Tentang Malam

 



Tentang malam, ia menemani mereka yang sendirian.

Tentang sebuah kisah, ia tak terdengar jika tak ada yang bercerita.


Aku sering dengar dengan yang namanya ‘Mantan Terindah’ tapi terkadang aku tak mengerti mengapa sebuah sejoli yang saling mencintai harus berpisah padahal masih saling mencintai? Selalu terdengar tak masuk akal, karena aku percaya jika seorang pria dan seorang wanita saling mencintai, hubungan mereka akan terus bertahan sampai ajal memisahkan.

Aku tersenyum memikirkan kata ‘mencintai’ namun mataku masih terus melihat ke arah langit malam yang gelap namun bersinar karena kehadiran para bintang disana. Pemandangan yang selalu aku rindukan setiap melihat langit biru. Anehnya, langit malam selalu terlihat lebih indah dan terang di mataku.

Untuk sepersekian detik mataku tak bisa berpaling dari langit, melihat dengan teliti setiap titik terang yang ada di langit. Hingga terkadang aku merasa titik itu bergerak mengikuti arah mataku.

Pandanganku teralihkan begitu mendengar ocehan tak masuk akal dari orang di sampingku.

Aku tersenyum, tertawa kecil mendengar ucapannya. Namun aku juga dibuat membeku ketika melihat matanya yang tak jauh beda dengan apa yang aku lihat tadi di langit.

Dia berhenti berbicara ketika melihat ekspresiku yang tak berubah sedikit pun mendengar ucapannya.

“Kau kenapa?” tanyanya.

Aku tersenyum, dengan keadaan masih mengagumi matanya, lagi.

“Tidak apa-apa.” Kataku menggeleng, lalu mengalihkan pandanganku ke depan. Kali ini yang aku lihat pemandang lampu kota dari atas sini. Cukup mirip dengan yang aku lihat di langit, tapi tetap saja, beda. Apalagi jika aku melihat ke samping.

Dia mengoceh padaku, kesal karena aku selalu tak menjelaskan hal itu padanya. 

“Selalu begitu. Kau selalu terdiam setiap kali kita melihat bintang.”

Aku menoleh, “Kau pasti mengerti jika melihat bintang,” tunjukku pada langit, “lalu melihat matamu.” Lalu menunjuk pada matanya.

Dia tertawa. Aku tersenyum. Aku tahu itu terdengar menggelikan.

“Kau sangat lucu.” Ucapnya masih tertawa, tangannya mengelus puncuk kepalaku pelan.

Dia tidak tahu saja, setiap dia melakukan itu jantungku seperti akan copot. 

Aku langsung kembali menoleh ke depan. Jika ini siang hari, wajahku mungkin akan terlihat jelas sedang memerah.

Ketika dia tiba-tiba hening, aku kembali menoleh padanya dan mendapatinya sedang melihat pada langit, aku pun mengikutinya.

“Nara.” Panggilnya padaku, aku kembali menoleh padanya.

Dia kemudian terdiam sambil terus memandangku.

“Kau kenapa?” tanyaku bingung karena sudah memanggilku tapi tak mengatakan apa-apa. 

“Kau benar.” Katanya, alisku terangkat bingung dengan maksud ucapannya.

“Matamu lebih indah dari bintang,”

Aku langsung membeku, lagi-lagi jantungku seperti akan copot, dia sangat pandai melakukan itu padaku.

Dia selalu mengatakan hal yang tak terduga. Aku pikir dia tak akan melakukan hal itu karena mengingat tadi dia tertawa ketika aku mengatakannya. Tapi dia malah melakukannya dan mengatakan hal itu padaku.

“Kini aku percaya dengan ucapanmu tadi.” Ungkapnya seraya mengelus puncuk kepalaku.

Aku kembali tersenyum padanya.


Hari peringatan hubungan kami yang setahun ternyata tak seburuk itu.

Setelah sejak tadi pagi tak ada yang berjalan lancar dengan rencanaku, malam ini dia menyadarkanku bahwa hal diluar rencana pun bisa lebih indah. Ini pun, lagi-lagi dia melakukan hal itu padaku.

Hal ini membuatku kembali mengingat ke belakang, tentang bagaimana caranya hingga aku bertemu dengan pria yang ada di sampingku ini.

Hal yang paling aku ingat saat itu adalah ketika dia terlihat paling jelas diantara kerumunan orang-orang. Seperti hanya sosoknya yang memiliki warna diantara mereka. Seperti titik hitam di atas lembar kertas putih. Kau bahkan tak perlu berusaha untuk mencari letaknya, dia sudah terlihat, seolah dirinya yang menampakkan diri padaku.

Entah apa yang akan terjadi jika saat itu aku tak mengejarnya. Apakah tetap akan seperti sekarang?

Aku turun dari lantai dua ketika sosoknya mulai tak terlihat dari atas sana. Tak berlari, namun berjalan cukup cepat ke arah terakhir aku melihatnya mulai tak terlihat. Ramainya orang-orang di lantai satu masih membuatku tak bisa berlari dengan bebas menujunya, berjalan cepat pun aku masih harus menabrak bahu seseorang beberapa kali, meminta maaf dengan cepat tanpa berhenti berjalan yang mungkin malah mendapat makian dari mereka karena terkesan tak tulus. Tapi saat itu aku tak peduli dengan sekitar, kulangkahkan kakiku dengan cepat, kugerakkan tubuhku dengan lihai agar tak lagi menabrak seseorang.

Namun saat itu apalah artinya usaha, ia pun pasti akan kena masalah juga. Tubuhku sepenuhnya menabrak seseorang. Kali ini benar-benar terasa sakit pada tubuhku, dan kali ini aku benar-benar berhenti. Namun saat itu aku pun segera meminta maaf pada orang itu, kali ini aku benar-benar minta maaf, karena jika harus diungkap kronologisnya saat itu aku yang tidak hati-hati karena mulai berlari kecil di area depan ruangan yang menyebabkan ketika seseorang muncul dari balik pintu aku pasti akan menabraknya.

Saat itu aku meminta maaf tanpa melihat padanya, merasa jika hal itu dilakukan permasalahan pun berhenti disitu meski mungkin aku akan kembali dapat cacian dari orang itu. Ketika aku hendak pergi, melangkahkan kakiku bergeser darinya yang masih di depanku, orang itu menahan lenganku.

“Kau tidak apa-apa?” katanya sambil melihat padaku, nada suaranya terdengar khawatir, tangannya masih memegang lenganku menahanku untuk pergi.

Mau tak mau aku pun menoleh padanya, dan saat itu hatiku mulai terasa tenang sekaligus bergedup kencang. Aku merasa tenang karena tak perlu lagi berjalan cepat atau berlari kecil atau mungkin harus mencari orang itu lagi yang entah pergi kemana dan jantungku berdegup kencang karena saat ini orang yang ada di hadapanku adalah orang aku lihat tadi, orang yang aku kejar tadi. Entah bagaimana caranya, tapi dia kembali tiba-tiba muncul di hadapanku.

Seolah dipertemukan semesta. Saat itu aku merasa yakin jika diriku telah jatuh cinta padanya.

Dia tak tahu tentang hal itu, bahkan hingga sekarang pun dia tak tahu alasanku berlari sampai menabraknya hari itu. Namun satu hal yang dia dan aku tahu mengenai saat itu, dia senang aku menabraknya hari itu. 

“Kita itu seperti dipertemukan semesta. Kita pergi tanpa tujuan tapi tiba-tiba dipertemukan dan langsung jatuh hati.” Begitu katanya.

Padahal dia tak tahu saja jika tujuanku hari itu adalah dirinya. Lalu aku dengan senang membenarkan ucapannya.

“Apa jadinya jika aku tak menabrakmu ya?” tanyaku padanya setelah dia mengatakan hal itu.

“Mungkin semesta akan menggunakan cara lain untuk mempertemukan kita.” Ucapnya sambil terkekeh menertawakan ucapannya sendiri.

“Seperti mungkin kau yang akan menabrakku lalu aku jatuh cinta padamu karena sudah menabrakku.” Khayalku, yang membuatnya kembali tertawa.

“Jika aku melihatmu dari jauh, mungkin aku akan mengejarmu dan mengajakmu berkenalan.” Ungkapnya yang terdengar serius. “Jika kau melihatku dari jauh, apa kau akan melakukan hal yang sama?” tanyanya kemudian.

“Mungkin?” jawabku seolah ragu.

Dia kembali tertawa kecil mendengar jawabanku.

“Kenapa kau tertawa?” omelku memukul pelan lengannya.

“Jika kau melakukan itu sepertinya akan lucu.”

Saat itu aku bingung dengan maksudnya, “Apa hal itu memalukan?” tanyaku serius, terkesan seperti akan marah karena sikapnya.

“Tidak. Itu lucu, bukankah seorang wanita yang mengejar seorang pria itu jarang? Jika ada bukankah itu lucu? Lucu dalam artian imut, mungkin? Bukankah menyenangkan sudah disukai bahkan ketika belum kenal?” 

Aku membisu. Bukankah indah tutur katanya? Bagaimana bisa ada seseorang yang begitu sempurna di mataku juga sempurna di sampingku?

Sejak saat itu aku semakin yakin pada perasaanku dan aku tak ingin kehilangannya. Aku telah jatuh cinta padanya, aku mencintainya.

“Kau ingat apa yang kau katakan ketika kita pertama kali bertemu?” tanyanya tiba-tiba.

Aku mengerutkan keningku, mengingat kembali kejadian hari itu. Pikiranku tercampur dengan perkataanku yang diucapkan dalam hati tentangnya. Hari itu banyak perkataan yang ingin aku ucapkan padanya namun aku tahan dan hanya mengucapkan kata sesingkat dan semasuk akal mungkin. Entah bagaimana dengan orang lain, namun diriku yang sedang jatuh cinta memiliki banyak perasaan dan ungkapan yang mungkin orang lain tak akan mengerti itu, karena hal itu terlalu sepele di mata sebagian orang namun terlalu penting bagiku untuk dibagikan pada orang lain yang tak benar-benar akan memahami hal itu.

“Kau tak mengingatnyaa?!!” katanya hampir berteriak karena aku tak juga menjawab pertanyaannya.

Wajahku memasang ekspresi bersalah, “Sepertinya aku mengatakan sesuatu, tapi aku tak ingat.” Ucapku dengan wajah cemberut.

Tak marah, dia malah tertawa melihat ekspresiku. “Akhirnya…” ucapnya membingungkanku, tak berhubungan dengan obrolan ataupun kejadian detik itu.

“Akhirnya apa?” tanyaku.

“Yang kau katakan saat kita pertama bertemu. ‘Akhirnya’ ucapmu. Aku bertanya ‘Kau tak apa-apa?’ tapi jawabmu saat itu ‘Akhirnya’.” Ungkapnya sambil tersenyum.

Aku langsung mengingatnya ketika dia mengatakan itu. Benar, saat itu aku merasa sangat lega karena akhirnya menemukannya. Aku tersenyum.

Aku terkekeh, “Benarkah?”

Dia mengangguk-angguk, “Saat itu aku bingung kenapa kau mengatakan itu. Apa saat itu kau seperti tidak bisa berhenti berlari tapi karena menabrakku akhirnya kau bisa berhenti?” ucapnya kemudian tertawa, menertawakan ucapannya sendiri. Lagi.

Aku juga ikut tertawa mendengarnya. “Bukankah itu terlalu aneh? Apa aku seperti orang yang memiliki kekuatan super?”

“Semacam itu..” katanya sambil mengangguk-angguk.

“Apa? Memang apa kekuatanku?” tanyaku sambil terkekeh.

Dia mengerutkan keningnya, menggerakkan bibirnya, seperti orang yang sedang berpikir berputar-putar. “Kekuatan untuk membuatku jatuh cinta itu sudah pasti, untuk yang lainnya aku belum tahu. Oh, berlari tanpa berhenti mungkin?” kekehnya lagi, membuatku ikut tertawa.

Dia selalu mengatakan jika dirinya jatuh cinta padaku, aku pun begitu hanya saja bedanya aku tak mengatakannya seperti yang dia lakukan padaku. Terkadang aku merasa terlalu sering jatuh cinta padanya, pada setiap hal-hal kecil yang dia lakukan bahkan yang dia katakan padaku, atau parahnya lagi ketika melihatnya bersikap dan berkata hal baik pada orang lain. Semakin membuatku ingin mempertahankannya untuk selalu ada disampingku.

Tubuhnya tiba-tiba bergerak menghadapku, menatapku dengan pekat lalu terdiam untuk beberapa detik. Seperti sedang mengumpulkan keberanian untuk mengatakan sesuatu.

“Aku mencintaimu.” Katanya kemudian.

Untuk sepersekian detik aku tak mengatakan apa-apa dan hanya menatap matanya. Dia juga terdiam, terlihat gugup karena aku tak memberikan reaksi apa-apa pada pengakuannya. Meski dia sering mengatakan jatuh cinta padaku, tapi ini kali pertamanya mengatakan ‘Mencintaiku’. Satu kata yang selalu aku dambakan dan aku junjung tinggi dalam sebuah hubungan.

Tanpa mengatakan apa-apa aku kemudian memeluknya erat. Malam ini rasanya begitu lengkap.

“Aku boleh tanya sesuatu?” kataku begitu melepas pelukan, dia mengangguk, membolehkan. “Apa yang membuatmu mencintaiku?” tanyaku kemudian.

Dia terlihat tercekat mendengar pertanyaanku, “Kau serius menanyakan itu?” 

Aku mengangguk, yakin.

“Hmm, entahlah. Hanya saja sejak pertama kali aku melihatmu, aku hanya yakin jika kau orangnya. Bukankah buah dari jatuh cinta itu mencintai?” 

Ungkapannya terdengar indah di telingaku. Bagaimana bisa aku tak jatuh cinta? Bagaimana bisa ada orang yang sesempurna dia untuk ada disampingku?

Setiap mendengar pengungkapan atas perasaannya terhadapku, aku selalu merasa ‘ini yang namanya takdir’. Terdengar klise memang, tapi sepertinya memang sebesar itu harapanku untuk terus bersamanya sampai maut memisahkan.

Entah apa yang akan terjadi jika saat itu aku tak mengejarnya. Apakah tetap akan seperti sekarang?

Aku selalu mengira jika maut itu hanya berarti ‘kematian tentang manusia’. Tapi pada nyatanya maut juga bisa berarti ‘mengagumkan, hebat, atau luar biasa’ atau bisa dibilang kata itu dipakai untuk mengungkapkan hal yang terdengar atau terlihat jauh dari hal yang dianggap rata-rata -sangat.

Hal itu pun baru aku sadari empat bulan setelah hari jadi setahun hubunganku dengannya.

Dia tiba-tiba mengajakku bertemu tanpa alasan dan tujuan yang jelas, nada bicaranya terdengar cukup serius, dan tiba-tiba perasaanku juga menjadi tidak enak. Ada rasa khawatir yang menyelimuti batinku, aku takut jika dia sedang terkena masalah.

Sesampainya aku di tempat kami janji bertemu, dia sudah duduk menungguku disalah satu kursi. Kami bersapa kecil lalu terdiam. Untuk beberapa waktu kami hanya duduk bersebelahan tanpa mengatakan apa-apa, aku pun tak ada niat untuk membuka pembicaraan, karena mendengar nada bicaranya tadi di telfon sepertinya dia butuh waktu untuk mengatakannya secara langsung.

Setelah terdiam cukup lama. Dia akhirnya membuka suara.

“Aku rasa hubungan kita cukup sampai disini.”

Aku menoleh cepat kearahnya, takut jika pendengaranku salah. Dia kemudian perlahan menoleh kearahku tanpa mengatakan apa-apa. Tatapannya seolah meyakinkanku jika yang aku dengar tadi adalah benar, dan benar jika perkataan itu keluar dari mulutnya langsung.

Tubuhku seketika membeku melihat tatapannya yang terlihat sayu. Entahlah, rasanya ini pertama kalinya aku melihat matanya yang tak berbinar. Tatapannya seketika membuat hatiku terbalut oleh awan tebal, benar-benar gelap dan dingin.

Mungkin ini yang dimaksud dengan maut dalam versiku. Hal yang luar biasa hingga membuat sekujur tubuhku tak dapat merespon atas apa yang terjadi.


“Apa maksudmu?” aku bertanya dengan nada yang cukup sinis.

“Aku tak bisa melanjutkan hubungan kita. Aku rasa kita tak bisa bersama lagi.” Jelasnya singkat.

Aku kembali terdiam, penjelasannya terdengar tak masuk akal di telingaku.

“Aku tak mengerti. Kemarin kita sangat baik-baik saja, tapi hari ini? Kenapa? Apa yang terjadi satu malam ini hingga kau bisa mengatakan hal itu padaku?”

“Ini bukan tentang satu malam. Beberapa bulan ini aku selalu memikirkan hubungan kita yang semakin lama bisa aku simpulkan jika kita tak bisa bersama.”

Tutur katanya, bukankah sangat menyakitkan?

Mataku, berkaca-kaca. Entah karena bangga tahu jika dia ternyata bisa mengatakan hal yang menyakitkan, atau karena tertampar tahu jika dia dan aku memang tak bisa bersama.

Kilas balik hari-hariku dengannya seketika memutar ulang dipikiranku dan seolah terlihat oleh mataku. Ucapannya yang mengatakan ‘kita tak bisa bersama’ membuatku terus mencari dimana letaknya.

‘Aku rasa hubungan kita cukup sampai disini.’

Air mataku tiba-tiba jatuh pada pipiku, ketika kilas balik itu memutar kejadian tadi.

Aku menatapnya pasrah, “Kenapa kamu…?” 

“Kalau bukan aku, mungkin orang lain.” Katanya setelah jeda beberapa saat. Dia menatapku, matanya bergetar, seakan memelas, tapi tertekan, juga putus asa. Seolah memohon padaku agar aku menerimanya tanpa perlu banyak bertanya.

Mengapa dirimu yang aku sangka?

Mengapa dirimu yang aku suka?

Mengapa dirimu yang aku cinta?

Mengapa ini menyakitkan?

Tak pernah terpikirkan olehku jika kamu adalah orang pertama yang mampu membuatku jatuh cinta, sekaligus orang pertama yang mampu membuatku patah hati.

Hal pertama yang terbersit dipikiranku ketika aku bangkit dari kursi tadi adalah bagaimana kamu yang selama ini bisa menemani hari-hariku yang tak selalu indah. Namun menariknya hari ini, walau kamu tak bisa menemani hariku yang tak indah, kamu adalah alasan yang membuat hariku tak indah.

Entah apa yang akan terjadi jika saat itu aku tak mengejarnya. Apakah tetap akan seperti sekarang?

Dipertemukan semesta, walau berakhir tak bahagia.


Tentang malam, ia datang tapi akan selalu pergi.


-selesai.

Comments

Popular