalu bisa? Gitu?”

Aku tertegun, aku tak bisa berkata-kata.
“Kalau itu, aku kan udah bilang juga ke kamu kalau aku bakal pergi sama Alex.”

“Iya, tapi setelah itu, kamu jadi gak mau ketemu sama aku. Sebenernya apa yang kalian bahas sampai bikin kamu berubah kaya gini.” ungkapnya.
“Kamu bilang aku bisa percaya sama dia, tapi kamu sendiri yang bikin aku jadi curiga sama dia.”

“Kenapa jadi bahas Alex? Ini kan hubungan kita, ini tentang aku dan kamu. Aku yang punya perasaan atas hubungan ini, gak ada hubungannya sama orang lain.” Kataku kesal.

“Perasaan? Jadi maksudmu kamu sudah tidak punya perasaan lagi ke aku? Gitu kan?” balasan Galih tak jauh lebih kesal dariku.

Aku membisu, entah mengapa ucapannya terasa benar tapi aku tak ingin mengakuinya.

“Jadi benar. Karena dia perasaan kamu berubah.” Galih mengatakannya pelan.
“Atau mungkin perasaan kamu selama ini yang memang buat dia dan aku hanya pelampiasan?”

Aku panik mendengar ucapannya.
“Gak Galih, aku bener-bener suka sama kamu. Aku jatuh cinta sama kamu.” Jelasku tulus.
“Tapi setelah pacaran sama kamu, ekspektasi aku tentang kamu seolah cuma ekspektasi. Mungkin itu yang bikin aku merasa kalau hubungan ini harus selesai.”
“Aku terlalu berharap sama sosok kamu jadi seseorang yang aku inginkan. Padahal harusnya aku menyukai kamu sebagaimana kamu yang sebenarnya.”

Galih terdiam sejenak setelah penjelasanku.
“Jadi sekarang kamu bisa berusaha untuk rubah itu kan?”

Aku merengut.
“Rubah apa?”

“Pandangan kamu tentang aku, tentang hubungan kita, atas perasaan kamu ke aku.” Kata Galih.

Hatiku tertahan. Takut jika ini tak semudah yang aku bayangkan.

“Hubungan itu tentang dua perasaan, tentang dua orang. Kamu mungkin gak ada masalah sama hubungan kita yang kaya gini, tapi engga buat aku. Ini bukan hubungan yang aku inginkan. Cara kita memperlakukan satu sama lain, bagi aku rasanya gak adil. Aku selalu merasa kurang dan berharap lebih sama kamu. Sedangkan aku rasanya selalu ngasih kamu lebih dari yang aku bisa kasih.
Hubungan itu bukan cuma tentang perasaan.”

“Aku gak mau putus.” Jawab Galih tegas.

“Tapi aku ingin putus.” Kataku memelas dengan tegas.

“Aku masih gak ngerti. Bukannya kamu sendiri yang pernah bilang kalau hubungan itu bisa diperjuangkan sama-sama? Tapi kamu nyerah? Dan alasannya karena aku gak berusaha sedangkan kamu udah? Tapi apa ini yang namanya berusaha? Minta putus?”

“Hubungan itu dua-duanya berusaha. Kalau yang berusaha cuma satu, itu namanya sukarela. Kalau dia nyerah? Itu namanya tugas dia udah selesai.”

Seketika bel masuk berbunyi, menghentikan obrolan kita.

“Sebaiknya kalau kamu mau minta putus, kasih aku alasan yang lebih masuk akal.” Ucap Galih yang terdengar seperti perintah padaku.

Ketika Galih akan pergi meninggalkanku, aku menahannya dengan ucapanku.
“Lebih baik kamu yang pikirin ucapanku. Kalau gak bisa kamu rasain, setidaknya kamu pikirin kenapa aku minta putus.” Aku kemudian pergi meninggalkannya.

**

Aku masuk ke kelas, langsung duduk di bangku yang masih kosong. Aku tak tahu siapa saja yang akan jadi tema sekelasku di kelas 3 ini, atau mungkin lebih tepatnya aku tidak peduli. Aku masih memikirkan obrolanku dengan Galih, dengan harapan Galih menerima keputusanku untuk memutuskan hubungan kami. Aku sudah tak lagi berharap Galih mengerti dengan perasaanku atas hubungan kita, karena sepertinya dia tak peduli selama dia menyukainya yang lain tak penting baginya.

“Mawar?” panggilan seseorang memecah renunganku.

Aku menoleh, dan mendapati Alex dan Bella sedang melihatku dengan senyuman terbaik mereka.

“Bella, Alex? Lagi apa kalian disini? Kalian masuk kelas ini juga?” tanyaku.

Bella lalu mengangguk dengan senyumannya.

“Kayanya kita bertiga satu kelas.” Ucap Alex.

“Kau sudah ada teman sebangku?” tanya Bella padaku.

“Ah.. oh, belum.” Jawabku sedikit ragu.

“Kalau begitu aku boleh duduk denganmu?”

Aku melihat Alex sekilas lalu mengangguk pada ucapan Bella.

Bella pun kemudian duduk dibangku sebelahku, lalu Alex berpamitan untuk duduk ke bangkunya yang sudah ada teman sebangkunya.

Saat ini perasaanku semakin campur aduk. Melihat kebersamaan Alex dan Bella membuatku merasa tak percaya diri. Aku tak mengerti kenapa aku merasa begini, ini pertama kalinya aku merasa ciut di depan seseorang.

***

Sejak hari itu aku dan Galih belum berbicara lagi, meski sering berpapasan di sekolah kami tak saling tegur sapa, membuat teman kami masing-masing terlihat bingung dengan itu karena kami belum pernah bertengkar sampai seperti itu.

Setelah hampir dua minggu Galih pun akhirnya bertindak. Ia datang ke kelasku lalu menarik lenganku tanpa mengatakan apa-apa. Aku yang sedang berbincang dengan teman-teman sekelas terkejut dengan tindakannya tapi tidak memberontak karenanya.

“Hey, ada apa ini.”

Langkahku dan Galih seketika berhenti, ketika Alex seketika muncul menahan lenganku yang ditarik Galih.

“Bukan urusanmu.” Kata Galih ketus menoleh kebelakang.

“Lepaskan.” Kata Alex menunjuk pada lenganku dengan matanya.

Teman-teman lain yang ada di kelas menonton kejadian di depan kelas mereka ini tanpa suara.

Galih seketika tersenyum sarkas, tangannya masih memegangku.
“Aku benarkan, ini semua gara-gara dia?” ucap Galih padaku.

Aku terseyum sinis.
“Sudah dua minggu aku minta kamu memikirkan alasanku ingin putus, tapi hasilnya ini? Apa kamu benar menyukaiku? Apa kamu memikirkan perasaanku? Hubungan kita dari sudut pandangku?
Aku bahkan sudah mengatakannya padamu waktu itu. Gak semua hal itu tentangmu, kau tau?”

Galih terdiam, aku tak mengerti apa arti diamnya itu, yang pasti aku sudah terlalu kesal karena ia masih juga tak mengerti dengan keadaannya. Akupun kemudian melepaskan tangannya dan tangan Alex yang ada pada lenganku lalu pergi keluar dari kelas.

**

Setelah kejadian tadi aku diam di UKS, aku tidak mengikuti pelajaran setelah jam istirahat. Pikirannya terus mereka ulang kejadian tadi. Ada rasa malu, sedih, sekaligus kesal.

“Apa aku harus semenyedihkan ini?” tanyaku pada diri sendiri.

“Benar. Apa kamu harus semenyedihkan itu?” suara pria tiba-tiba muncul dibalik tirai ruang UKS.

“Ngapain kamu disini?” tanyaku ketus.  Aku terkejut kenapa Alex ada disini selama jam pelajaran.

Alex menunjukan jinjingannya yang merupakan tasku.

“Pulang lebih awal.” Jawabnya sambil tersenyum.

“Cih, benar-benar mengambil kesempatan dengan baik.”

“Ayo. Kamu bisa jalan kan?”

“Aku tidak sakit bodoh.” Kataku menatapnya sinis.

Alex terkekeh kecil.
“Menangisnya dirumah saja, biar gak ada anak-anak yang lihat.” Ucapnya sambil memberikan tasku.

“Siapa yang mau nangis. Aku cuma kesal.” Belaku.

Alex terdiam dan hanya melihatku untuk beberapa detik.

“Apa?” kataku kemudian, bingung dengan tatapannya.

“Ayo cepat pulang, sebelum bel pulang sekolah. Jangan sampai anak-anak lihat wajahmu yang menyedihkan ini.”

“Hey!” teriakku sambil melemparkan tasku pada Alex.

 **

Dalam perjalanan pulang Alex tak menanyakan apa-apa mengenai kejadian tadi, begitu juga aku yang tak mengatakan apa-apa pada Alex.

“Tapi, Mawar.” Ucap Alex membuka obrolan.
“Hanya perasaanku saja atau memang sekarang kamu jadi orang yang lebih aku perhatikan dibandingkan kamu yang memperhatikanku?”

Aku mengentikan jalanku lalu menoleh, “Maksudnya sekarang aku kurang memperhatikan kamu?”

Alex mengangguk, “Sekarang rasanya kamu selalu membuat aku khawatir, entah apapun itu. Sekaligus sekarang rasanya kamu seperti menjaga jarak denganku??”

Aku memalingkan wajah lalu kembali berjalan, dan diikuti Alex.
“Kayanya itu cuma perasaan kamu aja. Sekarang kamu kan udah punya pacar, mungkin karena perhatian pacar kamu lebih besar jadi kamu ngerasa gitu. Dulu kan kamu gak punya pacar, pasti rasanya beda.” Jelasku menyangkal ucapnnya.

Alex mengangguk-angguk. “Ucapan kamu memang masuk akal. Tapi kenapa aku gak ngerasa gitu ya?”

Aku mengerutkan kening, “Memang apa yang ngusik kamu?”

“Selama ini meskipun aku sudah punya pacar aku selalu ngerasa perhatian kamu lebih besar dari Bella. Cuma akhir-akhir ini kamu kaya beda. Makannya aku bisa membedakannya.”

Aku terdiam sejenak, “Ah.. gitu ya? Tapi kayanya itu cuma perasaan kamu aja.”

Sebenarnya, setelah obrolan kami waktu libur panjang, banyak pikiranku yang membawa pada Alex. Entah kenapa aku mulai membandingkan hubunganku dengan Galih dan Alex. Meski aku tak pernah mempunyai hubungan special dengan Alex, tapi aku merasa hubunganku dengan Alex adalah jenis hubungan yang aku inginkan dalam sebuah pasangan, dan aku menginginkan hubungan itu ada pada aku dan Galih, namun pada nyatanya yang berjalan saat ini, hubungan itu jauh dari yang aku harapkan. Atas perbandingan itu, gilanya aku sampai memikirkan menginginkan Alex lebih dari seorang teman.

Selama liburan aku benar-benar memikirkan apa yang harus aku lakukan dengan hubunganku dengan Galih. Karena dengan gangguan Alex, rasanya aku sudah tak mampu harus menjalani hubungan dengan Galih sedangkan pikiranku berharap pada Alex.
Meski aku masih dapat jatuh cinta pada Galih, tapi ada kalanya ketika hati tau atas Galih aku hanya bisa jatuh cinta padanya tapi tidak untuk bersamanya.

Galih benar, ketika dia bilang bahwa ini semua karena Alex. Aku yang berbohong. Padanya, pada diriku sendiri bahwa perasaan ini mengharapkan Alex lebih dari teman.

**

Setelah sekian lama tidak mendapat kesempatan bersama, aku dan Alex memutuskan untuk melanjutkan pergi ke bioskop alih-alih pulang ke rumah. Lalu melanjutkan berkeliling kota sambil membicarakan hal tak penting namun mengasyikan bagi kami.

Waktu sudah menunjukkan pukul 8 malam, Alex mengantarkanku pulang ke rumah yang tak jauh dari rumahnya juga.

“Kejadian tadi…” kata Alex, setelah kami sampai di depan rumahku dan sebelum dia pamit.

Aku terdiam. Mendengarkan.

“Dari kejadian tadi kayanya aku sadar keputusan hubungan kamu sama Galih dari obrolan kita waktu itu.” Lanjutnya samar, tapi aku mengerti maksudnya.

“Iya.. aku cukup merenungi hubunganku dengan Galih dari pembicaraan kita waktu itu.” Kataku pelan.
Aku lalu memukul lengannya pelan, menegur ekspresinya yang merasa bersalah.
“Hey! Kenapa kamu sedih, kan aku yang mutusin Galih.”

Alex lalu menatapku tegas sambil tersenyum yakin.
“Aku mendukungmu. Apapun Keputusan yang kamu ambil aku akan selalu ada di sisi kamu. Meskipun jalan yang kamu lalui bakal menyakitkan, aku akan menemin kamu lewatin jalan itu. Kita akan terluka sama sama.” Katanya kemudian, membuatku terkekeh,

“Kenapa berlebihan. Aku kan cuma putus.” Kataku menghibur diri sendiri.

“Tapi bagaimanapun juga, kamu punya kebersamaan sama dia. Dan ketika kebersamaan itu gak bisa kamu dapetin lagi, kamu bakal rindu, dan rindu yang tak tersampaikan itu yang bakal bikin kamu ngerasain sakit hati karena udah gak sama dia lagi.” Tutur Alex yang membuatku bisa membayangkan hal itu. Namun karena aku belum mengalaminya, aku merasa hal itu bukan hal yang sulit untuk dilewati.

“Melepaskan orang yang kita cintai gak akan pernah mudah. Tapi terkadang melepaskan justru diperlukan untuk kebaikan diri kita sendiri. Jangan sampai kita kehilangan diri kita cuma karena gak ingin kehilangan orang lain. Meskipun orang itu mencintai kamu, pada akhirnya ketika dia gak bisa kasih yang kamu butuhkan, itu cuma akan membuat kamu kehilangan diri kamu sendiri.” Lanjut Alex.

Kata-katanya kali ini cukup menyentuh hatiku, aku merasakan jantungku tertampar oleh ucapannya. Aku terdiam, pandanganku kosong, ucapan Alex tertanam dipikiranku seketika.

Tanpa mengatakan apa-apa, Alex lalu menarikku dalam pelukannya. Kepalaku ia elus dengan lembut, tangan lainnya melingkar erat pada tubuhku. Seketika mataku mulai berkaca-kaca.

“Menangislah jika itu terlalu menyakitkan, tapi jangan menangis sendirian. Aku ada disini.”

Aku mungkin sudah gila.
Ucapan Alex mengenai putusnya hubunganku dengan Galih memang cukup menampar diriku. Seiring berjalannya waktu mungkin aku akan menangisi hal itu. Namun satu hal yang dapat aku pastikan, bahwa air mata yang menetes dalam pelukan Alex malam ini bukan karena Galih.

Kebingungan atas perasaanku pada Alex yang selama ini aku pikirkan seolah diberi jawaban oleh Alex sendiri. Atas pelukannya yang membuatku nyaman ini, rasanya seperti perasaan yang aku cari selama ini. Dengan hangat dan tenangnya pelukan yang ia berikan, seolah memintaku untuk menginginkan dia lebih dari sekedar teman. Namun air mataku terus mengalir, seakan diriku juga sadar bahwa aku tak bisa memilikinya lebih dari sekedar teman.

Alex melonggarkan pelukannya, namun ketika itu hampir lepas aku langsung kembali menarik Alex. Kali ini aku yang memeluknya dengan erat.

“Sebentar. Sebentar saja.” Kataku dengan suara serak dan mata yang masih basah.

Aku merasa Alex tersentak dengan pelukanku, namun ia hanya terdiam lalu kembali memelukku, namun kali ini pelukannya lebih lembut dari sebelumnya.

***

Beberapa bulan berlalu, hubungan dan Galih akhirnya selesai. Meskipun harus dilewati dengan penuh drama, namun kami menyelesaikannya dengan cukup baik. Setidaknya menurutku begitu, karena saat terakhir kali kami berbincang untuk memutuskan itu, Galih meminta maaf atas perlakuannya yang egois dan membuatku merasa tak dicintai, dia juga mendoakanku agar menemukan orang yang lebih baik darinya meskipun orang itu Alex. Aku tak menyangkal ucapannya, karena aku sendiri punya harapan sendiri atas itu, dan aku tak ingin berdebat lagi dengan Galih mengenai itu. Setelah kami putus, kami benar-benar menjalani hidup masing-masing. Tak pernah berbincang atau sengaja bertemu, hanya bertegur sapa jika bertemu dan tak lebih dari itu.

Perasaanku pada Alex pun tak pernah aku ungkapkan. Hubungan kita sudah Istimewa sebagai seorang sahabat. Perasaan yang aku rasakan malam itu pada Alex, aku akui hanya bisa aku dapatkan pada Alex. Namun tak menutup kemungkinan untuk aku bertemu seseorang lain yang bisa mengisi hatiku tanpa perlu menggantikan posisi sahabatku.

Hubungan Alex dan Bella pun tak pernah goyah. Ketika mereka sedang bertengkar ada kalanya mereka bercerita padaku dan meminta solusiku. Bisa dibilang aku juga ikut andil dalam harmonisnya hubungan mereka hingga saat ini.

Tak terasa satu tahun pun berlalu. Aku melewati masa senior dengan penuh suka dan duka. Cukup sedih karena tahu akan berakhir, tapi juga senang karena akhirnya berakhir.

Meski dapat aku pastikan hubunganku dan Alex tak akan berubah. Namun setelah semua kejadian itu aku masih berlari dari perasaanku pada Alex. Semakin lama aku tenggelam dalam pikiranku, aku semakin sadar jika aku tak seharusnya menginginkan Alex seperti ini.

Setiap kali aku melihat Alex dan Bella, aku bisa yakin jika tatapan Alex pada Bella lebih bersinar dibandingkan tatapannya padaku. Tatapan itu membuatku yakin jika orang yang Alex inginkan itu bukan aku, melainkan Bella.

Namun sesadar-sadarnya diri ini, perasaan ini masih sulit dikendalikan. Aku hanya menyimpannya, menyembunyikannya, dan tak bersuara lantang atasnya. Lalu tiba-tiba terbersit dipikiranku, bahwa mungkin perasaan ini masih ada karena ia tak pernah disuarakan. Ia berteriak pada ruang kosong, sehingga ia menggema dan kembali pada dirinya lagi terus menerus.

Aku pun memutuskan untuk mengungkapkan perasaan ini. Entah apa yang akan terjadi nanti, tapi aku yakin jika persahabatan kita kuat hal ini akan diterima dengan baik dan dilewati dengan lancar.

Setelah acara kelulusan, aku mengajak Alex untuk berbincang. Kami pergi ke jembatan lantai dua sekolah.

Untuk sesaat aku membeku, aku tak tahu bagaimana mengatakannya.

“Aku mau berpamitan.” Kataku langsung, membuat Alex terkejut dan tak yakin dengan yang didengarnya.

“Berpamitan? Kau mau pulang? Kenapa harus pamit segala? Nanti juga ketemu lagi.” Kata Alex santai.

“Kali ini akan lama.” Kataku pelan, sambil menatap matanya.

“Sebentar, ini bukan pamit yang aku pikirkan?”

“Aku akan ke Australia. Melanjutkan kuliahku disana. Banyak yang harus aku pelajari, jadi aku akan ikut Kakakku besok.” Lanjutku yang semakin membuat Alex terkejut.

“Kamu mau pindah? Kenapa mendadak? Kita bahkan belum merayakan kelulusan kita.”

Aku tersenyum. “Maaf, aku juga baru memutuskannya baru-baru ini.”

“Dan pergi besok?”

Aku mengangguk.

Alex mendengus kesal, raut wajahnya memerah menahan amarahnya.
“Waktu yang tepat. Waktu yang tepat untuk mengatakannya padaku adalah satu hari sebelum keberangkatan?”

Aku terdiam, aku yakin dia akan marah dengan informasi mendadak ini. Tapi ini memang niatku, karena pikirku jika Alex marah padaku mungkin akan lebih mudah menyelesaikan hal buruk yang mungkin terjadi karena aku mengungkapkan perasaanku.

“Apa itu aja yang mau kamu bicarain?” tanya Alex yang terlihat menahan emosinya.

Aku menggeleng.

“Kayanya kita gabisa bicara sekarang. Aku ngerasa marah sama informasi mendadak ini. Biar aku nenangin diri dulu.” Katanya kemudian.

“Baiklah.” Kataku.

Alex lalu pergi dengan perasaan marahnya. Aku masih terdiam melihatnya berjalan menjauhiku. Menyadari pemandangan itu mungkin akan jadi pemandangan terakhirnya melihat Alex ketika ia mengatakan perasaannya.

*****

Alex berlari melewati pintu masuk bandara, ia mencari gerbang keberangkatan Mawar hari ini.

Setelah perbincangan mereka kemarin, Alex kini merasa berasalah karena sudah marah pada Mawar. Padahal kemarin adalah hari terakhir mereka sebelum Mawar pergi ke benua lain. Bukannya menghabiskan waktu mereka berasana, ia malah menjauh dan membuang waktu itu.

Alex mengeluarkan handphonenya, ia kembali menghubungi Mawar yang sejak tadi tak mengangkat telfonnya. Ketika panggilannya diterima, saat itu juga Alex melihat Mawar sedang berbaris untuk masuk ke gerbang keberangkatannya.

“Aku melihatmu. Aku akan kesana.” Ucap Alex, hendak menghampiri Mawar yang jaraknya tak dekat.

“Jangan kesini.” Kata Mawar cepat, sebelum Alex benar-benar berlari menghampirinya.

Alex seketika menghentikan kakinya, ia tak mengerti maksud Mawar tapi ia tetap mendengarkannya.

“Kenapa?” tanya Alex.

“Aku tak bisa pergi jika melihatmu dari dekat.” Ungkap Mawar.

“Kalau begitu jangan pergi. Temani aku disini. Masih banyak hal yang belum kita lakukan bersama.” Ucap Alex masih dari seberang telfon.

“Kau bisa melakukannya tanpaku.” Jawab Mawar.

“Tapi tak akan sama.”

Mawar mengangguk.
“Tidak. Ini memang sudah tak sama. Maaf. Tapi perasaanku sudah tak sama lagi.” Ucap Mawar memberanikan diri.

“Apa aku seburuk itu untuk menjadi sabahatmu?”

“Untuk saat ini. Ya. Begitu juga dengan aku, aku terlalu jahat untuk dibilang sebagai sahabatmu saat ini.”

“Kita bisa membicarakan ini. Apa kau tidak bisa menunda kepergianmu? Aku merasa masih banyak yang harus diselesaikan.” Mohon Alex, penjelasannya tertahan karena waktu mereka yang sudah tak banyak.

Mawar menghela nafasnya keras hingga terdengar ke seberang telfon.

“Maaf. Tapi sepertinya. Ah tidak. Aku menyukaimu, lebih dari seorang sahabat.” Ungkap Mawar yang seketika membekukan Alex.

“Selama setahun ini aku merasakan perasaan aneh yang menginginkanmu ada dalam kehidupanku lebih dari seorang sahabat. Tapi disisi lain aku juga sadar jika orang yang kamu inginkan bukan aku. Maaf jika aku harus mengatakan ini padamu, tapi aku takut jika nanti aku gagal menata kembali perasaanku, aku mungkin tak akan pernah kembali.
Satu hal yang mungkin kau harus tahu sebelum aku pergi.
Kau adalah cerita indah bagi kehidupan seseorang. Hanya karena orang itu tak ada disampingmu bukan berarti ia melupakanmu, ia hanya tahu jika ia tak pantas berada di sampingmu.
Dan aku juga yakin. Kelak, kita mungkin akan lupa dengan sakitnya kehilangan hari ini. Setidaknya, bagiku. Karena dimasa depan, kita akan sadar jika ini bukanlah apa-apa.”

Alex tak dapat mengatakan apa-apa atas pengakuan Mawar yang tiba-tiba.

Setelah beberapa menit tak ada jawaban dari Alex, Mawar mematikan telfonnya.
Mawar melihat Alex dari kejauhan. Tersenyum dengan mata yang sayu. Mereka tahu ini sama-sama menyakitkan bagi mereka, meskipun rasa sakitnya berbeda. Meskipun begitu, mereka tak dapat mengendalikan perasaan mereka satu sama lain. Karena pada akhirnya, perasaan hanya dapat dimiliki oleh diri sendiri.

 

 

-Selesai-

Comments

Popular